PERJUMPAAN TAK TERENCANA DENGAN ORANGUTAN NIGEL

Memasuki waktu 3 jam perjalanan air menuju kawasan pelepasliaran orangutan di Busang, Kalimantan Timur, Tim Centre for Orangutan (COP) dikejutkan gerakan besar di atas pohon yang menjorok ke sungai. Tak lama kemudian terlihat orangutan jantan dengen wajah yang sangat mudah dikenali. Dia adalah Nigel.

Tim APE Guardian COP mengenalinya dengan keberadaannya yang sudah seminggu ini di daerah tersebut. “Perjumpaan ini adalah pengulangan di bulan Maret 2023 yang lalu. Nigel terlihat sedang makan buah ficus spp. Tubuhnya terlihat lebih proporsional. Laporan konflik dengan manusia pun tidak sesering ketika dia baru saja dilepasliarkan pada bulan Juni 2022 yang lalu”, jelas Galih Norma Ramadhan, kapten APE Guardian COP yang bertanggung jawab penuh pada konflik orangutan eks-rehabilitasi COP yang telah hadir dan membaur di Long less selama dua tahun terakhir ini.

Seperti yang diceritakan sebelumnya, orangutan Nigel sempat memporak-porandakan pondok orang yang mencari emas. “Untungnya tidak ada korban. Lama tak pernah bertemu langsung dengan Nigel baru kali ini berkesempatan berjumpa. Senang sekali dan takjub”, ujar Daniek Hendarto, direktur Centre for Orangutan Protection dalam perjalanannya melepasliarkan orangutan ke-8 dalam kurun waktu dua tahun ini di Hutan Lindung Batu Mesangat, Kaltim. “Terimakasih Nigel, kamu baik-baik saja”, gumamnya lagi.

MEMO DIBIUS SESUAI RENCANA

Seperti biasanya, Memo sedang berada di pohon yang selalu dia naiki. Tim APE Defender COP kembali menggunakan kaos bukan warna oranye untuk mengelabuinya. Tapi seolah-olah orangutan di pulau mengetahui kondisi bahwa akan ada yang ditembak bius dan meninggalkan pulau untuk selamanya.

Orangutan yang pernah berstatus ‘unrelease’ ini akhirnya menyelesaikan ujian akhirnya di pulau. Memo adalah satu-satunya orangutan yang paling menjaga jarak dengan manusia bahkan dengan orangutan yang lainnya. Statusnya yang pernah menderita hepatitis ini membuat tim selalu berhati-hati dan meminimalisir kontak dengannya. Hasilnya, luar biasa, Memo tak suka kehadiran manusia di dekatnya.

Selama di pulau, biologist Indah mencatat kemajuan berarti dari Memo. Dia tercatat membuat sarang walau tidak terlalu besar namun bisa membuatnya beristirahat di pohon. Memo yang tidak pernah ikut sekolah hutan ini pun tercatat mampu memanjat, menjelajah dan menjaga jarak dengan kedua orangutan lainnya yang berada di satu pulau dengannya yaitu Kola dan Michelle. Memo berhasil bertahan hidup dengan memakan pucuk daun, kambium batang pohon, dan memakan buah-buahan hutan seperti ficus sp yang terdapat di dalam pulau. Selama 3 bulan ini juga berhasil bertahan hidup dari terjangan banjir sungai Kelay yang menenggelamkan daratan pulau dan konsisten di atas pohon. 

Minggu 21 Mei, tibalah waktunya tim membawanya. Pembiusan berjalan dengan cepat dan seperti perkiraan, Memo mencoba bertahan di atas pohon. Tim mempersiapkan jaring dan menyambutnya seiring sedasi yang mulai bereaksi pada tubuhnya. Kesadaran mulai berkurang dan Memo pun jatuh ke jaring. Dengan cepat, tim medis mengukur, mengecek kondisi fisik dan memastikan tanda pengenalnya yang terletak di sekitar pundaknya. Kali ini, mengupayakan penimbangan berat badannya, “46 kg jika dikurangi jaring, sekitar 39 kg beratnya. Agak turun”.

Selanjutnya Memo akan menunggu dua orangutan lainnya yang ikut dilepasliarkan di Hutan Lindung Batu Mesangat, kecamatan Busang, kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur. Keduanya alah induk dan anak yang kondisinya mulai membaik dari mal nutrisi. Jasmin dan Syair begitulah keduanya dinamai. Semoga perjalanan keesokan harinya berjalan dengan lancar. 

APE SENTINEL MENUJU ABELII FEST BATCH 2

Selangkah demi selangkah kegiatan memperingati hari orangutan (World Orangutan Day yang diperingati pada 19 Agustus setiap tahunnya) dilalui. Tim APE Sentinel COP yang berada di kota Medan, Sumatra Utara telah menyusun serangkaian acara yang tentu saja berbeda, bahasa kerennya out of the box lah. Tapi bukan COP kalau tidak begitu. Konservasi orangutan tidak melulu berbicara jurnal atau pun di seminar saja. Konservasi orangutan milik masyarakat luas. Mari berperan untuk melindungi orangutan.

APE Sentinel bersama Kinocolony dan Kurator Personal (Jedi) kembali membahas teknis open call artist, guide open call dan timeline open call seniman. “Kolaborasi Abelii Fest Batch 2 tidak hanya sebatas dengan Kinocolony dan Kurator Personal saja. Kali ini akan melibatkan Sei Design dan bertempat di Pos Bloc Medan, tempat dimana kreatifitas anak muda Medan berkumpul”, jelas Netu Domayni dari APE Sentinel COP.

APE Sentinel adalah tim Centre for Orangutan Protection yang telah bekerja menetap tiga tahun di Medan. Tim ini fokus pada perlindungan orangutan sumatra (Pongo abelii)  dan orangutan tapanuli (Pongo tapalunesis). Ini menjadikan COP, satu-satunya organisasi di luar pemerintahan yang bekerja untuk ketiga spesies orangutan yang ada di Indonesia. Ketiga jenis orangutan yang ada memiliki karakter yang berbeda, satu dengan yang lainnya. Ketiganya adalah satwa liar yang dilindungi dan masuk kategori kritis terancam punah menurut IUCN Redlist. “Kami mengajak seluruh lapisan masyarakat dengan latar belakang yang beraneka ragam untuk berperan aktif membantu perlindungan orangutan. Konservasi adalah tanggung jawab kita bersama, bukan hanya ilmuan atau sebatas pekerja konservasi”, tegas Netu lagi. (BAL)