AMBOI! SEBUAH PENGALAMAN TAK TERLUPAKAN DI COP SCHOOL

Bagi saya, mengikuti COP School adalah pengalaman yang tak terlupakan. Program ini, gagasan dari Centre for Orangutan Protection (COP), membuka jalan dan membawa saya lebih dekat mengenal dunia konservasi satwa liar dengan cara yang menyenangkan dan penuh kejutan. Metode belajarnya dirancang interaktif dan imersif, kelas yang seimbang antara teori dan praktik, camping (jika cuaca memungkinkan), main air, nonton bareng, masak bersama, penelusuran alam, permainan beregu, kunjungan ke sekolah, hingga kejutan-kejutan kecil yang bikin suasana makin hidup. Semua itu membangun ruang belajar yang egaliter, tanpa sekat antara yang sudah berpengalaman dan yang masih awam.

Salah satu momen paling berharga buat saya adalah saat ikut praktik langsung dalam proses animal rescue. Saya belajar bagaimana menyelamatkan satwa liar, baik dari perdagangan ilegal, situasi darurat, maupun konflik satwa-manusia. Kami dikenalkan pada prosedur penyelamatan, perawatan awal, hingga proses rehabilitasi sebelum satwa bisa kembali ke habitat alaminya. Ini sungguh membuka mata, bahwa manusia punya peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Selain itu kami juga diajak beljar tentang mitigasi bencana pada satwa, edukasi masyarakat, memerangi perdagangan satwa liar ilegal, hingga menghadapi kondisi tak terduga di lapangan. Semua ini bukan hanya memperkaya ilmu, tapi juga menumbuhkan rasa empati dan kepedulian yang mendalam terhadap alam dan makhluk hidup di dalamnya.

Yang luar biasa dari COP School adalah keterlibatan yang tidak berhenti ketika program selesai. Alumni didorong untuk tetap aktif, baik secara individu, membentuk komunitas, atau bekerja sama dengan berbagai organisasi konservasi di Indonesia. Tujuannya jelas, mempertahankan, melindungi, dan memperjuangkan nasib satwa liar yang terancam punah. COP School bukan sekedar program singkat. Ini adalah gerakan panjang yang bisa terus dibawa dalam kehidupan sehari-hari. Saya merasa sangat beruntung bisa menjadi bagian dari keluarga besar COP School.

Buat kamu yang suka alam, suka petualangan, peduli lingkungan, atau ingin punya pengalaman seru sekaligus bermakna, COP School Batch 15 wajib banget kamu ikuti! Siap-siap ketemu teman-teman keren, belajar hal baru, dan terjun langsung jadi bagian dari perjuangan menyelamatkan satwa liar Indonesia. (Zain Nabil, Alumni COP School Batch 9).

SEMANGAT KONSERVASI DI KP3 EXPO UGM: EDUKASI, CERITA, DAN PERSPEKTIF BARU

Tanggal 23 April 2025, tim APE Warrior kembali membawa semangat konservasi ke jantung kampus, KP3 Expo Kehutanan UGM. Centre for Orangutan Protection hadir serta turut membuka stand edukasi, menyapa mahasiswa, dan tentu saja, mengajak mereka ngobrol soal orangutan, hutan, dan aksi-aksi nyata di lapangan. Tak hanya itu, Demetria Alika juga tampil sebagai pembicara dalam talkshow bersama Aksi Konservasi Yogyakarta dan tokoh inspiratif dari Desa Wisata Jatimulyo. Talk Show ini jadi momen hangat, penuh cerita, dan inspirasi dari berbagai lini perjuangan pelestarian alam, mulai dari penyelamatan satwa, edukasi akar rumput, hingga pelibatan masyarakat lokal.

Lalu, ada satu momen unik yang bikin kami snyum-senyum sendiri. Saat Dimi panggilan akrabnya Demetria menjelaskan bahwa aktivitas COP dan Orangufriends nggak cuma soal rescue, rehab, and release orangutan, tapi juga lewat cara seru seperti konser amal (Sounds For Orangutan/SFO) dan pameran seni amal (Art For Orangutan/AFO), salah satu peserta langsung angkat tangan. “Maaf, Kak. Tapi konser dan pameran seni, emang ada hubungannya sama konservasi orangutan?”, tanya seorang mahasiswa yang turut hadir sebagai peserta.

