WHEN ORANGUTAN STOP BY SMPLB PURBA SUTA

Friday, August 10, 2018 was the day that i have been waiting for since a week ago. Yeah.. today was the day I’d do the school visit to SMPLB Purba Suta Purbalingga. With the help of my schoolmate (Dena and Aziz), the explanation about orangutan and its habitat to 28 students of 7th – 9th grade and 7 accompanying teachers made this school visit different from the others. They were very passionate and proactive.

Not even one hour passed, we closed the meeting by coloring orangutan. That rich colors will never be forgotten because I had the opportunity to teach one of special schools with special needs students. I was beyond happy when they paid attention to us and listened to us. I was confused at first how to communicate with them. There’s one quotes from Helen Keller that represented my feeling when doing this activity, “Alone we do so little, but together we can do so much.”.

Orangufriends or supporter group of COP that consist of COP School alumnus  annually celebrated International Orangutan Day on August 19 with various kind of activities and giving education to schools and communities is one of them. One orangufriends invites friends and relatives and then spread out to one school or community to another. And the chain keeps coming on. (SAR)

SAAT ORANGUTAN MAMPIR DI SMPLB PURBA SUTA
Jumat, 10 Agustus 2018 adalah hari yang saya tunggu sedari satu minggu yang lalu. Ya… hari itu adalah hari dimana saya akan melakukan kegiatan school visit di SMPLB Purba Suta Purbalingga. Dengan bantuan teman sekolah saya (Dena dan Aziz), penjelasan tentang orangutan dan habitatnya pada 28 siswa kelas VII-IX serta 7 orang guru pendamping menjadikan school visit kali ini berbeda dengan yang lainnya. Mereka begitu bersemangat dan sangat aktif.

Tak terasa satu jam pun berlalu, menutup perjumpaan dengan mewarnai orangutan. Kaya warna yang tidak akan pernah saya lupakan karena berkesempatan mengajar di salah satu sekolah luar biasa dengan para siswa berkebutuhan khusus. Bahagia sekali saat mereka memperhatikan kita dan mendengarkan kita. Sempat bingung apakah bisa berkomunikasi dengan mereka. Ada satu quotes dari Helen Keller yang dapat mewakili perasaan saya ketika berkegiatan kali ini, “Alone we do so little, but together we can do so much.”

Orangufriends atau kelompok pendukung COP yang juga terdiri dari alumni COP School memperingati Hari Orangutan Sedunia yang jatuh pada tanggal 19 Agustus setiap tahunnya dengan berbagai cara dan kesempatan, salah satunya edukasi ke sekolah maupun komunitas-komunitas. Satu orangufriends, mengajak teman dan saudara lalu menyebarkannya dari satu sekolah maupun komunitas. Terus berantai dan berlanjut. (Yuanita_COPSchool8).

THE GATE NAMED WAS COP SCHOOL

Choosing to end up not half-way, involving themselves in the wildlife conservation world, especially orangutans is not just happen. A long search that eventually brought me to COP School and became part of it in 2017. This also led me to be a volunteer at COP Borneo orangutan rehabilitation center in September-October 2017.

If I could tell, it all started from my unconverted encounter with Jorge Quinoa, a Spanish tourist on the way back to accompany Japanese researchers on Disaster Risk Reduction in Mentawai. The conversation in the fast ship from Mentawai to Padang is our exchange story. Jorge expressed deep concern for the existence of orangutans who are on the verge of extinction let alone the condition of forest areas in Indonesia. Jorge rate, the awareness of the Indonesian people to care for the preservation of forests and protected animals is very low. With his narcissism, Jorge tells how high the discipline of his country in using wood.

Not because of the admiration that Jorge threw me into the wildlife conservation world. But his caring attitude that he showed to the orangutan which is a native Indonesian animal that tickled me. Since then, I started to know the orangutans.

This search brought me to an orangutan conservation education program called COP School organized by Center for Orangutan Protection. It’s not easy to get a COP School student. I have to compete with other prospective students from all over Indonesia. A series of selection of approximately 3 months, and I follow with passion. My determination is only one, pass the selection and go to Yogyakarta!

