COP School

BERANI DAN BANGGA BERSAMA COP SCHOOL

Nama saya Kharina Waty, Alumni COP School Batch 6. Di tahun 2015 saat membuka Facebook, muncul poster tentang COP School Batch 5. Ya… Saat itu, saya tertarik ikut COP School, tetapi baru ikut di COP School Batch 6 tahun lalu. Waktu itu yang terlintas dibenak saya adalah orangutan terancam punah dengan habitat yang benar-benar akan hilang. Seharusnyalah saya berada di depan untuk melawan kekejaman dan kejahatan satwa liar terutama orangutan, karena saya lahir dibesarkan di Pulau Kalimantan dan sekarang sedang kuliah di Yogyakarta.

Saya terbiasa memiliki satu kenalan saat ikut suatu acara, tetapi di COP School tahun lalu saya bertemu banyak teman baru. Menjadi siswa COP School adalah keberanian dan kebanggan tersendiri buat saya. Bagaimana tidak? Mayoritas siswa-siswi berasal dari luar Yogyakarta yang tak satu orang pun saya kenal. Memulai pertemanan dengan orang-orang baru, beradu argumen dan saling dukung yang bahkan watak aslinya masih kasat mata. Dalam waktu lima hari kami semua tersadar akan pentingnya menjaga satwa liar dan habitatnya dengan segala fakta dan data yang sudah kami ketahui.

COP School selesai dan masing-masing kota membawa rencana program kerja yang akan dilaksanakan 6 bulan ke depan. Rapat koordinasi teman-teman di Yogyakarta diselenggarakan beberapa hari kemudian untuk mematangkan rencana 6 bulan ke depan bersama Orangufriends Yogyakarta lainnya. Banyak kegiatan terlaksana seperti school visit, campus visit, fundraising, pameran Art for Orangutan, wildtrip, pameran Batik for Orangutan bahkan hal-hal di luar itu ikut kami laksanakan bersama Orangufriends lainnya.

Bagi yang beruntung punya banyak waktu akan ikut dalam Penugasan Mandiri bersama Orangufriends lain. Seperti yang pernah saya lakukan yaitu berkampanye tentang Justice Animal di Pengadilan Negeri Bantul, kampanye gabungan Senapan Angin dan penangkapan pedagang satwa di Lamongan. Tentu saja saat belajar di COP School saya sudah mendapatkan materi berkampanye yang baik dan melakukan penangkapan bersama dengan aman.

Saya tidak akan pernah lupa operasi penangkapan pedagang satwa di Lamongan. Puji syukur, dalam tiga hari banyak hal saya pelajari termasuk kesabaran, rasa lelah, dan kebanggaan. Benar ada yang berkata, “Suatu hal yang dilakukan dengan perjuangan dan keikhlasan akan berbuah manis.”. Satu bayi lutung dan dua kukang berhasil diselamatkan dari perdagangan ilegal. Lutung dan kukang dibersihkan dan diberi buah-buahan, lalu diamankan di Polsek Lamongan.

Perjalanan masih menunggu untuk dua jenis satwa liar tersebut dimana akan diserahkan ke pusat rehabilitasi di Malang. Teman siswa COP School Batch 6 di kota lain berkegiatan dengan caranya masing-masing dan terus terhubung. Saya disini masih berproses bersama Orangufriends. Saya masih belajar dan mencari pengalaman, memantapkan hati menjadi seorang yang peduli akan satwa liar dan habitatnya.

