ARSITEK ALAM YANG HEBAT, ORANGUTAN

Hewan yang membuat sarang di pohon itu tidak hanya burung. Orangutan juga membuat sarang di atas pohon dan mereka adalah arsitek alam yang hebat. Mereka tidak sembarang menumpuk daun dan ranting untuk membangun tempat tidur yang nyaman. Pertama-tama, mereka akan mencari batang pohon yang cukup kooh sebagai lokasi membuat sarang. Kemudian mereka akan menekuk dan menganyam ranting-ranting yang kuat untuk bagian dasar sarang mereka. Lalu mereka akan membuat lapisan kedua sebagai alas tidur yang lebih empuk. Lapisan tersebut terbuat dari tumpukan daun dan ranting-ranting yang lebih kecil. Hebat ya? Eits, tidak hanya sampai di situ. Mereka bisa lebih kreatif lagi dalam membangun sarang. Terkadang mereka membuat selimut dan bantal dari daun agar tidur lebih nyaman. Ada juga orangutan yang melengkapi sarangnya dengan atap dari daun untuk menghalau hujan atau sinar matahari.

Pada awal bulan April lalu, COP Borneo mengundang FORINA (Forum Orangutan Indonesia) untuk menghitung populasi orangutan melalui sarang. Seluruh Biologist COP termasuk Foresternya mempraktekkan metode tersebut di kawasan Hutan Lindung Sungai Lesan (HLSL) yang menjadi habitat orangutan sekaligus menjadi kawasan rilis beberapa orangutan rehabilitasi BORA (Bornean Orangutan Rescue Alliance). Jarak dan koordinat pendataan ditentukan melalui perhitungan dan aplikasi agar survei lebih efektif dan hasilnya lebih akurat. Selain belajar melakukan pendataan sarang dengan metode yang disebut line transect, tim juga belajar mendata pohon pakan di sekitar sarang yang ditemui. Kemampuan untuk mendata sarang dan buah pakan ini dibutuhkan untuk memperkirakan kepadatan populasi orangutan di suatu kawasan dan mengukur apakah kawasan tersebut dapat dijadikan lokasi pelepasliaran orangutan dari pusat rehabilitasi BORA.

Di sekolah hutan BORA, saat orangutan membuat sarang menjadi salah satu aktivitas yang harus dicatat. Kemampuan membuat sarang sangat diperlukan untuk orangutan bertahan hidup di hutan sehingga menjadi salah satu indikator penentu apakah orangutan sudah siap dilepasliarkan. Ada beberapa murid sekolah hutan yang telah membuat sarang seperti Devi, Bagus, Happi, Bonti bahkan Septi. Walaupun ada yang membuat sarang di tanah bukan di atas pohon sebagaimana mestinya. Perkembangan ini sangatlah baik dan menggembirakan. Sama seperti keberhasilan anak manusia melangkah untuk pertama kalinya saat belajar jalan. Seiring waktu dan semakin sering berlatih, orangutan akan semakin pintar. Semoga kemampuat siswa sekolah hutan BORA terus berkembang! (NAD)

BEASISWA UNTUK MAHASISWA UNIVERSITAS MULAWARMAN SAMARINDA 2023

Untuk kamu yang berstatus mahasiswa aktif S1 semester 2 prodi Kehutanan Fakultas Kehutanan atau prodi Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Mulawarman bisa mengajukan EBOCS (East Borneo Orangutan Caring Scholarship) 2023. “Kalau dua tahun sebelumnya, EBOCS hanya untuk mahasiswa Fakultas Kehutanan, tapi tahun ini mahasiswa FMIPA dipersilahkan mendaftar juga”, jelas Oktaviana dari Centre for Orangutan Protection yang mengelola beasiswa EBOCS dengan dukungan Orang Utan Republik Foundation (OURF). Beasiswa ini diberikan kepada mahasiswa yang peduli dan memiliki komitmen terhadap konservasi orangutan dan habitatnya.

Beberapa kualifikasi seperti kesediaan calon penerima beasiswa untuk mengikuti kegiatan COP yaitu edukasi, patroli, penelitian, pendampingan masyarakat hingga kampanye dengan IPK terakhir minimal 3,00. Kesediaan calon penerima untuk melakukan penelitian dengan subjek Orangutan dan habitatnya.serta memiliki KTP Kalimantan Timur akan menjadi nilai tersendiri dalam seleksi EBOCS.