Although the selection task is only in the form of writing, but the writings are a reflection of a series of observations, field visits and observations that must be passed by potential participants. A total of 9 articles on education, campaign, law, animal trade are examples that must be accomplished with a certain time. It’s a very energy-draining and emotionally draining stage. And I follow it with passion! Selection stage is already so exciting, how will it be? Of course it will be more exciting and challenging.

Then you have COP School Batch 8 list? Are you sure you do not join this year 2018? email copschool@orangutan.id (LSX)

GERBANG ITU BERNAMA COP SCHOOL BATCH 7
Memilih untuk akhirnya tidak setengah-setengah, melibatkan diri di dunia konservasi satwa liar khususnya orangutan bukan terjadi begitu saja. Sebuah pencarian panjang yang akhirnya mempertemukan aku dengan COP School dan menjadi bagiannya di tahun 2017. Ini pula yang membawaku menjadi relawan di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo pada September-Oktober 2017 lalu.

Kalau aku boleh berkisah, semua bermula dari pertemuan tak sengajaku dengan Jorge Quinoa, seorang turis Spanyol dalam perjalanan pulang mendampingi peneliti Jepang tentang Pengurangan Risiko bencana di Mentawai. Perbincangan di gladak kapal cepat dari Mentawai ke Padang inilah kami bertukar cerita. Jorge mengungkapkan rasa prihatin yang mendalam terhadap keberadaan orangutan yang berada di ambang kepunahan apalagi kondisi kawasan hutan di Indonesia. Jorge menilai, kesadaran orang Indonesia untuk peduli kelestarian hutan dan satwa dilindungi sangat rendah. Dengan narsisnya, Jorge bercerita bagaimana tingginya kedisiplinan masyarakat di negaranya dalam menggunakan kayu.

Bukan karena kekaguman yang dilontarkan Jorge yang membuatku mantap menekuni dunia konservasi satwa liar. Tapi sikap pedulinya yang dia tunjukkan pada orangutan yang merupakan satwa asli Indonesia lah yang menggelitikku. Sejak itu, aku mulai kepo pada orangutan.

Pencarian ini mempertemukan aku dengan program pendidikan konservasi orangutan bernama COP School yang diselenggarakan Centre for Orangutan Protection. Tak mudah untuk bisa lolos menjadi siswa COP School. Aku harus bersaing dengan calon-calon siswa lainnya dari seluruh Indonesia. Serangkaian seleksi lebih kurang 3 bulan, aku ikuti dengan penuh semangat. Tekadku hanya satu, lulus seleksi dan berangkat ke Yogyakarta!

Meski tugas seleksinya hanya berupa tulisan, tapi tulisan-tulisan itu merupakan refleksi dari serangkaian observasi, kunjungan lapangan dan pengamatan yang wajib dilalui calon peserta. Sebanyak 9 tulisan tentang edukasi, kampanye, hukum, perdagangan satwa adalah contoh yang harus dilesaikan dengan waktu tertentu. Sungguh tahapan seleksi yang sangat menguras energi dan emosi. Dan aku mengikutinya dengan semangat! Tahapan seleksinya saja sudah demikian seru, bagaimana nanti? Tentu akan lebih seru dan menantang.

Lalu kamu sudah daftar COP School Batch 8? Yakin kamu ngak ikut tahun 2018 ini? email copschool@orangutan.id (Novi_Orangufriends)

KITA DI COP SCHOOL BATCH 7

Awalnya kita tak saling kenal. Tahapan seleksi yang membuat kita jadi mulai mengenal satu sama lain. Walaupun sebagian dari kita selalu berkomunikasi di dunia maya… namun saat berkumpul di Yogyakarta tetap saja terasa asing. Latar belakang, suku, agama, pendidikan, jenis kelamin bahkan usia kita tak ada yang sama. Semua perbedaan itu justri melebur menjadi satu keluarga besar dan semakin besar.

