BONTI KEMBALI HADIR DI SEKOLAH HUTAN

Ada tiga orangutan betina yang terkenal sebagai orangutan yang jahil di Bornean Orangutan Rescue Alliance (BORA). Ketiganya berada dalam satu kandang. Mereka adalah Jojo, Mary, dan Bonti. Sebuah cerita yang berbeda dari orangutan yang bernama Bonti. Waktu itu, ketika Bonti tidak lagi menjadi siswa sekolah hutan karena sering membuat para keeper menginap akibat Bonti keasyikan bermain di hutan.

Perubahan sikap dari orangutan Bonti yang awalnya takut untuk bermain bersama, hanya mau mendekat saat dikasih makanan, berubah menjadi manja. Bonti menunjukkan perilaku ingin dipeluk sambil menyuarakan suara manja. Tapi perilaku Bonti yang ingin dipeluk, ternyata hanya sebagai alasan untuk Bonti mendapatkan buah yang mungkin dibawa keeper di kantong wearpack. Dan jika diperiksa ternyata tidak ada buah, Bonti tetap ingin dipeluk sambil bersuara merengek minta diberikan buah. Sejak saat itu, setiap harinya, sebelum dan sesudah feeding menjadi terbiasa minta dipeluk.

Kini, Bonti kembali menjadi siswa sekolah hutan. Bonti menjadi orangutan yang liar ketika berada di sekolah hutan. Bonti asyik bermain di pohon tinggi dan berpindah-pindah dengan cepat dan semakin jauh dari titik awal sekolah hutan. Dipanggil pun tak lagi dihiraukannya. “Syukurlah… lama di kandang tak mengurung keliarannya. Ini adalah hal baik untuk perkembangan perilaku Bonti. Semoga Bonti dapat belajar banyak hal di sekolah hutan dan dapat segera menjadi kandidat pelepasliaran orangutan”, ujar Jevri, animal keeper terlama di BORA penuh harap. Menjadi animal keeper Bonti memang sangat menantang dan harus siap jika dia ingin bermalam di hutan. (JEV)

BAYI ORANGUTAN ITU BERNAMA ARTO

Tiba di Klinik Bornean Orangutan Rescue Alliance diiringi hujan deras, bayi orangutan berusia 9 bulan itu meringkuk kedinginan. Masih mengenakan kaos dan gelang yang melingkar di pergelangan tangannya, tim medis memasukkannya ke kandang dengan gantungan hammock di dalamnya. Bayi ini pun enggan masuk, dan mulai menangis… sangat keras hingga bayi-bayi orangutan yang berada di ruangan terbangun dan menatapnya.

Arto, nama yang penuh makna disematkan padanya. Dari kata harta yang bermakna kekayaan maupun betapa berharganya bayi ini bagi keberlangsungan hutan kedepannya. Arto, bayi yang kehilangan induknya dan terpaksa menjalani hidup seperti bayi manusia, didandani seperti bayi perempuan manusia. “Aku akan menemaninya”, ujar drh. Elise Ballo yang menjemput bayi ini dari pemelihara ilegalnya.

Elise mememeluknya bergantian dengan paramedis Tata. Berjam-jam hingga akhirnya Arto, orangutan jantan ini mulai merasa nyaman dan mau diletakkan di keranjang beralaskan selimut, tetap minta ditemani. Lewat tengah malam, bayi ini pun tertidur. Lelah. (LIS)

LEWAT EDUKASI, TANAMKAN MIMPI BARU ANAK BUSANG

Pagi itu, Busang mendung. Hujan turun semalaman. Jumat, 11 November, tim APE Guardian bersiap-siap sejak pagi mengumpulkan perangkat school visit seperti materi, alat tulis yang sudah dikemas sebagai hadiah, poster, dan sticker. Tim bergegas setelah sarapan pagi menembus hujan yang masih rintik-rintik.

