BERSAMA CHARLIE MENUJU TAHUN KE-20 COP

Centre for Orangutan Protection (COP) sedang mensyukuri perjalanannya setelah 19 tahun berjuang di dunia konservasi orangutan. Bersama dengan itu, datang harapan kelestarian satwa endemik Borneo satu ini ke Borneo Orangutan Rescue Alliance (BORA) dalam raga bayi orangutan tanpa induk. Bayi orangutan berusia kurang dari satu tahun ini datang dengan kondisi suhu tubuh yang naik turun dan nasibnya yang kurang beruntung terpisah dari induk. Syukurnya, ia dapat tiba di klinik BORA untuk meraih kesempatan hidup yang jauh lebih baik dengan dukungan tim medis dan perawat satwa. Charlie, begitu kami memanggil namanya hingga sekarang.

Charlie mudah dikenali dengan fitur wajahnya yang ikonik. Matanya besar dan akan lebih besar saat antusias, gitu pula dengan kedua gigi susu depannya yang kuat membentuk kapak. Tidak mudah bagi Charlie untuk berada di tempat baru meski sebelumnya berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Ia tidak bergantung pada manusia, namun bayi orangutan, Charlie mulai gelisah saat perawatnya bergeser sedikit lebih jauh. Genggamannya kuat, tekadnya lebih kuat. Charlie punya banyak pertumbuhan yang pesat hanya dalam satu bulan masa rehabilitasinya yang masih dalam masa karantina.

Salah satu orang yang paling tahu mengenai perkembangan Charlie di BORA adalah perawat satwa Luluk. Luluk adalah staf lokal yang rumahnya berada paling dekat dengan kantor, ia sudah menjadi perawat satwa di BORA selama 8 bulan. Menurut Luluk, merawat bayi orangutan Charlie menjadi pengalaman yang berbeda karena ini pertama kalinya Luluk menemani sejak awal Charlie bayi datang ke BORA. Luluk sangat suka bercerita di sela jadwal tugasnya, tentang setiap kegiatan Charlie pada semua orang yang ia temui.

“Charlie sudah mau bobo sendiri malam ini sambil peluk boneka sapi!”, lapor perawat satwa Luluk di hari ke-2 Charlie di BORA. Charlie mendapatkan perawatan intensif dikarenakan usianya yang masih sangat kecil dan kondisi tubuhnya yang belum stabil karena demam. Perawatan dilakukan selama 24 jam penuh setiap harinya. Asupan pakannya yang hanya bersumber dari susu juga lebih sering diberikan dibanding jadwal pemberian susu bayi orangutan lainnya yang lebih besar. Bersamaan dengan itu, ikatan relasi Charlie dengan perawat satwa Luluk semakin kuat.

Hampir satu bulan di BORA, Charlie sudah mengeksplorasi banyak hal. Ia sudah mulai mencoba pakan seperti pisang, jambu air, pepaya, jambu biji, belimbing, dedaunan, bunga-bungan, dan makanan favoritnya yaitu bunga belimbing. Sepanjang malam, Charlie juga sudah tidur di keranjangnya sendiri, lepas dari perawat satwa yang bertugas. Beberapa hari terakhir, Charlie menunjukkan perkembangan fisik dan perilaku yang signifikan. Charlie sesekali masih demam yang selanjutnya ditemukan tim medis bahwa giginya akan tumbuh. Perilaku Charlie masih sama manjanya, namun saat ini setelah ia punya mainan atau sedang asyik makan, perawat satwa bisa meninggalkan ia sendirian sesaat. Perilaku ini menunjukkan lepas ketergantungan pada manusia yang berkurang dengan harapan tak berlebihan nantinya.

Saat tulisan ini dibuat, Charlie masih menjalani masa karantina. Semua staf BORA masih bergiliran menemani Charlie bertumbuh sepanjang hari, sepanjang malam tanpa henti. Charlie bukan hanya satu bayi orangutan yang diselamatkan, namun ia hadir sebagai harapan baru untuk eksistensialis orangutan yang lebih panjang. “Aku senang Charlie udah banyak berkembang dan ga rewel lagi. Dia juga cepat sekali beradaptasi. Anak ini pintar”, jawab Luluk jika ditanya kondisi Charlie. (RRA)

TUMBUH MANDIRI DALAM EKSPLORASI DAN PERMAINAN

Arto terus menunjukkan karakter mandiri yang semakin kuat dalam kesehariannya di sekolah hutan. Ia kerap menghabiskan waktu bermain sendiri, baik di tanah maupun di akar-akar gantung yang rendah, dengan gaya eksplorasi yang aktif dan penuh rasa ingin tahu. Perilaku seperti berguling di tanah, berayun di tali, hingga menjatuhkan diri dari batang rendah menjadi bagian dari cara Arto melatih koordinasi tubuhnya.

Dalam hal eksplorasi pakan alami, Arto mulai menunjukkan perkembangan yang konsisten. Ia terlihat aktif mencari dan mencoba berbagai sumber makan seperti buah mentah, kambium, daun tua, hingga bunga. Ketertarikannya terhadap lingkungan juga tampak saat ia menjelajah semak-semak atau memperhatikan aktivitas orangutan lain, meskipun interaksi sosialnya masih tergolong terbatas dan cenderung independen.

Meski lebih sering bermain sendiri, Arto tetap menunjukkan sisi sosialnya dengan cara yang khas. Ia beberapa kali menghampiri anima keeper, baik untuk meminta makanan maupun mengajak bermain dengan cara menggigit ringan atau berinteraksi secara fisik. Di waktu lain, Arto juga terlihat mengikuti pergerakan orangutan lain dipohon, meskipun tidak selalu terlibat langsung dalam permainan bersama.

