DI ANTARA BIBIT YANG TUMBUH DAN YANG HILANG: HARAPAN DAN PELAJARAN

Pada 21-25 Januari 2026, tim APE Crusader bersama Kelompok Tani Makmur Jaya Kampung Sidobangen kembali turun ke lapangan. Kali ini, mereka melanjutkan upaya penanaman di area penyangga Hutan Lindung Sungai Lesan (HLSL), tepatnya di sekitar sempadan Sungai Lesan. Kegiatan ini merupakan penanaman tahap keempat dengan total 500 bibit tanaman.

Bibit yang ditanam terdiri dari 200 bibit mangga, 150 rambutan, 50 jambu bol, dan 100 ara. Jenis-jenis ini dipilih karena diharapkan dapat memberi manfaat jangka panjang, baik bagi satwa liar maupun masyarakat sekitar kawasan hutan.

Selain penanaman, tim dan kelompok tani juga melakukan perawatan terhadap bibit yang telah ditanam pada tahap-tahap sebelumnya. Pengecekan dilakukan dengan membersihkan area sekitar tanaman, memastikan bibit tidak tertutup semak atau gulma yang dapat menghambat pertumbuhannya.

Namun dari hasil perawatan dan evaluasi lapangan, diketahui sekitar 50 persen tanaman telah hilang atau mati. Beberapa faktor menjadi penyebabnya. Sebagian tanaman berada di area hutan dengan kanopi yang sangat lebat, sehingga tertutup daun, ranting, atau bahkan tertimpa pohon yang roboh. Di beberapa titik, lokasi tanam berada di tebing yang membuat bibit lebih rentan tertimpa dedaunan dan pepohonan.

Aktivitas manusia juga mempengaruhi keberlangsungan tanaman. Penebangan pohon menyebabkan perubahan vegetasi hutan yang cukup drastis. Selain itu, di beberapa lokasi, area tanam berubah karena adanya aktivitas penanaman oleh warga, baik untuk padi maupun kelapa sawit.

Berbagai temuan ini menjadi pelajaran penting bagi tim untuk penanaman berikutnya, agar strategi yang diterapkan bisa lebih efektif dan sesuai dengan kondisi lapangan. Meski demikian, tidak semua hasilnya suram. Sejumlah tanaman justru tumbuh dengan baik dan sudah mencapai ketinggian yang menjanjikan. Bibit-bibit inilah yang menjadi penanda keberhasilan dan alasan bagi tim untuk tetap optimis bahwa upaya kecil di tepian Sungai Lesan ini kelak akan memberi manfaat, khususnya bagi satwa, dan pada akhirnya juga bagi manusia. (HUS)

RUMAH LAYAK UNTUK ORANGUTAN

Udara hutan Kalimantan yang lembab menyapa tim ekspedisi saat perahu-perahu kayu bermesin besar membelah aliran sungai. Sungai yang kami lalui bukanlah sungai besar dan tenang, melainkan sungai menantang dengan arus deras dan batu-batu besar yang menghadang. Di beberapa titik, tim harus turun dari perahu atau membantu menariknya untuk melewati jeram yang menuntut kewaspadaan tinggi. Pak Lukas dan para motoris perahu lain, yang telah lama akrab dengan medan ini, tetap harus berkonsentrasi penuh dalam mengendalikan mesin.

Perjalanan ini bukan sekadar petualangan. Tim kami mengemban misi penting, mencari “rumah baru” bagi satwa liar, khususnya orangutan. Ulah manusia dari tahun ke tahun telah membuat keberadaan mereka semakin terancam. Habitat yang dahulu aman kini menyempit, memaksa orangutan keluar dari ruang hidup alaminya. Setiap kunjungan lapangan selalu menyisakan rasa miris, melihat mereka perlahan terusir dari rumahnya sendiri. Sebuah rumah baru yang layak kini menjadi kebutuhan mendesak.

Untuk itulah ekspedisi ini dilakukan. Menembus jantung rimba Kalimantan berarti menyusuri hulu sungai dengan akses jalur air ber-jeram deras dan hamparan batu besar. Lokasi yang dicari harus jauh dari permukiman manusia agar konflik tidak kembali terjadi. Di tengah perjalanan, pohon-pohon tumbang yang melintang di sungai kerap menambah tantangan dan menguji kesabaran tim.

