DEA SEPANJANG 2025 HANYA UNTUK AMBON

2025 menjadi tahun yang didedikasikan sepenuhnya untuk merawat Ambon. Di tahun ini, ketika semua orangutan dan staf sudah berpindah ke BORA di Kampung Tasuk, Ambon bersama para trainer dan perawat satwa masih menetap. Suka dan duka berhasil terlewati dalam satu tahun tersebut. Kondisi yang lebih sunyi dibandingkan sebelumnya menjadi momentum untuk menemukan jalan agar tidak termakan kejenuhan.

Namun rintangan justru menghampiri, jaringan internet khusus bermasalah selama satu bulan penuh. Di saat inilah muncul ide mendokumentasikan proses pembuatan enrichment untuk Ambon. “Lumayan mengobati rasa bosan saat tidak ada jaringan, juga menjadi kebahagiaan tersendiri karena bisa memperlihatkan apa yang bisa kami kerjakan”, ujar Dea, animal keeper yang telah dua tahun di BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance), Kalimantan Timur.

Ambon yang intensif menjalankan program training dengan tujuan membantu penurunan berat badan mulai menunjukkan hasil baiknya. Dari pengukuran biometrika, diketahui lingkar perut Ambon menyusut dari 168 cm menjadi 125 cm. Sayangnya kabar bahagia harus beriringan dengan kabar sedih lainnya. Tahun 2025 ditutup dengan adanya luka pada bagian skrotum Ambon, sehingga perlu dilakukan tindakan medis untuk menjahit luka tersebut. Dengan bantuan tim medis, Ambon berhasil melewati operasi dengan lancar.

Jika ditanya apa harapan di tahun 2026 untuk Ambon, semoga segera datang waktunya untuk menempati enclosure, serta harapan agar Ambon mampu beradaptasi saat sudah menempati enclosure. Untuk Ambon dan semua orangutan yang masih berada di BORA, semoga selalu dalam kondisi yang sehat. Tidak hanya orangutan, tapi juga semua staf yang bertugas, selalu dalam keadaan sehat dan bahagia. (DEA)

CATATAN AKHIR TAHUN 2025 APE GUARDIAN COP: ORANGUTAN, HUTAN, DAN HARAPAN MASA DEPAN

Di hulu sungai Busang, hutan masih berdiri sebagai rumah bagi orangutan dan beragam satwa liar lainnya. Di balik rimbun pepohonan dan kesunyian yang hanya dipecah oleh suara burung, tahun 2025 menjadi tahun penuh cerita tentang penyelamatan, penjagaan, dan harapan.

Sepanjang tahun ini, Hutan Lindung (HL) Gunung Batu Mesangat sebagai habitat orangutan Busang, kembali menerima tujuh individu orangutan hasil rehabilitasi. Setelah melalui perjalanan panjang. Mereka akhirnya kembali ke habitat alaminya. Salah satu di antaranya lebih dulu menjalani masa habituasi di Pulau Pra-Pelepasliaran Hagar, sebuah tahap penting untuk belajar kembali hidup liar sebelum benar-benar menjelajahi rumahnya.

Busang juga menjadi tempat aman bagi 20 orangutan hasil translokasi. Mereka dievakuasi dari lokasi konflik dan kawasan yang tidak lagi aman. Setiap proses translokasi bukan hanya soal memindahkan satwa, tetapi juga tentang memberi kesempatan kedua bagi orangutan untuk hidup dengan aman dan nyaman, serta bagi manusia untuk belajar hidup berdampingan dengan alam.

Namun, melepasliarkan orangutan saja tidak cukup. Hutan harus mampu menyediakan pakan dan perlindungan. Karena itu, tim lapangan menanam kembali pohon-pohon buah hutan sebagai sumber pakan alami. Patroli pengamanan kawasan dilakukan secara rutin menyusuri sungai dan jalur darat, sekaligus menjalankan mitigasi konflik untuk mengantisipasi interaksi negatif antara masyarakat dis editor kawasan dan orangutan.

Di sela-sela aktivitas tersebut, HL Gunung Batu Mesangat Busang menunjukkan tanda-tanda kehidupannya. Kamera jebak yang dipasang di dalam dan sekitar kawasan merekam momen langka, satu induk orangutan (Pongo pygmaeus) bersama anaknya turun ke lantai hutan. Sebuah pemandangan sederhana namun bermakna, seakan mengabari kami bahwa hutan di sini masih cukup aman untuk dijelajahi orangutan.

