KESERUAN EDUKASI KONSERVASI ORANGUTAN DI SANGGAR PELITA

Minggu siang, 11 Januari 2026, Kota Medan menghadirkan atmosfer yang berbeda bagi kami. Saat banyak orang menikmati akhir pekan, kami justru riuh mempersiapkan keberangkatan menuju Sanggar Pelita. Sinergi terjalin kuat antara APE Sentinel dan relawan Orangufriends. Kami disatukan oleh satu misi sederhana namun vital, yaitu membawa edukasi konservasi ke ruang belajar anak-anak. Persiapan dilakukan sejak pagi, memastikan setiap personel memahami perannya sebelum roda kendaraan berputar tepat pukul 11.00 WIB.

Tantangan terbesar hari itu adalah waktu. Kami hanya memiliki jendela efektif selama satu jam, dari pukul 12.00 hingga 13.00 WIB. Menyadari keterbatasan tersebut, pembagian tugas dirancang dengan presisi namun tetap fleksibel. Ndaru dan Qaila bertindak sebagai pemandu acara sementara Nadira menyiapkan materi utama yang padat. Di sisi hiburan, duo Sintia dan Sarah bertugas memecah kebekuan lewat ice breaking, didukung kehadiran maskot orangutan di tengah teriknya cuaca Medan. Laras dan Tirta bersiap-siap di balik lensa, mengabadikan setiap momen berharga.

Begitu acara dimulai, kekhawatiran soal waktu seolah sirna, tergantikan oleh ledakan energi positif. Ruang Sanggar Pelita seketika hidup oleh tawa dan antusiasme anak-anak. Materi edukasi tak berjalan satu arah, melainkan menjelma menjadi interaksi hangat, terutama saat maskot orangutan muncul dan mencuri perhatian. Anak-anak bertanya, bereaksi, dan tertawa lepas. Interaksi jujur inilah yang menjadi nyawa kegiatan, membuktikan bahwa edukasi lingkungan dapat disampaikan dengan cara yang menyenangkan.

Satu jam singkat itu ditutup dengan sesi foto bersama, membingkai senyum anak-anak dan tim dalam satu kenangan. Meski berdurasi pendek, momen di Sanggar Pelita meninggalkan jejak yang dalam. Kegiatan ini menegaskan bahwa edukasi COP bukan sekadar menjalankan program, melainkan pertemuan tulus antara semangat tim dan rasa ingin tahu anak-anak. Kami pulang dengan keyakinan bahwa benih kepedulian yang ditanam hari ini akan tumbuh menjadi sesuatu yang berarti di masa depan. (Ndaru_Orangufriends)

HARI-HARI ORANGUTAN REPATRIASI BERADA DI SRA

Genap sudah 21 hari Raiking, Noon, Jay, dan Bow berada di SRA (Sumatran Rescue Alliance) di balik kandang karantina sejak tiba di tanah air pada 24 Desember 2025 lalu. Selama di SRA setiap satwa yang masuk karantina diamati, selain perilakunya ini penting juga untuk kesehatan satwanya ketika dikarantinakan. Oke pertama-tama kita mulai dari si Raiking.

Raiking, si kecil ber-cheekpad adalah orangutan yang paling aktif dan menjadi yang pertama terbangun, bukan karena “morning person” tapi ia terlihat dari awal sebagai pejantan alfa dikarenakan cheekpad-nya yang sudah tumbuh. Raiking selalu mengamati sekeliling sambil terkadang bermain dengan Noon (teman sekandangnya). Para perawat satwa mencatat bahwa Ranking menunjukkan rasa ingin tahu yang tinggi, namun tetap tenang. Ia sudah mampu merangkai dedaunan dan ranting untuk menjadi sarang sederhana, sebuah perilaku alami yang menandakan insting liarnya masih terjaga dengan baik.

Teman sekandangnya si Noon sama seperti Raiking, bedanya Noon paling cerewet dan manja ketika jadwal makan dan pemberian susunya datang. Ia sering terlihat bermain dengan karung kain yang menjadi selimut tidurnya yang disediakan perawat sebagai enrichment. Noon dan Raiking dari awal sudah dapat beradaptasi terutama dari segi pakan yang saat ini mulai dirubah dari buah-buahan menjadi banyak sayur-mayur, hal ini menjadi baik ketika orangutan terbiasa memakan makanan yang tidak terasa manis dan matang, hal ini akan memudahkan mereka dikemudian hari ketika dilepasliarkan.

Jay, dikenal paling playful. Ia kerap bergelantungan, menjatuhkan buah dengan sengaja, lalu mengambilnya kembali sambil bermain. Para perawat satwa dan dokter hewan mencatat Jay memiliki response positif terhadap interaksi lingkungan dan perubahan pakan. Proses penyesuaian makanan sedang dilakukan secara bertahap, meskipun saat ini mereka masih diberikan susu untuk perkembangan tubuhnya tetapi tetap diberikan pakan berupa variasi buah, sayuran, dan dedaunan dan Jay dapat mengikuti seiring berjalannya waktu mencoba semua jenis pakan yang diberikan.