Seolah tak ingin sekalipun melewatkan setiap kegiatan menjadi siswa COP School Batch 7 yang ‘bersejarah’ itu, maka tiap detik kebersamaan dan kebahagiaan kita jalani saat di Camp APE Warrior selalu diabadikan dengan ber ‘selfie’ ria, istilah zaman NOW nya. Meski tiap hari kita dicekoki dengan materi-materi seputar dunia konservasi yang bikin ekspresi kita dalam hitungan detik bisa berubah-ubah. Dari awalnya pengen nangis, tiba-tiba berubah jadi bengong, tak lama setelah itu berubah menjadi terpana. Kadang muncul juga ekspresi bengis bercampur kebencian. Pokoknya campur aduklah, seperti es tebak yang ketika sedang “Long March” paling kita idam-idamkan kehadirannya. Atau seperti ketoprak, yang suka hadir berseliweran di khayalan kita bila malam makin larut dan perut lapar, tapi kita masih saja bandel ngerumpi di camp tetangga. Kita sungguh menikmati itu semua dan sungguh bahagia!

Pada akhirnya, kita memang kembali ke ruitnitas masing-masing setelah 1 minggu bersama. Meski awalnya sulit untuk mengendalikan kerinduan yang tentu saja menguap paska kebersamaan itu. Tugas usai COP School di Yogya dilanjutkan dengan berkarya sesuai kemampuan masing-masing. Dan kesempatan untuk saling bertemu kembali di Jambore Orangufriends sekaligus wisuda bagi siswa COP School. Semangat COP pun kembali bersama Orangufriends. (Novi_Orangufriends)

KEKEJAMAN DI BALIK KOPI LUWAK MU

Pagi ini, orangufriends Malang berkumpul bersama. Mereka adalah informan terbaik yang dimiliki Centre for Orangutan Protection. Mereka paham betul, satwa yang dilindungi tak seharusnya dimiliki seseorang. Selain itu… mereka tidak akan tahan dengan kekejaman yang terjadi pada satwa. Mereka belajar di COP School.

Lintas angkatan, lintas gender hanya untuk satwa liar. Itulah mereka, orangufriends Malang. Kelompok pendukung Centre for Orangutan Protection ini adalah semangat muda COP. Seperti Rama yang berasal dari COP School Batch 7, Grace dari COP School Batch 6 dan Nathanya dari COP School 5 saling bekerja sama menghimpun informasi kepemilikan ilegal dari satwa yang bernama Binturung (Arctictis binturong) di sebuah co-working space coffee Gartenhaus, Malang. Hasilnya, tiga individu Binturung disita oleh KSDAE Malang dan Gakkum KLHK Jawa Timur.

“Binturung ini juga menghasilkan kopi luwak. Bahkan kemampuan binturung memilih biji kopi yang akan dimakannya jauh lebih baik dibandingkan musang luwak katanya yang memelihara Binturung tersebut.”, ujar orangufriends Malang. “Dan di balik kenikmatan kopi luwak ini, ada satwa liar yang harus bekerja keras. Bahkan satwa liar yang dilindungi undang-undang seperti Binturong ini pun harus terpenjara di dalam kandang, untuk menghasilkan kopi luwak.”, kata Rifqi, alumni COP School Batch 5.

Binturung semakin mengkawatirkan keberadaannya di alam karena keserakahan manusia. Tidak hanya karena habitatnya yang semakin rusak, namun keinginan manusia untuk menikmati kopi luwak tanpa mengindahkan caranya.

COP SCHOOL ALUMNI NETWORKS

Centre for Orangutan Protection atau COP sering sekali disangka sebagai organisasi yang berasal dari luar negeri. Dalam bahasa Indoensianya Pusat Perlindungan Orangutan, namun karena alasan pengucapan yang agak aneh saat disinkat maka, versi bahasa Inggris lah yang digunakan. COP adalah organisasi satu-satunya yang didirikan oleh putra putri Indonesia.

Hardi Baktiantoro, salah satu pendiri COP sering mendapatkan pertanyaan, Siapa di belakang COP?, Jendral siapa?, mantan menteri atau pejabat siapa?”.

COP itu organiasinya rakyat biasa. Sebagian besar anak-anak muda yang peduli. Bukan orang-orang tua bangkotan oportunis, yang mana mereka jadi pembina organisasi konservasi sekaligus komisaris di perusahaan perusak hutan, yang penting dibayar atau dikasih bagian saham dari perusahaan tersebut.