“Rumah baru” bagi orangutan tentu tidak bisa dipilih sembarangan. Setidaknya, kawasan tersebut harus memiliki ketersediaan pohon pakan dan pohon sarang yang memadai, populasi orangutan yang rendah atau belum ada sama sekali agar tidak terjadi perebutan ruang, serta jaminan keamanan dari gangguan manusia.

Ekspedisi ini barulah sebuah awal. Namun kami berharap, awal ini akan menjadi akhir yang indah, saat orangutan akhirnya dapat kembali ke rumah megah yang memang sudah selayaknya menjadi milik mereka. (HUS)

PENGALAMAN PERTAMA BERSAMA ORANGUTAN LIAR

Hai, aku Aprido Desra biasa dipanggil Godox. Aku berasal dari Sumatra Barat yang dikenal luas dengan masakannya yang sering disebut masakan Padang, khas dengan rempah-rempah alami. Namun, Sumatra Barat bukan hanya tentang kuliner. Wilayah ini juga memiliki bentang alam yang luas dan kaya, berdampingan dengan adat Minangkabau yang menjunjung nilai “tak lapuk karena hujan, tak lekang karena panas”. Nilai-nilai ini turut menjaga hutan tetap lestari hingga kini, meski masih banyak oknum yang berusaha merusak alam dengan berbagai cara, seperti illegal logging, perburuan satwa liar, dan penambangan emas ilegal.

Perjalananku di dunia konservasi dimulai saat bergabung dalam organisasi Mahasiswa Pecinta Alam dan Lingkungan Hidup Universitas Negeri Padang (MPALH UNP) dengan latar belakang jurusan Ilmu Keolahragaan di Universitas Padang. Sebelum bergabung dengan Centre for Orangutan Protection (COP) sebagai asisten lapangan di tim APE Crusader, aku juga sempat terlibat di salah satu NGO yang bergerak dalam konservasi harimau Sumatra di Sumbar. Banyak yang bertanya apa perbedaan konservasi harimau dan orangutan. Menurutku, pertanyaan itu tidak terlalu penting karena setiap spesies memiliki tantangan dan tingkatannya masing-masing. Tujuan akhirnya tetap sama yaitu menyelamatkan satwa liar yang terancam punah agar generasi mendatang masih dapat merasakan hidup berdampingan dengan seluruh makhluk hidup.

Pertemuan langsung pertamaku dengan orangutan terjadi saat melakukan operasi penyelamatan gabungan di Kecamatan Bengalon, bersama BKSDA Kaltim dan beberapa NGO lainnya. Di lapangan, mustahil bekerja sendiri, kolaborasi menjadi kunci untuk tujuan yang sama. Penanganan konflik, proses penyelamatan, hingga pemahaman tentang habitat orangutan di Kalimatan menjadi pengalaman yang sangat berharga. Berbagai latar belakang pendidikan dan profesi juga membawa cerita sendiri dalam konservasi orangutan, mulai dari dokter hewan, mantan pemburu, bahkan pekerja perkebunan dan pertambangan.

APE Crusader COP masih dalam misi penyelamatan dan perlindungan habitat orangutan serta yang lainnya agar tidak punah menjadi tanggung jawab bersama. Semoga generasi selanjutnya masih dapat merasakan hidup berdampingan dengan orangutan dan satwa liar lainnya di hutan yang tetap terjaga. Salam lestari! (IDO)

APE CRUSADER COP MENYONGSONG TAHUN 2026

Sepanjang tahun 2025, tim APE Crusader menjalani perjalanan yang panjang dan penuh dinamika, layaknya melintasi lintasan roller coaster dengan tanjakan dan turunan tajam di setiap jalurnya. Berbasis di Kecamatan Muara Wahau, wilayah strategis dengan tingkat konflik orangutan yang tinggi, tim ini berada di titik pertemuan antara ancaman dan harapan. Kedekatannya dengan area rilis orangutan serta calon lokasi rilis baru membuat APE Crusader hampir tak pernah berhenti bergerak.

