AKSI PENGHIJAUAN: MISI MENANAM RATUSAN POHON DI SRA

Kamis, 1 Januari 2026, menjadi awal yang berbeda bagi kami di Sumatran Rescue Alliance (SRA). Saat banyak orang menikmati libur awal tahun, saya bersama tim APE Champion dan APE Sentinel justru memulai hari dengan melangsir bibit pohon dari seberang sungai. Tantangan fisik ini menjadi pembuka semangat sebelum kami dibagi menjadi dua tim. Fokus pertama kami adalah area rehabilitasi satwa, dimana 20 bibit pohon ditanam sebagai penyangga ekosistem masa depan, disusul dengan penanaman bibit nangka di halaman depan klinik yang rampung tepat sebelum jam makan siang.

Sesi kedua berlanjut di area bagian atas, mencakup belakang kantor dan sekitar mess staf. Kali ini, energi kami bertambah dengan bantuan ada yang memastikan setiap lubang tanam terisi dengan presisi. Kerja sama yang solid membuat proses berjalan cepat dan terukur, menutup hari pertama di tahun baru itu dengan kepuasan tersendiri. Sore harinya, kami kembali ke kantor Medan membawa rasa bangga sederhana, bahwa hari libur kami telah dikonversi menjadi kontribusi nyata bagi pemulihan lingkungan SRA.

Semangat penghijauan itu kembali kami bawa dua pekan kemudian, pada Jumat, 16 Januari. Misi kali ini lebih besar, menanam seratus bibit pohon. Perioritas kali ini, menanampada area sekitar kandang yang sebelumnya rusak dan diratakan alat berat akibat longsor. DI sana, kami menanam sekitar 30 pohon berukuran besar, sebuah upaya mendesak untuk mencegah erosi lebih lanjut di area tersebut.

Estafet penanaman berlanjut selepas ibadah zuhur dengan menanam pada area klinik, sekolah hutan, hingga kembali ke lingkungan kantor. Kali ini, kami fokus pada diversifikasi tanaman dengan memasukkan bibit buah seperti rambutan dan alpukat, yang kelas diharapkan menjadi sumber pakan alami bagi penghuni SRA. Tepat pukul lima sore, seluruh target berhasil ditanam berkat kerja bersama-sama. Perjalanan pulang ke Medan usai magrib terasa lebih ringan, karena kami tahu, kami telah meninggalkan jejak hijau yang akan tumbuh menjaga masa depan hutan dan satwa di SRA. (Ndaru_Orangufriends)

ARSITEK SATU INI SEDIKIT BERBEDA

Kita mengetahui bahwa hampir setiap hari orangutan di alam liar menjadi arsitek dengan proyek membuat sarang di atas pohon sebagai tempatnya beristirahat. Lalu, bagaimana dan dimana orangutan yang berada di pusat rehabilitasi Borneo Orangutan Rescue Alliance (BORA) tidur di dalam kandangnya?

Keharusan orangutan yang sedang menjalani rehabilitasi untuk masuk ke dalam kandang dengan lingkungan buatan yang berbeda dari kondisi alam liar menjadi perhatian Centre for Orangutan Protection (COP) dalam upaya menjaga kesejahteraan mereka. Berbagai bentuk pengayaan (enrichment) dan penambahan ornamen terus dilakukan untuk memastikan kebutuhan perilaku alami orangutan tetap terpenuhi.

Setiap kandang dilengkapi dengan jalinan tali, alat katup air otomatis untuk minum, tempat pakan yang dibuat lebih tinggi agar orangutan terbiasa makan di atas, hammock dari selang pemadam kebakaran, serta sarang buatan dari kerangka besi sebagai tempat beristirahat. Seluruh fasilitas ini diberikan agar orangutan memiliki lebih banyak tempat beristirahat. Seluruh fasilitas ini diberikan agar orangutan memiliki lebih banyak pilihan aktivitas dan terhindar dari stres ketika tidak mengikuti kegiatan sekolah hutan. Selain itu, dedaunan dan karung juga diberikan setiap hari sebagai alas maupun selimut alami.

Setelah proses cuci kandang pada pagi dan sore hari, animal keeper akan memberikan dedaunan ke setiap kandang orangutan. Hal ini bertujuan membiasakan orangutan beristirahat di atas tumpukan daun sekaligus menstimulasi perilaku membuat sarang. Seolah memahami fungsinya, sebagian besar orangutan di BORA memilih tidur di sarang besi yang telah dilapisi dedaunan. Mereka menumpuk daun-daun tersebut hingga menyerupai sarang alami seperti yang biasa dibuat saat sekolah hutan. Tak jarang, tubuh mereka juga ditutupi karung untuk melindungi diri dari suhu dingin dan gigitan nyamuk.

