KABAR CERIA DARI BABY HOUSE: PETUALANGAN KECIL PARA ORANGUTAN MUDA

Sabtu pagi di Baby House BORA kembali dipenuhi semangat belajar dari para orangutan muda yang sedang menapaki tahap awal kehidupan liar. Di bawah pengawasan penuh kasih dari babysitter Rara dan Fara, mereka menunjukkan perkembangan perilaku yang menjanjikan. Mulai dari eksplorasi, interaksi sosial, hingga kemampuan mencari makan sendiri.

Felix menjadi bintang hari ini. Ia mengikuti sesi sekolah hutan pagi sendirian dan menunjukkan jiwa eksplorasinya yang semakin kuat. Tanpa kehadiran orangutan lain yang lebih dominan ataupun stimulasi intensif dari babysitter, Felix mulai lebih percaya diri menjelajahi area hutan di barat daya karantina. Ia memanjat sendiri di pohon-pohon rendah, mencari makan dari pohon mati, daun, hingga buah kopi mentah. Meski sempat tampak cuek, suara dari animal keeper lain yang sedang memantau sekolah hutan membuatnya tertarik, ia langsung mengamati dan mendekati babysitter.

Sementara itu, di dalam kandang, Arto dan Harapi menunjukkan interaksi sosial yang erat. Mereka saling membersihkan diri dan makan bersama. Arto tampak banyak belajar dari Harapi, dari jenis daun yang bisa dimakan hingga mengamati proses makan daun langsung dari mulut Harapi. Momen ini menjadi cerminan proses belajar sosial yang sangat penting bagi orangutan muda.

Ochre mengisi waktunya dengan bermain ranting dan daun. Ia tertarik pada batang berlumut dan mencoba mengupas kulitnya perlahan, menunjukkan rasa ingin tahu serta perkembangan motorik halus yang baik. Ketiganya juga mendapatkan rasa ingin tahu serta perkembangan motorik halus yang baik. Ketiganya juga mendapatkan enrichment berupa bola berisi potongan sayuran yang mendorong mereka untuk berpikir dan mencari solusi.

Siangnya, giliran Harapi yang mengikuti sesi sekolah hutan sendiri. Ia tampak senang mengunyah kulit kayu dan kambium, baik dari atas pohon maupun yang ia jatuhkan ke lantai hutan. Menariknya, kemampuan berpindah antar pohonya kini semakin baik. Ia bisa membedakan mana batang yang kuat, mana yang rapuh, menunjukkan kemajuan dalam penilaian risiko. Saat turun ke tanah pun, Harapi tak lagi meluncur sembarangan, melainkan memanjat turun dengan aman.

Di area kandang baby house, Arto yang biasanya rewel jika ditinggal Harapi, siang ini tampil lebih tenang. Di area playground baby house, Pansy dan Felix sibuk menjelajah dan mencari makan, sambil sesekali mengamati gerak-gerik babysitter. Pansy pun tampak nyaman dengan lingkungannya, bergerak aktif dan menjelajahi area sekitar dengan percaya diri.

Dari interaksi sosial yang hangat hingga keberanian menjelajah hutan, anak-anak orangutan penghuni baby house terus memperlihatkan kemajuan yang membanggakan. Setiap daun yang dicicipi dan setiap dahan yang dipanjat menjadi bagian dari proses panjang mereka menuju kehidupan liar yang mandiri. (RAF,FAR,RAR)

PENANAMAN DI BORNEO ORANGUTAN RESCUE ALLIANCE

Penghijauan dan pengayaan pohon pakan alami di sekitar area rehabilitasi orangutan Borneo Orangutan Rescue Alliance (BORA) merupakan perbaikan kualitas lingkungan sekitarnya, tidak hanya sebagai langkah pelestarian lingkungan, tetapi juga sebagai bentuk dukungan langsung terhadap kebutuhan ekologis orangutan yang tengah menjalani proses rehabilitasi. Tidak hanya animal keeper tetapi tim COP (Centre for Orangutan Protection) lainnya yang sedang mampir di BORA ikut terlibat.

Proses penanaman diawali dengan pembuatan lubang tanam di titik-titik yang telah direncanakan. Setelah itu, bibit-bibit pohon ditanam secara bersama-sama. Setiap bibit kemudian diberi pupuk kompos yang berasal dari hasil olahan sampah organik kandang orangutan. Penggunaan kompos ini merupakan bagian dari strategi berkelanjutan dalam pengelolaan limbah organik di BORA, sekaligus sebagai cara alami untuk memperkaya nutrisi tanah di lokasi penanaman.

Penanaman berjalan dengan lancar dan penuh semangat. Cuaca yang mendukung turut memberikan suasana yang kondusif sepanjang kegiatan. Harapannya, bibit-bibit pohon yang ditanam ini kelak akan tumbuh menjadi bagian dari habitat pendukung yang penting bagi orangutan, sekaligus memperkuat keseimbangan ekosistem di area rehabilitasi. Ya, COP terus menegaskan komitmennya dalam menciptakan lingkungan yang sehat dan alami bagi satwa yang tengah rehabilitasi, serta memperkuat kinerja antar tim dalam aksi nyata konservasi. (RAF)

TALKSHOW KOLABORASI HARI BUMI DI LABORATORIUM BIOLOGI UGM

Langit Yogyakarta menguncup perlahan pada 9 Mei 2025, saat rintik hujan turun bak salam bumi kepada manusia yang berkumpul di Laboratorium Biologi UGM. Di sinilah talkshow “Cerita dari Jogja: Alam Bukan Warisan, Tapi Titipan” bergulir sebagai kelanjutan dari aksi Hari Bumi di Malioboro, sebulan sebelumnya. Para pembicara tak datang membawa materi kosong, mereka datang dengan napas hutan. Indira Nurul (COP) yang menyuarakan jeritan orangutan dari balik kabut api, Fara Dini (Javan Wildlife) yang menafsir ulang konservasi sebagai relasi hidup, dan Ignas Dwi Wardhana, sang fotografer satwa yang tak berbicara banyak karena fotonya sudah lebih dari cukup untuk mengguncang.

Di tengah guyuran hujan, suasana mendadak magis saat Pentas Tari Owa dibawakan langsung oleh keturunan asli Suku Mentawai. Tubuhnya menari bukan sekedar dengan gerak, tapi dengan jiwa. Ia menyampaikan kisah primata yang kehilangan hutan, rumah, dan waktu.Gerakan yang menyentak, patah, lalu perlahan mengalir seperti sungai di pedalaman. Senja pun tiba dan layar lebar menyala. Film-film dari Forum Film Dokumenter (FFD) Jogja dan 4K Jogja mulai bicara, tentang tanah yang digadaikan, hutan yang dipecundangi, dan manusia-manusia kecil yang bertahan melawan sunyi. Tak ada yang bergerak gegas, semua larut dalam perenungan yang lembab dan jujur.

Pukul 17.30 WIB, acara usai. Tapi bukan akhir yang terasa melainkan awal dari benih kecil yang tumbuh di kepala-kepala muda. Sebuah bisikan baru bahwa menjaga alam bukanlah proyek besar yang menunggu dana jutaan, tapi keputusan harian yang bisa dimulai hari ini. Di sore yang basah itu, Jogja menyampaikan satu pesan yang tidak mudah dihapurshujan. Bumi memang bukan warisan, ia adalah titipan dan sudah waktunya kita bersiap menjadi penjaganya. (DIT)