COP School

HUMAN ANIMAL CONFLICT AT COP SCHOOL BATCH 7

Mungkin, dia adalah satu-satunya perempuan yang pernah seperahu dengan harimau. Tubuhnya tak lebih besar dari si harimau juga. Perahu yang digunakan bukanlah yang besar pula. Walau saat itu, harimau berada dalam pengaruh obat bius. Dia adalah drh. Erni Suyanti Musabine.

“Jika mendapat banyak tantangan dan hambatan bahkan hal yang melemahkan semangat untuk mengerjakan hal-hal yang bermanfaat bagi lingkungan sekitar kita di institusi sendiri, maka tidak perlu berputus asa dan menjadikan itu alasan untuk menyerah dan berdiam diri. Selalu banyak cara dan kesempatan untuk berbuat sesuatu yang berguna di tempat lain untuk upaya konservasi satwa liar. Hidup ini hanya sekali, maka jadikan setiap waktunya bermakna.”, ujar drh. Erni saat mengisi waktu luangnya menjadi narasumber ‘Human-Tiger Conflict’ di COP School Batch 7.

COP School adalah ruang belajar yang diinisiasi Centre for Orangutan Protection. Tahun ini adalah tahun ketujuhnya, dengan rata-rata pertahun diikuti 30 sampai 50 siswa. Latar belakang peserta yang bervariasi, mulai dari mahasiswa kedokteran hewan, ekonomi, sosial politik, MIPA, pertanian, teknik, kehutanan, pekerja swasta dengan berbagai profesi hingga pegawai negeri menjadikan ruang kelas lebih semarak. Dengan mengesampingkan perbedaan agama maupun jenis kelamin, seluruh siswa berbaur untuk satu tujuan, dunia konservasi Indonesia. “Hampir setiap tahun, diikuti Warga Negara Asing dari Inggris, Polandia, Korea Selatan, Perancis, dan Australia. Benar-benar multikultural.” kata Ramadhani, Kepala Sekolah COP School Batch 7.

“Tahun ini ada dokter anastesi yang ikut. COP School memang luar biasa, membuat orang penasaran dari berbagai latar belakang.”, ujar drh. Erni.

Berada di dunia konservasi bukanlah hal yang mudah. Apalagi untuk seorang perempuan Indonesia. Tubuh mungilnya mungkin tak sebesar tekadnya. Semangatnya untuk menyelamatkan satwa liarlah yang mengantarkannya seperti saat ini sejak 2002 berkarir.

DUA SISWA COP SCHOOL BATCH 7 BERANGKAT DARI BERAU

Mereka berdua adalah anak muda yang tak pernah lelah untuk belajar. Dalam kesehariannya di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo, mereka memiliki tanggung jawab pada orangutan dan seluruh tim. Jefri dan Shanti akhirnya berangkat ke COP School Batch 7 dengan dukungan With Compassion and Soul serta teman-teman satu tim lainnya dari Berau ke Yogyakarta. Langkah besar lainnya setelah mereka masuk ke pusat perlindungan orangutan ini setahun lalu.

Ini akan menjadi pengalaman pertama mereka jauh dari kampung halaman. Di COP School Batch 7 nanti, mereka akan bergabung dengan siswa lainnya yang berasal dari Sumatera, Bali, Sulawesi dan Jawa. Jefri dan Santi akan mengenal dunia konservasi yang lebih luas lagi.

Putra-putri daerah yang berhadapan langsung dengan persoalan di lapangan akan berjaringan dengan siswa COP School lainnya. Saling memahami permasalahan di daerah masing-masing dan saling mendukung pekerjaan konservasi adalah inti dari berjaringan. Dunia tanpa batas di dunia maya yang selama ini berlangsung, akan membuat mereka saling terhubung.

Maju dan terus berkaryalah!

DIBALIK KARTINI ORANGUTAN COP, DOKTER HEWAN PEREMPUAN YANG MEMBANGGAKAN

Ada dua dokter hewan perempuan alumni COP School. Mereka adalah drh. Ade (COP School Batch 3) dan drh. Eliz (COP School Batch 6). Ketika masih berstatus mahasiswa di Fakultas Kedokteran Hewan UGM mereka berdua sangat aktif membantu kegiatan COP baik edukasi sampai yang berkontak langsung dengan satwa.

