Sumatran Rescue Alliance

ENRICHMENT DURIAN SIANG HARI: ANTUSIASME DAN STRATEGI ORANGUTAN DI SRA

Siang itu, aroma durian mulai menyebar di area Sumatran Rescue Alliance (SRA). Bukan sekadar buah biasa, durian menjadi bagian dari kegiatan enrichment yang dirancang untuk melatih kemampuan motorik, kecerdasan, serta mempertajam insting alami setiap individu orangutan.

Pemberian enrichment diawali di kandang karantina bersama Raiking dan Noon. Begitu durian diberikan, Raiking langsung menunjukkan dominasinya. Tanpa ragu, ia menggigit dan membelah kulit durian yang berduri dengan cepat. Dalam waktu singkat, isi buah sudah habis dinikmatinya. Antusiasme dan kekuatan rahang terlihat jelas.

Berbeda dengan Raiking, Noon membutuhkan waktu lebih lama. Ia mengamati, mutar, dan mencoba membuka durian dengan lebih hati-hati. Saat menyadari durian Raiking telah habis, Noon mengambil keputusan cepat membawa duriannya naik ke hammock, seolah mengamankan “harta berharganya” dari potensi rebutan.

Raiking yang masih penasaran terus memperhatikan Noon dan mencoba mendekat. Situasi mulai memanas, hingga Anas (perawat satwa), segera turun tangan untuk menjaga jarak keduanya. Raiking sempat menunjukkan ekspresi kesal, namun Anas memberikan potongan durian tambahan. Dengan kecerdasannya, Raiking menyadari potongan tersebut masih menyimpan isi, lalu kembali membelahnya hingga tuntas. Sementara itu, Noon memegang erat duriannya dengan tangan dan kaki, menikmati hasilnya dengan lebih tenang di atas hammock.

Di kandang lain, dinamika tak kalah menarik terjadi pada Bow dan Jay. Bow tampak paling agresif membuka durian, langsung menggigit dan membelahnya. Jay memanfaatkan situasi dengan memakan bagian yang telah terbuka. Namun setelah durian Bow habis, Bow mencoba beralih ke durian milik Jay. Anas kembali sigap mengamankan situasi dan mengembalikan durian tersebut kepada Jay. Kali ini, Jay berhasil membuktikan kemampuannya dengan membuka dan menghabiskan durian sendiri.

Sementara itu, Maxim dan Agam menunjukkan reaksi berbeda. Keduanya tampak kebingungan saat pertama kali menerima durian. Mereka mengamati buah berduri tersebut cukup lama, seolah sedang menganalisis cara membukanya. Setelah Anas membantu membuka bagian atas keduanya mulai memahami tekniknya. Perlahan tapi pasti, mereka berhasil melanjutkan proses membuka dan menikmati durian secara mandiri sebuah pembelajaran baru yang penting bagi perkembangan mereka.

Momen unik juga terlihat pada Tami yang menerima durian saat sesi bonding bersama keeper Arfan. Setelah mendapatkan buahnya, Tami langsung memanjat ke hammock. Alih-alih membelah seperti individu lain, Tami memilih strategi berbeda, ia melubangi bagian tengah durian dan memakan isinya dari dalam. Cara ini terlihat menggemaskan sekaligus menunjukkan karakter dan preferensi individunya. Asih dan Robert pun tak ketinggalan. Dengan cekatan dan penuh pengalaman, keduanya mampu membelah durian dalam waktu singkat dan menghabiskannya tanpa kesulitan berarti.

Kegiatan enrichment durian ini lebih dari sekadar pemberian pakan tambahan. Di alam liar, orangutan harus menghadapi buah berduri, berkulit tebal, dan terkadang sulit dibuka ini. Melalui enrichment ini, mereka dilatih untuk menggigit, menekan, memutar, hingga menemukan celah terbaik untuk mengakses isi buah. Proses ini melibatkan kekuatan rahang, koordinasi dengan tangan dan kaki, serta kemampuan problem solving yang sangat penting bagi kelangsungan hidupnya. Selain melatih fisik, enrichment juga menstimulasi mental dan mengurangi stres akibat keterbatasan ruang. Setiap durian yang diberikan bukan hanya makanan, tetapi simulasi kecil dari tantangan hutan yang sesungguhnya mempersiapkan mereka agar tetap tajam, cerdas, dan adaptif ketika kembali ke habitat alaminya (Nabila_Orangufriends)