“Tepuk semangat”, ajak Randi Kurniawan, putra minang yang merantau di Kalimantan Timur dan mengawali karirnya sebagai ranger, kini sebagai kapten APE Guardian, sebuah tim yang mempersiapkan lokasi pelepasliaran orangutan dan memastikan orangutan yang dilepasliarkan kembali ke habitatnya ini, baik-baik saja. Selanjutnya, bio-ekologi orangutan termasuk ukuran tubuh orangutan, ciri-cirinya, persebarannya, bagaimana pengasuhan induk ke anak dengan menampilkan foto-foto yang diperoleh tim dari lapangan. Selain itu, video tentang penelitian orangutan ditayangkan dan ditonton bersama dengan harapan dapat membuka pengetahuan anak-anak bahwa banyak yang bisa dilakukan dalam usaha penyelamatan orangutan.

Ketiga belas orangutan yang telah dilepasliarakan di Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat juga diperkenalkan kapada anak-anak. “Jangan diberi makan, jangan didekati, jaga jarak! Orangutan satwa liar”, tegas Randi lagi. Selain itu, kegiatan menarik seperti survei keanekaraman hayati dan pentingnya kegiatan itu dilakukan juga menjadi cerita motivasi, kelak anak-anak Busang akan jadi penerus dunia konservasi Indonesia.

Anak-anak begitu antusias dan menyampaikan pertanyaannya. “Bagaimana cara mengajari orangutan hingga menjadi pandai di tempat rehabilitasi, bagaimana cara mengatasi orangutan yang stres dalam kandang, dan yang paling unik adalah berapa lama orangutan ada di perut induknya”. Kegiatan school visit di SMPN 1 Busang berjalan dengan semangat luar biasa. Kegiatan ditutup oleh permainan ’tebak gerakan teman’ yang membuat suasana kelas riuh dengan gerakan heboh mereka sampaikan secara estafet ke teman-teman yang berbaris di belakangnya. Siswa yang berada pada barisan paling akhir bertugas menebak apa yang temannya sampaikan. Semangat anak-anak dalam suasana Orangutan Caring Week 2023, menjadi semangat tim APE Guardian menjaga orangutan, si pengaman hutan. (MIN)

PAKET DARI GOCOP UNTUK ORANGUTAN

Hari Senin adalah awal memulai minggu setelah libur, bagi sebagian orang, Senin adalah hari dimana kita harus menatap tanjakan terjal yang harus dilalui, bagi sebagain orang lainnya, Senin adalah semangat baru setelah melewati hari-hari yang melelahkan untuk lebih baik lagi. Hal ini juga terjadi pada Asto dan Asih.

Asto dan Asih, setiap pagi harus memulai sekolah hutan yang terik, melelahkan, dan juga menyenangkan. Tidak heran terkadang setelah waktu sekolah hutan selesai, keduanya beristirahat bahkan tidur siang di kandang. Biasanya mereka akan mendapatkan enrichment pakan. Untuk kami animal keeper nya, enrichment orangutan adalah enrichment untuk kami juga. Kali ini, karung akan diisi daun dan akar

“Pakeeetttt”, sesederhana itu idenya. Kerinduan suara pengiriman barang yang tidak mungkin sampai di Sumatran Rescue Alliance (SRA). Semua keeper langsung menuju dapur, menemukan karung berisi beras yang baru saja dibuka. “Kita pindahkan saja isinya”, ujar Ryan, animal keeper yang telah 2 tahun lebih mengurus orangutan di SRA.

Karung dicuci bersih berikut dedaunan dan kami potong kecil-kecil seolah kami sedang memasak pakan tersebut seperti dalam pengiriman paket “Makananmu sedang dalam proses masak”. Setelah pakan siap dan sudah terbungkus rapi di dalam dedaunan, lalu kami masukan ke dalam karung tadi “Makananmu sudah siap, menunggu kurir untuk mengirim paket ke alamut mu” (begitu status yang diterima Asto dan Asih jika mereka menggunakan gawai. Kami ikat ujung karung dengan akar dan kembali ada notifikasi “Kurir sedang mengirim paketmu, paket dalam perjalanan menuju rumahmu”, kami pun yang membuat enrichment ini sedikit tertawa. Lepas sudah lelah dengan canda gurau seperti ini.