“Yang saya ingat sekali di akhir tahun 2013, Ade ikut dalam salah satu program pendampingan kebun binatang di Solo, Jawa Tengah. Saat itu tim medis dari TSTJ Solo dan COP memerlukan data kesehatan Harimau yang ada. Maka diperlukan pembiusan terhadap harimau tersebut dan dilanjutkan pemeriksaan medis serta pengambilan data. Tentunya ini adalah peluang belajar yang sangat susah didapat, apalagi saat itu yang menjadi leader medisnya adalah drh. Erni Suyanti yang terkenal dengan pengalamannya menangani kasus Harimau Sumatera. drh. Erni Suyanti sendiri sudah sejak 2012 menjadi relawan COP, badannya yang kecil tak berarti mengurung semangat dan tekad nya pada perlindungan satwa liar Indonesia.”, kenang Ramadhani, Manajer Komunikasi Centre for Orangutan Protection.

Selain ketiga dokter hewan perempuan itu, COP juga sering dibantu drh. Tiara Debby. drh. Debby begitu biasanya dia disapa. Pada saat gunung Kelud meletus, dia langsung menggabungkan diri pada tim tanggap bencana alam APE Warrior. Memeriksa kondisi hewan ternak maupun peliharaan menjadi tanggung jawabnya. Sekali lagi, menjadi perempuan bukanlah halangan untuk berkarya, apalagi saat bencana terjadi.

COP juga pernah dibantu drh. Yenny diawal berdirinya. Memeriksa orangutan di Kebun Binatang Sintang dan berusaha mengurangi penderitaan orangutan-orangutan tersebut. Tak banyak dokter hewan perempuan yang fokus pada satwa liar, tapi COP bangga perempuan-perempuan hebat itu pernah menjadi bagian dari keluarga besar COP.

Satu lagi dokter hewan perempuan yang melakukan pengecekkan satwa di kebun binatang di seluruh Jawa. Dia adalah drh. Luki Kusuma Wardhani. Di tahun 2009, kebun binatang di Jawa harus mendengarkan kritik pedas nya, karena perlakukan kebun binatang pada satwanya.

Mereka adalah dokter-dokter hewan tangguh yang ahli dibidangnya. Kondisi fisik bukanlah sesuatu yang menghalangi mereka. Mereka adalah Kartini COP.

CATATAN SELEKSI COP SCHOOL BATCH 7

Tidak banyak sekolah atau pelatihan yang dirancang untuk mencetak aktivis satwa liar yang mempunyai pemahaman dasar konservasi dengan etika dan moral terutama di satwa liar orangutan. Kalaupun ada tidaklah bertahan lebih dari 3 kali pelatihan. Mundur perlahan kemudian hilang. Apa yang membuat COP School bisa bertahan hingga tahun ke-6 dan sekarang siap menyambut Batch 7 dengan kekuatan, antusiasme dan semangat juang orang-orang dibalik layarnya.

Kami percaya, “apa yang dikerjakan karena perut akan kembali ke toilet, apa yang dikerjakan dengan hati akan kembali kehati.”. COP School bisa dikatakan sebuah “sekolah” yang setiap tahunnya berganti kurikulum karena mengikuti perkembangan dunia konservasi dengan pertimbangan, evaluasi dan masukan dari siswa, alumni, pemateri dan staff COP. Karena tidak ada sekolah sejenis yang bisa kami jadikan rujukan sebagai influens. Semua diawali meraba-raba hingga bertemu, bergerak dan berjuang bersama-sama siswa.

Hingga saat ini COP School bisa berjalan karena dikerjakan secara kolektif. Persis seperti budaya kita, Gotong Royong. Mungkin teman-teman bertanya kenapa ada kalimat “membayar sebagian Rp. 500.000,00“ diposter COP School. Yups, memang karena sebagian lainya “dibayar” oleh pemateri dan alumni COP School sebelumnya. Teman-teman alumni yang masih mempunyai waktu luang mencurahkan waktunya untuk membantu berjalannya COP School. Yang tidak ada waktu dan sudah mapan menyumbangkan dananya. Para pemateri datang dari kota lain ke Yogyakarta dengan biaya sendiri. Kolektif ini berjalan karena kami percaya selama masih ada anak-anak muda Indonesia yang mau peduli terhadap satwa liar maka dunia konservasi satwa liar masih mempunyai peluang untuk bertahan. Itulah yang kami sebut “MENOLAK PUNAH”.

