KATA FARA, BABYSITTER BORA TENTANG BAYI ORANGUTAN

Tiap lihat anakan orangutan, selalu menyempatkan 10 detik untuk memperhatikan ibu jari kaki mereka (karena unik). Ibu jari tangan mereka masih ada kukunya, sedangkan di kaki engga ada. Tapi ada juga individual yang ibu jari kakinya punya kuku kecil banget, setitik.

Ibu jari mereka berukuran jauh lebih pendek dan posisinya berlawanan daripada keempat jari lain (opposable thumb). Struktur jari ini mendukung aktivitas dan pergerakannya di atas pohon. Mulai dari genggaman ke batang, cabang, liana, atau akar gantung untuk pindah tempat, sampai memetik daun, tunas bahkan buah untuk dimakan.

Ternyata, anakan orangutan selalu pilih batang pohon berdiameter kecil atau akar gantung untuk dipanjat. Diameter substrat yang kecil lebih mudah untuk mereka menggenggam dan me-minimalisir tergelincir jatuh. Tapi di beberapa momen mereka masih sering merosot seperti meluncur dari atas pohon besar secara tiba-tiba. Kayak kalau digigit semut rang-rang, dengar suara asing yang keras, ada orang asing mendekat, atau ketika liat buah pancingan yang ranum.

Faradiva Zahra Maharani, seorang sarjana Biologi dari Universitas Diponegoro yang saat ini menjadi babysitter di BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance). (FAR)

MENEBAR SEMANGAT KONSERVASI DI SEKOLAH-SEKOLAH TAPANULI SELATAN

Pada awal Mei 2025, tim APE Patriot menggelar rangkaian edukasi konservasi satwa liar di sejumlah sekolah di Kabupaten Tapanuli Selatan. Bersama dengan BBKSDA Sumatera Utara, mereka menyambangi berbagai tingkatan sekolah untuk menanamkan kepedulian terhadap kelestarian dan hutan sejak dini.

Perjalanan dimulai sejak Senin, 5 Mei di SMP Negeri 3 Sipirok. Kedatangan tim disambut hangat oleh Kepala Sekolah yang langsung menyiapkan kelas untuk kegiatan edukasi. Sebanyak 35 siswa kelas 9 yang baru saja menyelesaikan ujian sekolah hadir didampingi Wakil Kepala Sekolah bidang kurikulum. Perkenalan diselingi permainan ringan untuk mencairkan suasana. Kemudian dilanjutkan dengan kisah menarik seputar orangutan dan pentingnya melestarikan satwa liar. Antusiasme siswa terlihat sejak awal hingga sesi diskusi. Sebagai penutup, tim menyerahkan poster info grafis dan berfoto bersama para siswa sebagai kenang-kenangan.

Keesokan harinya, Selasa 6 Mei, tim melanjutkan edukasi ke Kecamatan Arse yang berdekatan dengan kawasan Ekosistem Batang Toru. Sekolah pertama yang dikunjungi adalah SMK Negeri 1 Arse. Sebanyak 41 siswa dari kelas 10 da 11 mengikuti sesi edukasi yang juga dihadiri oleh Kepala Resort Cagar Alam Dolok Sipirok, Bapak Martono Gurusinga. Beliau memberikan pengantar tentang kawasan Cagar Alam. Seperti biasa tim melanjutkan kegiatan dengan mengajak siswa memahami peran mereka dalam menjaga satwa liar dan bagaimana bersikap jika menemukan kasus kejahatan terhadap satwa. Suasana kelas hangat dan penuh semangat.

Masih di hari yang sama, sekolah kedua yang disambangi adalah SD Negeri 100403 Arse. Edukasi di sekolah dasar ini teraan begitu semarak dengan kehadiran 126 siswa kelas 6. Salah satu bagian paling menarik adalah permainan “pemburu dan penebang”, yang menjadi refleksi tentang kerusakan hutan akibat ulah manusia. Momen berkesan muncul ketika seorang siswa mengaku pernah melihat orangutan di sekitar tempat tinggalnya dan berharap bisa melihatnya lagi suatu hari nanti.

Bulan depan, kita ke sekolah mana lagi ya? (DIM)

APE PATRIOT MENYAPA GENERASI MUDA DI SEKITAR HUTAN BATANG TORU

“Pernah lihat orangutan di sekitar rumah kalian?” Pertanyaan pembuka ini langsung mengundang antusiasme para siswa saat tim APE Patriot dari Centre for Orangutan Protection (COP) memulai sesi School Visit pada Kamis, 8 Mei 2025. BBKSDA Sumatera Utara, tim mengunjungi dua sekolah yang berada tak jauh dari kawasan Ekosistem Batang Toru, yaitu SD Negeri 100410 Kecamatan Arse dan MTs Negeri 1 Tapanuli Selatan. Bersamaan dengan tim APE Sentinel yang melanjutkan edukasi di kampus UMTS di Kota Padang Sidempuan, Sumatera Utara, tim APE Patriot pun turut mengedukasi generasi muda yang tumbuh di sekitar hutan yang merupakan habitat alami orangutan Tapanuli.

Sebanyak 70 siswa dari kelas 1 hingga 6 SD dan 50 siswa dari kelas 8A dan 8B MTsN 1 Tapanuli Selatan mengikuti sesi edukasi konservasi ini dengan penuh semangat. Materi yang disampaikan mencakup pengenalan tentang orangutan, pentingnya hutan sebagai habitat satwa liar, serta peran manusia dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Dengan pendekatan yang interaktif dan visual yang menarik, sesi ini dirancang agar mudah dipahami oleh siswa dari berbagai jenjang.

School Visit ini merupakan bagian dari rangkaian edukasi lapangan yang telah dimulai sejak awal pekan, termasuk kunjungan ke SMP Negeri 3 Sipirok, SMK Negeri 1 Arse, dan SD Negeri 100403 Arse. Dari setiap kunjungan, tim melihat antusiasme yang besar dari para siswa dan sambutan hangat dari pihak sekolah. Banyak yang berharap agar kegiatan seperti ini dapat terus berlanjut. Melalui pendekatan edukatif ini, COP berupaya menanamkan nilai-nilai kepedulian lingkungan sejak dini, membentuk generasi yang sadar dan siap menjaga hutan serta satwa liar di sekitarnya.