HERCULES MEMANGGIL TIM APE DEFENDER

Berlalu sudah tiga hari setelah mendapatkan laporan orangutan Hercules berkunjung ke pondok salah seorang warga pada tanggal 30 Januari 2023 berlokasi di muara Sungai Menyuk. Kunjungan Hercules ke pondok warga diketahui setelah warga itu membuka pintu pondoknya pada pukul 13.30 WITA. Warga tersebut pun langsung melapor ke Pos Monitoring Busang Hagar. Tim monitoring langsung mengecek dan melaporkan lagi ke tim yang berada di kampung. Setelah mendapat kabar ini, tim langsung berangkat pada sore harinya. 

Pada tanggal 31 Januari, tim berencana melakukan penyelamatan orangutan Hercules tanpa bius namun setelah dicek di lokasi, Hercules tidak ditemukan lagi. Setelah beberapa saat, Hercules datang lagi. Tim APE Guardian akhirnya meminta bantuan tim APE Defender untuk menangani Hercules. 

1 Februari sekitar pukul 08.37 WITA, tim APE Defender yang terdiri satu dokter hewan dan satu perawat satwa bersama tim APE Guardian menuju lokasi konflik. Setelah melakukan pembiusan ke-2 akhirnya Hercules dapat diamankan dan dimasukkan ke kandang angkut pada pukul 13.00 WITA. Hercules pun diamankan di Pos Monitoring karena berdasarkan keterangan tim medis selain takut kelelahan juga waktu dan cuaca tidak memungkinkan untuk dilepasliarkan kembali. Akhirnya tim sepakat untuk melepasliarkan Hercules kembali pada esok harinya.

Hari ke-2 Februari sekitar pukul 10.00 WITA setelah briefing singkat untuk pelepasliaran kembali orangutan Hercules. Pelepasliaran ini berlokasi di sisi kanan arah Sungai Pura atau lebih tepatnya berseberangan dengan anak Sungai Buloq. Pelepasliaran ini akhirnya selesai dilakukan dengan kondisi Hercules tanpa perlawanan saat pintu kandang angkut dibuka dari jarak jauh. Hercules justru memilih pergi masuk ke arah dalam hutan. TIm pun segera mengambil kandang angkut dan balik ke pos dengan selamat. (RAN)

SANG PETANI YANG TERANCAM KEHILANGAN RUMAHNYA

Siang itu, merdunya suara burung yang saling bersahutan di dalam hutan Labanan terusik oleh deru gergaji mesin yang nyaring terdengar walau dari kejauhan. Suara mesin ini seringkali terdengar dalam sebulan terakhir di dekat kawasan pusat rehabilitasi orangutan BORA (Bornean Orangutan Rescue Alliance) yang berlokasi di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Labanan, Berau, Kalimantan Timur. Tidak hanya siang hari, sesekali suara gergaji mesin terdengar hingga tengah malam. Berdasarkan hasil pengecekan lokasi yang dilakukan tim APE Defender dan APE Crusader bisa disimpulkan bahwa suara gergaji mesin ini berasal dari aktivitas pembalakan liar yang terjadi di dalam kawasan KHDTK Labanan. Tumpukan balok kayu dan keberadaan kemah terpal menjadi bukti kuat yang kami temukan saat pengecekan lokasi.

Selain menjadi tempat sekolah hutan bagi para orangutan rehabilitan di BORA, KHDTK Labanan merupakan rumah bagi banyak satwa liar. Tidak terkecuali bagi julang jambul hitam (Rhabdotorrhinus corrugatus) yang saya temukan saat sedang melaksanakan sekolah hutan (28/1/2023). Julang jambul hitam berasal dari keluarga Bucerotidae yang terdiri dari beragam jenis rangkong, julang, kangkareng dan enggang. Burung-burung dari keluarga Bucerotidae sering dijuluki sebagai ‘petani hutan’ karena kebiasaannya untuk menyebarkan biji hingga tempat yang jauh. Saat ini julang jambul hitam memiliki status konservasi genting (endangered) yang disebabkan oleh perburuan dan hilangnya habitat.