Teman-teman calon siswa yang telah masuk disini tentu telah mengalami perjalanan, “ngapain loe ikut-ikutan acara nyelamatin monyet ato kera segala, serius loe??”. Berupaya empati untuk satwa di Negara kita memang sesuatu yang bisa dikatakan bukan hal normal. Tapi jika tidak ada orang gila maka tidak ada kelompok orang normal. Kami ingin membuat barisan menolak punah yang benar-benar “gila”. Dari tiga tugas yang dilemparkan kami bisa menilai semangat teman-teman dan juga terpaksa mengeluarkan empat calon siswa dari grup ini karena sama sekali tidak menjalankan tugasnya. Hingga akhirnya nanti tanggal 29 April 2017 benar-benar tersaring siswa Batch 7.

COP School tidak ada kuota kursi yang harus dipenuhi. COP School pernah hanya 18 orang siswa dan pernah juga sampai 40 lebih siswa. Tetap akan berjalan dan mempunyai ceritanya sendiri. Teruslah bertahan menjadi “gila” hingga nanti bertemu bulan depan di Yogyakarta. (DAN)

BERANI BERMIMPI DAN BERUSAHA MEWUJUDKANNYA

Halo, saya Citra Kirana dari Jakarta. Dua tahun yang lalu adalah masa dimana saya memutuskan untuk berani bermimpi dan berani berusaha untuk mewujudkannya. Dan undangan untuk bergabung menjadi siswi COP School Batch 5 merupakan salah satu gerbang bagi saya untuk memulai perjalanan itu. Hanya berbekal niat baik dan cinta saya terhadap satwa, saya memberanikan diri untuk mendaftar. Senang sekali setelah mengikuti serangkaian proses seleksi, pada akhirnya bisa bergabung dan berangkatlah saya ke Yogyakarta.

Mengikuti pelatihan di COP School membuka pengetahuan saya mengenai kondisi satwa liar di Indonesia, khususnya orangutan. Bisa bertemu dengan siswa – siswi dari berbagai latar belakang, dengan berbagai cerita, mendengarkan materi yang disampaikan oleh praktisi sampai mengikuti praktek lapangan yang begitu memperkaya pengetahuan saya mengenai arti perjuangan di garis depan.
COP School mengajak siswa-siswinya untuk beraksi dengan berkreasi tanpa batas. Melawan bukan dengan kekerasan dan keributan, namun dengan aksi nyata dalam meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap kesejahteraan satwa sesuai dengan minat dan kreativitas masing – masing.

Satu kehormatan bagi saya yang memang mempunyai ketertarikan di isu pangan ramah lingkungan diberi kesempatan untuk bisa mengkoordinasikan salah satu event tahunan Orangufriends (sebutan bagi relawan COP), yaitu Cooking For Orangutan (CFO) #2 bersama dengan orangufriends Jakarta – Jawa Barat.
Bertempat di rumah makan vegetarian Burgreens, acara demo mengolah makanan bebas minyak sawit oleh chef spesialis makanan sehat, Chef Sophie Navita & Chef Max Mandias berlangsung dengan lancar. Di acara tersebut kami berkesempatan untuk menyampaikan kepada peserta mengenai dampak buruk penggunaan minyak sawit terhadap kelestarian orangutan dan habitatnya.
Di beberapa kegiatan COP selanjutnya, saya juga diberikan kesempatan untuk berkontribusi dalam menangani bagian konsumsi. Begitu terasa rekan – rekan di COP memberikan ruang bagi relawan untuk saling mendukung dalam memaksimalkan potensinya.

Saya sangat bersyukur bisa menjadi bagian dari COP School. Tidak hanya mendapatkan pelajaran dan pengalaman yang begitu berharga, di sini saya juga dipertemukan oleh keluarga baru, sahabat – sahabat terbaik yang hangat dan selalu penuh semangat dalam memperjuangkan kebebasan satwa liar di Indonesia.

Citra Kirana (COP School Batch 5)

SOUND FOR ORANGUTAN

Semenjak saya menjadi sukarelawan di COP tahun 2012, sebesar apapun hal yang sudah lakukan saya selalu merasa kurang, dipikiran saya selalu terpenuhi dengan “Saya harus menolong satwa ini, saya mau penderitaan mereka berhenti”.
 
Saya memulai perjalanan saya dalam menolong orangutan menjadi interpreter dimana pekerjaan kami cukup sederhana, memberitahu orang-orang yang datang ke kebun binatang apa itu orangutan dan jangan menyakiti mereka, sebuah pesan yang terkesan sederhana namun bisa dibilang 45% orang yang berkunjung ke kebun binatang belum bisa membedakan mana monyet dan kera, dan dari mana itu orangutan, tidak banyak pula yang tahu kalau orangutan itu terancam keberadaannya, na’asnya generasi muda saat ini tidak begitu peduli dengan lingkungannya bahkan dengan keberadaan satwa langka di negaranya sendiri.
 