Persyaratan umum administrasi seperti KTP, Kartu Keluarga, KTM, Surat keterangan aktif sebagai mahasiswa Fahutan atau FMIPA Unmul serta mengisi formulir pendaftaran dan surat pernyataan (silahkan hubungi Erlina Yustika, S. Hut untuk jurusan Kehutanan di 08575447248 atau Dr. Nova Hariani, M. Si di 082119026626 untuk jurusan Biologi) dan khusus seperti membuat tulisan esai minimal 750 kata yang menyakinkan agar calon peserta berhak dan layak mendapatkan beasiswa tersebut. Ditambah 1000 kata dalam bentuk esai tentang “Protect the Orangutan and Beyond”. Pengumpulan berkas persyaratan mulai tanggal 27 April sampai 18 Mei 2023. Seleksi akan dilakukan secara bertahap mulai 19 Mei hingga 5 Juni 2023. Pengumuman penerima beasiswa pada 7 Juni 2023. “Tunggu apa lagi? Segera lengkapi berkas dan bergabunglah menjadi Orangufriends Samarinda”, ajak Okta lagi. (FER)

BERUK, SI PENGUASA KAMERA JEBAK

Ketika kamera jebak terpasang di dalam hutan, hewan apakah yang akan selalu terdokumentasi? Beruk! Tak terkecuali, kamera jebak yang dipasang di KHDTK (Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus) Labanan, Berau, Kalimantan Timur. “Primata jenis ini memang luar biasa sekali, tak jarang foto yang dihasilkan sangat bagus. Padahal kita mengharapkan satwa liar lainnya yang dapat didokumentasikan dengan baik. Seperti kelasi, kucing hutan, atau jenis burung-burung yang langka endemik Kalimantan. Apa boleh buat”, ujar Raffi Akbar saat memindahkan data dari kamera jebak ke laptopnya.

Pemasangan kamera jebak yang diletakkan di lokasi Sekolah Hutan 3 BORA (Bornean Orangutan Rescue Alliance) menghasilkan foto yang tidak disangka-sangka. Begitulah sensasi dari kamera jebak. Pemasang harus sabar melihat hasilnya dengan waktu tertentu, seminggu bahkan bisa berbulan-bulan. Kali ini tim APE Defender memasangnya selama 1 minggu.

Burung sempidan-biru kalimantan (Lophura ignita), si unggas dengan jambulnya yang khas ini memiliki status Rentan oleh IUCN. Populasinya mengalami penurunan drastis karena kehilangan habitat fragmentasi akibat kebakaran dan penebangan hutan komersial. Selain dia, tim juga berhasil mengidentifikasi kancil (Tragulus kanchil) dan kucing hutan (Prionailurus bengalensis). “Kalau dipasang lebih lama apakah akan lebih banyak yang terdokumentasikan?”. (RAF)

SIAPAKAH AKU?

Halo semuanya! Masih ingat aku? Mungkin agak sulit buat ingat aku ini siapa, karena sekarang aku sudah berbeda dengan beberapa bulan lalu ketika pertama kali dibawa ke sini. Waktu itu tubuhku masih kurus, kecil, dan perutku buncit seperti buah semangka. Aku lemah sekali, bahkan untuk mengangkat kepala saja sungguh lemas. Rasanya ingin tiduuuurr saja sepanjang hari.

Kalau kamu bertanya-tanya asalku darimana, aku tidak begitu ingat masa-masa sebelum tinggal di sini. Aku hanya ingat kalau aku tinggal bersama makhluk-makhluk yang mirip dengan ku. Hanya saja, rambut mereka tidak panjang dan menutupi badan sepertiku. Mungkin mereka tidak suka rambut-rambut di tubuhku juga karena mereka mencukurnya hingga habis. Aku tidak terlalu ingat tentang mereka dan apa yang mereka lakukan terhadapku. Tapi yang kuingat dengan jelas, saat itu aku rasanya sangat takut dan ingin menangis terus setiap saat.

Selain tinggal dengan makhluk-makhluk itu, ada yang lain yang kuingat. Tapi yang ini lebih jelas lagi ingatannya. Aku dipeluk oleh makhluk berambut yang sama persis sepertiku! Tapi badannya lebih besar dan tangannya sangat kuat! Ia membawaku berayun dari satu pohon ke pohon lain dengan sangat cepat. Aku sukaaaa sekali dengan ingatanku yang ini. Rasanya ingin kembali merakan wajahku diterpa angin, terhalang daun-daun rimbun, atau tersirami cahaya matahari. Rasanya hangat dan menyenangkan.
Sejak tinggal di sini, aku bertemu lagi makhluk-makhluk yang mirip denganku. Tai mereka tidak mencukur rambutku. Sepertinya mereka suka rambutku yang sudah tumbuh sedikit-sedikit. Lalu mereka juga suka memberiku buah-buhan yang belum pernah kucoba sebelumnya. AKu sangat suka sekali buah bundar merah berambut. Manis! Karena makan banyak, sepertinya tubuhku sudah lebih kuat. Aku suka sekali memanjat-manjat di dalam kotak besi tempatku tidur. Perutku juga sudah tidak seperti semangka loh.