Julang jambul hitam seperti burung-burung Bucerotidae lainnya, sangat bergantung pada keberadaan pohon besar untuk bersarang dan mencari makan. Secara alami, mereka hanya bisa membuat sarang pada lubang yang berada di batang pohon besar. Buah-buahan hutan dan juga serangga yang terdapat di ketinggian pepohonan merupakan makanan mereka. Jika pembalakan liar ini terus terjadi, apakah di masa depan masih akan ada pepohonan bagi para ‘petani hutan’ ini untuk bersarang dan mencari makan? (RAF)

AKU NABIL UNTUK ORANGUTAN INDONESIA

Halo… namaku Ahmad Nabil Faturahman, anggota keluarga COP yang baru. Banyak hal yang kulakukan di BORA (Bornean Orangutan Rescue Alliance) sebagai Biologist dan Perawat Satwa mulai dari pemantauan Biodiversitas (Herpetofauna, Avifauna, Mamalia dan lain-lain) di sekitar area BORA dengan memotret. Aku dan Raffi (Biologist BORA) menemukan beberapa jenis katak pohon Rhacophorus pardalis, Polypedates otilophus dan Rhabdophis subminiatus.

Sebagai Biologist aku senang sekali memperhatikan karakteristik orangutan secara personalnya untuk mengetahui apa kebutuhan dan keinginan dari setiap individu yang aku amati seperti Jojo. Jojo adalah individu orangutan yang sangat iseng dan jahil kepada setiap perawat satwa. Namun aku belum mengerti betul kenapa dia seperti itu. Mungkin itu adalah salah satu bentuk perilaku stereotipik yang ditimbulkan karena hasil dari pemeliharaan ilegal orangutan. Aku belajar bagaimana dapat berinteraksi dengan orangutan, bagaimana semestinya mereka berada dan berlaku di alamnya mulai dari pemberian enrichment sampai beberapa pakan alami yang sengaja kami coba berikan pada individu orangutan itu sendiri. 

Termasuk belajar bagaimana aku harus meng-handling orangutan karena pada awalnya cukup sulit bagiku karena banyaknya sifat dan tipe perilaku yang berbeda satu individu orangutan dengan yang lainnya. Ada yang suka menarik baju, menggigit atau sekedar menampar, hal lucu bagiku seperti ditampar orang (hehehe). 

Namun dari beberapa pengalaman awalku di BORA, aku sangat bangga dan senang bisa bergabung dengan COP (Centre for Orangutan Protection) untuk berperan dalam konservasi Orangutan Indonesia. Karena menurut IUCN Redlist Orangutan merupakan satwa yang memiliki status terancam punah dan terus berkurang seiring berjalannya waktu karena banyaknya pembukaan lahan yang semakin marak belum lagi adanya kebakaran hutan yang masih menghantui orangutan terutama bagi spesies yang berada di Kalimantan. Semoga di kemudian hari akan kembali baik statusnya. 

Ada cerita sedikit dari pengalamanku selama menjadi perawat satwa di BORA, saat aku memasang kamera jebak di kandang orangutan Annie. Setelah selesai memasang di atas kandang, dengan sangat lihainya orangutan Annie menarik baju dan lenganku, kemudian membuka bajuku hanya untuk melihat dan menyentuh perut dan oto pinggang, mungkin yang aku pikirkan di pikirannya orangutan Annie, “Ini seperti temanku namun dia tak memiliki rambut lebat dan hitam seperti punyaku”. (BIL)

KIRIK-KIRIK BIRU ADA DI KAWASAN PELEPASLIARAN ORANGUTAN DI BUSANG

Kirik-kirik biru atau Blue-throated Bee-eater merupakan jenis burung yang cukup sering ditemukan di kawasan pelepasliaran orangutan di Busang, Kalimantan Timur. Satwa ini sering teramati bertengger bersama kelompoknya sembari berburu serangga terbang yang ada. Mereka jarang terbang dan lebih menyukai berburu serangga dengan cara menunggu di tenggeran, terkadang menyambar serangga dari permukaan air atau tanah (Taufiqurrahman dkk. 2022). Pulau pra-pelesliaran Dalwood Wylie adalah yang paling sering dikunjunginya sebagai lokasi berburu pakan alaminya yaitu serangga. Mereka sering dijumpai pada pagi serta siang menjelang sore bertengger di pohon ara di hulu dan hilir pulau. Hilangnya pohon besar sebagai tempat bertengger karena penebangan atau tumbang serta berkurangnya jumlah serangga sebagai pakan alaminya akan berdampak besar terhadap jumlah populasi satwa ini. 