Fokus utama tahun ini adalah penanganan dan perlindungan habitat orangutan. Tim melakukan patroli di wilayah sebaran habitat orangutan dan satwa liar lainnya, termasuk patroli kebakaran hutan dan lahan di kawasan BORA Labanan. Pendekatan kepada masyarakat juga terus dilakukan agar informasi mengenai keberadaan satwa liar dapat diperoleh secara akurat. Dari upaya ini, tim menerima laporan tentang pemeliharaan ilegal orangutan serta ditemukannya kura-kura baning di sekitar Kabupaten Kutai Timur.

APE Crusader bersama kelompok tani di Desa Sidobangen melakukan penanaman pohon sebagai usaha menjaga kawasan hidup satwa liar. Upaya panjang usaha pembangunan jembatan koridor satwa pada akhir November 2025 menjadi harapan satwa liar untuk selamat dari ramainya jalan poros Kalimantan tersebut.

Di sisi lain, konflik antara orangutan dengan manusia masih menjadi tantangan besar. Sepanjang tahun 2025, tim APE Crusader menangani 27 laporan keberadaan orangutan di sekitar aktivitas masyarakat dan perusahaan. Dari proses asesmen dan penyelamatan tersebut, sebanyak 52 individu orangutan berhasil diamankan dari habitat yang rusak, dengan sebagian besar kemudian ditranslokasi ke habitat yang lebih layak.

Tingginya intensitas konflik mendorong kebutuhan untuk memperkuat kapasitas tim rescue. Rencana pembentukan tim tambahan serta pengadaan ambulans menjadi langkah penting yang dinilai akan sangat membantu kerja APE Crusader di lapangan. Kondisi ini tidak terlepas dari laju kehilangan habitat yang masih tinggi akibat alih fungsi hutan oleh perusahaan dan atau masyarakat lokasi. Tidak mengherankan jika Kalimantan Timur tercatat sebagai salah satu provinsi dengan angka pembukaan lahan tertinggi pada tahun 2024 dan 2025.

Selain kerja lapangan, APE Crusader juga aktif membangun kesadaran publik. Berbagai kegiatan edukasi mulai dari school visit, campus visit, hingga advokasi dan kampanye lingkungan seperti acara Sound for Orangutan (SFO) di kota Samarinda. Kegiatan ini menjadi ruang untuk menyuarakan krisis lingkungan sekaligus menjalin dialog dengan komunitas lokal. Beasiswa untuk mahasiswa Universitas Mulawarman serta kesempatan magang di lokasi kerja Centre for Orangutan Protection di Kalimantan Timur juga menjadi usaha regenerasi dunia konservasi orangutan di Indonesia.

Menutup tahun 2025, APE Crusader menyadari bahwa perjalanan ini tidak mungkin dilalui sendirian. Kesempatan memaparkan hasil kerja lapangan pada Konferensi Wild Animal Rescue Network (WARN) di Thailand menjadi pengingat kerja tim yang ternyata tidak kecil. Proses panjang yang telah dilewati adalah kerja kolektif, penuh tantangan, namun sarat harapan. (FER)

INFORMASI UNTUK KONSERVASI

Debu dan lubang di jalan poros Wahau-Berau, Kalimantan Timur menjadi saksi bisu perjalanan tim APE Crusader dalam menjalankan tugasnya. Pekerjaan ini bukan hanya tentang patroli atau operasi penyelamatan yang mengharuskan kami keluar-masuk hutan, tetapi juga tentang mengumpulkan informasi krusial dari masyarakat setempat. Banyak dari mereka membuka ladang di dekat hutan, rumah bagi orangutan.

Informasi mengenai interaksi negatif manusia-orangutan, pemeliharaan ilegal, serta berbagai kejadian terkait lainnya tidak luput dari perhatian kami. Tak jarang, bayi orangutan dipelihara sebagai hewan piaraan karena wajahnya yang lucu dan menggemaskan. Data dan cerita seperti ini sangat penting untuk pemetaan hotspot interaksi negatif, penyusunan program edukasi, hingga perencanaan operasi penyelamatan bersama BKSDA jika diperlukan.