Pelajaran ini tidak akan didapat jika usaha untuk belajar pun nol. Mencari dan berani terjun bersama aktivis lain menjadi keharusan, karena saat itulah kamu akan menemukan pembenaran atas apa yang kamu bela. Memulainya dari “pintu” COP School adalah jalan masuk terbaik. (Kharin_Orangufriends)

COP SCHOOL BATCH 7

“Indonesia memanggil anda untuk terlibat langsung dalam perlindungan satwa liar dan habitatnya. Di COP School kita akan belajar pengetahuan dan keterampilan dasar konservasi alam bersama para pakar dan praktisinya. Beasiswa tersedia bagi peserta yang lulus seleksi.”
10 – 16 Mei 2017, YOGYAKARTA, INDONESIA.
SIAPA SAJA YANG BOLEH IKUT ?
– Usia minimal 18 tahun, siap mengikuti seluruh sesi pelatihan
– Menghargai kesetaraan gender dan multikultur
– Bukan eksploitator satwa (pemburu, pedagang, dan hobi memelihara satwa liar).
– Membayar sebagian biaya pelatihan sebesar Rp 500.000,-. (makan, kaos, transportasi selama pelatihan). Tidak termasuk transportasi penjemputan.
BAGAIMANA CARA MENDAFTAR ?
– Formulir dan informasi di copschool@orangutan.id
– Pendaftaran 1 Februari s/d 10 Maret 2017.
– Pengumuman Calon Siswa yang diterima tanggal 11 Maret 2017.
– Calon Siswa yang tidak lolos seleksi, dana yang sudah ditransfer akan dikembalikan sebesar Rp 400.000,- dan terdaftar sebagai anggota Orangufriends dan mendapatkan kartu anggota dan newsletter.
#copschool7
SAVE THE ORANGUTAN FROM DELETE

BORNEO KU BERPIJAK

Perjalanan pertama ke pulau Kalimantan atau Borneo adalah sebuah pengalaman yang mungkin paling berkesan dari perjalanan-perjalanan berpetualang lainnya. Jumat 18 Juni 2016 saya berkesempatan tuk singgah di pulau nan kaya akan hasil hutannya yang sangat berlimpah, khususnya Kalimantan Timur. Tepatnya di Pusat Perlidungan Orangutan COP Borneo di KHDTK Labanan, Kabupaten Berau – Kalimantan Timur. Setelah kegiatan COP School di bulan Mei 2016 kemarin, selama lima hari di Yogyakarta yang menjadi daerah pusat COP School dan selebihnya selama satu bulan masih menetap di Jogja. Saya memang berniat untuk menjadi Volunteer dan berbekal materi yang diberikan sewaktu COP School mengenai konservasi Orangutan dan satwa liar serta konflik lapangan yang terjadi, pengalaman di sinilah yang menjadi pembelajaran sebenarnya, karena langsung bersentuhan dengan kegiatan yang hanya disampaikan pada saat COP School saja. Keberangkatan saya ditemani dengan seorang rekan bernama Vian asal Yogyakarta. Setiba di Berau, kami dijemput siswa COP School Batch #6 yang tingel di Berau. COP School menjadikan kami punya keluarga dimana-mana.

Minggu pagi 19 Juni 2016, pukul 05.30 WITA terdengar hembusan angin dan suara kicauan burung yang saling bersautan dengan berbagai suara-suara yang sangat indah serta matahari yang masih belum menampakkan sinarnya hanya bias cahaya yang terselip dari tingginya rerimbunan pohon yang di sekitaran camp.

Setelah kesibukan pagi membereskan camp sekitar 08.00 WITA kami sempatkan untuk berbincang sejenak untuk pembagian kinerja dalam aktivitas di COP Borneo. Saya mendapatkan tugas sebagai teknisi yang menjalankan pembuatan enrichment, kebersihan kandang 1 dan 2, jadwal disinfestasi kandang, kebersihan klinik dan gudang pakan, serta beberapa kinerja lainnya di area COP Borneo. Vian mendapatkan pembagian kinerja sebagai keeper yang bertugas untuk membawa Orangutan ke Sekolah Hutan dan menyiapkan susu serta pakan Orangutan.

