JAINUL UUUUU

Di sebuah pusat rehabilitasi orangutan di Kalimantan, hiduplah satu individu orangutan remaja bernama Jainul. Di kalangan animal keeper, Jainul terkenal sebagai si jail dan nakal. Kalau keeper membersihkan tempat tidur Jainul, ia akan menarik masker atau pun topi para keeper. Di sekolah hutan Jainul juga suka mengejar dan menggigit sepatu boot para keeper cewek sebagai bentuk keusilan Jainul. Pokoknya, tidak ada hari tanpa keusilannya.

Namun, ada satu hal yang membuat para keeper heran yaitu, Jainul sangat takut dengan suara “uuuuu”. Yang lucu adalah suara “uuuuu” itu bukan suara misterius atau suara satwa lain. Itu sebenarnya kode sapaan antar keeper ketika mereka sedang berada di dalam hutan supaya bisa mengetahui posisi satu sama lain tanpa harus teriak nama.

“Uuuuuuuuuu!”, teriak salah satu keeper di antara pepohonan.

“Uuuuu!”, balas keeper lain dari kejauhan.

Suara itu menggema di batang pohon dan dedaunan. Bagi para keeper, itu hal biasa dan penting untuk keselamatan serta koordinasi. Tapi bagi Jainul… itu suara mengerikan. Setiap kali mendengar “uuuuu!”, Jainul langsung lari terbirit-birit mendekati keeper cewek dan memeluknya ketakutan, seperti baru mendengar suara yang sangat mengerikan.

Suatu hari, keeper muda bernama Kak Tedy yang bertugas ikut masuk ke area forest school. Ia menyapa keeper lain dengan lantang, “Uuuuuuuu!”.

Keeper lain menjawab, “Uuuuuuuu!”, begitupun juga aku.

Begitu mendengar itu, Jainul yang sedang asik bermain bersama temannya di akar gantung liana langsung terkejut dan menjatuhkan diri lalu lari panik memeluk keeper cewek. Aku pun bingung, “Loh… kempa Jainul begitu”.

Keeper Rara tertawa, “Begitulah dia. Jail sama kita, jail sama orangutan lain, tapi begitu mendengar suara “uuuuuuuu”, langsung lari seperti dikejar predator.”.

Keesokan hari, aku mendekati Jainul pelan-pelan di sekolah hutan, Jainul sambil mengunyah buah, sesekali melirik curiga. “Kita di hutan pakai suara itu bukan buat nakuti kamu”, kataku. “Itu cuman cara kita bilang, “Hei, aku di sini, kamu di sana. Supaya kita semua aman”.

Jainul menatapku, seperti sedang mempertimbangkan apakah penjelasan itu layak dipercaya. Sesaat kemudian, saat Tim APE Defender masuk ke forest school, keeper berteriak, “Uuuuuuuu!”. Tapi kali ini, Jainul tidak lari sekencang kemarin. Ia hanya berhenti, menoleh, lalu memanjat pohon pelan-pelan tanpa drama.

Mba Rara yang melihat itu tersenyum bilang, “Kemajuan, nih!”.

Seiring waktu, Jainul mulai paham bahwa suara “uuuuu”, bukan ancaman. Itu hanya kode manusia aneh, keras, tapi tidak berbahaya. Dan meski Jainul tetap jail (karena sudah sifatnya), setidaknya kini ia tidak lagi terlalu panik setiap mendengar para keeper saling menyapa di hutan ya walaupun masih agak kagetan.

Di BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance), Jainul tumbuh sebagai orangutan jail yang suatu hari nanti, ketika sudah cukup mandiri akan kembali pulang ke hutan bebas dan siap menghadapi suara apapun… kecuali mungkin “uuuuuuuu”. (LUK)

PANSY, SI PENJELAJAH BORA

Setahun yang lalu, Pansy hampir saja tumbuh di hutan bersama induknya. Saat itu, Pansy akan di-translokasi dan dilepasliarkan bersama induknya. Tapi takdir berkata lain, induk Pansy tiba-tiba menjauh. Awalnya tim mengira ia hanya mencari posisi aman. Menit demi menit berlalu dan sang induk tidak kembali. Pansy menatap sekitar dengan suara rintihan kecilnya, seolah mencari pelukan yang tak datang lagi. Saat itu, tim yang bertugas memutuskan untuk menyelamatkan dan membawanya ke Pusat Rehabilitasi BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance).

Pansy, satu-satunya bayi orangutan liar di BORA. Dengan tubuh mungilnya, ia aktif menjelajahi area sekolah hutan. Saat Pansy menyusup ke dalam tajuk, kami kesulitan untuk mengamatinya karena terlalu kecil dan pergerakannya yang sangat lihai. Faktanya, Pansy sering sekali membuat sarang di atas pohon, sehingga ia menjadi salah satu orangutan yang pintar membuat sarang yang kokoh. Pansy juga memiliki naluri yang kuat untuk mencari dan memakan pakan alami di hutan.

