PULIH, AKTIF, DAN SEMAKIN PERCAYA DIRI

Harapi menunjukkan perkembangan yang cukup dinamis, baik dari sisi kesehatan maupun perilaku. Setelah sempat mengalami demam di awal bulan, kondisinya kini telah pulih dan terlihat kembali aktif mengikuti kegiatan sekolah hutan. Nafsu makannya tetap baik, dan ia mulai kembali menunjukkan energi serta rasa ingin tahu terhadap lingkungan sekitarnya.

Selama kilatan sekolah hutan, Harapi lebih banyak beraktivitas di tanah. Ia gemar bermain sendiri maupun bersama orangutan lain seperti Arto, Jainul, dan Ochre. Aktivitasnya mencakup eksplorasi berbagai sumber pakan alami di tanah, seperti buah jatuh, bunga, hingga sarang rayap. Sesekali, Harapi juga memanjat pohon untuk mencari kambium, meskipun durasinya masih relatif singkat.

Interaksi sosial Harapi cukup menonjol, meskipun ia masih sangat bergantung pada keberadaan babysitter maupun animal keeper. Ia kerap menghampiri mereka untuk meminta makanan atau perhatian, bahkan beberapa kali mencoba mencuri pakan dari tas animal keeper. Dalam beberapa kesempatan, Harapi juga terlihat bermain dengan individu lain, menunjukkan peningkatan dalam kemampuan bersosialisasi.

Dengan kondisi feses yang konsisten normal, Harapi saat ini berada dalam fase penting meningkatkan kemandirian, terutama dalam mengurangi ketergantungan terhadap manusia. Proses ini terus dilatih secara bertahap sepanjang bulan ini agar ia semakin percaya diri dalam mengeksplorasi hutan dan membangun keterampilan alaminya. (RAF)

POHON TUMBANG ADALAH ANCAMAN NYATA BAGI ORANGUTAN TAPANULI

Pembalakan liar atau illegal logging masih menjadi ancaman serius bagi kelestarian hutan di Indonesia, termasuk di kawasan konservasi seperti Cagar Alam Dolok Sibual-buali. Kawasan ini merupakan salah satu habitat penting bagi spesies langka, termasuk orangutan tapanuli yang statusnya sangat terancam punah. Namun, realita di lapangan menunjukkan bahwa perlindungan kawasan ini masih menghadapi berbagai tantangan besar.

Pada November 2025 lalu, wilayah Tapanuli Selatan dilanda bencana banjir bandang dan longsor yang menyebabkan kerusakan signifikan terhadap lingkungan dan kehidupan masyarakat sekitar. Bencana tersebut tidak terjadi begitu saja, melainkan merupakan akumulasi dari kerukan ekosistem hutan yang terus berlangsung, salah satunya akibat praktik pembalakan ilegal. Hutan yang seharusnya berfungsi sebagai penyangga alami justru kehilangan kemampuannya karena eksploitasi yang tidak bertanggung jawab.

Ironisnya, meskipun dampak kerusakan sudah nyata terlihat, aktivitas ilegal ini masih terus berlangsung. Tim Patroli Pengamanan dan Perlindungan Habitat Orangutan dari Centre for Orangutan Protection bersama dengan BBKSDA di Sipirok melakukan patroli rutin di kawasan CA Dolok Sibual-buali dan menemukan indikasi kuat adanya aktivitas pembalakan liar. Jejak penebangan, kayu-kayu hasil tebangan, hingga akses jalan ilegal menjadi bukti bahwa kawasan konservasi ini masih menjadi target eksploitasi.

Pembalakan liar di kawasan konservasi bukan hanya pelanggaran hukum, tetapi juga ancaman langsung terhadap keberlangsungan habitat satwa liar. Orangutan tapanuli, yang hanya hidup di wilayah terbatas di Sumatera Utara sangat bergantung pada hutan primer untuk bertahan hidup. Ketika pohon-pohon besar ditebang, mereka kehilangan sumber makanan, tempat berlindung dan ruang untuk berkembang biak. Akibatnya, populasi mereka semakin terfragmentasi dan rentan terhadap kepunahan.

