PENGALAMAN PERTAMA BERSAMA ORANGUTAN LIAR

Hai, aku Aprido Desra biasa dipanggil Godox. Aku berasal dari Sumatra Barat yang dikenal luas dengan masakannya yang sering disebut masakan Padang, khas dengan rempah-rempah alami. Namun, Sumatra Barat bukan hanya tentang kuliner. Wilayah ini juga memiliki bentang alam yang luas dan kaya, berdampingan dengan adat Minangkabau yang menjunjung nilai “tak lapuk karena hujan, tak lekang karena panas”. Nilai-nilai ini turut menjaga hutan tetap lestari hingga kini, meski masih banyak oknum yang berusaha merusak alam dengan berbagai cara, seperti illegal logging, perburuan satwa liar, dan penambangan emas ilegal.

Perjalananku di dunia konservasi dimulai saat bergabung dalam organisasi Mahasiswa Pecinta Alam dan Lingkungan Hidup Universitas Negeri Padang (MPALH UNP) dengan latar belakang jurusan Ilmu Keolahragaan di Universitas Padang. Sebelum bergabung dengan Centre for Orangutan Protection (COP) sebagai asisten lapangan di tim APE Crusader, aku juga sempat terlibat di salah satu NGO yang bergerak dalam konservasi harimau Sumatra di Sumbar. Banyak yang bertanya apa perbedaan konservasi harimau dan orangutan. Menurutku, pertanyaan itu tidak terlalu penting karena setiap spesies memiliki tantangan dan tingkatannya masing-masing. Tujuan akhirnya tetap sama yaitu menyelamatkan satwa liar yang terancam punah agar generasi mendatang masih dapat merasakan hidup berdampingan dengan seluruh makhluk hidup.

Pertemuan langsung pertamaku dengan orangutan terjadi saat melakukan operasi penyelamatan gabungan di Kecamatan Bengalon, bersama BKSDA Kaltim dan beberapa NGO lainnya. Di lapangan, mustahil bekerja sendiri, kolaborasi menjadi kunci untuk tujuan yang sama. Penanganan konflik, proses penyelamatan, hingga pemahaman tentang habitat orangutan di Kalimatan menjadi pengalaman yang sangat berharga. Berbagai latar belakang pendidikan dan profesi juga membawa cerita sendiri dalam konservasi orangutan, mulai dari dokter hewan, mantan pemburu, bahkan pekerja perkebunan dan pertambangan.

APE Crusader COP masih dalam misi penyelamatan dan perlindungan habitat orangutan serta yang lainnya agar tidak punah menjadi tanggung jawab bersama. Semoga generasi selanjutnya masih dapat merasakan hidup berdampingan dengan orangutan dan satwa liar lainnya di hutan yang tetap terjaga. Salam lestari! (IDO)

BENTENG TERAKHIR PERLINDUNGAN ORANGUTAN, KILAS BALIK APE DEFENDER SEPANJANG 2025

Pagi di pusat rehabilitasi Borneo Orangutan Rescue Alliance (BORA) dimulai jauh sebelum matahari benar-benar naik. Saat langit masih gelap dan berkabut, para babysitter telah berangkat menuju baby house untuk memberi susu dan membersihkan kandang lebih awal. Di gudang pakan, buah dan sayur disiapkan serta ditimbang satu per satu sesuai kebutuhan setiap individu orangutan. Tepat pukul delapan, anggota tim APE Defender berkumpul untuk briefing singkat membahas kondisi individu, rencana sekolah hutan, enrichment, serta pekerjaan kandang hari itu. Setelahnya, kandang dicuci, peralatan enrichment disiapkan, dan sebagian tim berangkat menuju lokasi sekolah hutan mengantar orangutan muda belajar kembali tentang dunia yang seharusnya mereka kenal sejak lahir.