Seperti biasa, saya memulai dengan mendatangi lokasi-lokasi yang disinyalir masih memiliki keberadaan individu orangutan. Bertamu ke rumah-rumah warga, duduk di teras, mengobrol ringan, hingga makan bersama orang-orang yang sebelumnya bahkan belum saya kenal. Awalnya suasana ramah. Namun begitu saya mulai melempar pertanyaan tentang konflik dengan orangutan, atmosfer langsung berubah. Tatapan mata menghindar, jawaban menjadi singkat dan kabur.

“Jarang lihat, Mas” atau “Sudah lama gak ada”.

Saya paham betul alasannya, takut. Takut dianggap terlibat, takut memicu konflik dengan tetangga, atau takut pada hukum yang tegas dalam perlindungan satwa liar.

Saat patroli, saya sering melihat di kebun sawit pohon-pohon muda yang rusak. Bukan buah sawitnya yang dimakan, melainkan umbut muda yang baru tumbuh – sumber makananbagi orangutan yang kelaparan karena habitatnya kian menyempit. Hutan yang dulu menyediakan beragam pakan kini berubah menjadi perkebunan monokultur dengan sangat sedikit pohon pakan alami.

Petani pun frustasi. Mata pencaharian mereka terancam. Beberapa kali saya menangkap cerita-cerita tersirat tentang orangutan yang “hilang”, mungkin diusir dengan parang atau bahkan sesuatu yang lebih buruk. Namun detil lokasi, waktu kejadian, maupun pelakunya hampir selalu disembunyikan atau benar-benar tidak diketahui. Budaya saling melindungi di desa-desa kecil membuat dinding informasi itu semakin tebal.

Ketika pertama kali turun ke lapangan, yang kami miliki hanyalah potongan-potongan cerita dan dugaan. Namun itulah realitas kerja lapangan. Bekerja dengan informasi setengah-setengah adalah hal yang biasa, sekaligus tantangan dan bagian paling menarik. Bagaimana kami menyusun kepingan-kepingan informasi itu menjadi sebuah puzzle, lalu merangkainya menjadi peta aksi yang valid untuk langkah konservasi orangutan.

Basah kuyup diguyur hujan, terjatuh dari motor saat melintasi jalan berlumpur, hingga tapir tersasar di tengah perkebunan kelapa sawit atau hutan rimba adalah risiko yang sudah biasa kami hadapi. Namun setiap kali teringat bahwa satu potong informasi dapat menyelamatkan satu nyawa orangutan, kami terus melangkah maju.

Di Kalimantan Timur, orangutan bukan sekadar satwa. Mereka adalah penjaga sekaligus petani hutan yang perannya sangat penting bagi keseimbangan bumi ini. (WIB)

SAAT KABEL DAN TIANG MENJADI HARAPAN BARU BAGI SATWA LIAR

Di tengah hamparan hutan Kalimantan yang terbelah oleh Jalan Nasional Poros Kelay, lahirlah sebuah misi besar yaitu untuk mengembalikan konektivitas habitat agar satwa liar terutama orangutan, dapat bergerak dengan aman. Selama hampir empat tahun, BKSDA Kalimantan Timur bersama COP (Centre for Orangutan Protection) bekerja merancang sebuah jembatan koridor satwa, sebuah upaya penting untuk menjawab tantangan konservasi di wilayah yang menjadi jalur pergerakan satwa.

Proses menuju pembangunan jembatan dimulai dengan pengambilan data koordinat dan dokumentasi udara pada awal tahun 2022. Tahap demi tahap dijalani, kajian teknis, koordinasi lintas instansi hingga administrasi yang memakan waktu panjang. Rekomendasi pembangunan akhirnya diterbitkan pada pertengahan tahun 2025, membuka jalan bagi pelaksanaan konstruksi yang kemudian dapat diwujudkan pada 29 November 2025.

Pengerjaan jembatan dipantau oleh perwakilan BKSDA Kaltim dan staf lapangan COP dengan dukungan aparat setempat untuk memastikan proses pemasangan berlangsung aman. Meski waktu pemasangan di lapangan relatif singkat, medan terjal, jurang yang curam, serta bukaan lahan warga menjadi tantangan teknis yang harus diselaraskan sejak persiapan awal hingga hari pengerjaan.

