BERKELANA SEMAKIN JAUH BERSAMA ASTUTI

Menjalani rutinitas yang berulang tentu saja dapat berujung pada kebosanan. Suasana terasa monoton dan tidak ada tantangan baru yang menarik. Kejemuan inilah yang dirasakan Astuti ketika sekolah hutan. Semua pepohonan di area utama serasa telah dijelajah. Rumbaian rambutan yang ranum pun telah puas ia lahap. Astuti juga lelah menghadapi Jainul yang selalu menggigit tubuhnya untuk mengajaknya bermain di lantai hutan. Tak ayal lagi, Astuti bergegas menjauhi Jainul ketika gigitannya mulai beranjak ke tubuh orangutan lain. Astuti tahu apa yang ia inginkan, yakni penjelajahan yang lebih menantang.

Berjalan dengan senyap di lantai hutan yang lembab, Astuti memasuki hutan lebih dalam. Terkadang ia juga berayun di akar gantung dan dahan rendah. Sepanjang jalur yang dilalui, belum ada jalan setapak yang terbentuk dan terdapat beberapa pohon rebah yang melapuk. Vegetasi di area ini cukup rapat dengan stratifikasi yang kompleks hingga sinar matahari pun sulit mencapai lantai hutan.

Perjalanan Astuti terhenti di suatu pohon yang menarik perhatiannya. Buah ini berbentuk seperti tetesan air dengan panjang 2-3 cm, berwarna kuning, beraroma manis, dan daging buahnya sangat berserat. Ia makan dan mengeksplorasi pohon ini selama 10 menit hingga akhirnya berpindah ke pohon tarap melalui jalinan liana.

Pohon tarap (Artocarpus elsticus) ini menjulang hingga 25 meter dengan diameter batang lebih dari 1 meter dan memiliki akar banir setinggi dada manusia dewasa. Dengan ukuran sebesar ini dapat dipastikan bahwa pohon ini sudah sangat berumur. Ada berbagai jenis liana dan paku-pakuan yang menjalar di batangnya. DI bawah naungannya, tumbuh banyak lumut daun yang berperan dalam siklus nutrisi dan pengaturan suhu tanah.

Postur pohon yang tinggi besar ini menarik Astuti untuk mengeksplorasinya secara vertikal. Karena ukuran batang yang terlalu besar dan sulit dipanjat, ia menggunakan jalinan liana untuk mencapai pucuk pohon. Ternyata lapisan kanopi pohon ini juga telah dihuni banyak tumbuhan. Tiap kali Astuti berayun, banyak serpihan kering yang berhamburan layaknya gerimis.

Menjelajahi area baru sendirian tentunya berasa mendebarkan bagi orangutan rehabilitan. Astuti kerap turun sejenak untuk memastikan keberadaan observer yang tetap berada di sekitarnya. Setelah kami saling berkontak mata, Astuti akan kembali sibuk di kanopi pohon yang rimbun. Hal ini menjadi perkembangan yang baik bagi orangutan di pusat rehabilitasi. Insting liarnya untuk menjelajah semakin terasah, keberaniannya dalam eksplorasi kian meningkat, dan pengetahuannya akan navigasi area yang familiar pun bertambah. (FAR)

TAK PERLU TAKUT, ULAR JUGA MENJAGA ALAM

Ular sering kali dipandang sebagai satwa yang menakutkan, padahal mereka memiliki peran besar bagi alam dan kehidupan manusia. Di sawah dan perkebunan, ular membantu petani dengan memangsa tikus dan hewan pengerat lain yang dapat merusak tanaman. Tanpa disadari, kehadiran ular ikut menjaga keseimabgnan ekosistem dan membantu mengurangi hama secara alami, tanpa bahan kimia.

Saat musim hujan dan banjir, ular kadang terlihat di sekitar pemukiman karena habitatnya tergenang air. Hal ini bukan karena ingin menyerang manusia, melainkan karena mereka mencari tempat yang lebih aman dan kering. Dengan mengenal jenis ular dan memahami perilakunya, kita bisa tetap waspada tanpa harus bersikap kasar atau menyakiti satwa yang sebenarnya hanya sedang berusaha bertahan hidup.

COP juga beberapa kali turut membantu penanganan ular di kawasan permukiman. Salah satunya adalah ular yang terlihat pada foto ini, ular sanca kembang (Phyton reticulatus) berjenis kelamin betina yang diperkirakan masih berusia di bawah satu tahun. Ular tersebut ditemukan di salah satu rumah warga dalam kondisi baik dan sehat, dengan panjang kurang lebih 1,5 meter. Setelah dievakuasi dengan aman, ular ini dikembalikan ke habitat alaminya agar dapat kembali menjalankan perannya sebagai pengendali keseimbangan ekosistem. Saat dilepaskan, ular tersebut sempat beradaptasi sejenak dengan lingkungan sekitarnya sebelum akhirnya melanjutkan perjalanannya menuju tempat yang lebih aman.