Sementara itu Bow, menunjukkan kepekaan yang tinggi meskipun terkadang tantrum tidak mau jauh dari Jay. Bow adalah orangutan karantina yang lebih sensitif dibandingkan yang lain, hal ini dimungkinkan diulurnya yang terbilang masih sangat muda seharusnya masih dalam lindungan dan gendongan sang induk, meskipun begitu Bow sering membuat sarang dan berlatih bergelantungan bersama Jay ketika perawat satwa dan dokter hewan tidak di dekat kandang. Hal ini memperlihatkan kemajuan signifikan. Bow kini mampu menyusun sarang kecil di malam hari dan memilih tempat tidur yang sama secara konsisten, sebuah tanda kenyamanan di lingkungan barunya.

Selama 21 hari ini, semuanya bekerja tanpa henti. Pemeriksaan kesehatan, pemberian vitamin, susu, dan kebutuhan pakannya diperhatikan secara seksama, pemantauan perilaku, serta penyesuaian pakan dilakukan dengan penuh kehati-hatian. Keempat orangutan menunjukkan perilaku yang sangat baik di kandang tidak ada tanda stres, agresivitas, maupun gangguan makan yang berarti.

Bagi Ranking, Noon, Jay, dan Bow, SRA bukalah akhir perjalanan, melainkan tempat belajar kembali menjadi orangutan seutuhnya. Setiap sarang yang mereka buat, setiap buah yang mereka kupas sendiri, dan setiap pagi yang mereka jalani dengan tenang adalah langkah kecil menuju satu tujuan besar, kembali ke hutan Sumatra, rumah sejati yang menanti mereka. (NAB)

JAINUL UUUUU

Di sebuah pusat rehabilitasi orangutan di Kalimantan, hiduplah satu individu orangutan remaja bernama Jainul. Di kalangan animal keeper, Jainul terkenal sebagai si jail dan nakal. Kalau keeper membersihkan tempat tidur Jainul, ia akan menarik masker atau pun topi para keeper. Di sekolah hutan Jainul juga suka mengejar dan menggigit sepatu boot para keeper cewek sebagai bentuk keusilan Jainul. Pokoknya, tidak ada hari tanpa keusilannya.

Namun, ada satu hal yang membuat para keeper heran yaitu, Jainul sangat takut dengan suara “uuuuu”. Yang lucu adalah suara “uuuuu” itu bukan suara misterius atau suara satwa lain. Itu sebenarnya kode sapaan antar keeper ketika mereka sedang berada di dalam hutan supaya bisa mengetahui posisi satu sama lain tanpa harus teriak nama.

“Uuuuuuuuuu!”, teriak salah satu keeper di antara pepohonan.

“Uuuuu!”, balas keeper lain dari kejauhan.

Suara itu menggema di batang pohon dan dedaunan. Bagi para keeper, itu hal biasa dan penting untuk keselamatan serta koordinasi. Tapi bagi Jainul… itu suara mengerikan. Setiap kali mendengar “uuuuu!”, Jainul langsung lari terbirit-birit mendekati keeper cewek dan memeluknya ketakutan, seperti baru mendengar suara yang sangat mengerikan.

Suatu hari, keeper muda bernama Kak Tedy yang bertugas ikut masuk ke area forest school. Ia menyapa keeper lain dengan lantang, “Uuuuuuuu!”.

Keeper lain menjawab, “Uuuuuuuu!”, begitupun juga aku.

Begitu mendengar itu, Jainul yang sedang asik bermain bersama temannya di akar gantung liana langsung terkejut dan menjatuhkan diri lalu lari panik memeluk keeper cewek. Aku pun bingung, “Loh… kempa Jainul begitu”.

Keeper Rara tertawa, “Begitulah dia. Jail sama kita, jail sama orangutan lain, tapi begitu mendengar suara “uuuuuuuu”, langsung lari seperti dikejar predator.”.

Keesokan hari, aku mendekati Jainul pelan-pelan di sekolah hutan, Jainul sambil mengunyah buah, sesekali melirik curiga. “Kita di hutan pakai suara itu bukan buat nakuti kamu”, kataku. “Itu cuman cara kita bilang, “Hei, aku di sini, kamu di sana. Supaya kita semua aman”.

Jainul menatapku, seperti sedang mempertimbangkan apakah penjelasan itu layak dipercaya. Sesaat kemudian, saat Tim APE Defender masuk ke forest school, keeper berteriak, “Uuuuuuuu!”. Tapi kali ini, Jainul tidak lari sekencang kemarin. Ia hanya berhenti, menoleh, lalu memanjat pohon pelan-pelan tanpa drama.

Mba Rara yang melihat itu tersenyum bilang, “Kemajuan, nih!”.

Seiring waktu, Jainul mulai paham bahwa suara “uuuuu”, bukan ancaman. Itu hanya kode manusia aneh, keras, tapi tidak berbahaya. Dan meski Jainul tetap jail (karena sudah sifatnya), setidaknya kini ia tidak lagi terlalu panik setiap mendengar para keeper saling menyapa di hutan ya walaupun masih agak kagetan.

Di BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance), Jainul tumbuh sebagai orangutan jail yang suatu hari nanti, ketika sudah cukup mandiri akan kembali pulang ke hutan bebas dan siap menghadapi suara apapun… kecuali mungkin “uuuuuuuu”. (LUK)