Satwa ini tersebar dari Sumatra, Kalimantan hingga Jawa, namun agak jarang di Jawa bagian barat. Menghuni beragam area terbuka seperti di sekitar aliran sungai, kawasan pesisir, hutan bakau, bukaan di tengah hutan, serta perkebunan, dan pedesaan. Warna biru i tenggorokan merupakan ciri khas burung ini dari spesies kirik-kirik lainnya. Topi dan mantel berwarna coklat serta adanya bulu ekor tengah yang memanjang (tidak dijumpai pada remaja). Menurut Taufiqurahman dkk.  2022 ada spesies lain yang memiliki banyak kemiripan dengan kirik-kirik biru yaitu spesies kirik-kirik senja dan kirik-kirik laut. Kirik-kirik senja memiliki mantel dan topi yang berwarna coklat serta sayap berwarna hujau, namun tidak ada pemanjangan ekor tengah serta tenggorokan tidak berwarna biru, persebarannya juga tidak ada di Kalimantan yang merupakan lokasi yang kami amati. Kirik-kirik laut lebih hijau serta perpanjangan ekor tengah lancip, bukan hitam dengan ujung menebal.

Kirik-kirik biru merupakan salah satu dari beragamnya biodiversitas satwa yang ada di kawasan pelepasliaran orangutan. Pulau Dalwood Wylie dan sekitarnya juga merupakan habitat alami satwa liar yang menunggu untuk disingkap keberadaannya. Melestarikan hutan serta menjaga daerah aliran sungai menjadi tugas penting untuk menusia guna kelangsungan hubungan simbiosis antar makhluk hidup dan alamnya. Upaya kecil APE Guardian tidak akan berdampak apabila tidak adanya bantuan dari khalayak luas, baik masyarakat sekitar maupun orang-orang yang peduli akan kelestarian alam. (BIN)

ADA 3 BAYI BINTURONG DI HUTAN BUSANG

Masih penasaran dengan jalur orangutan Ucokwati menghilang dari pantauan tim monitoring APE Guardian.  Tim mencoba menelusuri perjumpaan terakhirnya. Topografi yang dilewati cukup bergelombang karena memang sudah mengarah ke hutan lindung. Setelah melalui perjalanan panjang tim memutuskan beristirahat di dekat pohon besar sambil mengecek tempat yang pas untuk pemasangan kamera trap. Ada beberapa bekas cakaran beruang madu di dekat pohon Menggris tersebut.

Perjalanan pun kami lanjutkan, tak lama kemudian terdengar suara pekikan kecil yang terus berulang dalam interval waktu yang singkat. “Suara apa itu?”, tanya Randi. Suara itu terdengar kembali dan terus berulang hingga kami memutuskan untuk mencari sumbernya. Kami pun berjalan perlahan dan mengendap-endap dan melihat ke atas dan terlihatlah makhluk berwarna hitam dengan sedikit rambut putih berkumir di ketinggian 12 meter.

Sambil berusaha mengidentifikasi satwa temuan yang mirip binturong tapi kenapa ikurannya kecil. Kami mengelilingi pohon dan berharap dapat melihat lebih jelas. Kami pun melihat makhluk yang sama di ketinggian 6 meter. Rasa penasaran mengantarkan Randi memanjat pohon agar bisa mendokumentasikan satwa tersebut. Ternyata ada 3 bayi binturong.

Binturong memiliki ciri-ciri rambut berwarna hitam dominan dengan sedikit warna putih seperti uban. Rambut biasanya menumpuk atau lebih tebal pada bagian sekitar belakang telinga. Pada bagian moncong juga memiliki kumis yang panjang berwarna putih. Suara yang dikeluarkan pada saat bayinya berteriak seperti pekikan yang sangat nyaring secara berulang-ulang. Untuk persebarannya ada di Sumatra, Kalimantan dan pulau Jawa. Binturong merupakan salah satu satwa yang dilindungi berdasarkan Permenhut No. P.106 tahun 2018. Untuk status IUCN, binturong berada pada status vulnerable atau rentan dan sewaktu-waktu bisa menjadi punah apabila maraknya perburuan liar untuk perdagangan dan juga perusakan habitatnya terus berlanjut. (RAN)