APE Defender merupakan Tim yang menjalankan program rehabilitasi Orangutan Kalimantan di Centre for Orangutan Protection (COP). Secara fungsional, tim ini berperan sebagai benteng pertahanan terakhir bagi orangutan yang telah diselamatkan dari berbagai situasi ekstrem. Di tangan mereka, arah masa depan setiap individu orangutan dibentuk secara perlahan, hari demi hari, melalui keputusan-keputusan kecil yang tak pernah sepele. Dari rangkaian proses inilah muncul pertanyaan paling mendasar dalam rehabilitasi, apakah individu orangutan tersebut masih memiliki peluang untuk kembali hidup mandiri di alam liar, atau hanya mampu bertahan secara fisik tanpa kemungkinan untuk dilepasliarkan karena keterbatasan fisik maupun mental yang tertinggal dari masa lalunya.

Sepanjang tahun 2025, tercatat 25 individu orangutan menjalani proses rehabilitasi maupun pemulihan kesehatan aktif di pusat rehabilitasi BORA. Dari jumlah tersebut, lima individu merupakan kedatangan baru sepanjang tahun ini, yang masuk ke dalam program rehabilitasi dan pemulihan setelah diselamatkan dari zona interaksi negatif dengan manusia. Tiga di antaranya adalah bayi orangutan yang kehilangan induknya, yakni Felix, Pansy, dan Jack. Kehilangan figur induk di usia sangat dini membuat mereka membutuhkan pendampingan intensif untuk membangun kembali keterampilan dasar yang seharusnya diperoleh secara alami di alam.

Selain itu, terdapat Beti, individu betina dewasa yang telah dipelihara secara ilegal selama lebih dari dua dekade di Jawa Tengah. Proses penyelamatannya melibatkan translokasi lintas pulau, sebuah langkah kompleks yang menandai awal perjalanan panjang Beti untuk kembali mengenal kehidupan di luar ketergantungan manusia. Sementara itu, Surti merupakan individu liar yang diselamatkan di area pertambangan. Berbeda dengan individu lain, Surti tidak memerlukan rehabilitasi perilaku jangka panjang, melainkan pemulihan kondisi fisik sementara di BORA sebelum akhirnya dapat dikembalikan ke habitat alaminya.

Sepanjang 2025, bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur, COP berhasil melepasliarkan tujuh individu orangutan yang sebelumnya menjalani rehabilitasi maupun pemulihan kesehatan di BORA. Lima individu di antaranya merupakan orangutan bekas peliharaan ilegal, yaitu Bonti, Jojo, Mary, Popi, dan Charlotte yang telah menjalani rehabilitasi selama beberapa tahun. Dua individu lainnya, Paluy dan Surti, merupakan orangutan liar yang diselamatkan dari zona interaksi negatif dan memerlukan perawatan sebelum dikembalikan ke alam.

Rehabilitasi orangutan bukan proses yang dramatis. Ia berjalan lambat, bertahun-tahun, dalam rutinitas yang nyaris tak pernah terlihat publik. Mengajari kembali cara memanjat dan membangun sarang. Mengasah insting mencari pakan alami. Memulihkan trauma akibat interaksi manusia yang terlalu dekat. Dan yang paling sulit, mengembalikan jarak antara orangutan dan magnesia, jarak yang justru menentukan keberhasilan rehabilitasi itu sendiri.

Di luar pusat rehabilitasi, APE Defender juga tidak bekerja sendirian. Sepanjang 2025, tim ini terlibat langsung bersama APE Crusader dalam berbagai aksi penyelamatan orangutan di lapangan bersama BKSDA Kalimantan Timur. Sekitar 52 individu orangutan berhasil diselamatkan dari zona konflik, pemeliharaan ilegal, dan kondisi darurat lainnya. Pada penghujung tahun 2025, dokter hewan dari tim APE Defender juga terlibat dalam proses pemulangan empat individu orangutan korban perdagangan satwa ilegal dari Thailand ke Sumatra.

Di balik seragam lapangan yang kerap dilumuri lumpur, para anggota APE Defender menjadi saksi perubahan-perubahan kecil yang menentukan. Tatapan yang perlahan tak lagi mencari manusia. Tangan-tangan yang mulai melepaskan pelukannya. Gerak yang kembali lincah tanpa arahan. Keberhasilan rehabilitasi berakar pada detail-detail sunyi seperti ini, yang jarang terlihat dunia, namun menentukan arah masa depan setiap individu.