SEMAKIN PERCAYA DIRI, AGAM DAN DAN MAXIMUS BERADA DI ENCLOSURE UTARA

Cuaca pagi yang cerah meliputi kawasan sekolah hutan dengan cahaya keemasan yang perlahan menembus kanopi. Embun masih menggantung di ujung-ujung daun, memantulkan sinar matahari yang hangat namun lembut. Pagi seperti ini selalu menghadirkan energi baru dan pagi itu, semangat tersebut terasa jelas pada Agam dan Maximus bahkan sebelum mereka benar-benar dilepas dari gendongan keeper.

Begitu kaki mereka menyentuh tanah, keduanya langsung bergerak tanpa ragu. Seolah telah menyusun rencana sejak dalam perjalanan, Agam dan Maximus berpisah arah. Di enclosure bagian selatan, Asih memulai harinya sendiri. Sementara itu, di enclosure utara, Agam dan Maximus bersiap menjalani sesi sekolah hutan dengan penuh antusias. Meski terpisah pagar dan jarak, ketiganya tetap berada dalam lanskap hutan yang sama terhubung oleh suara dedaunan dan aroma pepohonan liar yang khas.

Agam dengan percaya diri, segera memanjat pohon terdekat. Gerakannya lincah dan tegas mengarah langsung ke pucuk pohon seakan ingin menaklukkan ketinggian. Di atas yang sama, Maximus memilih pohon di sebelahnya. Ia memanjat dengan ritme yang sedikit lebih hati-hati, namun tak kalah mantap. Perbedaan pilihan ini bukan sekadar arah, melainkan tanda bahwa keduanya memulai membangun kemandirian berani menentukan jalur masing-masing.

Dari atas pohon, aktivitas mencari makan pun dimulai. Buah Manarung yang mulai matang menjadi santapan pagi mereka. Dengan cekatan, jari-jari mereka memetik dan menggenggam buah, menggigit dagingnya, lalu membiarkan kulit dan serpihannya jatuh ke lantai hutan. Sesekali, Maximus terlihat penasaran mengupas kulit pohon, mencoba menggigit bagian dalamnya. Eksplorasi kecil ini adalah bagian penting dari proses belajar mengenali variasi pakan alami yang kelak akan menopang hidup mereka di alam liar.

Semakin pagi beranjak, semakin terlihat perubahan pada Maximus. Jika sebelumnya ia cenderung mengikuti Agam dari dekat, kini ia mulai berani menjaga jarak. Ia menjelajah cabang demi cabang tanpa terus-menerus memastikan posisi Agam, selama Agam tidak berada dalam gendongan keeper. Kepercayaan dirinya tumbuh perlahan, namun pasti. Inilah salah satu capaian penting dalam proses rehabilitasi, kemampuan untuk berdiri sendiri, meski tetap merasa aman.

Berbeda dari hari-hari sebelumnya, pagi ini tidak teramati aktivitas membuat sarang. Biasanya, menjelang siang mereka akan melipat ranting dan daun untuk membentuk tempat beristirahat sederhana. Namun hari ini, fokus mereka sepenuhnya tertuju pada pencarian pakan. Musim buah yang mulai hadir seakan memanggil naluri alami mereka untuk memanfaatkan setiap peluang yang ada.

Ketika perut mulai terisi dan energi kembali terkumpul, perhatian mereka mendadak teralihkan. Di sisi lain pagar, Asih terlihat bergerak di dalam enclosure bagian selatan. Kehadirannya menjadi magnet yang kuat. Agam dan Maximus segera turun dari pohon, langkah mereka cepat namun tetap waspada.