SETELAH 4 ORANGUTAN KEMBALI KE RUMAH

Haru dan bahagia ketika empat orangutan yaitu Antak, Hercules, Ucokwati  dan Mungil berhasil melewati proses yang panjang untuk kembali pulang ke rumah (hutan). Keempat orangutan ex-rehab ini akhirnya dilepasliarkan kembali ke hutan pada akhir Oktober 2022. Tahap demi tahap telah mereka lalui mulai dari rescue, karantina, pemeriksaan kesehatan, program sekolah hutan untuk mengembalikan insting alami, program pulau pra-pelepasliaran dengan tujuan melatih kemampuan bertahan hidup mereka dan akhirnya rilis. Hal ini memakan waktu yang tidak sebentar dan melibatkan kerja keras staf dari berbagai bidang ilmu dan keahlian yang saling bekerja sama untuk kesejahteraan hidup orangutan. Bahkan pemantauan terhadap orangutan terus dilakukan setelah dilepasliarkan untuk mencatat perilaku harian dan menjaga orangutan dari perburuan.

drh. Yudi yang dalam perjalanan kembali ke Berau setelah mengikuti monitoring pada minggu pertama setelah pelepasliaran harus putar balik haluan untuk kebali ke pos monitoring karena orangutan Hercules yang tiba-tiba sudah berada di pos mengancam staf yang ada. Hercules pun dibius kemudian dilepaskan jauh ke dalam hutan untuk mencegah agar tidak kembali ke pos pantau. 

Pengalaman luar biasa ketika diberi kesempatan untuk monitoring minggu kedua paska rilis. Hari pertama sudah dikejutkan orangutan Antak yang menyeberang sungai dan masuk ke dalam pos monitoring. Orangutan ex-rehab kadang memiliki kecenderungan mendekati manusia. Tim APE Guardian dengan berbagai cara mengalihkan perhatian Antak supaya mau naik ke atas perahu. Antak dipancing menggunakan buah, setelah Antak di perahu, tim menarik perahu menuju lokasi pelepasliarannya. Cara ini terlihat seperti wahana bermain untuk Antak. Tidak hanya sampai di situ, orangutan Hercules yang sudah dibawa jauh sebelumnya dan beberapa kali digiring oleh tim ke dalam hutan seolah memiliki peta diotaknya, ia kembali lagi ke pinggir sungai Menyuk dan terpantau selalu berjalan dipinggir sambil sesekali memantau kondisi air. Tentu saja ini membuat tim monitoring khawatir ditambah lagi kondisi air sungai yang surut karena tidak kunjung hujan. Pengambilan keputusan untuk orangutan yang menyeberang ke pos pantau maupun yang mendekati manusia harus ilakukan dengan berbagai pertimbangan, bahkan jalan terakhir yaitu pembiusan hanya dilakukan apabila orangutan mengejar atau mengancam keberadaan staf.

Mengamati orangutan paska pelepasliaran berbeda ketika mengamati orangutan di kandang maupun saat mengikuti sekolah hutan di BORA (Bornean Orangutan Rescue Alliance). Monitoring dilakukan mulai jam 7 pagi saat orangutan turun dari pohon tempat beristirahat hingga jam 5-6 sore saat orangutan akan membuat sarang untuk tidur. Segala aktivitas yang dilakukan orangutan sangat menarik, seperti Hercules yang tanpa sadar membuat jalan setapak karena selalu melewati jalan yang sama setiap hari dan kadang beraktivitas sambil membawa dan memakan buah hutan. Mengamati tanaman dan buah hutan yang dikonsumsi orangutan seperti Mungil yang memakan tanah dan selalu aktif bergerak dari satu pohon ke pohon lain dan pernah terlihat berjemur. Antak yang menyeberang sungai sambil mengangkat kedua tangannya, Hercules yang mengikuti Mungil bahkan sempat terlihat kontak fisik. Bahkan mengamati proses defakasi Mungil dan memeriksa fesenya menjadi hal yang sangat menarik. Selain itu dalam proses pencarian orangutan, kadang tim menemukan sisa-sisa buah bekas dimakan hewan dan bekas cakaran di batang pohon. Tim juga mencoba memakan buah hutan yang dimakan orangutan. Terkadang… tim pun kehilangan jejak orangutan saat melakukan pengamatan. (TER)

MELIHAT PARA GUARDIAN BUSANG DARI DEKAT

Kawasan pelepasliaran orangutan di Busang, Kalimantan Timur merupakan wilayah Centre for Orangutan Protection (COP) bekerja untuk pelestarian orangutan dan habitatnya. Saat ini ada 3 orangutan yang telah dipindahkan ke Busang, yakni 2 individu orangutan bernama Ucokwati dan Mungil di pulau pra-pelepasliaran Dalwood Wylie serta orangutan Nigel yang dilepasliarkan di Hutan Sungai Payau. 