Dan mungkin, COP adalah satu-satunya organisasi yang memiliki cetak biru yang jelas untuk melatih para aktivis muda dan melakukan regenerasi. Setidaknya sudah 7 tahun terakhir ini menyelenggarakan COP School tanpa jeda. Hasilnya bisa ditebak.

Para pendiri COP pasti tumbuh semakin tua dan lalu mati. Tetapi COP secara organisasi akan tetap muda dan menguatkan Indonesia. Jika kamu mau bergabung, mesti ikut COP School Batch 8. Masa pendaftaran tinggal 15 hari lagi. Email kami di copschool@orangutan.id

JOGJA, CINTA DAN ORANGUTAN

Kalian tahu arti kata ‘calling’? Iya sih, panggilan, tapi bukan itu maksudnya. Kalau panggilan doang, missed call jadinya ‘panggilan rindu’ dong… Hehehehe.

Salah satu definisi dari kata Calling /ˈkôliNG/ menurut Oxford Dictionaries adalah :a strong urge toward a particular way of life or career; a vocation. Intinya, sebuah dorongan atau cara hidup tertentu. Atau bagaimanapun caramu menerjemahkannya.

Kemudian suatu hari Jogja memanggilku, dan aku menjawabnya. COP School nama panggilannya. Adalah cinta yang ditawarkannya. Dan orangutan jadi alasannya. Lantas aku jawab panggilan itu, kini Jogja bukan hanya jadi kota kelahiran lahiriyahku, kini Jogja jadi kota kelahiran batinku. Mungkin kamu gak akan baca ini kalau gak mencaritahu tentang COP School, dan mungkin kamu gak akan cari tahu kalau kamu ga terpanggil. Ini Indonesia lho yang memanggil! Karena orangutannya, satwa liarnya, sedang sekarat, terancam, terkekang dan tersingkirkan. Akibat ulah anak anaknya yang tidak tahu diuntung. Aku sih yakin kamu bukan orang seperti itu. Sekarang pertanyaannya, ini panggilan mau kamu jawab, atau akan dibiarkan lalu jadi “panggilan rindu” dari ibu pertiwi?

Ikut COP School dan menjadi bagian darinya, well it’s quite an adventure. Aku tidak bisa menjanjikanmu bahwa ini akan menjadi seperti petualangan mencari horcrux, atau menyelamatkan Misty Mountain, atau seperti membuat pertunjukan yang megah. Tapi Harry Potter, Bilbo Baggins, PT Barnum atau siapapun yang bertualang sehebat itu, berawal dari menjawab sebuah panggilan. Seberapa besar ketegangan petualangan ini dilihat dari bagaimana caramu melihatnya, dari seberapa dalam kamu ingin terlibat.

Dan terlepas dari petualangannya, yang bisa kujanjikan adalah selalu ada cinta di COP School. Dan kamu akan merasakannya. COP School is a place where you can came in a stranger, and came home a brother/sister. (Kemal_copschool7)

BERTEMU ORANG ‘GILA’ DI COP SCHOOL

Jika ada yang bertanya kegiatan ‘gila’ yang pernah saya ikuti, maka salah satu jawabannya adalah COP School!!! Hey, kenalkan, nama saya Desti Ariani asal Aceh. Saya adalah salah satu yang beruntung karena berhasil menjadi siswa COP School Batch 7 di tahun lalu yang diselenggarakan di camp APE Warrior Yogyakarta. Bukan hanya itu, mendapatkan saudara dan keluarga baru dari berbagai suku, latar belakang dari hampir seluruh daerah di Indonesia adalah bagian dari keberuntungan saya mendaftar COP School.

10-16 Mei 2017, hampir setahun kegiatan COP School Batch 7 berlalu. Artinya hampir setahun juga saya menjadi alumni COP School. Masih teringat jelas pengalaman dan keseruan yang luar biasa saya dapatkan mulai dari tahap seleksi untuk menjadi siswa, perjuangan untuk bisa berangkat ke Yogya, kegiatan selama masa COP School berlangsung bahkan sampai sekarang setelah menjadi alumni masih banyak hal seru lainnya yang saya dapatkan dalam melaksanakan tugas mandiri.