Agam tampak paling bersemangat. Ia mendekati pagar pembatas, matanya tak lepas dari Asih. Ada dorongan kuat untuk mendekat, mungkin untuk bermain, mungkin sekadar memastikan keberadaan temannya. Namun di antara mereka terdapat pagar listrik yang menjadi batas keamanan. Saat Agam mencoba mencari celah untuk menyerang, keeper dengan sigap menariknya menjauh. Tindakan cepat ini bukan sekadar pencegahan, melainkan bagian dari pembelajaran tentang batas dan keselamatan.

Sesaat, Agam menunjukkan rasa ingin tahun yang belum terjawab. Namun tak lama kemudian, ia kembali mengalihkan perhatian pada lingkungan sekitarnya. Maximus pun mengikuti, kembali menjelajah tanah dan pepohonan di sekitarnya. Interaksi singkat melalui pagar itu tetap menjadi stimulasi sosial yang penting mengingatkan bahwa mereka adalah individu sosial yang kelak harus mampu berinteraksi secara sehat di alam liar.

Di bawah cuaca yang tetap cerah, sesi sekolah hutan pagi itu, menunjukkan perkembangan yang jelas pada Agam dan Maximus. Keduanya semakin aktif mencari pakan alami tanpa banyak bergantung satu sama lain. Mereka mampu memanjat, memilih sumber pakan dan berpindah pohon dengan koordinasi tubuh yang semakin baik. Respons keeper yang cepat saat Agam mendekati pagar listrik juga menjadi bagian penting dari pembelajaran batas aman di dalam enclosure. Interaksi visual dengan Asih tetap memberikan stimulasi sosial, namun fokus utama mereka hari itu tetap pada eksplorasi dan pencarian makan (RID)

BONDING YANG SEMAKIN KUAT ANTARA TAMI DAN KEEPERNYA DI BULAN FEBRUARI

Proses bonding adalah salah satu tahapan penting dalam rehabilitasi. Bukan sekadar membangun kedekatan, tetapi juga membentuk rasa aman, kepercayaan, dan komunikasi dua arah antara individual dan keeper. Pada bulan Februari ini perkembangan Tami menunjukkan sinyal yang menggembirakan.

Bulan ini, Tami terlihat cukup kooperatif. Saat namanya dipanggil, ia datang menghampiri sambil membawa sayur buncis yang telah disiapkan keeper lain di tempat pakannya. Respons ini menjadi indikator positif bahwa Tami mulai mengenali panggilan dan mengaitkannya dengan interaksi yang aman. Ia makan dengan tenang, tanpa menunjukkan tanda-tanda stres atau penolakan.

Namun, sikapnya berubah ketika mulai menikmati buah. Saat memakan mangga, Tami terlihat lebih protektif terhadap makanannya. Ia cenderung cuek dan tidak merespons ketika disenggol. Perilaku ini bukan hal yang negatif, melainkan bagian dari insting alaminya dalam mempertahankan sumber pakan. Sikap tersebut menunjukkan karakter dan preferensi individual yang semakin jelas terbaca oleh keeper.

Menariknya, setelah mangga yang dimakannya habis, Tami justru berubah lebih terbuka. Ia mulai mendekat dan mengajak bermain. Ketika kembali dipanggil, Tami menghampiri dengan gerakan yang lebih santai. Bahkan, ia menggulingkan tubuhnya ke arah keeper sebuah gestur yang menunjukkan rasa nyaman dan ajakan interaksi.

Meski sempat muncul rasa waspada, terutama karena pengalaman sebelumnya di mana Tami masih menunjukkan kecenderungan defensif, hari itu terasa berbeda. Tami tampak lebih terkendali. Tidak ada gestur agresif atau ancaman gigitan seperti yang pernah terjadi sebelumnya. Perubahan ini menunjukkan peningkatan signifikan dalam proses adaptasi dan kepercayaan.

Kepercayaan tidak terbentuk dalam semalam. Konsistensi kehadiran keeper, interaksi yang stabil, dan pendekatan yang tepat secara perlahan membangun hubungan yang lebih positif. Tami kini terlihat semakin mengenali sosok yang rutin masuk untuk mengajaknya bermain dan berinteraksi. Ada response timbal-balik yang mulai terbentuk.