Kebetulan COP mengadakan COP School dimana para siswanya dilatih untuk mengenal lebih dalam tentang satwa liar yang ada di Indonesia, tidak hanya terbatas pada orangutan saja, tetapi juga satwa langka lainnya, seperti gajah dan harimau, bahkan penyu. Sangat menarik dan positif.
 
Dari sekitar 20 siswa COP School ini tidak sedikit yang semangat membawa perubahan, tidak hanya untuk sekitarnya tetapi masyarakat luas. Saya pun ditugaskan untuk membawa misi positif ini ke daerah dimana saya tinggal, Jakarta.
 
Saya memulai dari edukasi kecil di kampus, sekolah dan pusat perbelanjaan. Namun rasanya saya belum memenuhi target saya, dan disitulah saya dan beberapa siswa COP lainnya dari Jakarta berencana membuat sebuah acara, dimana edukasi dibuat menjadi menarik dan orang yang datang tidak hanya monoton edukasi tetapi juga terhibur sambil berdonasi untuk kelangsungan orangutan.
 
Sound for Orangutan, suara untuk orangutan. Ide sederhana ini muncul ketika saya berpikir generasi muda saat ini akan menghabiskan uang ratusan rupiah untuk konser, dan bagaimana caranya anak muda ini menikmati musisi kesukaan mereka sambil berdonasi dan mendapatkan informasi yang interaktif juga positif dari kami.
 
Sound for Orangutan pertama di tahun 2013 cukup sukses, ratusan orang datang berbondong-bondong membawa misi yang sama dari generasi muda, hingga keluarga juga para artis, mendukung gerakan positif ini. Satu suara untuk Orangutan.
 
Sound for Orangutan kini sudah diadakan di beberapa kota besar di Kalimantan & Yogyakarta dengan misi dan tema tersendiri. Perjalanan saya dalam membantu Orangutan tidak akan berhenti sampai sini, dan terus akan berlanjut dikemudian hari. Salam orangutan. One sound, one ape.

Yosha Melinda (COP School Batch 2)

MENGANTAR BUDAK MELAYU KE TANAH YOGYA

A true conservationist is a man who knows that the world is not given by this fathers but borrowed from his children – John James Audubon.
“Woi, Sarah ndak bisa dikau cepat?”
“Iya kejap we, aku masih dikampus nunggu Endang nak kasih tas dio. Tunggu ajo disana aku bentar lagi kesana”
“Iya cepatlah, telat nanti ke bandara tu belum lagi macetnya. Kau ni udah tau nak pergi jam segini, ngapa ndak kau bereskan sejak pagi tadi”
Tut… tut… tut… Telpon yang di loadspeaker itu terputus dengan menggenaskan.

Satu jam lima puluh lima menit setelah meninggalkan Bandara Sultan Syarif Qasim II pesawat yang kami tumpangi mendarat di Bandara Soekarno-Hatta. Kami meneruskan perjalanan menggunakan Damri menuju Stasiun Gambir dengan modal keberanian seadanya. Ya, kala itu kami sengaja mempersulit diri sendiri hanya karna ingin menikmati sensasi menggunakan kereta keluar kota. Karena di Riau kami tidak pernah menemukan kereta. Orang Riau biasanya keluar kota menggunakan agen travel resmi atau melalui jalur udara.

“Budak Melayu squad” sebutan yang sepertinya cocok untuk kami. Kami anak-anak Riau yang sengaja datang ke COP Camp di Yogya untuk mengikuti sekolah konservasi. Berbekal rasa tidak terima akan ketidakadilan yang bertubi-tubi terjadi terhadap satwa liar di Riau. Kami berniat untuk membekali diri agar nantinya mampu berkontribusi dalam usaha penyelamatan satwa liar baik dari segi pendidikan maupun transfer ideologi ke masyarakat sekitar khususnya di Riau.

Masuk dalam dunia konservasi sebagai volunteer sudah tidak asing lagi bagi kami. Didukung dengan background pendidikan kami yang berasal dari jurusan Biologi FMIPA Universitas Riau dengan konsentrasi ekologi konservasi, bekal yang kami punya tidak hanya semangat sebagai volunteer saja tapi pemahaman akan dunia konservasi itu sendiri. Ketertarikan kami yang besar terhadap dunia konservasi dan rasa tidak puas akan sedikit ilmu yang kami miliki, mengantarkan kami “Budak Melayu (anak Melayu-red)” ke Daerah Istimewa Yogyakarta.