Sepanjang 2025, rehabilitasi mengajarkan bahwa perubahan sejati jarang berlangsung cepat. Sebagian individu melangkah maju, sebagian lain masih harus menunggu. Memasuki 2026, pusat rehabilitasi tidak menawarkan janji besar, hanya komitmen yang sama seperti sebelumnya, untuk terus hadir hari demi hari, menjaga peluang agar setiap individu orangutan yang diselamatkan dapat menjalani kehidupan yang lebih baik. (RAF)

APE CRUSADER COP MENYONGSONG TAHUN 2026

Sepanjang tahun 2025, tim APE Crusader menjalani perjalanan yang panjang dan penuh dinamika, layaknya melintasi lintasan roller coaster dengan tanjakan dan turunan tajam di setiap jalurnya. Berbasis di Kecamatan Muara Wahau, wilayah strategis dengan tingkat konflik orangutan yang tinggi, tim ini berada di titik pertemuan antara ancaman dan harapan. Kedekatannya dengan area rilis orangutan serta calon lokasi rilis baru membuat APE Crusader hampir tak pernah berhenti bergerak.

Fokus utama tahun ini adalah penanganan dan perlindungan habitat orangutan. Tim melakukan patroli di wilayah sebaran habitat orangutan dan satwa liar lainnya, termasuk patroli kebakaran hutan dan lahan di kawasan BORA Labanan. Pendekatan kepada masyarakat juga terus dilakukan agar informasi mengenai keberadaan satwa liar dapat diperoleh secara akurat. Dari upaya ini, tim menerima laporan tentang pemeliharaan ilegal orangutan serta ditemukannya kura-kura baning di sekitar Kabupaten Kutai Timur.

APE Crusader bersama kelompok tani di Desa Sidobangen melakukan penanaman pohon sebagai usaha menjaga kawasan hidup satwa liar. Upaya panjang usaha pembangunan jembatan koridor satwa pada akhir November 2025 menjadi harapan satwa liar untuk selamat dari ramainya jalan poros Kalimantan tersebut.

Di sisi lain, konflik antara orangutan dengan manusia masih menjadi tantangan besar. Sepanjang tahun 2025, tim APE Crusader menangani 27 laporan keberadaan orangutan di sekitar aktivitas masyarakat dan perusahaan. Dari proses asesmen dan penyelamatan tersebut, sebanyak 52 individu orangutan berhasil diamankan dari habitat yang rusak, dengan sebagian besar kemudian ditranslokasi ke habitat yang lebih layak.

Tingginya intensitas konflik mendorong kebutuhan untuk memperkuat kapasitas tim rescue. Rencana pembentukan tim tambahan serta pengadaan ambulans menjadi langkah penting yang dinilai akan sangat membantu kerja APE Crusader di lapangan. Kondisi ini tidak terlepas dari laju kehilangan habitat yang masih tinggi akibat alih fungsi hutan oleh perusahaan dan atau masyarakat lokasi. Tidak mengherankan jika Kalimantan Timur tercatat sebagai salah satu provinsi dengan angka pembukaan lahan tertinggi pada tahun 2024 dan 2025.

Selain kerja lapangan, APE Crusader juga aktif membangun kesadaran publik. Berbagai kegiatan edukasi mulai dari school visit, campus visit, hingga advokasi dan kampanye lingkungan seperti acara Sound for Orangutan (SFO) di kota Samarinda. Kegiatan ini menjadi ruang untuk menyuarakan krisis lingkungan sekaligus menjalin dialog dengan komunitas lokal. Beasiswa untuk mahasiswa Universitas Mulawarman serta kesempatan magang di lokasi kerja Centre for Orangutan Protection di Kalimantan Timur juga menjadi usaha regenerasi dunia konservasi orangutan di Indonesia.

Menutup tahun 2025, APE Crusader menyadari bahwa perjalanan ini tidak mungkin dilalui sendirian. Kesempatan memaparkan hasil kerja lapangan pada Konferensi Wild Animal Rescue Network (WARN) di Thailand menjadi pengingat kerja tim yang ternyata tidak kecil. Proses panjang yang telah dilewati adalah kerja kolektif, penuh tantangan, namun sarat harapan. (FER)