Seperti kata keeper Jeuri dan Rosel, orangutan Michelle dan Pingpong lebih agresif bila ada orang baru yang datang, lain halnya dengan orangutan Uci. Beda lagi dengan Owi, bayi yang masih berumur sekitar satu tahunan, ingin selalu dipeluk. Aku menjadi ibu untuknya. (PETz)

COP SCHOOL BATCH #6 ARRIVED

Selamat datang para siswa COP School Batch #6 di Camp APE Warrior. Camp para pejuang Centre for Orangutan Protection.
18 Mei 2016, ini akan menjadi awal perjalanan, bersiap menemukan fakta di lapangan, menyelaraskan keinginan, pikiran, pengalaman dan kenyataan. Mari berbuat sesuatu dari yang kecil. Tetap semangat, menghadapi tantangan. Seribu satu jalan ke Roma… pastikan kita tidak berhenti saat menemukan halangan.
‪#‎COPSchool6‬ harapan itu masih ada.

JOIN COP SCHOOL BATCH #6

Suka nonton tayangan Animal Planet, Discovery Channel dan National Geographic? Meskipun ceritanya mengenai alam dan satwa liar Indonesia, tapi para pelakunya kebanyakan orang asing. Kemanakah anak – anak muda Indonesia? Apakah memang tidak peduli? Atau tidak tahu bagaimana caranya terlibat?
Indonesia memanggil anak-anak mudanya untuk aktif terlibat melindungi alam dan satwa liarnya. Ini tanah air kita, ini satwa liar kita. Centre for Orangutan Protection (COP) membuka kesempatan, saluran dan wahana belajar dan kemudian bekerja sebagai pegiat konservasi. Para alumni COP SCHOOL kini tersebar di berbagai program konservasi satwa liar.
Pelatihan akan terbagi dalam 2 (dua) sesi, yakni sesi kelas dan luar kelas pada tanggal 18-22 Mei 2016 di COP Camp Yogya. Para siswa akan belajar teori dasar konservasi alam dan satwa liar serta komunikasi praktis. Di sini para siswa akan dilatih oleh para praktisi konservasi dan komunikasi dari dalam dan luar negeri. Selanjutnya, para siswa akan mendapatkan penugasan mandiri dan kelompok selama 6 bulan (Juni – November 2016) dan diceburkan langsung ke program – program konservasi COP dan organisasi mitranya. COP School adalah lingkungan
pendidikan yang multikultur dan menghargai kesetaraan gender.
SIAPA SAYA YANG BOLEH IKUT?
– Usia minimal 18 tahun, sehat jiwa raga.
– Bukan exploitator satwa (pemburu,
pedagang dan hobi pelihara satwa liar).
– Membayar Rp 450.000, fasilitas yang
didapat yaitu makan,transport lokal saat
pelatihan berlangsung (Tidak termasuk
penjemputan kedatangan peserta).
– Bagi mahasiswa tersedia beasiswa
(kuota terbatas)
– Formulir dan info di hery@cop.or.id
atau di 081284834363
– Pendaftaran terakhir 12 April 2016
– Pengumuman calon siswa yang
diterima tanggal 30 April 2016
– Calon siswa yang tidak lolos seleksi,
dana yang sudah ditransfer akan
dikembalikan sebesar Rp.300.000,
dan terdaftar sebagai anggota
Orangufriends dan mendapatkan
kartu anggota, newsletter serta
fasilitas lainnya.

AT FIRST IT WAS JUST COP SCHOOL

Bandung, the metropolitan city in which I was born, is more familiar with fashion and cuisine than environmental issues. Until one day, a question suddenly appeared in my mind, “What have I given to nature?” A question that I myself could not answer.

In early 2015, I received information about COP School Batch #5 in Yogyakarta. Without a second thought, I took a shot at applying to be a COP School student for Batch #5. Luckily, I passed the administration phase and was able to proceed to undertaking the assignments given to me by COP. From there I began to learn little by little about the state of the forests and wildlife at the time. It was pretty sad, it seemed.