Setibanya di depan kandang, respon yang kami terima dari Asto dan Asih adalah ucapan, “Terima kasih bang kurir, paketnya sampai”, hahaha canda kami. Asto dan Asih merespon aneh dengan enrichment ini, namun mereka langsung mengambil ‘paket’ tersebut. Asto dengan lihai melakukan unboxing paket. Tali akar yang mengikat karung dengan perlahan dibukanya. Berbeda dengan Asih yang terlihat tidak sabar. Asih menggigit dan merobek karung tersebut dari tengah-tengah, tidak seperti Asto yang membukanya perlahan, satu per satu hingga menemukan potongan buah di dalamnya. Hayo… siapa yang kalau terima paket seperti ini? Terima kasih telah menggunakan layanan GOCOP. (YAN-FAN-DIN-NAB)

ORANGUTAN BUKAN HEWAN PELIHARAAN

BKSDA SKW I Berau kembali menerima penyerahan 1 individu bayi orangutan dari kampung Merapun, kecamatan Kelay, Kalimantan Timur. Tim APE Defender mendampingi proses serah terima ini dan segera melakukan pemeriksaan kesehatan fisik pada bayi tersebut. “Perkiraan usia, sekitar 9 bulan dengan perut yang besar. Biasanya pemelihara memberikan susu dan sempat berganti merek susu karena diare. Menurut mereka, orangutan tersebut ditemukan di sekitar 400 meter dari rumah mereka, katanya lagi orangutan kecil ini ditinggal induknya karena induknya dikejar anjing”, catat drh. Elise Margaret Ballo.

Bayi orangutan mendapatkan perhatian yang baik dari pemelihara sekeluarga. Tempat tidur bayi, pakaian, popok, hingga pemberian perhiasan gelang yang melingkar di pergelangannya. Orangutan juga dimandikan 3 kali seminggu. Bayi orangutan juga cukup percaya dengan keluarga yang memeliharanya. “Namun, orangutan bukanlah hewan peliharaan. Kehidupan bayi orangutan sangat bergantung dengan induknya. Anak orangutan akan bersama induknya hingga usia 5 tahun. Orangutan adalah satwa liar dilindungi. Kepemilikan dan pemeliharaan ilegal adalah perbuatan melanggar hukum”, ujar Raffi Akbar, asisten manajer BORA (Bornean Orangutan Rescue Alliance).

Tim pun kembali ke BORA, perjalanan 4 jam menyimpan sunyi. Bayi orangutan terlelap di pangkuan drh. Elis. Kami diam dalam pikiran yang tak kunjung selesai. Baru saja memastikan dua orangutan jantan kandidat pelepasliaran baik-baik saja di pulau pra-rilis orangutan, ternyata ada masuk lagi satu bayi orangutan yang masih membutuhkan proses hingga rilis sekitar 6-8 tahun lagi. Orangutan ini pun terbangun dari tidurnya, menjelajah isi mobil, menatap keluar jendela, hujan di luar. (LIS)

ORANGUTAN MEMBUTUHKAN DOKTER HEWAN

Centre for Orangutan Protection yang telah berdiri sejak tahun 2007 adalah organisasi orangutan satu-satunya yang didirikan oleh putra-putri Indonesia, membutuhkan dokter hewan dengan kemampuan adaptif yang cukup tinggi. COP menjunjung tinggi kesetaraan gender namun siap bekerja di lapangan, hutan Kalimantan tanpa sinyal telepon maupun internet. Kemampuan komunikasi yang baik dan mampu bekerja sama dalam tim serta bekerja secara mandiri menjadi nilai lebih. Pribadi yang mengutamakan kejujuran, disiplin dan tanggung jawab akan sangat disukai.

Selain profesi sebagai dokter hewan, COP juga membutuhkan paravet (paramedis veteriner) dengan latar belakang pendidikan diploma paramedis kesehatan hewan atau minimal SMK Kesehatan Hewan. Silahkan kirim surat lamaran dan daftar riwayat hidup ke email info@orangutanprotection.com paling lambat 25 Oktober 2023.

Untuk saat ini, COP memiliki tiga orang dokter hewan dan dua orang paramedis. Dokter hewan maupun paramedis akan bekerja dalam sistem yang telah diatur dengan beberapa lokasi kerja di Kalimantan Timur, bertanggung jawab untuk menjalankan pusat rehabilitasi dengan memastikan kesehatan orangutan yang ada di BORA (Bornean Orangutan Rescue Alliance), penyelamatan maupun translokasi satwa di daerah konflik, maupun ikut dalam pelepasliaran orangutan ke habitatnya. Mari ambil peranmu untuk konservasi orangutan di Indonesia.