Namun, Bagus memiliki caranya sendiri. Setelah mendapatkan dedaunan pada sore hari, bagian pojok bawah kandangnya mendadak berantakan. Satu per satu dedaunan yang diberikan ditelisiknya, barangkali masih terselip daun dan kulit batang yang bisa disantap sebelum tidur. Tak lama kemudian, dedaunan tersebut terkumpul di satu sisi, tertumpuk rapi dan kokoh karena beberapa ranting dikaitkan ke jeruji kandang, sementara bagian tengahnya dialasi karung. Sarang yang baru saja disusun terlihat pas dengan ukurannya. Bagus merebahkan diri di tengahnya sambil mengunyah daun dan kulit batang yang menurutnya, mungkin lebih menarik daripada pakan harian pemberian animal keeper. Terlihat sangat nyaman, Bagus bertahan di sarangnya yang berada di pojok bawah kandang hingga menjelang gelap, sebelum akhirnya naik ke keranjang sarang buatan beralaskan karung yang posisinya di atas untuk tidur malam.

Keesokan harinya, saat proses cuci kandang dilakukan, animal keeper yang bertugas cukup kesulitan melepaskan ranting-ranting yang terjalin kuat diantari jeruji kandang untuk diganti dengan dedaunan yang baru. Bagus bukan tidak bisa membuat sarang, ia hanya memiliki gaya membangun sarang yang berbeda. Mungkin sama dengan kita, ya? Ada yang lebih senang tidur di kasur, ada pula yang memilih berayun di hammock. (ARA)

DARI BAU CAT HINGGA TAWA ANAK-ANAK, WAJAH BARU PUSAT INFORMASI ANECC

Perjalanan menuju Aek Nauli Elephant Conservation Camp (ANECC) di Simalungun pada Jumat, 5 Desember 2025, bukanlah sekadar kunjungan biasa bagi saya bersama tim APE Sentinel. Kami datang dengan misi spesifik yaitu menyulap sebuah bangunan tua menjadi pusat informasi gajah yang layak. Malam pertama langsung menyambut kami dengan tantangan nyata seperti aroma cat yang menyengat beradu dengan udara dingin dinding lembap, menemani kerja lembur kami hingga larut. Waktu yang terbatas memaksa kami bekerja dalam ritme cepat, mengubah target awal tiga hari menjadi empat hari penuh peluh demi memastikan setiap sudut bangunan mendapatkan sentuhan perbaikan yang pantas.

Hari-hari berikutnya diisi dengan kerja fisik yang menuntut ketelatenan. Ketika ditemukan plafon yang lapuk, keputusan diambil cepat tanpa banyak diskusi yaitu bongkar dan ganti. Pembagianan tugas ada yang memanjat mengganti atap, ada yang mengecat teralis, hingga membersihkan dinding luar secara manual. Meski lelah, melihat bangunan yang semula kusam perlahan memancarkan wajah baru memberikan kepuasan tersendiri. Lantai yang baru divernis tepat saat azan magrib berkumandang di hari keempat menjadi penanda selesainya tahap pertama, namun kami tahu napas bangunan ini belum sepenuhnya utuh.

Napas kehidupan itu ditiupkan pada kunjungan lanjutan tanggal 13 dan 27 Desember 2025. Kali ini, dengan bantuan personil tambahan, fokus kami beralih dari konstruksi ke estetika dan fungsi. Ruang yang telah direnovasi mulai diisi dengan poster edukasi dipasang, gorden digantung, dan dokumentasi profil gajah-gajah ANECC mulai menghiasi dinding. Sentuhan akhir ini menjadikan ruangan gagah bercerita yang hidup, siap menyambut siapa saja yang ingin belajar tentang konservasi gajah sumatra.

Puncak dari segala lelah itu akhirnya terbayar lunas pada tanggal 17 Januari 2026. Saat peresmian Pusat Informasi ANECC, bangunan tersebut langsung menyambut tamu pertamanya yaitu rombongan anak-anak TK dari Sekolah Alam Asahan. Melihat antusiasme dan rasa ingin tahu yang terpancar dari wajah mereka saat mengisi ruangan, kami sadar bahwa misi ini telah berhasil. Renovasi ini bukan sekadar tentang memperbaiki tembok atau mengecat jendela, melainkan tentang menyediakan ruang agar pesan pelestarian gajah dapat terus bergema ke generasi selanjutnya. (Ndaru_Orangufriends)