Tidak hanya paparan materi lengkap yang berhasil dikemas oleh tim COP School, tapi konsep keberlanjutan dengan adanya program kerja yang dibawa ke daerah masing-masing membuatnya semakin kompleks. Menjadi bagian dari COP School Batch 6 merupakan kebanggaan tersendiri bagi kami. Pembelajaran tentang satwa liar khususnya Orangutan serta hal-hal lain terkait satwa liar seperti ekosistem lahan basah, teknik investigasi, teknik rehabilitasi orangutan, dan pertemuan langsung dengan Mbak Yanti, dokter hewan yang viral di media sosial dengan usahanya menyelamatkan Harimau Sumatera menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi kami.

Berbekal ilmu, pengalaman, semangat dan teman-teman baru saat kembali ke Pekanbaru seperti membawa bongkahan emas yang nilainya tak akan habis direnggut masa. Keterlibatan kami “Budak Melayu Squad” dalam kampanye serentak se-Indonesia terkait penggunaan senapan angin sebagai teror untuk satwa liar berhasil diliput oleh 19 media di Riau. Tidak sampai disitu, kami juga melakukan edukasi ke sekolah, plesiran dengan tujuan khusus ke pasar burung dan kebun binatang. Keterbatasan dan jarak yang begitu jauh dari pusat untuk berkoordinasi langsung tidak menjadi alasan kami, empat perempuan tangguh (Ana Neferia Zuhri, Iska Lestari, Nabella, dan Ravita Safitri) untuk menyerah dan melibatkan diri dalam usaha konservasi satwa liar khususnya di Riau. (Ana Neferia Zuhri_#copschool6).

BERTEMU ORANG-ORANG BARU DI COP SCHOOL

Namaku Mikaela, 19 tahun asal Bandung. Dari kecil aku sudah dibiasakan oleh nenek untuk dapat merawat hewan sekali pun itu serangga. Oleh karena itu rasa simpati kepada hewan yang tinggi di dalam diriku tumbuh. Gak sengaja ketika melihat Facebook muncul COP, kepo tuh langsung otak-atik fanpage nya. Terus muncul poster COP School Batch 5, langsung tertarik pengen banget ikutan. Setelah ijin ke orangtua ternyata dibolehin, langsung deh daftar.

Proses daftar COP School Batch 5 yang menurutku tidak sulit dan informasi yang disampaikan pun sangat lengkap jadi ngak bikin pusing untuk daftar. Setelah aku daftar kami diundang ke grup COP School dan diberi beberapa tugas sebelum kami dinyatakan lulus sebagai siswa COP School Batch 5 yang resmi. Di waktu luangku, aku mengerjakan tugas dari COP, tapi sekali lagi karena aku sangat berminat jadi ku kerjakan dengan sungguh-sungguh dan enjoy.

Waktunya pun tiba, hasil seleksi akan diumumkan. Rasanya deg-degan, takut gak lulus. Ternyata… Namaku ada di daftar siswa COP School Batch 5!!. Senangnya bukan main!!. Pada bulan Juni pun aku berangkat dari Bandung ke Yogja, rasa antusias menyelimutiku. Sesampainya aku di Jogja langsung berangkat menuju Camp COP yang berlokasi di Gondanglegi, Sleman. Aku bertemu dengan orang-orang yang memang benar-benar baru dan gak kenal satu pun, rasanya aneh sih tapi aku selalu ingat tujuanku bahwa aku ingin ikut serta dalam misi penyelamatan hewan.

Aku bersama kak Citra, kak Ucup dan dengan mentor kami kak Dea hari pertama kami ngecamp dibelakang Camp COP. Malamnya kami berkumpul dan memperkenalkan diri lalu kami tidur. Keesokan hari, kami sarapan pagi bersama lalu bersiap dan menggendong ransel dan mengenakan topi kami untuk persiapan longmarch dari Gondanglegi menuju Kaliurang. Perjalanan yang sungguh melelahkan tapi menyenangkan. Kami melewati persawahan, pedesaan, dan menyelusuri sungai. Akhirnya pada sore hari kami sampai di Kaliurang dan langsung mendirikan tenda untuk tempat istirahat kami dan menyiapkan makan malam dengan memasak bersama lalu makan bersama, kebersamaan mulai terasa ketika kami semua selesai makan.