Catatan kegiatan di tahun-tahun sebelumnya menunjukkan bahwa jembatan ini sangat dibutuhkan. Jalan poros Kelay kerap menjadi lokasi kemunculan orangutan dan satwa liar lainnya, karena dua blok hutan besar, yaitu Hutan Lindung Sungai Lesan dan Hutan Lindung Wehea, yang terpisah oleh jalur kendaraan yang padat. Jembatan ini diharapkan menjadi solusi aman agar satwa dapat menyeberang tanpa risiko konflik dengan manusia.

Kini, jembatan koridor satwa telah berdiri kokoh menghubungkan kembali bentang hutan yang sebelumnya terpisah. Langkah selanjutnya adalah pemasangan kamera trap untuk memantau penggunaan jembatan serta pemasangan rambu himbauan sesuai arahan BKSDA Kaltim. Terima kasih semua pihak yang terlibat dalam perjalanan panjang ini, hingga jembatan penghubung kehidupan ini akhirnya menjadi kenyataan. (FER)

SOUND FOR ORANGUTAN 2025 EDISI BORNEO

Sound For Orangutan 2025 kembali mengguncang Samarinda dengan tema “Born to be Wild” bertempat di Temindung Creative Hub. Acara ini menjadi ruang pertemuan bagi musisi, komunitas seni, aktivis lingkungan, dan masyarakat yang peduli pada masa depan orangutan.

Tahun ini, semangat kolaborasi terasa kuat. Para penggiat lingkungan dan komunitas kreatif menyatukan energi mereka untuk mengajak masyarakat lebih peduli terhadap konservasi orangutan serta habitatnya. SFO menjadi momentum langka di Samarinda yang menggabungkan musik, seni, dan pesan lingkungan dalam satu panggung. Deretan band lokal seperti Swankscum, Outlier, GNR, Roots Side Up, Louise, dan Grossfuss tampil penuh energi. Komunitas graffiti ‘warga sekitar hood’ dan aktivis setempat yang juga memperkaya pengalaman acara dengan karya dan pesan mereka.

Lebih dari 80 orang hadir dan memberikan respons positif. Banyak penonton dan performer berharap SFO bisa digelar kembali tahun depan dengan skala lebih besar, mengingat konser amal bertema orangutan seperti ini merupakan yang pertama di Samarinda.

Sound For Orangutan 2025 mengukuhkan bahwa musik bukan hanya hiburan, tetapi juga suara yang mampu menyatukan komunitas untuk menjaga kelestarian orangutan dan hutan yang menjadi rumah mereka. (WIB)

AMBULAN SATWA LIAR COP SIAP MENJANGKAU TITIK KONFLIK ORANGUTAN

Hanya butuh setengah tahun, akhirnya Ambulan Satwa Liar COP ini menyeberangi laut Jawa lewat Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya pada 19 November 2025. Selama 36 jam di lautan, mobil ambulance ini pun tiba di Pelabuhan Balikpapan dan segera melanjutkan perjalanan darat menuju Samarinda. Kehadirannya di Kalimantan Timur menandai babak baru dalam penguatan respons penanganan satwa liar di wilayah tersebut.

Setelah resmi mengaspal di Tanah Borneo, ambulan ini langsung digunakan untuk menangani situasi darurat di area konflik orangutan. Dengan mobilitas dan fasilitas yang lebih memadai, tim APE Defender dan APE Crusader dapat bergerak cepat mengevakuasi orangutan yang berada dalam kondisi berisiko, memastikan mereka sehat dan dapat dipindahkan ke habitat yang lebih aman.