APE Guardian pun membagi dua pekerjaan besar di Busang sebagai tim monitoring orangutan di pulau dan tim ranger atau penjaga hutan yang patroli dan memantau orangutan yang telah dilepasliarkan. Pemantauan orangutan pasca rilis merupakan bentuk komitmen dan pelaksanaan kata-kata agenda konservasi yang dilakukan secara holistik dari hulu ke hilir sejak dilakukan rescue, rehabilitation dan release bahkan setelahnya. Keberadaan ranger yang menjadi garda terdepan pelestarian orangutan di habitat barunya menjadi esensial.

Para ranger merupakan warga Busang dengan berbagai latar belakang dan pemahaman medan yang berbeda serta pengetahuan lokal yang bervariasi. Ada yang pernah bekerja sebagai pembuka lahan berpindah, logging, pendulang emas, pemburu dan berbagai aktivitas pemanfaatan sumber daya alam lainnya. Sederetan kegiatan ekonomi tersebut tentu menjadi ladang baru yang menjanjikan secara ekonomi, namun belum tentu untuk keberlanjutan hidup dan harmoni antara masyarakat dengan lingkungan hidupnya.

Banjir, kebakaran hutan, hilangnya sumber daya hutan, kelangkaan sumber pangan alami, hilangnya keanekaragaman hayati yang terjadi mungkin bisa menjadi pengingat yang sulit dihiraukan. Sialnya rusaknya habitat dan berbagai dampak yang merasakan langsung adalah masyarakat yang telah beberapa generasi hidup dan mencari hidup di sekitarnya, termasuk dalam hal ini masyarakat Busang.

Kegiatan pelestarian orangutan dan habitatnya akan terdengar muluk untuk dapat menggeser pola ekonomi yang sudah ada. Ranger yang ikut andil melakukan patroli hutan, mengamati perilaku dan adaptasi orangutan serta membantu kegiatan penelitian biodiversitas dan ekosistem Busang mungkin bisa menjadi alternatif baru kegiatan masyarakat. Hal tersebut harus dipupuk untuk menumbuhkan imajinasi dan harapan atas peluang pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup yang lebih berkesinambungan. Bahwa tidak perlu menunggu hutan habis ditebang atau tanah habis dikeruk untuk tetap bisa melanjutkan hidup dan menghidupi masyarakat.

Kehadiran ranger menjadi penting untuk menjembatani pola komunikasi efektif dalam menyampaikan gagasan alternatif di atas. Berbicara dengan bahasa yang masyarakat mengerti menjadi tumpuan agar efek domino kegiatan pelepasliaran orangutan dapat dimengerti dan dirasakan. Saat ini masyarakat Busang tidak hanya mendukung secara anggukan dan perkataan, namun seringkali di tengah belantara juga ikut menyempatkan memberi laporan keberadaan orangutan. Hal tersebut menjadi sinyal positif keterlibatan aktif dan support moral atas kegiatan yang dilakukan, utamanya mitigasi konflik dan manajemen konflik yang terjadi. Tidak jarang orangutan engan daya jelajah yang tidak terprediksi akan singgah di pondok dan ladang masyarakat, upaya patroli dan mediasi yang dilakukan oleh ranger APE Guardian merupakan bentuk tanggungjawab dan juga menjaga rasa aman masyarakat.

Jalan panjang agar warga Busang dapat berdaya mengelola lingkungan hidup dan sumber daya secara berkesinambungan yang tidak eksploitatif bisa jadi mendapat inspirasi oleh tim ranger itu sendiri. Mereka yang hajat hidupnya tergantung dari bagaimana pengelolaan sumber daya dilakukan tentu harus menjadi beneficiary utama. Potensi lokasi pelepasliaran Busang menjadi gerbang bagi keekonomian baru, bahwa orangutan, habitat dan manusia bisa hidup berdampingan.