I passed the selection process and continued on in Yogyakarta. In early June 2015 for the first time I was able to meet face to face with others who had the same desire as I did, to help the lives of wild animals and their habitat. I even acquired new material on everything from orangutans and their enrichment, the rescue process, creating action with presenters that were not only Indonesian people who were experts in their field, but also people from Canada and the Philippines.

At the end of September, I was given the opportunity to become a COP volunteer. Banjarbaru, South Kalimantan, was my first stop. In Van der Pijl Park, I, along with the Banjarbaru orangufriends, Elin Evita and Indira, made renovations to the animal enclosures and fed the animals. I spent 30 hours alongside the APE CRUSADER team, who carried out the rescue of orangutans Septy and Njoto, and brought them to the COP Borneo Orangutan Rehabilitation Centre, East Kalimantan. Sadness blanketed my mind. My image of a Kalimantan filled with forests vanished. All there was was palm oil plantations, timber plantations, and mines. Even forest fires were considered normal. So this is the real condition of Kalimantan, the place they call the ‘lungs of the world’.

Two months of following the process of “forest school”, caring for sick orangutans, and releasing orangutans onto their own island made the 2015 year a truly meaningful one. Not only that, I even learnt to assimilate with the Dayak tribe that lives in Merasa village. What else are you waiting for! You, too, can be a part of helping to save the wildlife and their habitat by joining COP SCHOOL BATCH #6. You’re guaranteed to make new friends and incredible experiences that you will never forget. (Ikhwanussafa Sadidan, COP School Batch #5 Alumni)

AWALNYA HANYA COP SCHOOL
Bandung yang menjelma menjadi kota metropolitan dimana saya dilahirkan lebih mengenal fashion dan kuliner dibandingkan isu lingkungan. Hingga pada suatu hari, sebuah pertanyaan tiba-tiba hinggap dibenak saya, “Apa yang sudah saya berikan pada alam?” Pertanyaan yang saya sendiri tidak bisa menjawabnya.

Awal tahun 2015, saya mendapatkan informasi COP School Batch #5 di Yogyakarta. Tanpa berfikir panjang akhirnya saya mencoba untuk mendaftarkan diri menjadi siswa COP School Batch #5 ini. Beruntung saya lolos tahap seleksi administrasi dan bisa lanjut untuk menjalankan tugas-tugas yang diberikan oleh COP. Dari situ saya mulai mengetahui sedikit demi sedikit mengenai keadaan hutan dan satwa saat itu. Cukup miris rasanya.

Lolos seleksi dan melanjutkannya di Yogyakarta. Awal Juni 2015 untuk pertama kalinya saya bertemu langsung dengan teman-teman yang memiliki keinginan yang sama untuk membantu kehidupan satwa liar dan habitatnya. Materi baru pun saya peroleh mulai dari orangutan dan enrichmentnya, bagaimana rescue, membuat aksi dengan pemateri yang tidak hanya orang Indonesia yang ahli di bidangnya, tetapi ada yang dari Canada serta Filipina juga.

Akhir September 2015, saya mendapat kesempatan untuk menjadi relawan COP. Banjarbaru, Kalimantan Selatan adalah persinggahan saya yang pertama. Di Taman Van der Pijl saya bersama orangufriends Banjarbaru, Elin Evita dan Indira merenovasi kandang satwa dan memberi pakan satwanya.

Sepanjang 30 jam bersama tim APE CRUSADER yang melakukan rescue orangutan Septy dan Njoto dan membawanya ke Pusat Rehabilitasi Orangutan COP Borneo, Kalimantan Timur. Perasaan sedih menyelimuti pikiran saya. Bayangan tentang Kalimantan yang dipenuhi hutan sirna. Yang ada perkebunan sawit, kayu, dan pertambangan. Kebakaran hutan pun seperti hal yang sangat biasa. Ternyata seperti inilah kondisi nyata Kalimantan yang digadang-gadang sebagai paru-paru dunia itu.