Malam hari diisi dengan kegiatan herping, yaitu mencari dan mengamati reptil serta amfibi di alam liar yang dilakukan dengan menyusuri lantai hutan yang kebab. Dari kegiatan ini, tim menemukan katak tanduk hidung panjang (Megophtys nasuta), salah satu satwa kecil yang menjadi indikator sehatnya ekosistem hutan. Sementara itu, langit dan tajuk pohon menjadi panggung bagi burung-burung hutan. Melalui kegiatan birdwatching, kami berhasil mendokumentasikan beberapa jenis burung dilindungi, seperti kangkareng hitam (Anthracoceros malayanus), kangkareng perut putih (Antracoceros albirostris) dan enggang klihingan (Anorrhinus galeritus).

Cerita Busang tidak hanya hidup di dalam hutan, tetapi juga dibawa ke ruang-ruang kelas sekolah. Sepanjang 2025, tim melakukan school visit ke beberapa sekolah di Busang, berbagi cerita tentang orangutan, satwa liar, dan pentingnya menjaga hutan. Dari sinilah harapan tumbuh untuk mencetak generasi yang peduli dan berani menjaga alamnya.

Cerita yang sama juga disampaikan di bangku perguruan tinggi melalui campus visit ke Universitas Mulawarman. Di sana, mahasiswa diajak terlibat dalam upaya konservasi satwa liar dan habitatnya, khususnya orangutan.

Meski demikian, tantangan masi nyata. Di luar kawasan pelepasliaran, ditemukan aktivitas tambang emas ilegal dan praktik pembalakan liar. Ancaman ini menjadi pengingat bahwa hutan Busang masih rapuh dan membutuhkan perlindungan bersama.

Dari pelepasliaran orangutan hingga suara anak-anak di ruang kelas, dari kamera jebak hingga diskusi di kampus, tahun 2025 menunjukkan bahwa konservasi bukan hanya tentang hutan dan satwa, tetapi juga tentang manusia dan masa depan yang diperjuangkannya. (PEY)

MENANAM HARAPAN DI HUTAN: CERITA PENANAMAN POHON BAYUR UNTUK ORANGUTAN

Hutan selalu punya cara menyambut siapa pun yang datang dengan niat baik. Begitu pula saat kami tiba di Kawasan Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat untuk menjalankan misi sederhana namun bermakna, yaitu menanam pohon bayur sebagai sumber pakan alami orangutan. Udara sejuk, suara burung berkicau, dan gemerisik dedaunan menyertai langkah pertama kami, seolah menjadi pembuka sebuah perjalanan kecil yang penuh harapan.

Perjalanan menuju lokasi tanam memang tidak selalu mulus. Ada kalanya sungai surut sehingga perahu harus ditarik, di lain waktu kami harus menembus hutan yang rapat. Capek? Iya. Namun justru di situlah letak serunya. Setibanya di lokasi, kami langsung berbagi peran, mulai dari menggali tanah, menata bibit bayur, hingga memastikan jarak tanam yang tepat. Setiap kali satu bibit berdiri tegak, ada rasa puas yang sulit dijelaskan, seperti menitipkan harapan baru bagi hutan.

Bayur bukan pohon sembarangan. Buahnya menjadi salah satu sumber pakan penting bagi satwa liar, termasuk orangutan. Batangnya kuat, dan keberadaannya membantu menjaga keseimbangan ekosistem serta kesehatan hutan secara keseluruhan.

Kegiatan ini bukan sekadar menanam pohon, tetapi juga menanam harapan. Harapan bahwa beberapa tahun ke depan, bayur-bayur ini akan tumbuh tinggi dan kokoh, menjadi tempat orangutan bergelantungan sekaligus menyediakan sumber makanan yang melimpah. Harapan agar hutan tetap hidup dan lestari, sehingga generasi mendatang masih dapat menyaksikan orangutan bebas berkeliaran di rumah alaminya.

Karena pada akhirnya, menanam pohon adalah cara paling sederhana, namun paling berarti untuk memberi kembali kepada alam. DI Gunung Batu Mesangat, setiap bayur yang ditanam membawa pesan yang jelas, hutan ini penting, orangutan ini berharga, dan masa depan mereka ditentukan oleh langkah kecil yang kita ambil hari ini. (Hasanah_Orangufriends)