Malam itu kami mengikuti materi dari Pak Jamartin Sihite dari BOSF. materi-materi yang disampaikan pun sangat membuatku tercengang mendengar keseruannya, setelah materi kami pergi tidur.

Hari ketiga kami awali dengan memasak bersama yang bahan-bahan masakannya udah disiapkan panitia, kemudian sarapan. Lanjut materi dari kakak-kakak COP yang sharing tentang pengalamannya di hutan Kalimantan dan menangani perdagangan satwa liar sampai keliling Indonesia. “WOW” aku berdecak kagum banget mendengar kerseruan, ketegangan dan keharuan dari cerita mas Hardi, mas Daniek, mas Dhani, kak Jambrong.

Hari keempat, kami menerima materi enrichment untuk satwa seperti orangutan, beruang madu, kukang, bekantan. Jadi di materi enrichment kami diajarkan untuk membuat kreasi dan dirangkai untuk mengajarkan satwa liar yang sudah lama ditangkap, berada di kandang dan lupa cara mencari makan di hutan. Dari bahan-bahan yang ada seperti karet, batang pohon, barang-barang bekas dan bambu kami mengkombinasikan dengan makanan sesuai hewan yang akan kita buat enrichmentnya. Seru abissss…!. Dan kami juga mendapat materi dari mas Warno dan kak Punky dari Animal Indonesia. Materi yang disampaikannya pun menarik dan diselingi games.

Hari kelima untuk kami, kami diajarkan untuk menjadi juru kampanye yang biasa COP lakukan yaitu aksi diam. Saat itu aku ditugaskan menjadi kameramen dan partnerku kak Wildan. Kali ini agak menegangkan tidak seperti biasanya yang santai karena kita diajarkan agar bisa kuat dan melakukan aksi diam. Kami mengibarkan bendera COP yang sangat besar, KEREN! Pada sore haripun kami semua masuk ke dalam kolam lumpur dan perang lumpur!. Pokoknya semua harus hitam pekat haha. Setelah habis main lumpur kita semua mandi di sungai, hari pun semakin malam kami mulai masak dan makan malam.

Hari keenam hari terakhir kami menuju Camp COP, sedih sih karena akan berakhir tapi sekaligus antusias karena kami telah membuat Program Kerja Mandiri untuk daerah kami masing-masing. Memang kenangan dan ilmu yang luar biasa. Thanks to COP School, aku pun bisa menyalurkan passion dan impianku untuk menyelamatkan satwa liar. Sampai sekarangpun walau kami jauh masih terus terhubung dengan media sosial. (Mikaela_COP School Batch 5)

EXCITING EXPERIENCE BECOMING KITCHEN ANGEL IN COP SCHOOL

Hi! My name is Nita Istikawati, you can call me Nita. I am a COP Supporter from Yogyakarta.
The story began in 2010 when I decided to join COP as a volunteer. At that time, I was a university student doing an Accounting degree. It can be said that my education didn’t have any correlation with orang-utans at all. So, I wasn’t surprised when some college friends bullied me about my bizarre activities outside of campus. They often said that I was a very odd person because I liked to go to the zoo to make enrichments and better enclosures for the animals, joined an orang-utan demonstration (campaign), and also spoke out loudly against the destruction of rainforests for palm oil plantations. They thought it was extremely peculiar behaviour for a student from the Faculty of Economics. Well, it never ever stopped me raising awareness and helping orang-utans through COP. From my own experience, I know that everyone can help the orang-utan and its habitat without limits and boundaries. Everything that begins from your heart will come back to your heart again.
There are so many exciting experiences I gained when I was working as a volunteer in orangutan protection. There were lots of unforgettable memories. One of them is when I became a COP School organiser. My favourite position was as part of the kitchen team or kitchen angel. First, because I could taste the food before the other people did. Second, I could taste again and then third I could do food tasting again and again (LOL). On the other hand, I love cooking. Perfect. But please take it easy, I just wanted to make sure that all of the food that we provided at COP School was healthy, free from formaldehyde and safe for consumption by participants and also the presenters. I called it working on the front line. Alibi.
Hmmm… actually becoming part of the kitchen team meant that we should be facing the reality of the lack of sleeping time. Imagine this: the kitchen angels have to wake up very early in the morning before the cock crows and are already moving in the direction of the rising sun. Meanwhile, others were still soundly resting in bed.
As a kitchen angel during COP School, I had to wake up no later than 3.30am every day, because we had to boil water for drinking and then go off to the market to buy vegetables. After that, we picked up food for the catering and also had to prepare anything else. Morning rush hour. From this activity, I learnt a lot about time management and of course became more responsible with my job.
The kitchen is the most strategic place to meet up with everyone. While the participants were making tea or a cup of hot coffee, I got lots of chances to talk with them. Warm conversation in the morning made us feel closer to each other. The participants of COP School are very multicultural. They come from various backgrounds. There is a veterinary student, biology, design, law, economy, communication, etc. Well, I came to understand a wide range of characters and it made me easier to adapt to the new environment. Yes, COP School is a place where I gained a new family, who inspire and strengthen each other. Thanks, COP.