Perkembangan seperti ini mungkin terlihat sederhana, tetapi dalam proses rehabilitasi, setiap perubahan perilaku memiliki arti besar. Dari datang saat dipanggil, menjaga makanan dengan insting alami, hingga akhirnya menggulingkan tubuh sebagai bentuk kepercayaan semua adalah langkah kecil menuju kestabilan emosi dan sosial yang lebih baik.

Bulan Februari 2026 menjadi catatan penting dalam berjalan Tami. Sebuah hari yang menunjukkan bahwa proses bonding berjalan ke arah yang positif, dan kepercayaan yang dulu terasa jauh kini mulai terbangun dengan lebih nyata (FAN).

HARI-HARI ORANGUTAN REPATRIASI BERADA DI SRA

Genap sudah 21 hari Raiking, Noon, Jay, dan Bow berada di SRA (Sumatran Rescue Alliance) di balik kandang karantina sejak tiba di tanah air pada 24 Desember 2025 lalu. Selama di SRA setiap satwa yang masuk karantina diamati, selain perilakunya ini penting juga untuk kesehatan satwanya ketika dikarantinakan. Oke pertama-tama kita mulai dari si Raiking.

Raiking, si kecil ber-cheekpad adalah orangutan yang paling aktif dan menjadi yang pertama terbangun, bukan karena “morning person” tapi ia terlihat dari awal sebagai pejantan alfa dikarenakan cheekpad-nya yang sudah tumbuh. Raiking selalu mengamati sekeliling sambil terkadang bermain dengan Noon (teman sekandangnya). Para perawat satwa mencatat bahwa Ranking menunjukkan rasa ingin tahu yang tinggi, namun tetap tenang. Ia sudah mampu merangkai dedaunan dan ranting untuk menjadi sarang sederhana, sebuah perilaku alami yang menandakan insting liarnya masih terjaga dengan baik.

Teman sekandangnya si Noon sama seperti Raiking, bedanya Noon paling cerewet dan manja ketika jadwal makan dan pemberian susunya datang. Ia sering terlihat bermain dengan karung kain yang menjadi selimut tidurnya yang disediakan perawat sebagai enrichment. Noon dan Raiking dari awal sudah dapat beradaptasi terutama dari segi pakan yang saat ini mulai dirubah dari buah-buahan menjadi banyak sayur-mayur, hal ini menjadi baik ketika orangutan terbiasa memakan makanan yang tidak terasa manis dan matang, hal ini akan memudahkan mereka dikemudian hari ketika dilepasliarkan.

Jay, dikenal paling playful. Ia kerap bergelantungan, menjatuhkan buah dengan sengaja, lalu mengambilnya kembali sambil bermain. Para perawat satwa dan dokter hewan mencatat Jay memiliki response positif terhadap interaksi lingkungan dan perubahan pakan. Proses penyesuaian makanan sedang dilakukan secara bertahap, meskipun saat ini mereka masih diberikan susu untuk perkembangan tubuhnya tetapi tetap diberikan pakan berupa variasi buah, sayuran, dan dedaunan dan Jay dapat mengikuti seiring berjalannya waktu mencoba semua jenis pakan yang diberikan.

Sementara itu Bow, menunjukkan kepekaan yang tinggi meskipun terkadang tantrum tidak mau jauh dari Jay. Bow adalah orangutan karantina yang lebih sensitif dibandingkan yang lain, hal ini dimungkinkan diulurnya yang terbilang masih sangat muda seharusnya masih dalam lindungan dan gendongan sang induk, meskipun begitu Bow sering membuat sarang dan berlatih bergelantungan bersama Jay ketika perawat satwa dan dokter hewan tidak di dekat kandang. Hal ini memperlihatkan kemajuan signifikan. Bow kini mampu menyusun sarang kecil di malam hari dan memilih tempat tidur yang sama secara konsisten, sebuah tanda kenyamanan di lingkungan barunya.

Selama 21 hari ini, semuanya bekerja tanpa henti. Pemeriksaan kesehatan, pemberian vitamin, susu, dan kebutuhan pakannya diperhatikan secara seksama, pemantauan perilaku, serta penyesuaian pakan dilakukan dengan penuh kehati-hatian. Keempat orangutan menunjukkan perilaku yang sangat baik di kandang tidak ada tanda stres, agresivitas, maupun gangguan makan yang berarti.