Kisah tentang ular mengingatkan kita untuk lebih peka terhadap lingkungan di sekitar. Alam terus berubah, dan satwa liar kerap menjadi pihak yang paling terdampak. Dengan menumbuhkan rasa empati, belajar memahami peran setiap makhluk hidup, serta menjaga keseimbangan alam, kita turut menciptakan ruang hidup yang lebih aman dan harmonis bagi manusia maupun satwa liar. (DIM)

73 KASUS DAN 100 TERSANGKA DALAM 14 TAHUN MELAWAN KEJAHATAN SATWA LIAR

Centre for Orangutan Protection (COP) telah aktif membantu aparat penegak hukum dalam memerangi kejahatan satwa liar di Indonesia selama 14 tahun terakhir. Hingga kini, sedikitnya 73 kasus kejahatan satwa liar berhasil diungkap dengan 100 orang pelaku diproses hingga memperoleh putusan hukum.

Sejumlah kasus besar perdagangan satwa liar berhasil digagalkan melalui operasi panjang bersama Kementerian Kehutanan dan Kepolisian Republik Indonesia (POLRI). Kasus-kasus tersebut mencakup perdagangan orangutan, bagian tubuh Harimau Sumatra, badak, hingga satwa liar lainnya seperti trenggiling, burung, dan satwa dilindungi lainnya.

“Dalam kurun waktu 14 tahun, COP secara aktif membantu aparat penegak hukum dalam pendalaman hingga pengungkapan kasus kejahatan satwa liar. Sinergi ini harus terus diperkuat untuk menekan angka kejahatan satwa liar yang masih terus terjadi. Setidaknya, COP telah membantu pengungkapan 73 kasus melalui berbagai operasi, dengan 100 pelaku mendapatkan putusan hukum. Kolaborasi penegakan hukum ini akan terus kami dorong sebagai bagian dari aksi nyata melawan kejahatan besar ini”, ujar Hery Susanto, Koordinator Animal Rescue COP.

Melalui operasi-operasi tersebut, sedikitnya 300 individual satwa liar dilindungi dari 61 jenis berhasil diselamatkan, serta puluhan bagian tubuh satwa dilindungi berhasil disita oleh negara. Upaya penegakan hukum menjadi bagian penting dalam perlindungan keanekaragaman hayati Indonesia, mengingat kejahatan satwa liar merupakan ancaman serius terhadap kelestarian satwa di alam.

Untuk memenuhi permintaan pasar ilegal, pemburu kerap mengambil satwa dari alam dengan cara yang sangat kejam, seperti menjerat Harimau Sumatra atau menembak mati induk primata seperti orangutan dan lutung jawa demi mengambil anaknya. Harga jual yang tinggi serta tingginya permintaan dari para penghobi satwa liar membuat kejahatan ini terus berulang.

“Kejahatan satwa liar terus tumbuh seiring tingginya permintaan pasar. Pemburu mengambil satwa dari alam karena adanya nilai jual yang besar. Dalam kasus orangutan, induknya dibunuh untuk diambil anaknya yang memiliki nilai jual tinggi. Hal serupa terjadi pada harimau yang dibunuh untuk diambil kulit dan bagian tubuh lainnya, serta badak yang diburu demi culanya. Kemudahan komunikasi melalui media sosial juga membuat kejahatan ini berkembang dengan pola yang lebih modern dan canggih”, tambah Hery Susanto.

Kejahatan satwa liar juga bersifat lintas batas negara, dengan satwa liar Indonesia diperdagangkan ke luar negeri. Salah satu kasus terbaru adalah penyeludupan orangutan asal Indonesia ke Thailand. Pada Desember 2025, Pemerintah Indonesia bersama berbagai pihak termasuk COP, berhasil memulangkan tiga individual orangutan Sumatra dan 1 orangutan Tapanuli yang diselamatkan dari perdagangan ilegal di Thailand.

“Kejahatan ini tidak hanya terjadi di dalam negeri. COP telah membantu pemerintah Indonesia dalam proses repatriasi orangutan dari perdagangan ilegal di Thailand sebanyak tiga kali, yaitu pada tahun 2019, 2023, dan 2025. Total terdapat sembilan individual orangutan yang berhasil dipulangkan, seluruhnya merupakan hasil penyeludupan untuk perdagangan ilegal”, jelas Hery Susanto.

Melawan kejahatan satwa liar membutuhkan komitmen kuat dari seluruh pihak. Selain penegakan hukum, menghentikan keinginan untuk membeli satwa liar juga menjadi langkah penting untuk menekan permintaan dan mencegah kejahatan ini terus terjadi.

Kontak Media:
Hery Susanto
Koordinator Animal Rescue – Centre for Orangutan Protection (COP)
No HP 0812-8483-4363