Waktu itu, saat sekolah hutan, Pansy tidak terlalu sering berinteraksi dengan orangutan lainnya. Ia hanya sendirian dan aktif menjelajah dan eksplorasi di atas pohon. Ia memanjat, mengintip dari tajuk, dan hanya mengamati orangutan lain dari jauh. Seolah-olah ia masih mencari tahu apakah ia aman untuk mendekat. Dan… ia langsung melanjutkan lagi aktivitasnya sendiri. Pansy lebih memilih dunia pohonnya sendiri. Dengan mencari pakan alami berupa buah-buahan, biji-bijian, kulit kayu, dan dedaunan.

Namun, seiring berjalannya waktu, kami mulai menyadari bahwa Pansy mulai berkembang dalam segi sosial. Ia mulai bersosial memuat sarang bersama Cinta. Terkadang bersama Eboni dan Mabel juga. Ada momen-momen yang jarang terjadi saat Pansy di area sekolah hutan. Ia pernah turun ke lantai hutan karena rasa bosan berada di atas pohon. Lalu, ia menggelindingkan badannya ke tanah dengan posisi kedua tangannya yang tidak tepat. Sehingga, ia terlihat gagal melakukan aksi rolling seperti orangutan lain yang biasa melakukannya. Kami hanya bisa tertawa saat melihat tingkah lucunya itu.

O iya, Pansy juga memiliki teman dekat di BORA. Dia adalah Felix. Felix yang merupakan temans ekandangnya itu sangat akrab dan sering bermain bersama. Meskipun Felix memiliki tubuh yang lebih besar dari Pansy, ia seringkali menyerang bahkan menarik rambut Felix hingga tuahnya terbanting saat bergelantungan. Hal itu membuat Felix melakukannya beberapa kali.

Seiring dengan perkembangan Pansy dari waktu ke waktu, kami tidak pernah tahu kapan Pansy akan benar-benar siap kembali ke hutan. Tapi satu hal yang pasti, setiap hari, ia semakin mendekati mimpinya menjadi orangutan liar yang mandiri. (GIT)

TRANSFORMASI RUANG EDUKASI UNTUK GAJAH SUMATRA

Tak kenal maka tak sayang, kenalin wajah baru ANECC untuk mengenal gajah, si tubuh besar dengan ingatan terbaik. Aek Nauli Elephant Conservation Center (ANECC) di Sumatra Utara dalam renovasi tim APE Sentinel COP atas arahan BBKSDA Sumut. Perbaikan menyeluruh untuk mengembalikan fungsi dan estetika ruang. Atap dan langit-langit (plafon) yang bocor diganti, pengecatan ulang seluruh dinding kayu agar kembali segar, serta penggantian detail-detail kecil pun tak luput dari perhatian tim. Sanitasi untuk menjamin kebersihan dan kenyamanan penggunanya kelak. Transformasi ini berhasil mengubah ruang yang tadinya suram menjadi fasilitas yang terang, bersih, dan sipa menyambut pengunjung.

Pembaruan fisik ini kemudian disempurnakan dengan pengayaan materi edukasi. Di dalam ruangan yang kini nyaman tersebut, COP menambahkan instalasi papan informasi (information boards) mengenai konservasi gajah dan foto profil gajah-gajah yang terdapat di ANECC. Papan-papan ini menjadi jendela informasi visual yang memikat, menjelaskan segala hal tentang Gajah Sumatra mulai dari kehidupan gajah, kerajaannya, dan konservasi gajah di Sumatera Utara. Perpaduan antara ruang yang nyaman dan informasi yang kaya menjadikan proses belajar di ANECC kini jauh lebih menyenangkan dan efektif.

Selepas renovasi di ruang edukasi ANECC, Hardo, salah satu penjaga gajah berharap bahwa para pengunjung mengetahui bahwa gajah merupakan hewan yang memiliki perasaan, penting baginya untuk para pengunjung mengetahui perasaan-perasaan gajah terutama apabila habitatnya berkurang dan dirusak. Apabila sehabis edukasi ini, pengunjung akan memahami bahwa menjaga habitat gajah sama juga menjaga perasaan para gajah.

Sebagai langkah selanjutnya, sinergi antara COP dan ANECC tidak berhenti setelah renovasi selesai. Kedua belah pihak dapat melanjutkan kerja sama dalam aspek pemeliharaan agar fasilitas yang telah diperbaiki tetap terjaga kondisinya. Wajah baru ANEE+CC ini benar-benar memberikan dampak positif yang berkelanjutan bagi pelestarian Gajah Sumatra dan satwa yang dilindungi lainnya. (AGU)