Ranger sebagai tim taktis yang ada di lapangan bekerja dari sudut paling jauh di Kawasan Pelepasliaran Busang dan sering kali dengan sumber daya yang terbatas. Namun hal tersebut sudah menjadi kepastian, sebagaimana punggungan dan anak sungai yang harus dipikirkan dan dicari alternatif jalan memutar untuk dilewati, tantangan di lapangan bisa diatasi dengan keteguhan kreatifitas. Lebih dari itu, kerja-kerja pelestarian orangutan dan ekosistem tidak hanya untuk masyarakat Busang dan sekitarnya semata, namun lebih jauh lagi merupakan upaya kolektif dalam mengusahakan kelestarian satwa liar khususnya orangutan, keberlanjutan bumi dan menghadapi tantangan iklim yang mengancam kita semua. (GAL)

PERJUMPAAN TIGA HARI DENGAN ORANGUTAN NIGEL

Patroli di kawasan rilis orangutan secara berkala dilakukan tim APE Guardian di Kalimantan Timur. Tidak jauh dari Pos Monitoring Busang Hagar, tepatnya 10 menit arah ke hulu, ranger Ilik melihat orangutan Nigel yang awal bulan Juli lalu dilepasliarkan. Nigel terlihat berjalan menuju hilir dan berhenti di sekitar pondok warga yang sudah tidak terpakai. 

Tim berhenti dan mengamati Nigel lebih lama lagi. Monitoring Nigel menjadi agenda utama hari ini. “Setelah 72 hari usai dilepasliarkan dan perjumpaan terakhir yang sempat terpaksa dievakuasi dengan perahu, ini adalah perjumpaan kami dengan Nigel kembali. Kami tidak mengira akan pernah bertemu lagi. Sekarang kami tahu, Nigel baik-baik saja”, ujar Galih Norma Ramadhan, kapten APE Guardian haru. Tim pun meninggalkan Nigel, sesaat setelah Nigel selesai membuat sarang untuk tidur malamnya.

Keesokan harinya, tim lebih siap lagi dengan membagi dua tim. Satu tim patroli kawasan rilis dan satu lagi mengamati orangutan Nigel kembali. Ada 2 sarang Nigel yang baru. Nigel terlihat sedang makan kulit kayu/bark. Tim terus mengamatinya dari kejauhan. Nigel mulai bergerak lagi, berayun dari satu pohon ke pohon yang lain melalui akar pohon gantung. Lagi-lagi Nigel berhenti dan bersantai di atas pohon. Menjelang matahari terbenam, Nigel kembali ke sarang sebelumnya.

Hari ketiga setelah perjumpaan, sarang orangutan telah kosong. Tim mulai menyisir lokasi perjumpaan. Sekitar siang hari, tim baru bertemu dengan Nigel di pinggir sungai. Tak lama kemudian, Nigel kembali masuk ke arah hutan, itu adalah momen terakhir APE Guardian melihat Nigel. “Mungkin Nigel mampir untuk memberi kabar bahwa dirinya baik-baik saja. He’ll find a way to survive, he’ll manage somehow. Nigel… kamu pasti bisa!”, kata Galih menutup malam penuh bintang di Busang, Kalimantan Timur. (GAL)

BKSDA KALTIM SKW I BERSAMA APE CRUSADER PATROLI DI HLSL

APE Crusader memulai patroli di Hutan Lindung Sungai Lesan, Kecamatan Kelay, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Bersama BKSDA Kaltim SKW 1 (Pak Ketuk, Pak Frans dan Lee) ditemani ranger lokal dari Kampung Lesan Dayak, tim mengambil data di lapangan berupa jenis sarang, posisi sarang, pohon sarang meliputi jenis, tinggi dan keliling pohon yang dijadikan sarang orangutan. Tim menggunakan metode transek yang hasilnya perjumpaan 46 sarang orangutan dengan beragam kelas dari A sampi E. “Sayangnya belum rejeki kami berjumpa langsung dengan orangutannya”, ujar Hilman Fauzi, anggota APE Crusader.