PENGALAMAN SERU MENJADI TEAM DAPUR DI COP SCHOOL
Hai! Nama saya Nita Istikawati biasa dipanggil Nita. Salah satu pendukung COP dari Yogyakarta.
Cerita bermula di tahun 2010 ketika saya bergabung menjadi volunteer COP. Waktu itu saya masih berstatus sebagai mahasiswa aktif di jurusan Akutansi. Bisa dibilang latar belakang saya memang tidak ada hubungannya sama sekali dengan orangutan. Jadi, tidak heran jika sering diejek teman-teman mengenai kegiatan-kegiatan saya di luar kampus. Saya dibilang orang aneh yang suka keluar masuk kebun binatang, ikut kegiatan demo (kampanye) dan teriak-teriak tentang sawit. Menurut mereka tidak wajar dilakukan oleh anak ekonomi. Namun hal itu tidak pernah mematahkan semangat saya untuk terus membantu COP. Menurut saya menyelamatkan orangutan dan habitatnya itu tanpa batas dan bisa dilakukan oleh siapa saja. Semua yang berawal dari hati akan kembali ke hati.
Ada banyak sekali pengalaman seru selama berkecimpung di dunia perlindungan orangutan yang tidak akan pernah terlupakan. Salah satunya adalah setiap kali menjadi panitia kegiatan COP School. Saya paling senang menjadi bagian dari tim dapur. Pertama bisa cicip makanan, kedua cicip lagi, ketiga cicip lagi, dan lagi (hehe). Selain itu saya suka makan. Cocok ya. Eitsss tapi jangan salah persepsi. Saya cuma mau memastikan makanan di COP School semuanya sehat, bebas dari formalin dan aman dikonsumsi oleh peserta juga para pengisi acara. Ini namanya adalah bekerja di garda depan. Alibi.
Hmmm… sebenarnya menjadi tim dapur itu artinya harus menghadapi kenyataan bahwa jatah tidur sangat berkurang. Bayangkan pagi buta sebelum ayam berkokok kami para kitchen angels sudah bergerak menuju arah matahari terbit. Di saat yang lainnya masih nyenyak tidur di dalam sleeping bed.
Rutinitas selama COP School, setiap hari paling lambat bangun sekitar pukul 3.30 pagi karena wajib memasak air untuk kebutuhan minum dan pergi ke pasar membeli sayur mayur. Mengambil makanan di catering dan juga harus menyiapkan ini dan itu. Pagi yang sangat sibuk. Dari kegiatan ini saya menjadi banyak belajar tentang bagaimana mengorganisir waktu yang baik dan bertanggung jawab dengan pekerjaan.
Dapur adalah tempat paling strategis untuk bertemu dengan semua orang. Sembari para peserta membuat teh atau secangkir kopi panas, saya banyak mendapat kesempatan untuk berbincang. Obrolan hangat di pagi hari membuat susana menjadi lebih dekat dengan para peserta. Para peserta COP School sangat multikultural. Mereka datang dari berbagai macam latar belakang. Ada mahasiswa kedokteran hewan, biologi, desain, hukum, eknonomi, komunikasi, bahasa, dsb. Secara tidak sadar saya menjadi memahami berbagai macam karakter orang dan membuat lebih mudah beradaptasi di lingkungan baru. Ya, COP School adalah tempat dimana saya mendapatkan keluarga baru, saling menginspirasi dan menguatkan satu sama lain. Terimakasih COP.

SELAMA COP SCHOOL BERLANGSUNG

Hi, namaku Shaniya asal Surabaya. Di foto itu aku yang paling depan dengan jilbab hitam. Aku adalah salah satu dari 40 orang yang lolos tahap seleksi untuk mengikuti COP School Batch 6 yang diadakan pada 18-22 Mei tahun lalu di Yogyakarta. Saat ini, statusku sudah menjadi Alumni dari kegiatan tersebut.