Ya walaupun kadang aku masih menangis karena kesal kalau mereka tidak memberikau buah yang kumau atau meninggalkanku sendirian, di sini aku lebih senang! Aku paling menunggu waktu mereka menggendongku dan meletakkanku di pohon-pohon. AKu jadi ingat kembali rasa hangat dan menyenangkannya ketika wajahku diterpa angin, terhalang daun-daun rimbun, atau tersirami cahaya matahari. Bahagianya bisa berayun-ayun!

Kanan… kiri… kanan… hap! Sampai di pohon dengan buah-buah bundar kecil, aku akan langsung memakannya tanpa ragu. Enak sekali! Waaahh rasanya aku ingin berada di atas pohon ini terus! Tapi sayangnya, kadang aku lelah. Jadi aku turun ketika makhluk-makhluk yang mirip denganku itu melambaikan buah sambil memanggilku “Mabel! Mabel!”. Lalu mereka akan menggendongku kembali ke tempat tidurku sambil sesekali masih menyebut-nyebut namaku. Iya, namaku adalah Mabel. Sudah ingatkan? (NAD)

TUBERCULOSIS (TB) IS DEADLY FOR ORANGUTANS

Hello! Today is World Tuberculosis (TB) Day. The World Tuberculosis Day is held annually on March 24 to raise awareness on the effect of the infectious disease TB on humans around the world. In 2016, TB was the second leading cause of death in Indonesia. But did you know that TB isn’t only deadly to humans, but also to primates, including Orangutans?
Tuberculosis disease is caused by the bacteria called Mycobacterium tuberculosis which is an airborne bacteria that spreads through air. Orangutans can be infected by the bacteria if they are around humans infected with TB. The situation can occur when there’s a conflict between humans and orangutans. It can also occur when an orangutan is held illegally in captivity and kept as a pet that’s frequently in touch with humans. To diagnose whether an Orangutan is infected with TB, the vet in BORA (Bornean Orangutan Rescue Alliance) will conduct a series of medical check ups to each Orangutan under rehabilitation. Then what happens if an Orangutan is diagnosed with TB?
Humans and Orangutans share approximately 97% of their DNA. Therefore dr. Elis, the vet in BORA explained that when an orangutan is infected with TB, it will experience similar symptoms as humans such as chronic cough (sometimes with blood), shortness of breath, fever, fatigue, and loss of weight. Infected Orangutans should be strictly quarantined and given medication for 6 months as well as vitamins. The animal keeper who takes care of the infected orangutan should wear medical protective equipment such as a medical mask and hazmat suit. They won’t be allowed to take care of other orangutans and should limit human interaction. If we’re not careful in handling the situation, Orangutans could either die or spread the disease back to humans.
Fortunately, since we run the BORA rehabilitation center, we found no infected Orangutan with TB. To prevent the case of TB in Orangutan, the medical team, animal keeper, and everyone that should interact with orangutan are obliged to take a series of medical check ups. They are also obliged to use medical protection equipment when they take care of Orangutans daily. They use protective suits, masks, and gloves. They should take a bath before and after they take care of Orangutans. The strict procedure was created not only to protect the orangutan from TB and other infection from humans, but also the other way around; to prevent the case of animal to human disease transmission such as the COVID-19.
At last, to prevent humans and animals from infecting each other with diseases like TB, we should reduce the interaction between the two. Orangutans should live freely in their habitat without human interventions. Therefore, don’t keep Orangutans at home as pets, hunt them in the forest, or send them somewhere far away from their habitat! Let’s protect them (and ourselves) from deadly diseases!

