AKU RANGER YANG IKUT RESCUE ORANGUTAN

Bulan lalu menjadi pengalaman pertama saya mengikuti kegiatan penyelamatan (rescue) orangutan. Ini juga merupakan perjalanan pertama kalinya saya ke Desa Sabintulung, Kecamatan Muara Kaman, Kutai Kartanegara. Sebuah kecamatan yang sangat terkenal dengan kasus pembantaian dan penyiksaan orangutannya di akhir tahun 2011 tepatnya di Desa Puan Cepak. Para pelaku kekejaman pada satwa liar yang berjumlah 4 orang tersebut dijatuhi hukuman 8 bulan penjara dan denda 30 juta rupiah.

Panggil saya Igo, yang merupakan bagian dari tim APE Guardian. Biasanya, saya terlibat dalam kegiatan monitoring pasca pelepasliaran serta patroli di kawasan pelepasliaran. Kali ini saya berkesempatan untuk ikut langsung dalam kegiatan penyelamatan. “Sungguh, gelisah sekali. Saya membayangkan bagaimana menghadapi berbagai kemungkinan, baik maupun buruk yang bisa terjadi selama proses penyelamatan.”.

Syukurnya, selama kegiatan rescue berjalan dengan lancar. Kerja bersama warga Sabintulung, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kaltim dan tim APE Crusader COP menjadikan aksi penyelamatan ini dapat terlaksana dengan baik. Hilangnya habitat orangutan membuka mata saya, hutan yang selama ini tim APE Guardian jaga, mungkin menjadi satu-satunya rumah yang tersisa yang bisa membuat orangutan nyaman. Rumah yang penuh dengan pakan orangutan, tempat tinggal yang memungkinkan orangutan satu bertemu dengan orangutan lain bahkan perjumpaan dengan satwa liar lain dengan suara khas hutan hujan Kalimantan.

Jaring pun terbentang, orangutan jantan yang kehilangan habitat telah berhasil ditembak bius, sesaat lagi dia akan jatuh. Kami harus memastikan dia tidak terluka dan siap untuk ditranslokasi. Iya, kami memindahkannya dari tempatnya sekarang ke Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat di Busang, dimana biasanya saya patroli. Jangan ditanya apa yang orangutan liar lakukan saat pintu kandang angkut dibuka. Dapat dipastikan dia melesat keluar dengan cepat, harum hutan tak akan bisa menahannya. (IGO)

SETAHUN BERLALU, ORANGUTAN PALUY TERTANGKAP KAMERA JEBAK

Masih ingat dengan Paluy? Orangutan jantan dewasa yang diselamatkan oleh Tim Wildlife Rescue Unit (WRU) Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur pada 22 Juli 2024. Ia ditemukan dalam kondisi lemah dengan tubuh sangat kurus di area perkebunan warga. Di sana Paluy terjebak konflik dengan manusia. Tubuhnya yang kurus sebuah tanda yang jelas bahwa ia telah lama kekurangan nutrisi.

Setelah dievakuasi, Paluy kemudian masuk ke klinik orangutan di BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance) yang dikelolah Centre for Orangutan Protection (COP) di Berau untuk menjalani perawatan intensif untuk memulihkan kondisi fisiknya dari malnutrisi, serta membangun kembali energi dan semangat hidupnya. Pemulihan tidak datang secara instan, tetapi melalui proses yang perlahan dan konsisten. Hingga akhirnya, pada 11 Januari 2025, Paluy dilepasliarkan di Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat, kabupaten Kutai Timur, kembali ke tempat di mana ia bisa hidup liar, bebas, dan dalam habitat yang terjaga.

Setahun telah berlalu, pada 24 Februari 2026, orangutan Paluy kembali terpantau melalui rekaman kamera jebak tim monitoring APE Guardian COP. Kamera jebak tersebut sengaja dipasang untuk memantau keberadaan orangutan dan satwa lainnya di hutan tersebut. Paluy tampak berjalan di atas tanah dan berdiri di depan kamera jebak sambil memperhatikan sekitar.

“Melalui pengamatan visual, kondisi Paluy mengalami perkembangan yang signifikan dilihat dari bodyscore yang bertambah baik dan rambut bertambah lebat”, kata drh. Theresia, dokter hewan COP. Hal ini menandakan keberadaan hutan lindung masih terjaga dan memiliki daya dukung yang cukup untuk menopang kebutuhan satwa yang ada. Sekali lagi, Paluy menuai harpa baru di rumah keduanya, tempat yang aman bagi orangutan untuk melanjutkan kehidupan. (YUS)

JEJAK YANG TIDAK DITEMUKAN, KEKHAWATIRAN YANG TETAP TINGGAL

Sebuah laporan masyarakat tentang kemunculan Harimau Sumatra di area perkebunan warga. Tidak ada foto. Tidak ada bukti visual. Hanya cerita tentang rasa takut, tentang kemungkinan, tentang sesuatu yang mungkin lewat, atau mungkin tidak pernah benar-benar ada.