Secara keseluruhan, kondisi Arto stabil dengan pola feses yang normal. Perkembangannya saat ini menunjukkan keseimbangan antara eksplorasi lingkungan, pembelajaran pakan alami, serta pembentukan karakter mandiri dalam fase rehabilitasi bulan ini. (RAF)

SELANGKAH LAGI MENUJU KEBEBASAN UNTUK ORANGUTAN BAGUS

Saya masih ingat saat pertama kali bertemu orangutan bernama Bagus, tepat hari pertama saya bekerja sebagai animal keeper di Borneo Orangutan Rescue Alliance (BORA). Saya biasanya dipanggil Fiqoh. Seperti orang awam pada umumnya, saya belum terbiasa bersinggungan langsung dengan orangutan, sehingga saya masih sangat waspada jika ada orangutan yang mendekat ke arah saya. Saya memang alumni kehutanan, tetapi aktif di Kelompok Pemerhati herpetofauna membuat saya lebih familiar dengan katak dan ular alih-alih mamalia berambut seperti orangutan.

Ketika itu, saya duduk di tanah, melihat ke atas pepohonan untuk mengamati orangutan Felix yang sedang menjelajah area sekolah hutan dari ranting ke ranting. Atensi saya buyar saat merasa rambut-rambut menyentuh kulit wajah saya. Saya menoleh dan mendapati wajah besar orangutan yang sedang menatap saya dengan jarak hampir sejengkal dari wajah saya. Kaget, saya pun memekik kecil sambil menggeser tubuh.

“Mau kenalan itu, Bagus”, ujar Bang Linau, salah satu animal keeper mendekat sambil mencoba menjauhkan Bagus dari saya.

Saat jarak antara saya dan Bagus sudah lebih jauh, barulah saya dapat melihat perawakan Bagus yang sangat besar (baru-baru ini saya mengetahui panjang total tubuhnya 180 cm, tentunya jauh lebih panjang dari tinggi saya saat ini). Wajahnya bulat, terlihat sangar. Rambutnya yang menutupi tubuhnya cukup panjang dan membuatnya terlihat lebih besar.

Mungkin, sekitar dua minggu setelah saya mulai terbiasa dengan orangutan, saya baru berani membawa Bagus untuk sekolah hutan. Lucunya, Bagus dengan badannya yang besar itu, menolak untuk dituntun menuju area sekolah hutan. Saya harus menggendong badannya di punggung setiap pergi dan pulang sekolah, cukup membuat punggung saya pegal dengan peluh membanjiri wajah dan tubuh saya. Ah, seperti inilah rasanya membawa carrier saat praktik lapangan ketika kuliah dulu, batin saya.

Selama sekolah hutan, saya mengamati perilaku Bagus yang menurut saya menarik dan lucu. Saya dan Bagus pernah pulang telat karena Bagus asik duduk di pohon rambutan, memakan buah-buahnya yang merah menggoda. Desember memang musim rambutan. Sementara saya hanya duduk di bawahnya sambil menunggu Bagus bosan dengan buah manis itu yang sudah ia makan bertangkai-taksi. Hampir satu jam kami di sana, barulah Bagus mau mengikuti saya untuk turun dan kembali pulang dengan iming-iming air madu yang saya bawa tentunya.

Bagus pernah membuat khawatir semua orang di BORA karena ia tidak menghabiskan pakannya di kandang selama beberapa hari. Namun selama sekolah hutan, kami mengamati Bagus tampak ceria seperti biasanya. Masih aktif bermain dengan orangutan yang lain, masih semangat untuk menjelajah dan memakan buah tarap dan rambutan yang masih memenuhi area sekolah hutan. Lalu akhirnya kami memutuskan bahwa sepertinya Bagus hanya bosan dengan pakan yang disediakan oleh kami.

Terakhir saya membawa Bagus dengan agak kewalahan. Bagus tidak mau kembali ke kandang, dia terlihat sangat nyaman di sekolah hutan, ia dapat menjelajah dan berpindah dari dahan ke dahan, mencari makan sesuka hati, dan bermain dengan pengayaan alam yang tersedia. Saya membiarkan Bagus bermain di atas tandon air yang rusak, berguling-guling hingga tandon air itu penyok karena dihimpit tubuhnya.

Hampir enam tahun yang lalu Bagus memulai rehabilitasinya di BORA. Saat itu umurnya baru sekitar 3 tahunan, diselamatkan sebagai satwa yang dipelihara secara ilegal oleh masyarakat. Bagus mulai menjalani sekolah hutan sehari-harinya untuk belajar sebelum menjelajah di hutan yang sebenarnya. Wajah garang dan tubuh besarnya saat ini menandakan pertumbuhannya yang cukup signifikan.

Bagus adalah salah satu kandidat rilis yang kini telah dipindahkan ke pulau pra-pelepasliaran untuk belajar bertahan hidup sebelum dilepasliarkan kembali ke habitatnya. Saya memang baru bertemu dengan Bagus dua bulan. Namun, dua bulan bukan juga waktu yang singkat untuk saya dapat belajar mengenal perilakunya. Meskipun dua bulan saya di BORA juga tidak sebanding dengan enam tahun waktu yang Bagus habiskan di BORA.

Saya bangga dengan perjuanganmu, Bagus. Selamat menuju kebebasanmu sebentar lagi! Saya berharap kamu tetap lestari hingga anak cucumu yang semoga tidak akan menjalani kisah yang sama sepertimu. (FIQ)