TUBERCULOSIS (TBC) MEMATIKAN BAGI ORANGUTAN
Halo! Tahukah kamu, hari ini, tanggal 24 Maret adalah hari Tuberculosis (TBC) sedunia lho! Hari TBC sedunia adalah momen yang dimanfaatkan untuk meningkatkan kesadaran akan dampak dari penyakit menular TBC pada manusia di seluruh dunia. Pada tahun 2016, TBC menjadi penyakit yang menyebabkan kematian terbesar kedua di Indonesia. Sebenarnya, TBC tidak hanya mematikan bagi manusia. Tapi juga bagi primata, termasuk Orangutan. Kok bisa ya?
Penyakit TBC disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis yang dapat menyebar melalui udara. Orangutan bisa terjangkit TBC apabila mereka berada di sekitar manusia yang terdiagnosa TBC, misalnya ketika terjadi konflik atau ketika mereka dijadikan hewan peliharaan yang berinteraksi terus menerus dengan manusia. Untuk mengetahui apakah Orangutan terkena TBC, dokter hewan di Pusat Rehabilitasi Orangutan BORA akan melakukan rangkaian tes kesehatan pada setiap Orangutan yang akan direhabilitasi. Lalu apa yang terjadi jika Orangutan positif terinfeksi TBC?
97% DNA manusia mirip dengan orangutan. Sehingga beberapa gejala dan efek yang dirasakan pada tubuh Orangutan apabila terinfeksi TBC mirip dengan yang dialami manusia. Menurut dokter Elis, salah satu dokter hewan di Pusat Rehabilitasi BORA, orangutan mengalami gejala terbatuk-batuk berkepanjangan hingga berdarah, sesak napas, demam, lemas, dan turun berat badan. Mereka yang terjangkit harus dikarantina secara ketat dengan kandang yang jauh dari kandang orangutan lain, lalu diobati dengan terapi obat selama kurang lebih 6 bulan disertai pemberian vitamin. Perawat satwa yang mengurusi orangutan terinfeksi harus mengenakan alat perlindungan diri lengkap seperti hazmat dan masker. Mereka juga tidak diperkenankan untuk mengurusi orangutan lainnya serta harus mengurangi interaksi dengan manusia. Apabila tidak hati-hati dalam penanganannya, Orangutan bisa mati atau menyebarkan kembali penyakit TBC ke manusia.
Syukurlah, selama pusat rehabilitasi BORA dijalankan, belum pernah ada kasus orangutan yang terjangkit TBC. Untuk mencegah penularan penyakit seperti TBC pada orangutan, semua tim medis, perawat satwa, dan siapa pun yang berkepentingan untuk interaksi dengan orangutan wajib melakukan serangkaian medical check up. Selain itu, perawat satwa dan tim medis yang harus berinteraksi dengan orangutan sehari-hari, secara ketat menggunakan alat-alat perlindungan diri.
Mereka mengenakan pakaian khusus, memakai masker dan sarung tangan medis. Lalu mereka diharuskan mandi dan berganti pakaian sebelum dan setelah berinteraksi dengan orangutan. Tidak hanya untuk melindungi orangutan dari penyakit manusia seperti TBC, langkah-langkah tersebut juga dilakukan untuk menghindari penyebaran penyakit dari hewan ke manusia (zoonosis) seperti pandemi global COVID-19.
Agar manusia dan satwa (termasuk Orangutan) tidak saling menularkan penyakit mematikan seperti TBC, tentu diperlukan upaya-upaya untuk mengurangi potensi interaksi antara keduanya. Orangutan harus dibiarkan liar dan bebas di habitatnya tanpa gangguan dari manusia. Jadi, kamu jangan memelihara Orangutan di rumah, memburunya di hutan, apalagi mengirimkannya ke tempat yang jauh dari asalnya ya! Yuk lindungi diri dan Orangutan dari penyakit mematikan!(NAD)