HAPPI, SI TUKANG TARIK

Happi namanya, orangutan ini selalu tampak seperti sedang tersenyum. Saat ini, Happi adalah penghuni kandang karantina dan sedang dalam antrean untuk menjadi penghuni baru pulau pra-pelepasliaran orangutan, sebuah tingkatan akhir untuk dilepasliarakan kembali ke habitatnya. Setelah Happi pindah ke kandang karantina, banyak sekali perubahan yang terjadi, mulai dari warna rambutnya yang agak menggelap dan volumenya yang menebal, dan juga semakin agresif pada manusia.

Ciri khas Happi pada waktu makan, dia akan mengambil pakannya dan bergerak, baik itu langsung memanjat dan menikmati makanannya di atas hammock atau sekedar menjauh. Orangutan Happi biasanya menghabiskan waktunya dengan istirahat dengan berdiam diri, duduk, atau merebahkan badannya pada hammock atau bagian bawah kandangnya. Happi juga sering terlihat sedang autogrooming seperti menggaruk badan dan menjilati jari-jari tangannya.

Kini, Happi menjadi musuh tim medis. Happi yang selalu terlihat tenang ketika sedang diobati atau diberikan minuman, ternyata mengincar dengan si kantong merah berisi obat-obatan dan vitamin bahkan apapun yang sedang dipegang oleh tim medis. Kalau dia berhasil menarik si merah, pasti ada saja satu barang yang terambil. Ketika barang sudah terambil, sangat kecil kemungkinan untuk kita mendapatkannya kembali. Beberapa kali Happi menarik gelas dan tutup botol susu dari tim medis, dia memainkan gelasnya sampai pecah. Begitu pula dengan obat maupun vitamin yang berhasil ditariknya, pasti habis dimakannya. (IND)

INDUK ORANGUTAN YANG BARU MASUK BORA, KRITIS! (2)

Seperti kebanyakan orangutan liar yang masuk ke pusat rehabilitasi, Mauliyan masih dengan sifat agresif segera mengusir jika ada yang mendekati area kandang. Sebagai induk orangutan, dia terlihat sangat melindungi anaknya. Setiap ada yang mendekat, anaknya langsung bersembunyi dalam pelukannya bahkan ditarik paksa olehnya. Mauliyan juga masih dalam masa adaptasi dengan pakan yang diberikan, beberapa jenis pakan masih belum mau dimakannya.

Mauliyan dan anaknya adalah orangutan yang diselamatkan dari kawasan pertambangan di Kalimantan Timur. Viralnya ibu dan anak orangutan menyeberangi jalanan mengantarkan tim menyelamatkan keduanya. Sayang, hanya induknya yang bisa diselamatkan, sementara anaknya yang sudah cukup besar tidak berhasil ditemukan. Tim melakukan penyisiran dan menemukan Mauliyan beserta anaknya, Ariandi.

Kini, Mauliyan sedang kritis. Tim medis berusaha semaksimal mungkin menyelamatkan induk orangutan ini. Setelah 6 jam menjalani perawatan intensif, suhu tubuhnya naik perlahan dan kembali normal. Beberapa kali menunjukkan respon tubuh mencoba membalik badan namun Mauliyan belum sadar.

“Menunggu, berdoa, dan terus melakukan pengecekan hanya itu yang bisa dilakukan. Berharap Mauliyan pun berusaha untuk bertahan dengan kondisinya. Ariandi terlihat tak lepas memeluknya. Suatu kondisi yang sangat menyedihkan. Seorang anak yang masih membutuhkan ibunya yang tak berdaya”, ujar drh. Ellise Balo.