Ruangan sempat hening, semua menanti jawaban. “Kalau mau jujur… ya memang nggak ada korelasinya secara langsung”, kata Dimi sambil tersenyum. “Tapi justru di situlah letak kekuatannya. Ketika kita gabungkan dua hal yang tampaknya nggak nyambung, konservasi dan musik atau seni, kita bisa menjangkau lebih banyak orang. Kita bisa ajak mereka yang mungkin nggak pernah kepikiran soal orangutan, untuk peduli dan terlibat, bahkan dari dunia mereka sendiri.”.

Seketika, peserta itu tersenyum lebar dan mengangguk. “Oh… iya ya. Baru kepikiran. Jadi konservasi itu bukan cuman buat orang hutan aja”, celetuknya sambil terkekeh. “Tapi buat semua orang, apapun latar belakangnya.”. Percakapan itu jadi momen reflektif yang menghangatkan hati. Sebuah pengingat bahwa perjuangan konservasi bisa datang dari mana saja, asal ada niat dan kepedulian. Selain membuka obrolan, tim juga menjual merchandise sebagai bentuk kontribusi publik, dan tentu saja mengajak mahasiswa untuk mendaftar ke COP School Batch 15 yang akan digelar Juni nanti. Harapannya, makin banyak jiwa muda yang turun tangan jadi bagian dari gerakan ini. Hari itu kami pulang dengan semangat baru. Bertemu orang-orang yang penasaran, terbuka pikirannya, dan siap melangkah lebih jauh. Karena konservasi bukan tentang siapa kamu hari ini, tapi tentang keberanianmu peduli. (DIT)

AKSI #RAWATAJADULU DI HARI BUMI 2025

Tanggal 22 April diperingati sebagai Hari Bumi Sedunia. Tahun ini, semangat untuk lebih peduli terhadap bumi diwujudkan lewat aksi kampanye bertema #RawatAjaDulu yang digelar oleh APE Warrior bersama Orangufriends Jogja serta kawan-kawan dari Aksi Konservasi Yogyakarta, Javan Wildlife Institute (JAWI), Relung Indonesia, Paguyuban Pengamat Burung Jogja (PPBJ), swaraOwa, dan Teman Berjalan.

Berlokasi di kawasan wisata yang ramai pengunjung, kampanye ini tidak hanya melibatkan para penggiat konservasi, tapi juga masyarakat luas yang kebetulan melintas. Salah satu yang ikut terlibat adalah Jojo, mahasiswa Antropologi UGM dan relawan Orangufriends, yang membagikan kisahnya selama mengikuti kegiatan. “Hari Bumi itu sebelumnya nggak pernah terpikir akan aku rayakan”, kata Jojo sambil tersenyum. “Tapi hari ini beda. Teman saya yang biasanya nggak tertarik soal konservasi tiba-tiba ikut hadir. Saya jadi penasaran… sebenarnya apa yang bikin kegiatan ini menarik?”.

Kampanye #RawatAjaDulu menyoroti hal-hal sederhana yang bisa dilakukan siapa saja, seperti menjaga kebersihan, mengurangi penggunaan plastik, menggunakan listrik seperlunya, semua menjadi pesan yang kami suarakan hari itu. Kami juga membagikan stiker edisi khusus Hari Bumi sebagai bentuk ajakan kecil namun bermakna.

Jojo mengakunya awalnya ragu. Kegiatan edukasi dilakukan di tengah kawasan wisata yang penuh dengan keramaian dan keragaman. Tapi ternyata… mereka penasaran banget! Banyak yang datang tanya-tanya, ikut ngobrol, bahkan cerita pengalaman pribadi soal lingkungan”, ujar Jojo. Hari itu, interaksi demi interaksi mengalir. Masyarakat bukan hanya jadi penonton, tapi ikut menjadi bagian dari percakapan soal pentingnya menjaga bumi. “Senang banget rasanya”, tambah Jojo. “Melihat banyak orang, bahkan di area wisata, masih peduli dan mau mendengarkan. Ini jadi harapan bahwa suara konservasi bisa sampai ke siapa pun”.

Aksi ini hanyalah awal dari rangkaian kampanye Hari Bumi. Selanjutnya, akan ada pemutaran film dan talkshow bertema lingkungan yang akan digelar di Fakultas Biologi UGM pada 9 Mei mendatang. Tentunya, kampanye ini juga menjadi pengingat bahwa Hari Bumi tidak cukup dirayakan setahun sekali. Harapannya, semakin banyak orang yang sadar dan bersuara untuk menjaga bumi dari kerusakan. Karena dengan begitu, kita bisa hidup berdampingan dengan bumi yang lebih sehat dan lestari, lebih lama. (DIM)