KUKU IBU JARI KAKI ASTUTI NGGAK ADA

“Nad, kita adain Posyandu yuk”.
Aku terheran saat Tata berujar padaku seusai sesi feeding sore. Hari itu, hanya giliranku dan Tata, paramedis COP yang berjaga siang di klinik BORA. Jevri, penjaga satwa yang biasa menemani kami sedang bertugas ke lokasi lain.
Hah? Memangnya klinik di BORA bisa juga untuk manusia? Itu kan klinik Orangutan?
Dalam hati aku bertanya-tanya. Maklum saja, hari itu adalah hari ketigaku di klinik BORA dan ikut merawat orangutan. Seperti membaca raut bingungku, Tata menambahkan, “Haha, maksudnya Posyandu si Mabel sama Astuti, Nad”.
Aku mengangguk-ngangguk mengerti. Kemudian Tata menjelaskan padaku bahwa bayi-bayi orangutan yang ada di pusat rehabilitasi BORA secara berkala dilihat dan dicatat perkembangan serta pertumbuhannya. Persis seperti bayi-bayi manusia di Posyandu.
“Berarti nanti kita gantian? Aku ikut megang juga ya? Tata mengangguk.
Aku deg-degan membayangkan harus memeluk atau menggenggam Astuti dan Mabel. Pada hari itu, aku masih canggung saat harus bersentuhan dengan orangutan. Bukan karena takut digigit atau disakiti, tapi aku melihat perilaku bayi orangutan sangat mirip seperti bayi manusia. Selama ini aku merasa canggung saat berhadapan dengan anak-anak dan tidak terlalu pandai apalagi sabar saat harus mengasuh mereka. Meski takut, aku juga merasa tertantang. Mungkin ini adalah kesempatanku untuk menghadapi kecanggunganku itu.
Setelah Tata mempersiapkan berkas pencatatan, alat timbang dan meteran, ia menjelaskan padaku apa saja yang akan kita lihat dan ukur dari Astuti dan Mabel.
“Kita timbang di sini. Terus ukur-ukur badan, tangan, kepala, kaki… Umm, semuanya deh sesuai daftar ini. Nanti kita lihat juga giginya dan kita cap jari-jarinya”, ujar Tata sambil membolak-balikkan kertas pencatatan. Kemudian kami bergegas ke kandang Astuti dan membawanya ke klinik. Benar saja, perilaku Astuti terlihat seperti bayi manusia bagiku. Ia naik ke tubuhku minta digendong dan harus dibujuk dengan madu agar mau naik ke timbangan. Aku berusaha tetap tenang. Akhirnya ia mau diam di atas timbangan. Beratnya menunjukkan 7,7 kg. Pantas saja lumayan berat. Kemudian kita mengukur lingkar kepala, panjang tubuh, jarak antar mata, panjang dan lebar tiap ruas tangan dan kaki, hingga ukuran telapak kaki. Sesekali Astuti tidak mau diam dan kami harus memegang tubuhnya dan dengan sabar menunggunya tenang. Saat hendak memeriksa giginya, Astuti sempat mengamuk dan tidak mau menunjukkan giginya. Tata dengan lembut membujuk Astuti hingga akhirnya kami sampai di rangkaian pencatatan terakhir, memeriksa jari-jari dan membubuhkan cap tiap jari Astuti di atas kertas. Wah, sabar banget si Tata, pikirku. Aku jadi kagum dengan Tata dan membayangkan tim medis lainnya yang juga harus sabar dalam bekerja.
“Catat di bagian keterangan Nad. Ini kuku ibu jari Astuti nggak ada. Kanan dan kiri”, ujar Tata sambil menahan tubuh Astuti yang mulai kabur ke sana ke mari. Aku terkejut mendengarnya, “Hah?! Koq bisa? Dilepasin sama pedagangnya dulu?”. Astuti adalah orangutan yang diselamatkan di Gorontalo saat hendak diseludupkan ke luar negeri oleh pedagang. Jadi kupikir kukunya sengaja dilepaskan dengan kejam.
“Bukan Nad. Emang ada orangutan yang lahir dengan kuku ibu jari kaki, tapi ada juga yang nggak. Normal koq. Bukan kelainan ini tuh”, jelasnya. Aku lega mendengar penjelasannya. Dari semua yang kami catat, Astuti tergolong baik pertumbuhan dan perkembangannya, Sykurulah. Akhirnya rangkaian ‘posyandu’ hampir selesai. Banyak hal baru tentang anatomi orangutan yang kupelajari saat itu. Selain variasi pada kuku ibu jari kaki, aku juga baru mengetahui bahwa orangutan memiliki sidik jari yang unik seperti manusia. Ternyata, mengidentifikasi orangutan bia juga dilakukan melalui sidik jari. Saat kami membubuhkan cap tiap jari tangan dan kaki Astuti di satu kolom dalam kertas pencatatan, aku nyeletuk, “Terus ini kita catat juga buat apa Ta? Buat dia bikin KTP ya?”, Tata tertawa. “Bukan Nad. Buat bikin surat permohonan utang”, balasnya. Kami berdua tertawa sementara Astuti masih sibuk berusaha merebut madu yang Tata sembunyikan di kantong bajunya. (NAD)

HAPPY WORLD WILDLIFE DAY, AYO LINDUNGI SATWA LIAR

Tahukah kamu? World Wildlife Day atau Hari Satwa Liar Sedunia yang diperingati setiap tanggal 3 Maret adalah pengingat bagi kita agar terus memaknai pentingnya menjaga kehidupan alam liar, terutama satwa dan flora yang dilindungi seperti orangutan. Tahun ini #WildlifeDay menekankan pentingnya kerjasama dan kolaborasi di dunia perlindungan alam liar, hal yang sudah menjadi nilai yang dimaknai COP (Centre for Orangutan Protection) dalam menjalankan misi untuk melindungi orangutan dan yang lainnya. COP telah bekerja bersama dengan berbagai organisasi, pemerintah dan perorangan untuk bersama-sama menyelamatkan satwa liar.

Masih ingat orangutan Astuti yang menjadi korban perdagangan satwa liar antar negara? Upaya penyelamatan dan peminahan Astuti dari Menado, Sulawesi Utara hingga tiba di pusat rehabilitasi BORA (Bornean Orangutan Rescue Alliance) di Berau, Kalimantan Timur merupakan kerja bersama lintas instansi pemerintah, swasta dan COP.Tanpa kerjasama ini, Astuti mungkin saja tidak punya kesempatan untuk dilepasliarkan kembali ke habitatnya, hutan Kalimantan.

Sementara itu, tim patroli COP yang berada di Sumatra Barat melibatkan warga Nagari Sontang-Cubadak untuk membentuk tim PAGARI (Patroli Nagari) sebagai usaha mitigasi konflik harimau dan manusia di Sumatra Barat. Keterlibatan masyarakat lokal yang berbatasan langsung dengan hutan lindung Sontang-Cubadak ini menjadi model untuk pembentukan tim PAGARI di nagari yang lain.