Bagi Ranking, Noon, Jay, dan Bow, SRA bukalah akhir perjalanan, melainkan tempat belajar kembali menjadi orangutan seutuhnya. Setiap sarang yang mereka buat, setiap buah yang mereka kupas sendiri, dan setiap pagi yang mereka jalani dengan tenang adalah langkah kecil menuju satu tujuan besar, kembali ke hutan Sumatra, rumah sejati yang menanti mereka. (NAB)

DARI THAILAND KE RUMAH, KISAH REPATRIASI JAY, BOW, NOON, DAN RAIKING

Pada 24 Desember 2025, empat bayi orangutan akhirnya kembali menginjakkan kaki di tanah air setelah melalui proses repatriasi lintas negara. Jay, Bow, Noon, dan Raiking mendarat dengan selamat di Bandara Kualanamu dan kini menjalani masa karantina di pusat rehabilitasi Sumatran Rescue Alliance (SRA), Langkat.

Keempatnya merupakan korban perdagangan satwa liar ilegal. Jay, Bow, dan Noon lebih dahulu tiba di pusat penyelamatan satwa Praptuchang pada Januari 2025. Nama mereka terinspirasi dari trio penyanyi perempuan Thailand yang sempat viral pada masa pandemi COVID-19, yaitu Jane, Bow, dan Noon. Nama “Jane” kemudian diadaptasi menjadi Jay untuk menyesuaikan identitas Jay sebagai individu jantan. Raiking, jantan lainnya, tiba menyusul pada Mei 2025. Namanya berarti “raja di hutan”, sebuah ironi pahit bagi bayi orangutan yang kehilangan hutannya sejak dini.

Saat pertama kali kami melihat mereka, keempatnya berada dalam kondisi waspada. Mereka selalu bergerombol dan saling berpelukan, seolah mencari rasa aman satu sama lain. Di alam, usia mereka seharusnya masih dihabiskan dalam dekapan ibu, menyusu, bergelantungan di antara dahan, serta belajar mengenali dedaunan, buah, dan kulit kayu yang aman dimakan. Semua pelajaran itu terhenti terlalu cepat.

Raiking segera mendapat julukan “ketua geng”. Ia nyaris tak pernah mendekati manusia, bahkan ketika ketiga temannya mengambil potongan buah dari tangan kami. Ia akan merebut buah milik teman-temannya lalu makan dengan tatapan selalu awas. Ia juga kerap mengusir kami dengan gerakan agresif, menggoyang hammock, atau mengeluarkan suara kiss squeak dan grunt, seolah menjalankan peran pelindung meski dirinya sendiri masih bayi.

Perjalanan pulang mereka dimulai pada 23 Desember 2025 dari Bangkok menuju Jakarta. Setelah bermalam satu malam di Jakarta, mereka melanjutkan penerbangan ke Medan pada 24 Desember dan tiba di pusat rehabilitasi di Besitang, Langkat, Sumut pada sore hari menjelang malam Natal. Pengumuman awak Garuda masih terngiang-ngiang, saat itu para penumpang pesawat Garuda bersorak gembira ketika pramugari mengumumkan bahwa 4 orangutan ikut serta dalam penerbangan GA867 Bangkok-Jakarta. Kami tidak dapat menahan airmata haru. Akhirnya perjalanan panjang dari ibunya yg tewas, labirin gelap perdagangan satwa liar ilegal. (TYT)

DURASI SEKOLAH HUTAN DI SRA BERTAMBAH

Musim hujan telah tiba, intensitas hujan lebih tinggi dibanding bulan-bulan sebelumnya. Orangutan Asto dan Asih tetap sekolah sebagai rutinitas harian agar mereka semakin terbiasa mandiri di alam liar. Harapannya mereka bisa mencari makan sendiri, membuat sarang, lebih pintar menghindari sesuatu yang membahayakan diri sendiri. Agar mereka lebih kreatif, lebih cepat beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Untuk mendukung secepat mungkin terjadinya tujuan-tujuan tersebut, maka durasi sekolah hutan harian diperpanjang. Sebelumnya durasi sekolah hutan hanya maksimal 4-6 jam sehari, sekarang durasi sekolah hutan dibuat 8 jam setiap harinya.