Dua bulan mengikuti proses sekolah hutan, merawat orangutan yang sakit, hingga melepasliarkan orangutan ke pulau menjadikan tahun 2015 begitu bermakna. Tidak hanya itu, saya pun belajar berbaur dengan Suku Dayak yang tinggal di desa Merasa. Tunggu apalagi! Mari ikut membantu menyelamatkan satwa dan habitatnya dengan mengikuti COP SCHOOL BATCH #6
Dijamin kalian akan mendapatkan teman dan pengalaman yang hebat dan tak terlupakan.(Ikhwanussafa Sadidan, alumnus COP School Batch #5)

COP IS NINE YEARS OLD

For nine years Centre for Orangutan Protection has been existing as a non-governmental organizations which is focus on orangutans and their habitat. It started from a concern of three founders about the ongoing rescue of orangutan from land clearing for oil palm plantations. “This is
like mopping the floor which is wet because the tap is leaking. We must fix the faucet, “said Hardi Baktiantoro year 2007.

Focus on working on orangutans and their habitat is the key to the existence of the COP. With the support from Orangufriends, COP’s support group with no age and background limitary, which greatly assist the work of the COP. Their ideas are creative and incessantly make the event to raise moral as well as financial support. It becomes very unique, because everything is driven on their concern about the orangutan. “Who said that the Indonesian people do not care about orangutan? We care, but do not know what to do.”, Said Wahyuni in Sound For Orangutan, an annual charity music event organized by Orangufriends.

In the last five years, COP established a school for those who care about conservation and orangutans in particular. That is COP School. Students should pass the selection administration, and they will be given materials, assignments and discussions on line for a month. After passing the selection process, the students will learn about the main material in Yogya. Some of the speakers who have been involved were vet. Erni Suryanti,Nigel Hicks (OVAID), Jamartin Sihite (BOSF), Panut Hadisiswoyo (OIC), Ian Singleton (SOCP), Janifer G and May (IFAW), Suwarno (Animals
Indonesia), Rizki R (Mongabay),as well as the captain of APE Crusader, APE Defender, and APE Warrior. “Hopefully COP School can  the agents of change into the world for the environment. “, said Hery Susanto. Feel free to contact hery@cop.or.id to join COP School Batch #6 this year. (YUN)

COP BERUSIA SEMBILAN TAHUN
Sembilan tahun Centre for Orangutan Protection hadir sebagai lembaga swadaya masyarakat yang fokus pada orangutan dan habitatnya. Berawal dari keprihatinan tiga orang pendirinya, terhadap orangutan yang terus menerus diselamatkan dari pembukaan lahan perkebunan kelapa sawit. “Ini seperti mengepel lantai yang basah karena kerannya bocor. Kita harus memperbaiki keran itu.” ujar Hardi Baktiantoro ditahun 2007 (1 Maret).

Fokus bekerja pada orangutan dan habitatnya adalah kunci keberadaan COP. Dengan dukungan orangufriends yang merupakan kelompok pendukungnya yang tidak terbatas usia, latar belakang sangat membantu pekerjaan COP. Ide-ide orangufriends yang kreatif dan tak putus-putusnya membuat event untuk mengumpulkan dukungan moral maupun finansial. Ini menjadi sangat unik, karena semuanya digerakkan atas kepedulian mereka terhadap orangutan. “Siapa bilang orang Indonesia tidak peduli orangutan? Kita peduli, tapi tidak tahu bagaimana.”, jelas Wahyuni saat Sound For Orangutan merupakan acara musik amal tahunan yang dikoordinir orangufriends berlangsung.