Di dalam COP sendiri, semangat kerjasama juga menjadi nilai penting. BORA  tidak bisa bekerja sendiri tanpa dukungan tim APE Crusader yang menyelamatkan habitat orangutan dan menyelamatkan orangutan konflik. Pusat rehab akan penuh jika tim APE Guardian tidak mengusahakan kawasan pelepasliaran yang layak untuk orangutan. Sementara tanpa dukungan APE Warrior, akan sulit sekali mencari dukungan publik untuk mempercepat proses perlindungan satwa liar. Mari bersama melindungi satwa liar. (NAD)

BRINGING HOME JOY FROM TK ANNISA BERAU, EAST BORNEO

A teacher from TK Annisa Berau visited us in the COP Borneo office in Tasuk village, just a few miles away from the kindergarten. She came to the office hoping that her children could see Orangutans. However, the Orangutans in the BORA rehabilitation center are under medical evaluation therefore human visit is very restricted. So, in return, on February 26 we visited the school with a giant stuffed Orangutan called Morio.

“Knock knock… An Orangutan is here!” 

The students were overjoyed to welcome Morio! They were so thrilled as they listened to the stories about wildlife Morio told. They answered every question about wildlife with huge enthusiasm. We were so overwhelmed by their energy in the class and we couldn’t stop laughing at their innocence! The joy and the fun energy was contagious and we brought it home. On our way back from the school visit, we greeted everyone we met on the way.

“School visits, teaching students, I am not new to the thing. But to face these younger students, we need a lot more energy!” Mia, a volunteer and an alumni of COP School batch 12 shared her experience. 

As she and the team evaluated the school visit, they learned that even though the children are able to distinguish domestic animals, many of them couldn’t mention the wildlife of East Kalimantan. This has become a concern. Now, after the school visit, the children know that ducks can provide many benefits if taken care of well, and Rangkong should stay in the forest and be the “forest farmers”.

“I wish that we can always keep the joyful energy the children gave us and the children can always keep the awareness of wildlife protection that we gave them in return. Long live good deeds!” Mia said passionately. (MIA_COPSchool)

TERTULAR KECERIAAN SAAT SCHOOL VISIT DI TK ANNISA BERAU

Jumat lalu, ada orangutan mendatangi TK Annisa Berau. Ini adalah kunjungan balasan dari seorang guru TK Annisa di kantor COP Borneo yang berada di kampung Tasuk tak jauh dari tempatnya bekerja. Awalnya, si Ibu Guru berharap anak-anak muridnya bisa melihat orangutan secara langsung, namun keinginan tersebut belum bisa terwujud karena pusat rehabilitasi BORA sangat membatasi interaksi manusia dan orangutan sebab kondisi orangutan yang dalam evaluasi medis. 

Bersama Morio kami pun berbagi cerita pada anak-anak TK. “Sebenarnya ini bukanlah hal yang baru untukku mengajar anak-anak, namun untuk kelompok usia yang lebih kecil ini ternyata kita harus punya enegi yang jauh lebih besar”, ujar Mia, relawan COP yang merupakan alumni COP School Batch 12. Anak-anak antusias mendengar dan menjawab pertanyaan-pertanyaan mengenai satwa liar. Saking antusiasnya, energi kelas menjadi begitu tinggi dan membuat kami sedikit kewalahan. Kami pun hanyut tertawa melihat tingkah lugu mereka. Energi kecerian anak-anak ini menular ke kami yang datang. Sepulangnya kami dari school visit, kami dengan riang menyapa orang-orang yang berpapasan dengan kami.

Evaluasi kunjungan ke sekolah pun memberikan catatan tersendiri. Anak-anak mengetahui semua hewan domestik namun tidak tahu sata liar yang khas dari Kalimantan Timur. Hal ini menjadi perhatian karena pengetahuan adalah kekuatan. Kini anak-anak TK Annisa tahu bahwa bebek memiliki banyak manfaat jika dipelihara dengan baik dan Rangkong harus tetap tinggal di hutan sebagai petani hutan. “Aku berharap, energi keriangan anak-anak terus menular ke kami dan energi kesadaran pentingnya menjaga satwa liar di alam bisa menular juga ke anak-anak. Panjang umur upaya-upaya baik!”, tambah Mia penuh semangat. (MIA_COPSchool)

WHEN FOREST SCHOOL FEELS LIKE HOME, ORANGUTANS BACK TO THE CAGE CAN BE TOUGH

The sun was shining bright that morning, a sign of a good day to begin the Jungle School session in BORA (Bornean Orangutan Rescue Alliance). In Jungle school, rehabilitated Orangutans are let to revive their instinct and recall how to survive in the rainforest. As usual, after the first meal, the keepers carried Orangutans on their back or took them by hand and led them to the Forest School. Some Orangutans walked on their own following the keepers from behind.