Pertama, aku mau bilang. Sama sekali nggak bakal rugi kamu daftar dan ikut seleksi COP School. Kalau kamu lolos, kamu akan dapat salah satu pengalaman yang ngak akan kamu dapatkan di tempat lain. Kalau belum lolos, kamu masih punya banyak kesempatan untuk coba daftar lagi tahun depan, dan tahun depannya lagi, dan seterusnya.

Setelah lolos seleksi, kamu pun nggak perlu takut bakal ‘terdampar’ ketika kamu sampai di Yogyakarta sebelum waktu yang ditentukan untuk kumpul di Camp COP. Kalau tahun lalu, teman-teman Batch 6 yang memang tinggal di Yogyakarta dengan senang hati membantu siapa saja yang membutuhkan akomodasi sementara sebelum kegiatan dimulai.

Siang pertama kegiatan mulai, kami kumpul di Camp COP dan menyerahkan tugas yang harus dibawa. Sorenya semua membangun tenda sesuai kelompok masing-masing dan berkenalan dengan semua yang ada di Camp. Di sini, menurutku sebaiknya kamu ngak cuma kenalan sama COP School angkatanmu aja, tapi juga sama alumni-alumni yang ada, baik yang jadi panitia maupun pendamping kelompok. Setelah semuanya kenal satu sama lain, malamnya dipilih siapa yang jadi Ketua Kelas dari Batch 6.

Hari kedua kumpul, kami sudah dapat materi sebelum melanjutkan perjalanan ke tempat kedua. Nah setelah materi pertama ini serunya bener-bener dimulai. Di sini, fisik kamu bakal diuji juga ketahanannya. Longmarch bersama, yaa lumayanlah kalau buat yang jarang olahraga. Jadi, ada baiknya juga kamu latihan fisik sebelum berangkat ikut COP School.

Selama kegiatan di lokasi kedua tidur di tenda, kita bakal dapat banyak banget materi, nggak cuma tentang konservasi dan satwa liar, tapi juga jurnalistik dan bahkan bagaimana jadi investigator kasus perdagangan satwa liar! Keren kaaan! Selain itu, materi yang paling aku suka adalah tentang animal welfare. Karena di sini kamu bakal ditantang untuk bikin design kandang dan enrichment untuk satwa yang ada di kandang rehabilitasi maupun di kebun binatang. Dalam satu hari, ada sekitar 3 sampai 4 materi diselingi istirahat dan berbagai games yang seru semua. Games yang paling seru menurutku, saat kita diajak keluar pendopo buat melakukan pengamatan, ada binatang apa aaja di sekitar kita. Ini gak asal lho, karena panitia udah menyiapkan boneka berbagai binatang yang disembunyikan di sekitar jalur yang ditentukan. Di sini mata kita dituntut buat jeli sama keadaan sekitar. Dan nanti bakal di cek, apakah hewan yang kamu tulis itu bener atau bukan bagian dari binatang yang udah disembunyiin dan ditentuin sama panitia kegiatan.

Selain itu, kamu juga dituntut untuk bisa kerjasama sama kelompok kamu. Kalian bakal bagi tugas setiap harinya. Siapa yang ambil bahan masakan, yang masak, yang cuci piring, cuci alat masak, dan lain-lain, karena kita bakal masak sendiri buat sarapan dan makan malam.

Selama COP School, aku dapat banyak banget pengalaman berharga yang aku yakin berguna banget buat diriku ke depannya. Juga buat kamu yang memang ingin banget punya peran dalam membantu kelangsungan satwa liar di negara kita, kamu mungkin harus coba ikut kegiatan yang satu ini. Teamwork kamu teruji, public speaking-mu terlatih, dan kamu dapat banyak materi mengenai satwa liar, jadi ke depannya saat kamu terjun ke dunia konservasi, kamu nggak asal ikut-ikutan orang lain karena kamu punya dasar yang kamu dapat selama COP School.

Gimana, seru banget kan? Tahun ini aku berharap aku punya waktu untuk jadi pendamping kelompok selama kegiatan berlangsung. Kalau kamu bener-bener tertarik, saranku kamu harus sesegera mungkin daftar karena kalau ketinggalan ya sudah, kamu harus tunggu tahun depan lagi.
Jadi sampai ketemu ya di COP School Batch 7 nanti! See you soon! (Shaniya_Orangufriends)

Page 1 of 512345