Dalam lima tahun terakhir ini, COP menjalankan sekolahan untuk mereka yang peduli dunia konservasi khususnya orangutan. COP School namanya. Siswa melalui seleksi administrasi, lalu selama sebulan akan diberi materi, tugas dan diskusi secara online. Setelah lulus dari seleksi lanjutan itu, siswa kana mengikuti materi utama di Yogya. Beberapa pemateri yang selama ini terlibat adalah drh. Erni Suryanti, Nigel Hicks (OVAID), Jamartin Sihite (BOSF), Panut Hadisiswoyo (OIC), Ian Singleton (SOCP), Janifer G dan May (IFAW), Suwarno (Animals Indonesia), Rizki R (Mongabay), serta kapten tim APE Crusader, Defender, Warrior. “Harapan COP School dapat melahirkan agen-agen perubahan untuk lingkungan.”, tegas Hery Susanto. Segera kirim email ke hery@cop.or.id untuk mengikuti COP School Batch #6 tahun ini. (YUN)

SAAT GUNUNG BERAPI MEMANGGIL

YOGYAKARTA – Letusan gunung Merapi di akhir tahun 2010 merupakan awal saya mengenal dunia relawan. Saat itu LSM satwa tergabung menjadi sebuah tim Animal Rescue untuk menangani satwa-satwa yang ada di sekitar gunung Merapi khususnya di daerah Yogyakarta. Mereka adalah Animal Friends Jogja (AFJ), Jakarta Animal Aid Network (JAAN) dan Centre for Orangutan Protection (COP).

Tim Animal Rescue dibagi menjadi tim pakan satwa hingga tim kesehatan satwa. Saat itu saya bergabung dalam tim pakan satwa, dimana tugas kami adalah mencari rumput untuk hewan ternak dan memberikan pakan satwa domestik yang sudah ditinggalkan pemiliknya karena mengungsi ke beberapa posko bencana alam. Selain itu memberikan buah-buahan kepada monyet ekor panjang yang sering turun kepemukiman warga sekitar gunung Merapi. Hampir setengah bulan kami melakukan ini, hingga keadaan benar-benar membaik.

Usai erupsi gunung Merapi, saya menggabungkan diri lagi pada tim Animal Rescue dari Centre for Orangutan Protection dan Animals Indonesia di tahun 2014 dalam menangani bencana letusan gunung Kelud di daerah Jawa Timur. Kami mengerjakan hal yang hampir sama saat menangani satwa bencana gunung Merapi. Karena kandang satwa banyak yang rusak, kami membantu membuatkan kandang sementara dan memperbaiki atap kandang yang sudah ada agar satwa dapat berlindung dari hujan dan panas. Dua minggu bekerja sukarela di bencana erupsi gunung Kelud tidak akan pernah terlupakan. “Bertemu sahabat-sahabat baru yang peduli pada satwa bencana letusan gunung Kelud itu akan semakin membuat kita bersyukur, atas apa yang kita peroleh saat ini.”, kenang Inoy. (Inoy, Orangufriends Yogyakarta)

THERE IS LIFE IN THE EYES ORANGUTAN

As usual I overslept. The bath is a must to increase my good-look,especially today we will visit SMAN 8 Malang. Orange T-shirt with a picture of orangutan in the form of a vector is pride to wear when I am representing COP.

Thanya (COP School Batch # 5) started the visit by telling the history of COP. Continued by Ristanti who explained the anatomy of orangutan. To make it easy, Ristanti explained some of the differences of bone structure, skull and also senses between humans and orangutans. Different os-Ula bone
structure which is longer on the arm and wrist is an adjustment to the habits of climbing and hanging from a tree. Ibenk explained 97% similarity between DNA of orangutan and human, that change along with the changes in the nature and environment. While I began to feel so nervous, I got a chance to explain about the exploitation of animals and what can students of SMAN 8 do.