Bonti, an 8 years old female Orangutan is the most difficult orangutan to call when forest school session is over. Sometimes she still wants to play around or explore the forest and swing from one branch to another. Other times she seems busy tasting some fruits she found, or just sits silently as she watches other Orangutans get back to their cage. Sure enough, that day, when school was over, Bonti didn’t want to come down. Some keepers kept calling her and followed her but instead of coming down and getting herself picked up, she went around in the cage area. She jumped from one canopy to another, causing other Orangutans to get wild in their cage. She even ignored Raffi, the Biologist at Bora. But when the keepers lured her with a bottle of her favorite milk, she finally came down and let the keepers pick her up and carried her back to the cage. 

The next day, it’s Devi’s day. Devi is an Orangutan who likes to stay and play on the treetop. Sometimes it’s difficult to spot her in forest school. That day, she couldn’t stop swinging joyfully from one tree to another. Devi prefers to be alone than be with other Orangutans, let alone humans. Just when the time’s over, we saw Devi on a fruitful tree. When Devi enjoys fruits, she forgets the whole world. We knew very well that it’s gonna be tough to get her back to the cage. It was such a busy evening! When Devi was finally full, she broke some leafy branches and piled them up carefully. Yup, she was building a comfy nest. We were stunned. It was an amazing moment. We stopped calling her and let her do her business. “Let her focus and finish the nest,” said There, the vet at Bora. It didn’t take long for Devi to finish her solid and comfy nest. We were so proud of Devi. Raffi said that it wasn’t Devi’s first time building a nest. Finally she came down and finished a bottle full of milk that the medical team gave her.

It’s a sunny Sunday. It was Bonti and Mary’s turn to go to Forest School. The keepers braced themselves as they read Bonti and Mary’s name on the list when they did morning briefing. They had to be prepared as both Orangutans were among those who often refused to get back to the cage. As expected, during the Forest School, Bonti and Mary roamed deeper into the forest, and got further and further from the cage area. Suddenly gray clouds were hanging in the sky. Sunny day’s over as rain poured down. Bonti and Mary took shelter on a big tree, hugging each other while we were soaked on the ground. We were joking around, hoping our laughter could warm our body. We followed Bonti and Mary wherever they went. At last the rain’s over. Bonti and Mary continued their journey. It had been two hours yet none of them got down. While luring them with everything we could and we had, we also prayed that they would come down soon. Finally Mary came down to get a bottle of milk and her favorite fruit the keeper lured her with. It didn’t work for Bonti. Bonti kept going back to forest school. We followed her while hoping that we didn’t have to stay overnight in forest school. Though it’s frustrating, we were also glad. It means that she feels at home in the forest. How can we not be glad when she’s getting closer to returning to where she belongs? Either got exhausted, lured by bottled milk, or pitied us the keeper, Bonti finally came down. 

“Thank God we don’t have to stay overnight here!” (TER)

 

TIGA HARI MERAYU ORANGUTAN

Pagi yang cerah adalah awal yang baik untuk memulai sekolah hutan di BORA (Bornean Orangutan Rescue Alliance). Sekolah untuk orangutan yang sedang menjalani rehabilitasi dimana mereka akan mengasah kembali insting alaminya dan bertahan hidup di hutan. Setelah makan pagi, sesuai jadwal orangutan pun dibawa ke lokasi sekolah hutan, ada yang digendong, dituntun bahkan berjalan sendiri mengikuti jalur yang ada.

Bonti, orangutan betina berumur 8 tahun ini adalah orangutan yang paling sulit dipanggil pulang saat sekolah hutan berakhir, entah karena masih ingin bermain, menjelajah hutan, berpindah dari satu dahan ke dahan yang lain, menikmati buah hutan yang ditemukannya atau kesibukan lainya yang kadang hanya memperhatikan orangutan lainnya yang sudah mulai menuju kandang lagi. Benar saja, ketika waktu itu tiba, Bonti pun tidak mau turun walaupun dipanggil berulang kali. Beberapa perawat satwa  berusaha memanggil dan mengikutinya, namun Bonti tetap tidak mau turun dan menuju ke area kandang dengan berpindah dari satu kanopi ke kanopi yang lain sampai akhirnya dia mengelilingi kandang hingga membuat orangutan yang berada di dalam kandang ricuh. Panggilan Raffi, Biologis BORA yang pendiam ini pun tak dihiraukannya. Sampai akhirnya, botol berisi susu kesukaannya menjadi magnet yang membawanya kembali ke kandang.

