BETWEEN SKY AND CANOPY

High above the canopy, an Oriental pied hornbill (Anthracoceros albirostris) pauses on a bare branch, its pale casque and curved bill set against the open sky. A wide-ranging bird of forests, mangroves, and river edges, it feeds largely on fruit, playing an important role as a seed disperser. By carrying seeds across distances, it helps shape and regenerate the very forest it depends on.

Not far away, a Bornean orangutan (Pongo pygmaeus) moves carefully through the trees. Endemic to Borneo, this great ape spends nearly its entire life in the canopy. Feeding on fruits, leaves, and bark. Building a new nest almost every evening. Intelligent and remarkably patient, orangutans reproduce slowly, with females raising a single infant for years

DI ANTARA LANGIT DAN KANOPI

Di atas kanopi hutan, seekor Kangkareng perut-putih (Anthracoceros albirostris) bertengger di dahan yang menjulang, paruh besarnya membentuk siluet di bawah langit terbuka. Ia adalah pengelana hutan yang mengunjungi tepian sungai, hutan sekunder, hingga hutan mangrove, memakan buah dan menyebarkan biji ke berbagai penjuru. Tanpa disadari, setiap perjalanannya ikut menjaga siklus regenerasi hutan.

Tak jauh darinya, satu individu orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) bergerak perlahan di antara daun-daun. Hampir seluruh hidupnya dihabiskan di atas pohon untuk mencari buah, beristirahat, dan merangkai sarang baru setiap senja. Dengan siklus reproduksi yang lambat dan pengasuhan anak yang panjang, keberlangsungan hidup orangutan sangat bergantung pada hutan yang utuh dan terus terhubung.

Mereka tidak berada di dahan yang sama, tidak pula menempuh jalur yang sama. Namun mereka berbagi lanskap yang sama.

Keduanya merupakan satwa yang dilindungi hukum di Indonesia. Keduanya tidak boleh diburu, diperdagangkan, atau disakiti. Kehadiran mereka dalam satu bingkai adalah momen yang langka, pertemuan singkat antara dua penjaga kanopi dalam ruang yang terus berubah.

Menyaksikan rangking dan orangutan dalam satu pandangan terasa seperti sebuah kehormatan yang sunyi, pengingat bahwa kehidupan liar masih bertahan di antara langit dan hutan. Bukan hanya untuk dikagumi, tetapi untuk dijaga dan dilestarikan. (DIM)

BELAJAR PERCAYA DI TENGAH PROSES ADAPTASI

Perjalanan Felix selama periode ini menunjukkan kombinasi antara perkembangan dan tantangan adaptasi. Secara kesehatan, kondisi Felix telah membaik setelah sempat mengalami gejala pilek di awal bulan. Saat ini, ia sudah kembali aktif mengikuti sekolah hutan, meskipun dalam beberapa kesempatan masih menunjukkan keraguan untuk keluar dari kandang.

Dalam aktivitas di sekolah hutan, Felix cukup sering beraktivitas di atas pohon, terutama saat merasa nyaman. Ia terlihat aktif mencari makan, mengonsumsi buah mentah, kambium, dan bagian tumbuhan lainnya. Bersama Pansy, Felix juga kerap melakukan aktivitas bersama, seperti berpindah dari pohon ke pohon dan megeksplorasi area hutan, menunjukkan adanya ikatan sosial yang cukup kuat.

Namun, Felix masih menunjukkan sensitivitas terhadap kehadiran manusia tertentu, khususnya animal keeper laki-laki. Hal ini terkadang membuatnya enggan keluar kandang atau ingin kembali lebih cepat saat sesi sekolah hutan berlangsung. Ia juga cenderung mengikuti pergerakan babysitter sebagai bentuk rasa aman, yang menjadi bagian penting dalam proses adaptasinya.

Meski demikian, Felix tetap menunjukkan potensi yang baik dalam pembelajaran keterampilan alami. Dengan kondisi fisik yang stabil dan pola fese normal, fokus selama periode ini adalah membangun rasa percaya diri dan kemandirian, sehingga ia dapat lebih konsisten dalam mengikuti kegiatan sekolah hutan. (RAF)

MELEPASLIARKAN BUKAN SEKEDAR MENGEMBALIKAN

Pada 26 Februari 2026, Tim gabungan dari BKSDA Sumatra Barat, KPHP Pasaman Raya, dan Centre for Orangutan Protection menggagalkan upaya perdagangan ilegal satu individual Tapir Asia. Ia ditemukan di atas kendaraan dalam perjalanan panjang menuju Sumatera Utara menuju sebuah tujuan yang tidak pernah ia pilih.

Tubuhnya bercerita lebih dulu sebelum siapa pun bertanya. Luka di pergelangan kaki menunjukkan bekas jerat. Tali yang terlalu lama mengikat meninggalkan jejak yang dalam. Di bagian kepala dan tubuh, luka lain terlihat jelas. Ia tidak dalam kondisi baik. Ia tidak siap untuk apa pun kecuali bertahan. Dan bertahan saja tidak cukup.

Selama kurang lebih 14 hari, tapir itu dirawat. Bukan sekedar diberi makan dan obat, tetapi dipulihkan perlahan. Di kantor BKSDA Sumatera Barat Seksi Konservasi Wilayah I Bukittinggi, tim medis bekerja tanpa banyak sorotan. Dokter hewan dan perawat satwa memastikan luka-luka itu mengering, infeksi tidak menyebar dan tubuhnya kembali cukup kuat untuk berdiri.

Merawat dalam konteks ini, bukan tindakan heroik. Ia adalah kerja rutin. Berulang. Kadang membosankan. Tapi justru di situlah letak pentingnya. Karena tanpa perawatan, penyelamatan berhenti di tengah jalan. Namun ada satu hal yang membuat proses ini tidak sederhana, karena statusnya sebagai barang bukti.

Tapir itu bukan hanya korban. Ia juga bagian dari perkara hukum. Artinya, setia[ langkah terhadap dirinya harus melalui koordinasi dengan kepolisian, kejaksaan, dengan sistem yang tidak selalu bergerak cepat. Bersama Kepolisian Resor Pasaman dan Kejaksaan Negeri Pasaman, keputusan akhirnya diambil. Tapir itu tidak harus menunggu persidangan. Ia bisa dilepasliarkan lebih cepat. Sebuah keputusan yang terdengar sederhana, tetapi menentukan. Karena waktu, bagi satwa liar bukan sekedar angka.

Pelepasliaran sering kali dipahami sebagai akhir. Padahal, ia adalah kelanjutan. Apa yang terjadi setelahnya tidak selalu bisa dipantau, tidak selalu bisa dikendalikan. Tapi setidaknya, ia diberi kesempatan. Di luar sana, perdagangan satwa liar masih berlangsung. Jaringan yang sama masih bergerak. Permintaan yang sama masih ada. Tapir ini mungkin selamat, tapi banyak yang lain tidak.

Di titik ini, pelepasliaran menjadi lebih dari sekadar tindakan konservasi. Ia menjadi pengingat bahwa setiap penyelamatan selalu datang terlambat bagi sebagian yang lain. Dan hanya merawat dalam segala keterbatasan adalah cara paling nyata untuk melawan. Bukan dengan cara yang besar. Bukan dengan cara yang cepat. Tetapi dengan memastikan bahwa satu nyara tidak hilang sia-sia. (APE Protector)