Kehadiran ambulan ini menjadi langkah baru yang penuh harapan. Dukungan banyak pihak membuat perjalanan penyelamatan satwa liar terasa semakin laju. Centre for Orangutan Protection (COP) menyambut masa depan ini dengan optimisme, siap menjalankan lebih banyak misi penyelamatan dan membawa kabar baik dari kantong-kantong habitat orangutan. Terima kasih The Orangutan Project yang telah mewujudkan mimpi tahunan COP memiliki ambulan penyelamat satwa liar Indonesia”. (DIM)

EDUKASI KONSERVASI ORANGUTAN HADIR DI SMAN 5 SAMARINDA

Pada 23 September yang lalu, Tim APE Crusader bersama SKW 2 BKSDA Kalimantan Timur serta Orangufriends Samarinda melaksanakan kegiatan School Visit di SMAN 5 Samarinda. Tujuannya adalah untuk mengedukasi para pelajar mengenai pentingnya konservasi orangutan serta mengampanyekan upaya pelestarian satwa yang semakin terancam punah ini. Sebanyak 40 siswa hadir, ada tips untuk generasi muda mengambil peran menjaga kelestarian alam.
Menariknya, Orangufriends Samarinda yang merupakan relawan orangutan mengajak siswa bermain permainan edukatif. Aktivitas ini membuat pembelajaran terasa menyenangkan dan interaktif. Tawa dan semangat siswa memenuhi ruangan, menandakan pesan konservasi tersampaikan dengan cara yang hangat. Yang mengejutkan, beberapa siswa mengungkapkan ketertarikan mereka untuk terjun ke dunia konservasi. Hal ini menjadi bukti nyata bahwa edukasi sejak dini dapat menumbuhkan kesadaran, rasa memiliki, serta keinginan untuk ikut berperan dalam menjaga lingkungan.
Melalui kegiatan ini, diharapkan kesadaran siswa SMAN 5 Samarinda akan semakin tumbuh bahwa menjaga orangutan berarti menjaga hutan dan kehidupan itu sendiri. Perubahan besar selalu berawal dari langkah kecil, dan hari itu, langkah dimulai bersama APE Crusader. (WIB)

KILAU BIRU DI LANTAI HUTAN

Pagi itu, sekitar pukul tujuh, suasana di pusat rehabilitasi BORA teduh di bawah langit mendung. Saat itu saya sedang di dalam kantor COP. Dari dapur yang terbuka ke arah hutan belakang kantor, Agung, anggota tim APE Crusader tiba-tiba berseru, “Kang, ada burung biru di tanah!”. Saya segera mengambil kamera dan melangkah ke teras dapur di sisi belakang kantor. Kantor ini berbentuk rumah panggung khas Kalimantan, lantai kayunya ditopang tiang ulin yang kokoh, sementara area dapurnya terbuka langsung menghadap hutan kecil. Dari sana, pandangan saya jelas, hanya enam meter di depan, burung Sempidan Biru jantan (Lophura ignita) sedang mengais serasah basah sisa hujan malam.

Kepalanya biru pucat, dihiasi jambul hitam mungil di atasnya, kontras dengan tubuh berbalut bulu gelap berkilau kebiruan. Ekor cokelat keemasan dan semburat merah didada dan punggung belakangnya semakin menegaskan keanggunan burung ini. Sesekali cahaya redup pagi memantul di sayapnya, menciptakan kilau singkat di antara bayangan pohon. Tak jauh darinya, dua betina dengan bulu cokelat samar menyusuri lantai hutan, nyaris menyatu dengan dedaunan kering dan serasah. Mereka bertiga bergerak pelan, seolah menimbang setiap langkah di tanah yang lembab.

Burung Sempidan Biru Kalimantan adalah satwa endemik yang cukup jarang terlihat. Spesies ini termasuk dalam daftar merah IUCN dengan status Rentan (Vulnerable), terancam oleh hilangnya habitat hutan dataran rendah. Melihat mereka di hutan sekitar kantor menjadi pengingat kuat bahwa hutan di area BORA bukan hanya menjadi zona perlindungan bagi orangutan, tetapi juga bagi satwa liar lain yang sama berharganya.

Dari teras dapur sederhana itu, saya menyaksikan momen istimewa, seekor jantan mencolok ditemani dua betina yang tersamarkan serasah, bergerak bersama dalam senyap pagi hari. Sejenak, halaman belakang kantor berubah menjadi panggung kecil keanekaraman hayati Kalimantan. Momen ini menegaskan satu hal, hutan yang terjaga akan selalu menyimpan kejutan, bahkan sudut yang paling tak terduga. Sempidan biru dengan keindahan dan keberadaannya yang rapuh, menjadi saksi bahwa menjaga ruang alami berarti menjaga kehidupan itu sendiri. (RAF)