MENJADI PAHLAWAN UNTUK PAHLAWAN KELESTARIAN ORANGUTAN DI HARI PAHLAWAN

Di Hari Pahlawan tahun ini, cerita bayi orangutan tanpa induk yaitu Harapi, Arto, dan Felix telah dibagikan pada penggiat konservasi se-Asia dalam Wild Animal Rescue Network (WARN) Conference di Hua Hin, Thailand. Saya berkesempatan untuk mengantarkan cerita perjalanan tumbuh kembang mereka selama proses rescue hingga rehabilitasi. Dua tahun menjadi babysitter orangutan di Borneo Orangutan Rescue Alliance (BORA) membuat momen ini sangat penting, karena jadi kali pertama saya juga menceritakan seluruh perjalanan saya selama bekerja untuk mereka.

Pemulihan kondisi psikis bayi orangutan tanpa induk akibat konflik satwa liar dengan manusia menjadi topik yang saya bagikan di WARN 2025 ini. Orangutan Babies’ Trauma Recovery Journey from Being Captivated by Humans, bayi-bayi tersebut seringkali menunjukkan perilaku yang menunjukkan rasa takut dan ketergantungan berlebihan. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi babysitter yang dalam proses ini membantu orangutan mencapai kondisi yang lebih baik sekaligus mengisi peran induk.

Pagi hari pertama konferensi, setelah acara pembukaan, saya naik podium bersiap membagikan pesan dari bayi orangutan kepada audiens. Suasana venue sangat tenang, saya bisa melihat audiens terkunci pandangannya pada slide 1 materi saya dengan foto saya dengan bayi orangutan di lokasi sekolah hutan. Cerita diawali dari latar belakang bayi orangutan sebelum masuk BORA yang umumnya tidak beruntung. Di mulai dari diperlakukan seperti bayi manusia dan hewan peliharaan, tidak ditempatkan di tempat yang nyaman, hingga menjadi korban rasa kepemilikan berlebihan yang berdampak pada kondisi tubuh baik fisik maupun psikis. Di bagian ini, atmosfer konferensi penuh atensi seiring dengan rasa simpati yang muncul pada setiap foto di lapangan yang saya tampilkan.

Fakta bahwa Harapi, Arto, dan Felix kini sudah berkembang pesat, walau masih punya rasa takut dan trauma akibat apa yang mereka alami. Proses penyembuhan trauma satu bayi orangutan saja membutuhkan waktu yang sangat lama, yang mungkin sama dengan ratusan konflik bayi orangutan dengan manusia di tempat lain. Rasa haru dan bangga pada ketiganya bagaimana mereka bertahan dari awal tiba di BORA hingga hari ini dengan berbagai catatan pencapaiannya. Sebuah perasaan yang sulit dikendalikan saat gemuruh tepuk tangan setelah saya menutupnya dengan mengucapkan “Thank you”. Itu tidak berakhir di presentasi, berlanjut pada saat istirahat atau jam makan yang membuat saya sadar bahwa saya dan teman-teman di COP bukan satu-satunya pihak yang peduli dengan orangutan. Kesempatan terbaik berada di acara ini merupakan hadiah ulang tahun bermakna bagi saya selama bekerja di Centre for Orangutan Protection. Saya berharap, di hari pahlawan tahun ini, saya bisa menjadi pahlawan yang menyampaikan harapan dari Harapi, Arto, dan Felix, pahlawan yang memanjangkan kelestarian orangutan lewat daya hidup kuat mereka. (RAR)

AYAH ORANGUTAN MENGAJAR DI KELAS ANANDA

Selasa pagi bercampur mendung, suara lengkingan anak-anak Sekolah Dasar Mutiara Persada, Yogyakarta membicarakan logo orangutan yang ada di kemeja ayahnya Malika, salah satu siswa. Acara tahunan sekolahan yaitu Parent Teaching atau orang tua murid mengajar untuk mengenalkan berbagai macam profesi kepada anak-anak. Ramadhani, Manajer COP Sumatra yang merupakan orang tua Malika Khatulistiwa dengan bangga menceritakan pekerjaan yang telah digelutinya selama lima belas tahun terakhir.

Memulai cerita orangutan dan kehidupannya menarik perhatian anak-anak yang memiliki energi luar biasa aktif. Lebih dalam lagi pekerjaan di dunia konservasi khususnya pusat rehabilitasi orangutan meliputi peran dokter hewan, biologis, dan tentu saja profesi yang mereka sukai yaitu animal keeper karena dari video dan foto yang ditampilkan animal keeper yang sangat dekat dengan orangutan. Abel berteriak memilih menjadi animal keeper ketika saya tanya kalau besar ingin bekerja di penyelamatan orangutan, ingin menjadi siapa.

Di akhir sesi “orangutan” masuk kelas untuk bisa berfoto bersama, tapi ternyata malah menjadi sesi yang cukup lama karena hampir semua siswa ingin bermain dengan orangutan. Bahkan beberapa siswa laki-laki memblokade pintu keluar agar orangutan tidak bisa pulang.

“Mungkin sudah 13 tahun, saya tidak pernah lagi bercerita di depan kelas. Saya selalu mendorong relawan-relawan COP atau yang sering disebut Orangufriends untuk menjadi pemateri di setiap edukasi. Tapi hari ini, saya diminta di depan dan menceritakan kerjaan saya di depan Malika dan teman-temannya. Ternyata perjalanan yang cukup panjang dan menarik.”, ujar Ramadhani sambil tersenyum. (DAN)

HARIMAU, ORANGUTAN, DAN SENYUM ANAK SDN 09 SIMPANG UTARA, PASAMAN

Suara tawa anak-anak terdengar riuh di ruang kelas SDN 09 Simpang Utara, Kab. Pasaman, Sumatera Barat. Pada hari Jumat pagi tanggal 24 Oktober 2025, dua volunteer APE Protector, Putra dan Suci, datang membawa cerita dari hutan tentang Harimau Sumatera yang gagah dan Orangutan yang bijak. Sekolah ini dipilih bukan tanpa alasan, letaknya berdekatan dengan Suaka Margasatwa (SM) Malampah Alahan Panjang, kawasan penting yang menjadi rumah bagi satwa-satwa liar yang harus kita lindungi.

Sebanyak 29 siswa kelas 6 menyimak dengan penuh rasa ingin tahu. Melalui gambar, cerita, dan tanya jawab seru, mereka belajar mengenal karakteristik, kebiasaan makan, hingga ancaman yang dihadapi Harimau Sumatra dan Orangutan. Setiap senyum dan tatapan kagum anak-anak menjadi pengingat bahwa pendidikan lingkungan bisa dimulai dari hal sederhana, dari ruang kelas di ujung nagari yang bersinggungan langsung dengan hutan.

Kegiatan ini bukan sekadar sesi belajar, melainkan langkah kecil untuk menumbuhkan cinta besar pada alam. APE Protector berharap, dari tangan-tangan kecil di Simpang Alahan Mati ini, akan tumbuh generasi yang peduli dan berani menjaga keberlanjutan kehidupan di hutan-hutan Sumatera Barat. (DIV)