Keesokan harinya, orangutan Devi adalah orangutan yang paling suka bermain di ketinggian, kadang hampir tidak kelihatan. Kali ini Devi berpindah dari satu pohon ke pohon yang lain sepanjang lokasi sekolah hutan. Devi lebih suka sendiri daripada bermain dengan orangutan lain apalagi manusia. Waktu sekolah hutan pun usai dan Devi menemukan pohon yang sedang berbuah lebat. Kami semua tau, dia tak akan turun jika sudah menikmati buah hutan. Siang itu menjadi siang yang paling sibuk, kenyang dan dia pun mulai mematahkan ranting yang berdaun lebat. Ya… Devi menyusun ranting-ranting itu. Bersarang. Kami pun terdiam, momen luar biasa, kami tak ingin menggagunya dengan memanggilnya, “biar fokus menyelesaikan pembuatan sarangnya”, ujar drh. There. Tidak membutuhkan waktu lama, sarang yang terlihat kokoh pun jadi, kami yang menyaksikan pun bangga. Menurut Raffi, Devi memang sudah beberapa kali terlihat membuat sarang.Selesai makan dan membuat sarang, Devi pun akhirnya turun dan meminum habis susu yang dibawa tim medis.

Minggu pagi yang cerah giliran kelompok yang di dalamnya ada orangutan Bonti dan Mary. Jika briefing pagi ada dua nama orangutan ini maka perawat satwa harus menyiapkan tenaga lebih untuk menunggu dan mengikuti keduanya yang tidak mau pulang. Benar saja, waktu semua orangutan sudah kembali ke kandang, keduanya malah menjelajah menjauh dari lokasi sekolah hutan. Cuaca cerah sekejab berubah mendung dan hujan deras pun turun. Bonti dan Mary berada di pohon yang besar dan lebat saling berpelukan dan berlindung dari hujan. Sedangkan kami yang berjaga menjadi basah kuyup dan bercanda satu sama lain mengusir dingin sambil menjaga dan mengikuti kedua orangutan ini kemanapun mereka pergi. Hujan cukup lama pun akhirnya reda. Bonti memimpin Mary melanjutkan penjelajahan mereka. Dua jam berlalu namun tak satupun mau turun. Doa dan usaha membawa mereka kembali ke kandang terucap. Untung saja Mary tergiur dengan botol susu dan buah yang dipegang perawat satwa. Tapi tak berlaku pada Bonti. Bonti kembali ke lokasi sekolah hutan. Kami pun mengikutinya dan berdiam diri sembari berharap semoga tak harus menginap di sekolah hutan. Walau harapan itu sebenarnya kebahagian kami melihat Bonti semakin dekat dengan hutan yang merupakan rumah sesungguhnya. Entah karena capek atau tergoda susu yang kami bawa. Atau lebih tepatnya kasihan pada kami, Bonti pun akhirnya turun. “Hampir saja kita bermalam di sekolah hutan”. (TER)

HERCULES MEMANGGIL TIM APE DEFENDER

Berlalu sudah tiga hari setelah mendapatkan laporan orangutan Hercules berkunjung ke pondok salah seorang warga pada tanggal 30 Januari 2023 berlokasi di muara Sungai Menyuk. Kunjungan Hercules ke pondok warga diketahui setelah warga itu membuka pintu pondoknya pada pukul 13.30 WITA. Warga tersebut pun langsung melapor ke Pos Monitoring Busang Hagar. Tim monitoring langsung mengecek dan melaporkan lagi ke tim yang berada di kampung. Setelah mendapat kabar ini, tim langsung berangkat pada sore harinya. 

Pada tanggal 31 Januari, tim berencana melakukan penyelamatan orangutan Hercules tanpa bius namun setelah dicek di lokasi, Hercules tidak ditemukan lagi. Setelah beberapa saat, Hercules datang lagi. Tim APE Guardian akhirnya meminta bantuan tim APE Defender untuk menangani Hercules. 

1 Februari sekitar pukul 08.37 WITA, tim APE Defender yang terdiri satu dokter hewan dan satu perawat satwa bersama tim APE Guardian menuju lokasi konflik. Setelah melakukan pembiusan ke-2 akhirnya Hercules dapat diamankan dan dimasukkan ke kandang angkut pada pukul 13.00 WITA. Hercules pun diamankan di Pos Monitoring karena berdasarkan keterangan tim medis selain takut kelelahan juga waktu dan cuaca tidak memungkinkan untuk dilepasliarkan kembali. Akhirnya tim sepakat untuk melepasliarkan Hercules kembali pada esok harinya.

Hari ke-2 Februari sekitar pukul 10.00 WITA setelah briefing singkat untuk pelepasliaran kembali orangutan Hercules. Pelepasliaran ini berlokasi di sisi kanan arah Sungai Pura atau lebih tepatnya berseberangan dengan anak Sungai Buloq. Pelepasliaran ini akhirnya selesai dilakukan dengan kondisi Hercules tanpa perlawanan saat pintu kandang angkut dibuka dari jarak jauh. Hercules justru memilih pergi masuk ke arah dalam hutan. TIm pun segera mengambil kandang angkut dan balik ke pos dengan selamat. (RAN)