Tim APE Protector bersama BKSDA Sumatera Barat datang bukan untuk memastikan ketakutan itu benar, tetapi untuk memverifikasi sebuah kata yang sering terdengar teknis, tapi di langan berarti berjalan, mengamati, dan membaca tanda-tanda yang sering kali samar.

Perkebunan itu tyda sunni. Ada jejak aktivitas manusia, tanaman, jalur setapak, dan ruang-ruang yang perlahan berubah dari hutan menjadi sesuatu yang lain. Di tempat seperti ini, batas antara ruang manusia dan ruang satwa liar tidak pernah benar-benar jelas. Dan di sanalah tim mulai mencari. Jejak kaki. Cakaran. Sisa kotoran. Tanda-tanda kecil yang jika ada, bisa mengubah cerita dari sekedar dugaan menjadi kenyataan.

Namun tidak ada yang ditemukan. Tidak ada tanda keberadaan Harimau Sumatra di lokasi pertama. Tidak ada bukti bahwa satwa itu benar-benar melintas atau mungkin ia sudah lama pergi sebelum manusia menyadarinya. Dalam banyak kasus konflik satwa liar, ketidakhadiran justru menjadi bagian dari cerita. Harimau Sumatra dikenal sebagai satwa yang soliter dan sangat adaptif terhadap lingkungannya. Ia bisa muncul tanpa terlihat dan menghilang tanpa jejak yang mudah dibaca manusia.

Dan justru di situlah persoalan menjadi lebih kompleks. Karena yang dihadapi bukan hanya keberadaan satwa, tetapi juga persepsi manusia terhadap kemungkinan keberadaan itu. Tim kemudian bergerak ke lokasi lain perkebunan milik Wali Nagari Air Manggih. Berbeda dengan lokasi sebelumnya, area ini bukan sekadar titik laporan, tetapi ruang yang sudah memiliki “riwayat”. Tempat dimana harimau disebut lebih sering muncul. Bukan sekali, bukan kebetulan.

Ada pola atau setidaknya, dugaan adanya pola. Di Sumatra Barat sendiri, laporan konflik antara manusia dan Harimau Sumatra bukan hal baru. Dalam beberapa bulan terakhir, kasus-kasus seperti kemunculan di perkebunan, pemangsaan ternak, hingga jejak lintasan di dekat permukiman terus dilaporkan. Namun, pola itu tidak selalu berarti ancaman yang ama di setiap lokasi.

Kadang, ia hanya lintasan. Kadang, ia bagian dari pergerakan alami mencari makan, mencari wilayah atau sekadar melewati ruang yang dulunya adalah habitatnya. Perubahan lanskap, terutama akibat alih fungsi hutan menjadi perkebunan telah mempersempit ruang hidup satwa liar dan memaksa mereka beradaptasi dengan ruang yang semakin terbatas. Dan di titik itulah manusia dan harimau mulai “bertemu”.

Bukan karena keduanya ingin, tetapi karena ruang di antara mereka semakin tipis. Di lokasi kedua ini, tim tidak hanya mencari mereka mulai memasang kamera jebak. Sebuah alat yang dalam konteks seperti ini menjadi perpanjangan dari pengamatan manusia. Ia tidak mengandalkan dugaan atau cerita. Ia menunggu. Diam. Mereka apa yang benar-benar lewat, bukan apa yang dikhawatirkan akan lewat. Keputusan memasang kamera jebak bukan sekadar langkah teknis. Ia adalah cara untuk memindahkan narasi dari asumsi ke data. Karena dalam konflik satwa liar, kesalahan membaca situasi bisa berujung panjang baik bagi manusia maupun bagi satwa itu sendiri.

Harimau Sumatra yang kini berstatus kritis dengan populasi yang diperkirakan hanya ratusan individu di alam liar, hidup dalam tekanan yang tidak sederhana. Di satu sisi, ia harus bertahan hidup. Di sisi lain, ruang hidupnya terus menyempit. Dan di tengah itu, setiap laporan kemunculan bisa menjadi titik awal dari dua kemungkinan yaitu perlindungan atau konflik yang lebih besar.

Hari itu, tidak ada harimau yang terlihat. Tidak ada bukti yang mengonfirmasi kehadirannya di lokasi pertama. Hanya tanah yang tetap sama, pohon yang tetap berdiri, dan perkebunan yang berjalan seperti biasa. Namun, pekerjaan tidak berhenti di sana. Karena dalam konservasi, ketidakhadiran bukan berarti selesai.

Justru sebaliknya ia menjadi alasan untuk terus memantau, terus memahami, dan terus menjaga jarak yang semakin tipis antara manusia dan satwa liar. Kamera jebak yang dipasang akan bekerja dalam diam. Dan mungkin, beberapa hari atau minggu kemudian, ia akan menangkap sesuatu sepasang mata di malam hari, bayangan yang bergerak cepat atau bahkan tidak ada sama sekali.

Keduanya sama pentingnya, karena dalam ruang yang terus berubah ini, memahami apa yang tidak terjadi sering kali sama pentingnya dengan memahami apa yang benar-benar terjadi. Di antara itu semua, satu hal tetap jelas yaitu konflik tidak selalu dimulai dari pertemuan. Kadang dimulai dari ruang yang perlahan hilang. (APE Protector)