HERCULES MAKIN AGRESIF DI KANDANG KARANTINA

Terhitung dua minggu sudah Nigel dan Hercules menghuni kandang karantina paska dilakukan penarikan mereka dari pulau pra-pelepasliaran. Keberadaan Nigel dan Hercules di kandang karantina selalu kami pantau. 

Sebelum mencuci kandang dan memberi pakan para keeper menyempatkan diri untuk duduk berdiam melakukan pengamatan perilaku Nigel dan Hercules. Hasil pengamatan ini menjadi bahan perbandingan mereka selama berada di COP Borneo.

Hercules sejak dulu terkenal dengan sifatnya yang agresif. Saat berada di kandang karantina, Hercules juga masih sering menunjukkan sikap agresifnya. Beberapa kali ketika keeper menyiram kandang dan air dari selang mendarat di bagian tubuhnya, ia langsung menghentakkan tubuhnya dan mengeluarkan bunyi panggilan panjang atau ‘Long Call’ bak orangutan liar. Ia tidak suka disiram air, rupanya.

Cules, sapaan akrab yang kami sematkan. Dia juga memiliki kebiasaan meludah ketika keeper mendekat memberikan buah. Ini merupakan kebiasaan baru Cules yang kami temukan. Dia selalu melirik dengan tajam bagi siapapun yang berada di dekatnya.

Ia tergolong orangutan yang suka pilih-pilih buah yang lezat untuk dilumat. Keeper seing mendapati banyak sisa pakan yang masih utuh. Tetapi ia selalu merespon pemberian enrichment dengan antusias. (JON)

PEKERJAAN BERAT SEORANG INFLUENCER

Memasuki bulan Mei 2020 dimana semakin banyak orang yang membutuhkan bantuan karena Covid-19 yang menghambat dan memberhentikan perekonomian, justru ada saja orang-orang yang menyalahgunakan situasi ini. Sebut saja seorang youtuber di Bandung yang alih-alih memberi bantuan sembako untuk orang yang membutuhkan justru membohongi mereka dengan memberi paket bantuan berisi sampah dan batu.

Paket bantuan yang diberikan pada para waria dan anak-anak kecil ini ia labeli sebagai sebuah prankatau candaan yang ia uploadsebagai konten youtube yang bisa dilihat oleh banyak orang. Dianggap bercanda tidak pada tempat dan waktunya, maka youtuber ini pun mendapat banyak kecaman dari netizen dan bahkan hingga dilaporkan kasusnya ke polisi.

Beruntung bila para pengikutnya adalah orang-orang dewasa yang sudah bisa membedakan mana hal benar dan salah untuk dilakukan. Namun bagaimana dengan anak-anak kecil yang menontonnya? Bisa saja mereka justru mengikuti hal-hal ini. Belum lagi saat ini semakin banyak orang-orang yang menjadi influencer namun tidak memikirkan benar-benar secara jangka panjang efek atau dampak dari konten yang ia pertontonkan pada orang banyak.

Contoh yang sering kita temui juga yaitu para influencer sekaligus pecinta dan kolektor satwa liar yang dengan leluasa menyebarkan aktivitas mereka bersama satwa-satwa liar yang menjadi peliharaan mereka. Memang bagi kebanyakan orang akan menganggap hal ini sebagai sebuah hal yang lucu dan menarik untuk dilakukan atau bahkan dianggap keren oleh para pengikutnya. Namun sebenarnya dampak jangka panjang dari konten ini justru dapat menyesatkan. Dimana mereka yang tidak teredukasi secara benar akan berusaha juga memiliki hewan peliharaan yang sama walau entah dari mana asalnya dan entah bagaimana cara mendapatkannya.

Maka bila hal ini terjadi, yang pada akhirnya menjadi korban adalah satwa itu sendiri. Banyak satwa yang diperdagangkan dengan cara diselundupkan yang menderita dan akhirnya mati dalam perjalanan. Terutama bila para penjual dan pembeli tidak memiliki fasilitas dan kemampuan yang memadai untuk melakukan perawatan, satwa tidak akan bertahan lama. Belum lagi satwa yang dipelihara dan terbiasa hidup bersama manusia akan kehilangan sifat aslinya dan semakin sulit untuk dikembalikan lagi ke alam.

Inilah hal-hal yang ditakuti oleh para pemerhati konservasi satwa liar. Bahwa meskipun para influencer ini merasa menyebarkan hal yang baik dan tidak melanggar hukum, konten-konten yang dipublikasikan bisa pada akhirnya memunculkan masalah baru karena kadang terkesan mengiklankan satwa liar untuk dipelihara. Hal ini karena influenceradalah orang yang memiliki kemampuan untuk memengaruhi dan diikuti oleh orang banyak. Itulah mengapa mereka seringkali dipilih untuk mengiklankan produk-produk tertentu, karena nantinya para pengikutnya akan tertarik untuk membeli produk yang mereka iklankan.

Lalu apakah para influencer ini akan membawa pengaruh positif atau negatif itu adalah pilihan bagi mereka. Namun sebagaimana yang kita tahu bahwa seseorang yang berpengaruh seharusnya bisa menjadi teladan yang baik bagi orang lain. Maka sangatlah perlu bagi para influenceruntuk tidak hanya membagikan konten yang bisa menarik perhatian banyak orang, tetapi juga bisa membangun dan mencerdaskan para pengikutnya.

HAPPI KALAH SAAT DI KANDANG

Happi bergabung dengan tiga orangutan jantan lainnya di kandang sosialisasi. Berani, Owi dan Annie, ketiganya dengan tubuh yang lebih besar dari Happi berada satu kandang. Happi cukup pandai dan aktif ketika di sekolah hutan. Ia akan banyak menghabiskan waktunya di atas pohon. Tapi ketika berada di kandang justru tak seaktif ketika sedang bersekolah hutan.

Happi banyak mengalah di kandangnya. Karena ia harus berhadapan dengan ketiganya. Happi lebih banyak menunggu makanan dari perawat satwa. Perawat satwa akan memanggil namanya dan memberikan jatah makanannya. Rebut merebut, pasti kalah. Dia akan dikeroyok oleh ketiganya. Dia memilih di titik aman dengan makan sesuai jatahnya. Tidak ada kata merebut.

Ketika feeding (pemberian makanan) berlangsung, Happi akan turun dari hammock dan langsung duduk untuk menunggu perawat memberinya buah. Jika jatah buahnya sudah dia dapatkan, dia akan langsung bergegas membawa makanannya dan berlindung ke hammock untuk menjauh dari teman-temannya. Dia terlihat sangat takut akan berebutan makanan dengan teman-temannya. Dan teman-temannya itu cukup malas untuk menyusul ke atas hammock. Ketiganya lebih senang makan di depan animal keeper dan merajuk meminta buah lagi… dan lagi. (SIM)

Page 18 of 336« First...10...1617181920...304050...Last »