APRESIASI INTERNASIONAL DARI USFWS TEGASKAN PENTINGNYA PERLINDUNGAN SATWA LIAR

Surabaya – Penghargaan yang Centre for Orangutan Protection (COP) terima atas upaya dalam memerangi kejahatan terhadap satwa liar menjadi pengingat bahwa kerja-kerja perlindungan yang kami lakukan selama ini merupakan bagian dari gerakan yang lebih luas, melampaui batas wilayah dan kepentingan. Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh perwakilan United States Fish and Wildlife Service (USFWS) di Indonesia dan diterima oleh Direktur COP, Daniek Hindarto.

Bagi COP, momen ini bukan sekedar seremoni, melainkan bentuk dukungan terhadap berbagai upaya yang terus berjalan di lapangan. Hingga saat ini, COP telah menangani sedikitnya 76 kasus kejahatan terhadap satwa liar, yang mencerminkan bahwa praktik ilegal tersebut masih terus terjadi dan membutuhkan penanganan yang berkelanjutan. Kerja-kerja perlindungan yang kerap berlangsung tanpa sorotan publik tetap memiliki dampak nyata, baik ditingkat nasional maupun global.

Menanggapi penghargaan tersebut, Direktur COP, Daniek Hendarto menegaskan pentingnya menjaga konsistensi dalam upaya perlindungan satwa liar. “Penghargaan ini bukan tentang kami sebagai organisasi, tetapi tentang kerja kolektif yang libatkan banyak pihak. Ini menjadi pengingat bahwa setiap upaya memiliki arti, dan selama kejahatan terhadap satwa liar masih terjadi, kami tidak punya alasan untuk berhenti”, ujarnya.

Perlindungan satwa liar di Indonesia sejatinya telah memiliki landasan hukum yang jelas, sehingga kejaran terhadap satwa liar bukan hanya persoalan etika, tetapi juga pelanggaran hukum. Tantangan utama yang dihadapi adalah memastikan implementasi di lapangan dapat berjalan secara konsisten dan efektif, seiring dengan kompleksitas praktik kejahatan yang terus berubah.

Perlindungan satwa liar tidak hanya berkaitan dengan satu spesies atau kasus, tetapi merupakan bagian dari menjaga keseimbangan ekosistem yang juga menopang kehidupan manusia. Penghargaan ini bukanlah titik akhir, melainkan pengingat bahwa upaya ini harus terus berjalan. Selama kejahatan terhadap satwa liar masih terjadi, maka komitmen untuk menghentikannya tidak boleh berhenti. (DIT)

AWALNYA DISANGKA MBG, BERUJUNG CINTA PADA ORANGUTAN

Pada pertengahan bulan Maret 2026, tim APE Crusader melakukan kegiatan School Visit di SDN 01 Kongbeng, Desa Miau Baru, Kaltim. Pagi itu kami berangkat menggunakan ambulan satwa liar menuju sekolah yang berada di kawasan Kongbeng. Bahkan sebelum mobil benar-benar sampai di halaman sekolah, kehadiran kami sudah menarik perhatian. Ambulan dengan logo kepala orangutan besar di sisinya menjadi pemandangan yang tidak biasa bagi warga sekitar. Dari kejauhan, anak-anak sudah berlarian menghampiri mobil dan menuntun kami sampai ke halaman sekolah dengan wajah penuh rasa penasaran.

“MBG wiihhh… MBG??”, seru salah anak dengan antusias, diikuti teman-temannya.

Ternyata mereka mengira mobil kami adalah kendaraan yang membawa Makan Bergizi Gratis (MBG). Rupanya selama ini sekolah mereka belum pernah mendapatkan jatah MBG, sehingga kedatangan mobil kami langsung disambut penuh harapan. Namun ketika tim turun dari mobil, anak-anak mulai menyadari bahwa yang datang bukan pembawa makanan, melainkan tim yang bekerja dengan satwa liar. Antusiasme pun berubah, dari menunggu makanan menjadi menunggu orangutan yang mereka kira ada di dalam ambulan.

Ketika pintu mobil dibuka, ternyata tidak ada orangutan, hanya poster, foto, dan perlengkapan edukasi. Meski begitu, rasa penasaran mereka tidak berkurang. Kegiatan pun dilanjutkan di dalam kelas. Tim memulai dengan “tepuk orangutan” untuk mencairkan suasana, lalu menyampaikan materi tentang orangutan, hutan, dan pentingnya menjaga alam.

Saat ditanya apakah ada yang pernah melihat orangutan, beberapa anak mengangkat tangan. Salah satu dari mereka bahkan berkata, “Aku pernah lihat… dipelihara!”. Jawaban itu menjadi kesempatan bagi tim untuk menjelaskan bahwa orangutan adalah satwa liar yang dilindungi dan seharusnya hidup bebas di hutan.