Lebih jauh lagi, kerusakan hutan juga berdampak pada keseimbangan ekosistem secara keseluruhan. Hilangnya tutupan hutan meningkatkan risiko erosi, banjir, dan tanah longsor seperti yang terjadi sebelumnya. Ini menunjukkan bahwa illegal logging bukan hanya masalah lingkungan, tetapi juga masalah kemanusiaan yang berdampak langsung pada keselamatan dan kesejahteraan masyarakat.

Upaya penegakan hukum dan patroli rutin memang terus dilakukan, namun hal ini perlu didukung dengan kesadaran bersama dari berbagai pihak. Perlindungan kawasan konservasi membutuhkan keterlibatan masyarakat, pemerintah daerah, serta komitmen kuat dalam menghentikan rantai perdagangan kayu ilegal.

Kasus yang terjadi di CA Dolok Sibual-buali menjadi pengingat bahwa kerusakan lingkungan tidak terjadi secara instan, melainkan melalui proses panjang yang sering diabaikan. Jika tidak segera dihentikan, pembalakan liar akan terus menggerogoti sisa-sisa hutan yang ada, mempercepat hilangnya habitat orangutan tapanuli dan memperbesar risiko bencana di masa depan. Melindungi hutan berarti melindungi kehidupan. Sudah saatnya semua pihak mengambil peran nyata untuk menghentikan illegal logging dan menjaga kawasan konservasi sebagai warisan penting bagi generasi mendatang. (APE Patriot)

JAAG, BUAH ENDEMIK HUTAN KALIMANTAN

Gemericik air Sungai Menyuq yang jernih mengiringi perjalanan tim APE Guardian menuju hulu. Sembari melakukan patroli dan monitoring kawasan, sesekali kami menoleh ke tepian sungai, barangkali ada buah atau tumbuhan yang bisa dibawa pulang untuk menambah logistik di pos monitoring. Tak terasa, satu jam perjalanan membawa kami semakin jauh ke hulu, hingga akhirnya menemukan bekas pondok peladang. Di sna, kami memutuskan berhenti sejenak untuk beristirahat.

Sesaat setelah melangkahkan kaki darti perahu yang telah bersandar, kaki Yusuf, staf lapangan APE Guardian, menginjak sesuatu yang lembek, disertai aroma harum yang khas. Ketika menoleh ke bawah, benar saja, buah-buah hutan berwarna jingga tampak berjatuhan. Melihat hal tersebut, kami segera mencari pohon asalnya. Tak jauh dari karangan, tepian sungai berbatu yang tersusun dari batu kali kecil, berdiri pohon besar dengan buah yang bergerombol, persis seperti yang kami temukan di tanah.

“Buah apa ini, Amai? Bisa dimakan kah?”, tanya Yusuf kepada Amai Lukas, warga lokal Busang.

“Buah jaag”, jawab Amai Lukas. Begitulah masyarakat Busang menyebutnya, atau di daerah lain dikenal juga sebagai buah bumbunau.

Tumbuhan ini memiliki nama ilmiah Aglaia laxiflora, termasuk dalam keluarga Meliaceae. Daging buahnya bertekstur menyerupai langsat. Pohon ini umumnya ditemukan di hutan primer, sepanjang punggung bukit, serta di tepi sungai. Ciri utamanya adalah pohon yang tinggi dan besar, dapat mencapai lebih dari 20 meter, dengan diameter batang melebihi 70 cm. Buahnya berdiameter sekitar 2 sampai 3 cm, berbentuk agak memanjang, dengan kulit berwarna kuning, daging putih, dan rasa masam sepat.

Buah Aglaia laxiflora merupakan salah satu potensi pakan bagi orangutan. Beberapa referensi menyebutkan bahwa tumbuhan ini endemik hutan Kalimantan, sehingga keberadaannya menjadi penting untuk dilestarikan. (YUS)