SARANG BERUANG MADU YANG MIRIP ORANGUTAN PUNYA

Dalam bekerja di hamparan hutan Sumatera Barat, tim APE Protector tidak hanya berfokus pada perlindungan habitat Harimau Sumatera. Beragamnya biodiversitas flora dan fauna di Pulau Sumatera membuat setiap patroli penuh warna. Dari perjumpaan dengan kuau raja yang anggun, rekaman kamera dari lalu-lalangnya anoa, tapir, hingga landak sumatera, semuanya menjadi bagian dari catatan penting tim di lapangan.

Namun di balik keindahan itu, tim juga dihadapkan pada tantangan lain. Belakangan ini, laporan tentang keberadaan beruang madu yang muncul di sekitar areal pemukiman warga semakin sering diterima. Untuk menindaklanjutinya, tim APE Protector bersama kelompok PAGARI setempat segera melakukan patroli. Mereka menyusuri hutan, menelusuri jejak, mengamati bekas cakaran di batang pohon, dan memasang kamera trap di lokasi yang dicurigai.

Salah satu momen berharga terjadi ketika tim menemukan sarang beruang madu di atas pepohonan tinggi, struktur besar dari ranting dan daun yang menjadi tempat beristirahat sang penghuni hutan. Sekilas, bentuknya memang mirip dengan sarang orangutan. Namun, berbeda loh! Jika sarang orangutan biasanya berbentuk bundar dan rapi di ujung cabang, sarang beruang madu cenderung tampak lebih acak dengan cabang-cabang patah karena sering digunakan untuk mencari madu atau buah di sekitar pohon itu.

Temuan ini bukan hanya bukti keberadaan beruang madu, tetapi juga tanda bahwa hutan masih menyediakan ruang hidup bagi satwa penting tersebut. Setiap patroli selalu menghadirkan kejutan baru. Bagi tim APE Protector, setiap jejak, setiap sarang, dan setiap tanda kehidupan liar adalah pengingat mengapa perjuangan mereka di hutan ini tak boleh berhenti. (DIM)

EDUKASI “SAVE ORANGUTAN’” BERSAMA KOMUNITAS JEJAK JENAKA DAN COP

Suasana area Futsal PJA, Tanjung Redeb, Berau, Kalimantan Timur pada tanggal 26 Oktober 2025 dipenuhi tawa dan semangat anak-anak. Sebanyak 95 peserta berusia 3–11 tahun berkumpul untuk mengikuti kegiatan edukasi bertema “Save Orangutan”, hasil kolaborasi antara Komunitas Jejak Jenaka dan Centre for Orangutan Protection (COP).

Peserta dibagi menjadi tiga kelompok sesuai rentang usia, dan setiap kelompok bergiliran mengunjungi tiga pos edukasi yang disiapkan. Di Pos ‘Dongeng’, kami menceritakan tentang ukuran tubuh, makanan, ancaman, dan alasan mengapa orangutan perlu dilindungi. Lalu di Pos ‘Kreasi’, kami memandu peserta membuat rope ladder dari potongan kayu dan tali, yang nantinya akan dibawa ke BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance) sebagai furnitur kandang. Sementara di Pos ‘Games’, tim bersama volunteer Jejak Jenaka mengajak
anak-anak bermain “pemburu dan penebang” serta puzzle mencocokkan hewan dilindungi dan tidak dilindungi berdasarkan pulau habitatnya. Maskot berupa kostum orangutan khas COP berkeliling sepanjang sesi, menambah keceriaan dan antusiasme peserta.

Meskipun sebagian besar peserta sangat antusias, beberapa anak tampak lebih tertarik berlarian di lapangan futsal yang luas dan bersih. Suara riuh dalam satu ruangan menjadi tantangan tersendiri bagi tim untuk menjaga fokus peserta. Setelah kurang lebih 3,5 jam penuh kegiatan seru, acara ditutup dengan pembagian doorprize. Tim kembali ke site dengan pengalaman baru dan semangat segar.

Kegiatan kolaborasi ini diharapkan menjadi bekal awal bagi peserta untuk mengenal dan berupaya melindungi orangutan serta habitatnya, sekaligus menjadi langkah awal kolaborasi positif antara COP dan berbagai komunitas peduli lingkungan lainnya. (ARA)

KETIKA HARIMAU SUMATRA MASUK KAWASAN BRIN, APE PROTECTOR HADIR DI AGAM

Semuanya berawal pada malam 15 Oktober 2025, ketika kamera CCTV LAPAN BRIN Agam menangkap sosok loreng yang melintas sunyi di antara bayangan. Seekor Harimau Sumatra ternyata masuk dan terjebak di dalam area berpagar beton setinggi dua meter! Tim gabungan dari BKSDA Sumatera Barat, PAGARI, dan COP segera bergerak cepat. Dari atap gedung dan dengan bantuan drone termal, kami memantau setiap sudut, memastikan si raja rimba masih berada di dalam kawasan.

Keesokan harinya, laporan baru pun muncul, sebuah jejak harimau ditemukan di Mudiak Palupuah dan viral di media sosial. Namun setelah diverifikasi, ternyata jejak tersebut merupakan jejak palsu yang dibuat menggunakan telapak tangan manusia. Sambil menenangkan warga, tim terus berjaga di BRIN, memasang tangga dan kamera jebak, serta mencoba menggiring harimau keluar menggunakan suara petasan dan meriam spritus.

Hingga akhirnya, setelah dua hari pemantauan intensif, tanda-tanda keberadaan harimau mulai hilang. Di tembok pagar, tim menemukan bekas cakaran dan beberapa helai rambut oranye-putih, petunjuk bahwa induk dan anak harimau itu telah berhasil keluar dari area terisolasi.

Operasi pun akhirnya dinyatakan selesai. Warga kini bisa beraktivitas kembali, sementara tim pulang dengan satu pelajaran penting, yaitu di antara pagar beton dan suara petasan malam itu, ada momen langka ketika manusia dan alam sama-sama belajar tentang batas, ruang hidup, dan cara saling menjaga. (DIV)