Sepanjang patroli, tim juga bersyukur tak menemukan jerat. Dalam patroli kali ini, tim berniat untuk sapu jerat yang sangat merugikan satwa liar. “Kadang maksudnya pemasangan jerat itu untuk menangkap babi hutan, tapi satwa apa saja yang lewat di jerat tersebut pasti harus meregang nyawa yang entah kapan ditemukan. Centre for Orangutan Protection mengampanyekan #jeratjahat sebagai salah satu fokus para ranger saat patroli”, jelas Hilman lagi.

Masyarakat Kelay patut berbangga pada hutan terdekatnya yaitu HLSL dengan masih memiliki pohon-pohon besar seperti Meranti (Shorea spp), Keruing (Dipterocarpus spp), Ulin (Eusideroxylon zwageri), Kapur (Dryobalanops) yang kebetulan terdata sebagai pohon yang digunakan orangutan bersarang. Semoga pohon-pohon besar ini tak hanya tinggal cerita saja nantinya. (HIL)

APE GUARDIAN LEBIH DARI SEKEDAR PENJAGA ORANGUTAN DI HUTAN KALIMANTAN

APE Guardian salah satu tim dari COP sudah lebih dari setengah tahun mengurus pelepasliaran orangutan yang berada di Busang, Kalimantan Timur. Sebuah pondok kayu yang berdiri di tengah hutan berfungsi sebagai pos monitoring menjadi tempat berteduh para ranger dan keeper. Para keeper senantiasa mengawasi perilaku harian orangutan di pulau pra-pelepasliaran. Sementara para ranger siap sedia melakukan monitoring paska pelepasliaran dengan cara keluar masuk hutan dan menyisir sungai.

Bukan hanya melakukan rutinitas harian, di sela-sela kegiatannya juga melakukan kegiatan tambahan demi menjaga kawasan pelepasliaran. Ranger tidak pernah lelah bersosialisasi dan bertanya pada warga lokal yang ditemui selama melakukan kegiatan di sungai. Hal ini dilakukan sebagai bentuk mitigasi potensi konflik antara orangutan dan warga lokal. Warga lokal memang sangat bergantung pada sungai untuk mencari ikan menggunakan perahu bermesin dan tak jarang warga melakukan aktivitas mencari ikan di sekitar kawasan pelepasliaran. “Kekhawatiran utama kami jika, suara mesin perahu dan suara aktivitas warga tersebut dapat menarik perhatian orangutan untuk mendekat”, ujar Noh, ranger APE Guardian. Harapannya kegiatan sosialisasi dan penyadartahuan kepada warga dapat mencegah konflik yang mungkin terjadi dengan orangutan yang kami lepasliarkan.

Beda halnya yang dilakukan oleh dua orang COP Academy yang sedang magang di tim APE Guardian seperti Randi dan Eko. Di sela-sela monitoring keduanya secara rutin melakukan pencatatan biodiversitas fauna di hutan dan sungai dalam kawasan pelepasliaran. Walaupun hutan di kawasan pelepasliaran masih dalam tahapan suksesi paska kebakaran hutan, namun fauna yang dilindungi dan masuk daftar jenis hewan dalam Permenhut No. 106 tahun 2018. Sejauh ini fauna mamalia dilindungi yang berhasil ditemui jejak keberadaannya dalam kawasan pelepasliaran meliputi berang-berang, kijang, pelanduk napu dan beruang madu. Untuk fauna burung, tim berhasil mengidentifikasi keberadaan elang brontok, elang bondol, elang ikan, enggang badak dan kangkareng perut putih. Jenis-jenis yang ditemui kemungkinan besar akan semakin bertambah seiring dengan rutinitas monitoring dan patroli yang dilakukan APE Guardian. Tentunya dengan temuan-temuan ini harapannya kawasan pelepasliaran ini dapat menjadi kawasan retorasi demi menjaga kelestarian berbagai spesies.

Kegiatan-kegiatan yang dilakukan ini bukan hanya memiliki andil dalam peletarian orangutan, namun juga meningkatkan nillai konservasi kawasan dan menambah pengetahuan serta penyadartahuan masyarakat banyak terhadap konservasi orangutan. Selama kawasan pelepasliaran ini masih ada APE Guardian, maka akan senantiasa menjaga orangutan, hutan dan keanekaragaman di dalamnya. (EKO_COPAcademy)