BAGAIMANA ORANGUTAN BERTERIMA KASIH PADA KEEPERNYA

Kata siapa hewan/satwa tidak memiliki rasa terima kasih? Kata siapa hewan/satwa tidak mampu menunjukkan rasa terima kasihnya? Orangutan, satwa yang memiliki 97% DNA yang sama dengan manusia, mampu menunjukkan rasa terima kasihnya. Charlotte, salah satu orangutan juvenile yang ada di BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance) yang kini sedang berada dalam masa karantina sebelum dibawa ke pulau pra-pelepasliaran menunjukkan rasa terima kasihnya kepada saya yang kembali bertugas ke BORA setelah hampir 2 tahun tidak berjumpa Charlotte.

Pagi itu, saat hendak memberikan enrichment, saya mengamati bahwa sayur daun yang menjadi salah satu jenis pakan tidak dimakan oleh Charlotte. Bukan tidak suka, namun biasanya mereka akan menghabiskan pakannya itu (sayur daun) saat sudah tidak ada pilihan pakan lain. Kemudian sayur daun itu pun saya lumuri dengan madu, tidak banyak namun hampir mengenai seluruh bagian. Charlotte pun segera turun dari hammock dan mulai makan dengan lahap. Saya pun menambahkan madu ke sayur daun lainnya dan kemudian Charlotte mendekati saya dan menepuk pundak saya beberapa kali.

“Terharu bahwa hal kecil yang saya lakukan dapat membawa kesenangan untuk Charlotte”, tulis Jevri lewat Whatsapp. Jevri adalah animal keeper orangutan yang telah mendedikasikan dirinya selama 9 tahun ini dan masih terus. Kepekaannya membuatnya disukai semua orangutan, tapi juga orangutan cukup patuh untuk tetap beraktivitas di sekolah hutan seperti memanjat, mencari pakan alami, bahkan membuat sarang. “Ada kalanya kita menuruti mereka, seperti hanya duduk di samping kita atau hanya ingin bermain di tanah saja.”, tambahnya ketika ditanya adakah orangutan yang tidak mau memanjat pohon saat sekolah hutan. (JEV)

COP SCHOOL: BELAJAR KONSERVASI, PRAKTEK LAPANGAN, DAN NGOBROL BARENG PARA PENGGIAT KONSERVASI DI INDONESIA

Pernah dengar tentang COP School? Ini adalah program keren dari Centre for Orangutan Protection (COP), tempat kamu bisa belajar langsung soal dunia konservasi, penyelamatan satwa liar, dan jadi bagian dari gerakan penjaga hutan Indonesia. Tahun ini, COP School Batch 15 akan kembali digelar, dan percayalah, serunya luar biasa!

Sebagai alumni COP School Batch 14 sekaligus bagian dari Orangufriends Surabaya, akuingin berbagi sepotong pengalaman seru saat mengikuti kegiatan tahun lalu. Di sesi awal, kami dikenalkan pada dasar-dasar konservasi, mulai dari pengertian, urgensi, hingga dampak eksploitasi alam dan satwa. Tapi tenang, ini bukan kuliah yang bikin ngantuk. Materinya dikemas interaktif, penuh diskusi, dan sangat relevan dengan kondisi di lapangan.

Yang bikin semangat? Sharing dari para aktivis COP yang sudah puluhan tahun berkecimpung di dunia penyelamatan satwa. Mereka bukan cuman berbagi cerita, tapi juga menantang kami berpikir, “Apa langkah kita selanjutnya?”.

Setelah teori, waktunya praktik! Kami diajak memahami langsung proses penyelamatan satwa yang dilakukan COP, mulai dari identifikasi kasus, teknik rescue, hingga proses rehabilitasi. Kami juga belajar tentang etika penanganan satwa liar, karena nggak semua bisa sembarangan disentuh. Tak kalah menarik, ada sesi ngobrol bareng para penggiat konservasi dari berbagai penjuru Indonesia, aktivis hutan Kalimantan dan Sumatera, relawan pusat rehabilitasi satwa, hingga jurnalis lingkungan. Cerita-cerita mereka bukan cuman inspiratif, tapi juga membumi, penuh perjuangan dan harapan.

Pulang dari COP School, aku merasa membawa “seember penuh” ilmu, pengalaman, dan semangat perubahan. Banyak alumni yang kemudian aktif di komunitas lingkungan, membuat kampanye penyelamatan satwa, bahkan mendirikan gerakan konservasi di daerahnya masing-masing. Karena di COP School, kamu bukan sekedar peserta. Kamu adalah bagian dari keluarga besar penjaga alam Indonesia. Jadi, tunggu apa lagi? Daftar COP School Batch 15 sekarang juga! (Jihan, Almuni COP School Batch 14).

KEAJAIBAN DI BALIK RENDA HUTAN

Di tengah rapatnya tegakkan pohon yang menjulang tinggi dan akar-akar yang memenuhi lantai hutan, saya dengan hati-hati melangkah menyusuri kawasan hutan yang terletak di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Kami sedang melakukan survei mencari lokasi yang cocok untuk pelepasliaran orangutan. Suara burung bersahutan, sementara gemerisik dedaunan menjadi latar alami perjalanan tim. Tiba-tiba, langkah salah satu anggota tim terhenti, “Eh, tunggu sebentar! Ini apa, ya?”, seru Raffi dengan mata berbinar, tangannya menunjuk ke tanah.

Yang lain segera mendekat. Di hadapan tim, di antara lumut dan dedaunan lembab, berdiri sebuah jamur unik. Tudung hijau kecil bertengger di atasnya, sementara jaring putih tipis menjuntai ke bawah, menyerupai renda halus. Dimi membungkuk, matanya berbinar penuh antusias. “Wah, ini Jamur Tudung Pengantin!”, serunya. “Jarang-jarang bisa lihat ini langsung di habitat aslinya!”. Jamur Tudung Pengantin (Phallus indusiatus) memang bukan jamur biasa. Bentuknya yang indah sering membuatnya tampak seperti keajaiban kecil di lantai hutan. Namun, lebih dari sekadar unik, jamur ini berperan penting sebagai dekomposer alami, membantu mengurai bahan organik yang jatuh dari pepohonan raksasa di hutan.

“Berarti kawasan ini benar-benar masih terjaga ya.”, ujar Dimi, suaranya penuh semangat. “Kalau jamur ini bisa tumbuh, berarti kondisi ekosistemnya masih sehat!”. “Betul sekali.”, Raffi pun mengangguk setuju. “Hutan primer seperti ini memang habitat yang ideal, mereka bukan hanya soal jamur, tapi juga buat orangutan yang akan kita lepas-liarkan.”.

Mereka saling berpandangan, senyum kecil tersungging di wajah mereka. Temuan kecil ini semakin menguatkan keyakinan tim bahwa hutan ini layak untuk menjadi rumah baru bagi orangutan. Dengan semangat yang lebih besar, mereka melanjutkan perjalanan, berjanji dalam hati untuk terus menjaga dan melindungi keajaiban yang tersembunyi di balik renda hutan. (DIM)