PAKET DARI GOCOP UNTUK ORANGUTAN

Hari Senin adalah awal memulai minggu setelah libur, bagi sebagian orang, Senin adalah hari dimana kita harus menatap tanjakan terjal yang harus dilalui, bagi sebagain orang lainnya, Senin adalah semangat baru setelah melewati hari-hari yang melelahkan untuk lebih baik lagi. Hal ini juga terjadi pada Asto dan Asih.

Asto dan Asih, setiap pagi harus memulai sekolah hutan yang terik, melelahkan, dan juga menyenangkan. Tidak heran terkadang setelah waktu sekolah hutan selesai, keduanya beristirahat bahkan tidur siang di kandang. Biasanya mereka akan mendapatkan enrichment pakan. Untuk kami animal keeper nya, enrichment orangutan adalah enrichment untuk kami juga. Kali ini, karung akan diisi daun dan akar

“Pakeeetttt”, sesederhana itu idenya. Kerinduan suara pengiriman barang yang tidak mungkin sampai di Sumatran Rescue Alliance (SRA). Semua keeper langsung menuju dapur, menemukan karung berisi beras yang baru saja dibuka. “Kita pindahkan saja isinya”, ujar Ryan, animal keeper yang telah 2 tahun lebih mengurus orangutan di SRA.

Karung dicuci bersih berikut dedaunan dan kami potong kecil-kecil seolah kami sedang memasak pakan tersebut seperti dalam pengiriman paket “Makananmu sedang dalam proses masak”. Setelah pakan siap dan sudah terbungkus rapi di dalam dedaunan, lalu kami masukan ke dalam karung tadi “Makananmu sudah siap, menunggu kurir untuk mengirim paket ke alamut mu” (begitu status yang diterima Asto dan Asih jika mereka menggunakan gawai. Kami ikat ujung karung dengan akar dan kembali ada notifikasi “Kurir sedang mengirim paketmu, paket dalam perjalanan menuju rumahmu”, kami pun yang membuat enrichment ini sedikit tertawa. Lepas sudah lelah dengan canda gurau seperti ini.

Setibanya di depan kandang, respon yang kami terima dari Asto dan Asih adalah ucapan, “Terima kasih bang kurir, paketnya sampai”, hahaha canda kami. Asto dan Asih merespon aneh dengan enrichment ini, namun mereka langsung mengambil ‘paket’ tersebut. Asto dengan lihai melakukan unboxing paket. Tali akar yang mengikat karung dengan perlahan dibukanya. Berbeda dengan Asih yang terlihat tidak sabar. Asih menggigit dan merobek karung tersebut dari tengah-tengah, tidak seperti Asto yang membukanya perlahan, satu per satu hingga menemukan potongan buah di dalamnya. Hayo… siapa yang kalau terima paket seperti ini? Terima kasih telah menggunakan layanan GOCOP. (YAN-FAN-DIN-NAB)

ORANGUTAN BUKAN HEWAN PELIHARAAN

BKSDA SKW I Berau kembali menerima penyerahan 1 individu bayi orangutan dari kampung Merapun, kecamatan Kelay, Kalimantan Timur. Tim APE Defender mendampingi proses serah terima ini dan segera melakukan pemeriksaan kesehatan fisik pada bayi tersebut. “Perkiraan usia, sekitar 9 bulan dengan perut yang besar. Biasanya pemelihara memberikan susu dan sempat berganti merek susu karena diare. Menurut mereka, orangutan tersebut ditemukan di sekitar 400 meter dari rumah mereka, katanya lagi orangutan kecil ini ditinggal induknya karena induknya dikejar anjing”, catat drh. Elise Margaret Ballo.

Bayi orangutan mendapatkan perhatian yang baik dari pemelihara sekeluarga. Tempat tidur bayi, pakaian, popok, hingga pemberian perhiasan gelang yang melingkar di pergelangannya. Orangutan juga dimandikan 3 kali seminggu. Bayi orangutan juga cukup percaya dengan keluarga yang memeliharanya. “Namun, orangutan bukanlah hewan peliharaan. Kehidupan bayi orangutan sangat bergantung dengan induknya. Anak orangutan akan bersama induknya hingga usia 5 tahun. Orangutan adalah satwa liar dilindungi. Kepemilikan dan pemeliharaan ilegal adalah perbuatan melanggar hukum”, ujar Raffi Akbar, asisten manajer BORA (Bornean Orangutan Rescue Alliance).

Tim pun kembali ke BORA, perjalanan 4 jam menyimpan sunyi. Bayi orangutan terlelap di pangkuan drh. Elis. Kami diam dalam pikiran yang tak kunjung selesai. Baru saja memastikan dua orangutan jantan kandidat pelepasliaran baik-baik saja di pulau pra-rilis orangutan, ternyata ada masuk lagi satu bayi orangutan yang masih membutuhkan proses hingga rilis sekitar 6-8 tahun lagi. Orangutan ini pun terbangun dari tidurnya, menjelajah isi mobil, menatap keluar jendela, hujan di luar. (LIS)

ORANGUTAN MEMBUTUHKAN DOKTER HEWAN

Centre for Orangutan Protection yang telah berdiri sejak tahun 2007 adalah organisasi orangutan satu-satunya yang didirikan oleh putra-putri Indonesia, membutuhkan dokter hewan dengan kemampuan adaptif yang cukup tinggi. COP menjunjung tinggi kesetaraan gender namun siap bekerja di lapangan, hutan Kalimantan tanpa sinyal telepon maupun internet. Kemampuan komunikasi yang baik dan mampu bekerja sama dalam tim serta bekerja secara mandiri menjadi nilai lebih. Pribadi yang mengutamakan kejujuran, disiplin dan tanggung jawab akan sangat disukai.

Selain profesi sebagai dokter hewan, COP juga membutuhkan paravet (paramedis veteriner) dengan latar belakang pendidikan diploma paramedis kesehatan hewan atau minimal SMK Kesehatan Hewan. Silahkan kirim surat lamaran dan daftar riwayat hidup ke email info@orangutanprotection.com paling lambat 25 Oktober 2023.

Untuk saat ini, COP memiliki tiga orang dokter hewan dan dua orang paramedis. Dokter hewan maupun paramedis akan bekerja dalam sistem yang telah diatur dengan beberapa lokasi kerja di Kalimantan Timur, bertanggung jawab untuk menjalankan pusat rehabilitasi dengan memastikan kesehatan orangutan yang ada di BORA (Bornean Orangutan Rescue Alliance), penyelamatan maupun translokasi satwa di daerah konflik, maupun ikut dalam pelepasliaran orangutan ke habitatnya. Mari ambil peranmu untuk konservasi orangutan di Indonesia.