Pada 17.32 WITA terjadi hal baik. Mauliyan perlahan mulai sadar dan diputuskan untuk melepas infusnya. Dengan cepat, dibantu animal keeper untuk menahan tangannya yang kekuatannya mulai pulih. Infusnya berhasil dilepas. Perlahan-lahan, Mauliyan mencoba untuk duduk. Pemberian air gula sedikit demi sedikit berhasil masuk. Dua puluh menit kemudian, seperti tidak terjadi apa-apa, Mauliyan duduk dan memakan habis pakan sisa Ariandi yang ada di sekitar kandang. Tim pun segera memberikan pakan tambahan dan kemudian habis dimakannya. Sejak saat itu, Mauliyan tidak lagi pemilih makanan. Pakan yang dikasih, habis dimakannya sampai saat ini. (LIS)

PERAWAT SATWA TERBAIK DI BORA SEPTEMBER 2023

Perawat satwa Pusat Rehabilitasi Orangutan BORA pada penghujung bulan September ini mendapat kejutan dan apresiasi dari kinerja nya selama ini. Penyematan perawat satwa terbaik BORA kali ini jatuh pada perawat satwa yang telah bergabung sejak 2017 silam. Dia adalah warga lokal yang merupakan bapak dari sepasang anaknya. Selain mampu melakukan pekerjaan perawatan orangutan dengan baik, dirinya mampu menjalin komunikasi dengan rekan kerjanya baik dengan perawat satwa lainnya maupun dengan tim medis.

“Dia menanamkan nilai inisiatif yang tinggi di dalam pekerjaan, selain mengerjakan pekerjaan utama merawat orangutan, ia juga tampak melakukan pekerjaan lainnya dengan sukarela. Perawat satwa lain boleh belajar hal baik dari Amir, bapak dua anak ini”, ungkap Widi Nursanti, manajer Bornean Orangutan Rescue Alliance (BORA).

Menjadi perawat satwa adalah pekerjaan yang dewasa ini banyak digandrungi dan Amir membuktikan meski dirinya tidak memiliki latar belakang pendidikan yang bersinggungan dengan satwa liar, namun dirinya mampu menjadi figur perawat satwa orangutan terbaik di BORA. Selamat, Amir! (WID)

INDUK ORANGUTAN YANG BARU MASUK BORA, KRITIS! (1)

Mauliyan! Itu nama salah satu individu orangutan yang berada di BORA (Bornean Orangutan Rescue Alliance). Orangutan betina dewasa yang juga seorang ibu dari orangutan Ariandi. Keduanya dievakuasi oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam Seksi Konservasi Wilayah II (BKSDA SKW II Tenggarong) bersama Centre for Orangutan Protection (COP) pada 27 September 2023.

“Kondisi induk sangat memprihatinkan, BCS (Body Condition Score) nya 1 dari 5, perkiraan berat badannya sekitar 19 kg, jauh dari angka ideal apalagi untuk individu indukan yang masih harus menyusui anaknya”, papar drh. Ellise Balo

Tiga hari setelah tiba di BORA, Mauliyan ditemukan hanya berbaring, tidak berpindah bahkan setelah didekati perawat satwa. Tim medis berusaha membalikkan tubuh Mauliyan dan mendapati induk orangutan ini sedang menggigil dan mencoba menggigit dirinya sendiri. Setelah itu kepalanya mengarah ke bawah bahkan mulutnya berada di antara jeruji kandang. Kali ini Mauliyan terlihat menggigit besi kandang.

“Panik, tentu saja! Ada perasaan khawatir sembari berpikir apa yang menyebabkan Mauliyan menjadi seperti ini. Karena di hari kemarin, dia masih tampak aktif, sibuk mencoba berbagai pakan yang diberikan, bahkan terlihat mengajari anaknya untuk lepas dari gendongan. Ariandi diajarkan bergelantung pada kandang, memanjat bahkan diajarkan untuk berjalan dan duduk”, jelas drh Ellis.

Tim medis pun segera mengecek suhu tubuh, namun terbaca Lo (suhu di bawah 32° C), walaupun lemas, kondisi Mauliyan masih sadar. Hal pertama yang dilakukan adalah mencoba mengembalikan suhu tubuhnya. Sejam kemudian Mauliyan kehilangan kesadarannya. Mauliyan pun dipindahkan dari kandang karantina ke kandang perawatan yang ada di samping klinik BORA. Meskipun dalam keadaan tidak sadar, masih ada refleks tubuhnya. Beberapa kali tangannya ditarik, sehingga selang infus terlepas dan harus dipasang kembali. Dan berulang kali juga tim medis kesulitan memasangnya karena pembuluh darahnya bengkak. Tim mencari tahu kondisi glukosa Mauliyan dan mendapati jumlahnya yang di bawah dari normal. Mauliyan hipoglikemi. (LIS)