The was a lot that Orangufriends Malang wanted to share but the time was too tight. I increasingly eager to visit other schools, to encourage the young generation to care more and repair the damage, start from nowon.(Rifqi Rahman, alumni of COP School Batch # 5)

DI MATA ORANGUTAN ADA KEHIDUPAN

Seperti biasa saya terlambat bangun. Mandi itu wajib untuk menambah kegantengan saya, apalagi hari ini akan school visit di SMAN 8 Malang. Baju oranye gambar muka orangutan dalam bentuk vektor adalah baju kebanggaan yang selalu ku pakai saat mewakili COP.

Thanya (COP School Batch #5) mengawali perjumpaan anak SMA 8 dengan menceritakan perjalanan COP selama 9 tahun terakhir ini. Dilanjutkan Ristanti menjelaskan anatomi orangutan. Untuk memudahkan siswa SMA, Ristanti menjelaskan beberapa perbedaan struktur tulang, tengkorak dan juga indra antara manusia dan orangutan. Perbedaan struktur tulang os Radius-Ula yang lebih panjang pada lengan dan pergelangan tangan ini merupakan penyesuaian dengan kebiasaan memanjat dan bergelantungan di pohon. Ibenk memaparkan 97 % kesamaan DNA orangutan dengan manusia, yang berubah mengikuti perubahan sifat dan lingkungannya. Sementara saya mulai merasa mules karena grogi, mendapat kesempatan menjelaskan eksploitasi satwa dan apa yang bisa siswa SMAN 8 malang bisa lakukan.

Begitu banyak yang ingin Orangufriends Malang sampaikan tap iterbatas oleh waktu. Rifqi semakin bersemangat untuk mengunjungi sekolahan lain, untuk mengajak generasi muda yang lain lebih peduli dan memperbaiki kerusakan yang terjadi, mulai sekarang. (Rifqi Rahman, alumni COP School Batch #5)

FUTSAL FOR ORANGUTAN 2016

Salam olahraga!!!
Main Futsal sekaligus beramal? Bisa aja… tapi cuman di Futsal For Orangutan 2016. Buat yang pernah ikutan tahun lalu… pasti tahu caranya. Tapi maaf ya… khusus putri dulu ya…

Cara pendaftaran Futsal For Orangutan 2016
1. Tim terdiri dari maksimal 12 orang pemain wanita dan 2 official.
2. Membayar biaya pendaftaran Rp 250.000,00 per tim ke No. Rekening 10370888000 a.n: Centre for Orangutan Protection
3. Pendaftaran akan dibuka hingga tanggal 15 Maret 2016 namun bila kuota telah terpenuhi maka pendaftaran akan dihentikan.
4. Setelah melakukan pembayaran silahkan konfirmasi ke email ekki.kusuma@gmail.com dengan mengirimkan foto atau hasil scan struk bukti pembayaran.
5. Anda akan mendapatkan email balasan berupa formulir pendaftaran untuk diisi dan dikembalikan pada saat technical meeting tanggal 17 Maret 2016 di camp APE Warrior Yogyakarta (peta lokasi akan dilampirkan pada form pemdaftaran).
6. Diharapkan kedatangan seluruh anggota tim saat technical meeting karena dilakukan edukasi dan penyadartahuan mengenai satwa liar khususnya orangutan.
7. Seluruh pertandingan akan dilaksanakan pada 19 Maret 2016 di Score Futsal Jakal KM 9,5 Yogyakarta.
8. Tim juara 1 dan 2 pada kompetisi ini akan mendaptkan hadiah masing-masing sebesar Rp 500.000,00 dan Rp 300.000,00 yang akan didonasikan untuk orangutan.

Contact Person:
Ekki: sms/whatsapp 085255158062 LINE: chelskky
Rebi: sms/whatsapp 087770085551 LINE: rebyaa

Yuk segera daftarkan tim kamu, tim teman kamu… atau tim saudara kamu untuk peduli orangutan. Kapan lagi… sehat sambil beramal untuk orangutan.
Pasti seru!!! ‪#‎FutsalForOrangutan‬ ‪#‎FFO2016‬ ‪#‎orangufriendevents

Page 2 of 41234