Menjelang akhir kegiatan, anak-anak sangat gembira saat menerima poster dan stiker orangutan, bahkan sampai berebutan. Antusiasme mereka juga membuat tim sedikit tertahan untuk pulang. Ketika kami kembali ke ambulan, beberapa anak masih mengerumuni mobil dan bahkan memanjat tangga di belakang ambulan untuk melihat lebih dekat.

Sebelum berangkat, tim sempat membunyikan sirine ambulan yang langsung disambut sorakan dan tawa anak-anak. Saat mobil mulai meninggalkan sekolah, mereka melambaikan tangan sambil berlari mengejar hingga ke ujung jalan.

Kami memang tidak membawa MBG seperti yang mereka harapkan di awal. Namun pagi itu meninggalkan sesuatu yang tak kalah penting yaitu tawa, pengetahuan bari, dan harapan bahwa dari sekolah kecil di Desa Miau Baru ini akan tumbuh generasi yang peduli pada orangutan dan hutan tempat mereka hidup. (DIM)

PIPA, KUACI, DAN CARA HUTAN DIAJARKAN KEMBALI

Di dalam kandang, “hutan” tidak benar-benar hilang. Ia dihadirkan ulang dalam bentuk yang lebih kecil, lebih sederhana, lebih sunyi, namun tetap menyimpan satu tujuan: mengajarkan kembali cara bertahan hidup. Hari itu, hutan hadir dalam sebuah pipa kuaci, menuntut usaha, kesabaran, dan cara berpikir yang berbeda pada setiap individual orangutan.

Bow memahami itu dengan caranya sendiri. Ia membawa pipa ke atas hammock berbentuk keranjang sebuah pilihan yang tampak sederhana, tetapi menyimpan strategi: agar kuaci yang jatuh tidak hilang ke lantai. Ia menghisap lubang-lubang pipa dan menggoyangkannya perlahan. Saat ruangnya terasa terlalu dekat dengan manusia, ia memberi batas mengusir dengan gerakan tangan. Enrichment, bagi Bow bukan hanya soal mendapatkan makanan, tetapi juga tentang menjaga ruangnya tetap utuh.

Di sisi lain, Ranking berhadapan dengan kesulitan yang sama, namun dengan pendekatan berbeda. Ia sempat mencoba mengambil dari yang lain, sebelum akhirnya kembali pada pipanya sendiri. Ia mengamati, mencoba menggunakan ranting, lalu mengubah strategi. Pipa itu diangkat ke atas kepala, digoyangkan, dan dibiarkan kuaci jatuh langsung ke mulutnya. Enrichment memaksanya berpindah dari satu cara ke cara lain, sebuah proses belajar yang tidak selalu mulus.

Tami memperlihatkan dinamika yang lain. Dalam jarak tertentu, ia antusias. Namun ketika batas itu berubah, ia memilik menjaga jarak. Enrichment menjadi ruang yang lebih aman baginya untuk terlibat. Ia aktif, dan menyelesaikan tantangannya dengan caranya sendiri tanpa tekanan, tanpa kedekatan yang belum siap ia terima.

Sementara itu, Noon menunjukkan bahwa ketenangan juga bagian dari strategi. Ia fokus pada pipanya sendiri, hingga gangguan datang. Saat itu, responsnya tegas suara dan gestur yang cukup untuk mempertahankan apa yang ia miliki. Setelahnya, ia kembali pada ritmenya: menghisap, menggoyangkan, menarik bagian-bagian kecil dari dalam pipa. Dalam waktu yang relatif singkat, hasil mulai terlihat. Namun proses tidak berhenti di sana, ia terus mencari, terus mencoba.

Berbeda lagi dengan Jay. Enrichment tidak segera menjadi prioritasnya. Ia menyapa, lebih dahulu, mendekat, sebelum kembali pada pipa yang tetap ia jaga. Dengan jari-jarinya, ia mencungkil kuaci dari lubang kecil, menggoyangkannya secukupnya. Tidak terburu-buru, tidak tergesa. Bahkan ketika sebagian hasil sudah di dapat, ia tetap melanjutkan seolah memahami bahwa prosesnya sama pentingnya dengan hasilnya.

Di dalam satu jenis enrichment yang sama, muncul banyak cara. Tidak ada satu metode yang diajarkan. Tidak ada instruksi yang diberikan. Hanya sebuah tantangan kecil yang membuka kemungkinan besar: berpikir, mencoba, gagal, lalu mencoba lagi. Enrichment bekerja dengan cara itu menunda kemudahan, memperpanjang proses, dan menghadirkan kembali fragmen-fragmen kecil dari kehidupan di hutan. Di dalam pipa berisi kuaci itu, kita tidak hanya memberi makan. Kita sedang mengingatkan kembali bagaimana cara hidup di alam. (NAB)