Pagi hari jam 08.00 WIB keeper membawa Asto dan Asih ke area sekolah hutan. Asto langsung berlari ke pohon terdekat untuk memanjat pohon, kemudian berkeliling di area sekolah hutan, berpindah dari pohon ke pohon untuk mencari makan. Selama sekolah hutan, Asto lebih senang berada di atas pohon. Bahkan hanya untuk menuju pintu keluar kandang, Asto akan memilih jalan melewati pohon ke pohon dibanding berjalan di atas tanah. Perilaku Asto berbaring terbalik dengan Asih yang lebih senang berjalan di atas tanah. Asih teramati sangat penasaran dan juga penuh akal kreatif. Asih sering mencoba kabur melewati pagar listrik. Asih pernah mencoba kabur melewati selokan, pernah mencoba kabur dengan merangkak di bawah kawat listrik dan bahkan pernah mencoba kabur dengan memanjat tiang-tiang pagar listrik.

Saat jam menunjukkan pukul 12.00 WIB, Asto dan Asih akan bermain di sekitar pintu keluar. Namun dikarenakan durasi sekolah hutan lebih panjang dari biasanya, keeper tidak datang untuk menjemput. Asto dan Asih terlihat kebingungan dikarenakan tidak diajak pulang padahal biasanya jam segitu sudah balik ke kandang. Asto dan Asih kembali asyik bermain bersama dikarenakan belum dipanggil untuk pulang. Keduanya pun kembali beraktivitas. Asto naik ke atas pohon untuk beristirahat siang sambil makan di atas pohon, sementara Asih kembali mencari cara untuk kabur dari area sekolah hutan yang dibatasi pagar listrik. (RID)

HARI PERTAMA MAXIMUS SEKOLAH DI SRA

Maximus, itulah nama yang diberikan oleh orang-orang yang merawatku dengan baik termasuk memberi makan yang cukup dan menjaga kesehatan. Orang-orang yang memberikan ku kesempatan kedua untuk dapat kembali ke rumah (hutan alami) nantinya setelah aku siap untuk kembali.

Kurang lebih setahun, aku di kandang. Kata perawatku, aku akan kembali ke rumah saat umurku 8 atau 9 tahun tapi mungkin saja lebih cepat jika pertumbuhan dan perkembanganku baik. Sedangkan saat ini aku baru berumur 2,5 tahun. Bagaimana agar penilaian nya baik, aku harus mengikuti sekolah hutan dan rapor ku harus terus meningkat dan baik. Selama aku berada di sini, aku belum pernah ikut sekolah hutan.

Hari ini adalah hari pertama ku sekolah hutan. Aku sangat gugup karena akan mencoba hal baru, Aku ditemani oleh Agam agar aku tidak terlalu takut. Agam bisa menjadi guruku untuk belajar memanjat, mencari makan dan membuat sarang. Agam sudah terlebih dahulu menjalani sekolah hutan. Aku sangat akrab dengan Agam karena aku satu kandang dengan Agam.

Saat pertama kali aku keluar kandang dan dibawa oleh perawatku ke area sekolah hutan bersama dengan Agam. Aku sangat takut dan hanya bisa memeluk Agam. Saat diletakkan di pohon, aku melihat Agam langsung memanjat pohon untuk beraktivitas di atas pohon. Aku bergegas mengikuti Agam ke atas pohon. Aku masih kaku dalam hal memanjat pohon, berbeda dengan Agam yang sudah mahir memanjat dan berpindah pohon dari ranting ke ranting. Terkadang aku menangis karena posisi Agam yang jauh dari posisiku. Sesekali aku mencoba pisah dari Agam untuk mencoba menjelajah area sekolah hutan sendiri. Sesekali aku melihat lokasi Agam, hanya untuk memastikan Agam masih berada dalam jarak pandangku karena aku cukup panik jika tidak melihat keberadaan Agam.

Sekian dulu ceritaku hari ini, sampai jumpa di ceritaku selanjutnya. (RID)