HAPPI, SI TUKANG TARIK

Happi namanya, orangutan ini selalu tampak seperti sedang tersenyum. Saat ini, Happi adalah penghuni kandang karantina dan sedang dalam antrean untuk menjadi penghuni baru pulau pra-pelepasliaran orangutan, sebuah tingkatan akhir untuk dilepasliarakan kembali ke habitatnya. Setelah Happi pindah ke kandang karantina, banyak sekali perubahan yang terjadi, mulai dari warna rambutnya yang agak menggelap dan volumenya yang menebal, dan juga semakin agresif pada manusia.

Ciri khas Happi pada waktu makan, dia akan mengambil pakannya dan bergerak, baik itu langsung memanjat dan menikmati makanannya di atas hammock atau sekedar menjauh. Orangutan Happi biasanya menghabiskan waktunya dengan istirahat dengan berdiam diri, duduk, atau merebahkan badannya pada hammock atau bagian bawah kandangnya. Happi juga sering terlihat sedang autogrooming seperti menggaruk badan dan menjilati jari-jari tangannya.

Kini, Happi menjadi musuh tim medis. Happi yang selalu terlihat tenang ketika sedang diobati atau diberikan minuman, ternyata mengincar dengan si kantong merah berisi obat-obatan dan vitamin bahkan apapun yang sedang dipegang oleh tim medis. Kalau dia berhasil menarik si merah, pasti ada saja satu barang yang terambil. Ketika barang sudah terambil, sangat kecil kemungkinan untuk kita mendapatkannya kembali. Beberapa kali Happi menarik gelas dan tutup botol susu dari tim medis, dia memainkan gelasnya sampai pecah. Begitu pula dengan obat maupun vitamin yang berhasil ditariknya, pasti habis dimakannya. (IND)

MASIH LUCUKAH ORANGUTAN HARAPI?

Bayi orangutan memang sangat menarik perhatian. Matanya, hidung, rambut jigraknya, telinga, bahkan kelopak matanya akan menambah pesona siapa pun yang melihatnya. Secara keseluruhan, orangutan kecil punya tingkat kelucuan di atas rata-rata. Tapi… seluruh bayi di muka bumi itu lucu, tak hanya orangutan.

BORA (Bornean Orangutan Rescue Alliance) pada 13 Juni 2023 menerima kedatangan satu orangutan jantan yang diperkirakan berusia 5-6 bulan. Harapi begitu dia dipanggil, sebuah harapan ketika dia bisa sampai di Pusat Rehabilitasi Orangutan di Berau, Kalimantan Timur. Kelak, jika waktunya, dia akan dilepasliarkan kembali ke habitatnya.

Jangan lupa, dibalik lucunya tingkahnya, dibalik indah kedua bola matanya menyimpan pengalaman yang sulit dilupakannya. Tak ada induk yang dengan sukarela menyerahkan bayinya yang seharusnya masih dalam perlindungannya. Harapi satu dari banyak orangutan malang tapi beruntung untuk memulai rehabilitasi di BORA. Selamat tinggal guling merah yang menemaninya saat berada dalam kepemilikan ilegal, Harapi sudah bisa lepas dan bisa memanen buah yang ada di BORA. Jari-jemarinya yang kecil berhasil memanjat pohon jambu biji dan mememetiknya. Terus tumbuh dan berkembang Harapi!

INDUK ORANGUTAN YANG BARU MASUK BORA, KRITIS! (2)

Seperti kebanyakan orangutan liar yang masuk ke pusat rehabilitasi, Mauliyan masih dengan sifat agresif segera mengusir jika ada yang mendekati area kandang. Sebagai induk orangutan, dia terlihat sangat melindungi anaknya. Setiap ada yang mendekat, anaknya langsung bersembunyi dalam pelukannya bahkan ditarik paksa olehnya. Mauliyan juga masih dalam masa adaptasi dengan pakan yang diberikan, beberapa jenis pakan masih belum mau dimakannya.

Mauliyan dan anaknya adalah orangutan yang diselamatkan dari kawasan pertambangan di Kalimantan Timur. Viralnya ibu dan anak orangutan menyeberangi jalanan mengantarkan tim menyelamatkan keduanya. Sayang, hanya induknya yang bisa diselamatkan, sementara anaknya yang sudah cukup besar tidak berhasil ditemukan. Tim melakukan penyisiran dan menemukan Mauliyan beserta anaknya, Ariandi.

Kini, Mauliyan sedang kritis. Tim medis berusaha semaksimal mungkin menyelamatkan induk orangutan ini. Setelah 6 jam menjalani perawatan intensif, suhu tubuhnya naik perlahan dan kembali normal. Beberapa kali menunjukkan respon tubuh mencoba membalik badan namun Mauliyan belum sadar.

“Menunggu, berdoa, dan terus melakukan pengecekan hanya itu yang bisa dilakukan. Berharap Mauliyan pun berusaha untuk bertahan dengan kondisinya. Ariandi terlihat tak lepas memeluknya. Suatu kondisi yang sangat menyedihkan. Seorang anak yang masih membutuhkan ibunya yang tak berdaya”, ujar drh. Ellise Balo.

Pada 17.32 WITA terjadi hal baik. Mauliyan perlahan mulai sadar dan diputuskan untuk melepas infusnya. Dengan cepat, dibantu animal keeper untuk menahan tangannya yang kekuatannya mulai pulih. Infusnya berhasil dilepas. Perlahan-lahan, Mauliyan mencoba untuk duduk. Pemberian air gula sedikit demi sedikit berhasil masuk. Dua puluh menit kemudian, seperti tidak terjadi apa-apa, Mauliyan duduk dan memakan habis pakan sisa Ariandi yang ada di sekitar kandang. Tim pun segera memberikan pakan tambahan dan kemudian habis dimakannya. Sejak saat itu, Mauliyan tidak lagi pemilih makanan. Pakan yang dikasih, habis dimakannya sampai saat ini. (LIS)