Semua di atas ekspektasi saya, mata dan pikiran saya terbuka lebar setelah mendapat pengetahuan tentang kondisi dan permasalahan satwa liar di Indonesia. Mengetahui dunia konservasi lewat materi yang disampaikan orang-orang ‘gila’ yang jadi idola. Berbagai pengalaman, diskusi, presentasi hingga praktek langsung ke lapangan menjadi rutinitas kami para siswa. Bosan? Tentu saja tidak. Karena kami belajar bukan dengan cara konvensional seperti di kampus pada umumnya. Permainan seru yang membuat kami semakin dekat, cemilan dan minuman anti ngantuk selalu ’nyempil’ disela kegiatan kami.

Sudah menjadi ritual bagi siswa COP School, berlomba-lomba bangun lebih pagi, mengambil bahan makanan untuk dimasak dan dimakan bersama. Saling pinjam peralatan masak, menyicip masakan dari kelompok lain dengan segala keriuhannya menjadi salah satu hal yang sangat dirindukan. Hal lain yang terbaik menurut saya, tidak ada perbedaan gender di sini, semua kegiatan bisa dikerjakan oleh siapapun dengan porsi yang sama, setara.

Tujuh hari berlalu, ditandakan dengan maraknya api unggun, memberikan cahaya ke wajah-wajah siswa COP School yang mulai sendu. Samar-samar suara gitar yang dimainkan oleh Faruq (siswa COP School Batch 7 lainnya) mengantarkan kami pada salam perpisahan serta ucapan rasa syukur dan terimakasih atas semua yang telah kami lewati bersama. COP School Batch 7 telah berakhir. Tapi itu adalah awal bagi kami untuk menjadi anak muda yang peduli dan mau berbuat untuk menjaga dan melindungi satwa dan menyebarkan nilai konservasi seluas-luasnya.

Sampai jumpa di COP School Batch 8, kalian wajib daftar!!! (Desti, copschool7)

COP SCHOOL TAHUN DEPAN? NYESAL!

Namaku Hedi Dwilaily, asal dari Jakarta. Aku ikutan COP School Batch 7 tahun lalu. Sudah lama sebenernya pengen ikutan COP School dari tahun-tahun sebelumnya tapi cuman minta formulir trus gak jadi daftar. Tapi pas pembukaan COP School tahun lalu, gak mikir panjang lagi trus daftar deh. Kesempatan itu tidak datang berulang-ulang.

Aku dulu mikirnya ini kegiatan buat anak-anak muda di Yogyakarta aja, ternyata pesertanya dari mana aja, bahkan dari Sumatera dan Kalimantan. Dan sejak ikutan COP School aku jadi lebih banyak punya peluang buat bantu satwa. Terakhir aku membantu tim COP di penanganan bencana erupsi Gunung Agung di Bali. Peluang ikut dalam kegiatan-kegiatan COP lebih banyak karena setahuku diprioritaskan adalah siswa-siswa COP School.

Yang paling berkesan buat aku itu ditahun 2017 kemarin, selain bisa ikutan COP School Batch 7 adalah aku bisa menjadi relawan di Pusat Rehabilitasi Orangutan COP Borneo di Berau, Kaltim. Aku mendaftar untuk 30 hari saja awalnya, namun suasana “juara” didalam hutan dan kekeluargaan disana membuat aku menambah hari hingga hampir dua bulan disana. Memutuskan untuk balik ke Jakarta sangat susah saat itu.

Setelah ikutan COP School kegiatan aku lebih dinamis, tepatnya sih lebih random. Ketemu teman-teman baru yang sama-sama menyukai satwa liar, ke Kalimantan merasakan bagaimana sebuah rehabilitasi orangutan, setiap pagi dan sore membuatkan susu untuk bayi-bayi orangutan. Dan tidak melulu tentang satwa liar loh. Di Bali kami memberi makan kucing dan anjing yang ditinggal menggungsi karena letusan Gunung Agung.

Buat kalian yang sudah punya niat, segera saja mendaftar di COP School Batch 8 ini. Cukup aku saja yang menyesal tidak mendaftar dari tahun-tahun sebelumnya.

JAMBORE ORANGUFRIENDS 2017 DI OMAH PARI

Ini adalah sebuah tradisi. Para relawan COP yang tergabung dalam Orangufriends akan bertemu, berkumpul, berdiskusi di Jambore Orangufriends. Sebuah reuni para relawan yang pernah saling mengenal bahkan berkenalan dengan relawan yang baru kenal. Pertemuan ini juga mengumpulkan kembali lintas angkatan COP School. Untuk COP School angkatan terakhir seperti COP School Batch 7, pada saat Jambore akan dilakukan wisuda ala COP.

Jambore Orangufriends 2017 akan diisi para orangufriends yang berkegiatan di daerahnya masing-masing. Kegiatan kolektif dengan orangufriends lainnya atau kegiatan individu seperti bergabung menjadi relawan di COP Borneo maupun disaster relief gunung Agung. Bercerita… berbagi… dan merencanakan kembali.

Ini adalah acara untuk saling menguatkan sebagai agen perubahan satwa liar Indonesia yang masih sangat langka. Sabtu, 9 Desember 2017, pukul 10.00 WIB bertempat di Omah Pari, Jl. Gito-Gati, Sleman, Yogyakarta atau berjarak sekitar 300 meter di utara camp APE Warrior Yogyakarta. Acara akan berakhir keesokan harinya pada hari Minggu, 10 Desember 2017 pukul 15.00 WIB.

Cukup dengan kontribusi Rp 100.000,00 dengan fasilitas menginap, makan, camilan, permainan dan tanda kelulusan khusus siswa COP School Batch 7, akan membuat energi mu kembali penuh. Suasana santai di lingkungan persawahan Omah Pari yang dikelola alumni COP School tentu akan sangat berbeda dengan Jambore sebelumnya. Jadi kalau kamu mau ikut lagi, silahkan! Mari berbagi tawa, senang dan haru di Jambore Orangufriends 2017. Daftar ke Ramadhani dengan mengirim sms/wa 081349271904 dengan cara ketik JO17_Nama lengkap_Nama kota sebelum tanggal 5 Desember 2017. Sampai ketemu di Yogyakarta… (DAN)

SCHOOL VISIT D’ROYAL MOROCCO

Tuesday, July 18th 2017, Orangufriends Jabodetabek team got a chance to fill one of the activities of orientation and student introduction at the school of D’Royal Morocco Integrative Islamic School. This event is planned by Wanda, a member of Orangufriends who is also a teacher at school with full address at Jalan Haji Salim III No.7, North Gandaria, Kebayoran Baru, South Jakarta.

The event which started at 11.00 WIB is attended by about 30 student from grade 7 through 12. This is COP first visit, so we begins with an introduction to the COP vision and mission, activities and programs.

After a few minutes of introduction, three other Orangufriends ; Dhea, Lia, and Kemal continued with the explanation about animal welfare and orangutan conservation in Indonesia. Although some students have kept pets, animal welfare is also a new thing for them. Especially about orangutan conservation. Here Orangufriends team also explained about the condition and role of orangutans in nature, also what the student can do to support orangutan conservation and other endangered wildlife in Indonesia.

When material with pictures and videos about the condition of orangutans was given, some students looked surprised. Those who usually only see wildlife in zoos do not know that there are many problems suffered by wild animals, especially orangutans in nature.

Students’ curiosity was also seen when they asked during material presentation and question and answer session. The students seemed enthusiastic to ask questions to get to know and know more about the existing problems related to the welfare of animals and orangutans. This also makes the obstacle of electricity blackout for a few minutes is not a problem because the students still want to listen to the explanation calmly. Likewise, when the quiz was given by Orangufriends’s , the students looked eager and could give the right answer.

The Orangufriends team visit was fortunate enough that the students had previously been given the assignment by their homeroom teachers to conduct follow-up activities from the material they had received. After this some students have plans to conduct some independent activities in schools with themes related to the welfare of wildlife and the surrounding natural environment.We hope that this activities are working until there is a lot of student could understand and realized how important to kept the wildlife and the environment. Start from small activities near them.

Hopefully this activity plan can really run so that more and more students who understand and realize the importance of preserving nature and all its contents. Starting from simple activities in their surroundings.

Thank you friends of junior high school and senior high school D’Royal Moroco Integrative Islamic School. Congratulations continue the struggle to defend the future of the Indonesian Nature & Wildlife. See you again later. (Dhea_Orangufriends)

Selasa, 18 Juli 2017, tim Orangufriends Jabodetabek mendapat kesempatan untuk mengisi salah satu kegiatan masa orientasi dan pengenalan siswa di sekolah D’Royal Morocco Integrative Islamic School. Kegiatan ini direncanakan oleh Wanda, salah satu anggota Orangufriends yang juga merupakan guru di sekolah yang berada di Jalan Haji Salim III No.7, Gandaria Utara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan tersebut.

Kegiatan yang dimulai pukul 11.00 WIB ini diikuti oleh sekitar 30 siswa yang terdiri dari siswa kelas 7 atau 1 SMP hingga kelas 12 atau 3 SMA. Kunjungan dari tim COP merupakan yang pertama kalinya di sekolah ini, maka kegiatan pun diawali dengan perkenalan mengenai visi misi serta kegiatan dan program-program COP.

Setelah perkenalan selama beberapa menit, 3 orang tim Orangufriends yang terdiri dari Amadhea, Lia dan Kemal melanjutkan dengan materi utama yaitu penjelasan mengenai kesejahteraan satwa dan konservasi orangutan di Indonesia. Meski sebagian siswa pernah memelihara binatang peliharaan namun hal mengenai kesejahteraan satwa juga merupakan hal yang baru bagi mereka. Terlebih mengenai konservasi orangutan. Di sini tim Orangufriends juga menjelaskan mengenai kondisi dan peranan orangutan di alam, juga tak lupa hal-hal yang bisa dilakukan siswa untuk mendukung konservasi orangutan dan satwa liar lainnya yang terancam punah di Indonesia.

Ketika materi yang dilengkapi dengan gambar-gambar dan video mengenai kondisi orangutan diberikan, sebagian siswa terlihat terkejut. Mereka yang biasanya hanya melihat satwa liar di kebun binatang pun tidak mengetahui bahwa ternyata terdapat banyak permasalahan yang diderita oleh satwa-satwa liar khususnya orangutan di alam.

Rasa penasaran para siswa juga terlihat ketika mereka bertanya selama pemaparan materi dan sesi tanya jawab. Para siswa terlihat antusias mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk mengenal dan mengetahui lebih lanjut mengenai permasalahan yang ada terkait kesejahteraan satwa dan orangutan. Hal ini pun membuat kendala mati lampu selama beberapa menit tidak menjadi masalah karena para siswa tetap mau mendengarkan penjelasan dengan tenang. Begitu juga saat kuis diberikan oleh kakak-kakak Orangufriends, para siswa terlihat bersemangat dan bisa memberikan jawaban yang tepat.

Kunjungan tim Orangufriends kali ini cukup beruntung karena ternyata para siswa sebelumnya telah diberikan tugas oleh para wali kelas mereka untuk mengadakan kegiatan lanjutan dari materi yang sudah mereka terima. Setelah ini beberapa siswa memiliki rencana untuk mengadakan beberapa kegiatan mandiri di sekolah dengan membawa tema terkait dengan kesejahteraan satwa dan lingkungan alam sekitar.

Semoga rencana kegiatan ini benar-benar bisa berjalan sehingga semakin banyak siswa yang paham dan sadar pentingnya menjaga kelestarian alam beserta segala isinya. Dimulai dari kegiatan-kegiatan sederhana di lingkungan sekitar mereka.

Terima kasih teman-teman siswa SMP dan SMA D’Royal Moroco Integrative Islamic School. Selamat melanjutkan perjuangan membela masa depan alam raya Indonesia. Sampai jumpa lagi di lain waktu.(LIA_Orangufriends)

Page 1 of 712345...Last »