MUD, SLOPES, AND A SNAPPED ROPE

Fieldwork isn’t always about clean data and neat reports. Sometimes, it’s mud in your face, engines screaming on steep slopes, and figuring things out when everything falls apart. Recently, me and my partner spent a week assessing areas around coal mining sites and palm oil plantations. One motorcycle. Extreme muddy terrain. Brutal slopes. Not a single day without being completely covered in dirt.

On the very last day, our motorcycle broke down. Broken gear. Remote location. No signal. No tools. Just us and the silence of nowhere. After struggling to get reception, we finally reached the backup team who had just arrived from another town. With no proper equipment to fix the bike, we had improvised. Tied a rope from the car and towed the motorcycle 20 km to the nearest village.

Simple in theory. Terrifying in practice.

The road was full of potholes and steep descents. The car had to keep the perfect speed while the bike fought to stay balanced. Then gravity took over on a downhill stretch, the motorcycle almost slammed into the car. My partner braked, the rope tangled under the wheel, and snapped.

That moment was a reminder that fieldwork is never “just fieldwork”. It test your wit, resilience, and teamwork in real time. We slowed down, coordinated through walkie-talkie, and carefully finished the 20 km journey. Rough? Absolutely. Worth it? Every single time. (DIM)

KETIKA LAPANGAN MENGUJI KAMI

Kerja lapangan tidak selalu soal data rapi dan laporan yang tersusun manis. Beberapa waktu lalu, saya dan satu rekan kerja melakukan assesmen di sekitar area tambang batubara dan perkebunan sawit. Dengan satu motor, jalur berlumpur tanpa akhir dan tanjakan ekstrem yang setiap hari menguji keseimbangan dan kesabaran. Tidak ada satu hari pun, kami tidak dipenuhi debu dan lumpur. Sampai di hari terakhir, rasa lelah sudah terasa dan motor kami akhirnya menyerah. Gigi rusak. Lokasi terpencil. Sinyal nyaris tidak ada. Tanpa alat. Hanya kami dan kenyataan bahwa ini tidak akan mudah.

Setelah susah payah mencari sinyal, kami berhasil menghubungi Tim backup yang baru tiba dari kota lain. Tanpa peralatan yang memadai, kami harus berimprovisasi dengan mengikatkan tali dari mobil untuk menarik motor sejauh 20 kilometer ke desa terdekat. Terdengar sederhana. Kenyataannya tidak. Jalan penuh lubang dan turunan curam. Di salah satu turunan, motor melaju terlalu cepat mendekati mobil. Pengendara motor pun panik, menarik rem, dan tali sempat terlilit sebelum akhirnya putus. Dalam hitungan detik, kami sadar betapa cepat situasi bisa berubah menjadi berbahaya.

Momen ini jadi pengingat bahwa kerja lapangan bukan sekedar kerja lapangan. Ia menguji kecerdikan, ketahanan, dan kerja sama tim secara nyata. Setelah itu kami melaju lebih pelan, berkomunikasi lewat HT, dan akhirnya menyelesaikan 20 km itu dengan aman. Berat dan penuh tantangan? Selalu. Tapi justru di perjalanan seperti itulah kita belajar seberapa kuat sebenarnya tim kita. (DIM)

THREE IN ONE JOB

Tidak terasa, genap sudah satu bulan saya mengeksplorasi keindahan lanskap hutan di Busang. Mewakili tim APE Guardian bertepatan dengan libur perayaan Natal di akhir Desember 2026, yang mana sebagian staf APE Defender di BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance) mengambil cuti hari raya dan membutuhkan tenaga tambahan, saya diminta untuk bergeser ke BORA selama satu bulan ke depan.

Selama di sana, bukan hanya penalaan dan wawasan yang bertambah, tetapi juga lingkar pertemanan saya semakin meluas. Saya mendapat kesempatan untuk menjajal berbagai bagian pekerjaan dan bekerja bersama teman-teman yang hebat.

Beberapa hari pertama di BORA, saya berkesempatan membawa orangutan ke sekolah hutan. Ditemani Faradiva sebagai pendamping di hari pertama, saya belajar cara membawa orangutan ke sekolah hutan, cara mengamati, serta mencatat perilaku dan karakter setiap individual yang beragam. Beberapa hari pertama memang cukup menantang bagi saya untuk menghafal nama dan ciri-ciri fisik masing-masing orangutan, terlebih ketika ukuran tubuh mereka tampak mirip.

Setelah beberapa hari mengikuti kegiatan sekolah hutan, pada minggu berikutnya saya berkesempatan menjadi bagian dari tim teknisi yang didampingi oleh Bang Jevri. Kami datang lebih awal untuk menguapkan pakan orangutan dengan takaran yang berbeda untuk setiap individual. Selain menyiapkan pakan pagi, siang, dan sore, kami juga mempersiapkan alat serta bahan untuk kebutuhan enrichment masing-masing orangutan pada pagi dan sore hari.

Memasuki minggu terakhir di BORA, saya berkesempatan menjadi babysitter bagi beberapa orangutan yang masih memerlukan perhatian ekstra. Di dampingi oleh babysitter Gita, saya belajar menyiapkan pakan, meracik susu dengan takaran yang berbeda untuk setiap individual, memberikan enrichment, serta membawa mereka ke sekolah hutan. Menjadi babysitter menurut saya cukup menantang, mengingat mereka masih sangat bergantung pada kehadiran manusia. Selain itu, tubuh mungil mereka juga cukup sulit untuk terus terpantau ketika sudah memanjat pohon yang tinggi saat sekolah hutan.

Menjadi relawan di BORA membuat saya semakin mengenal pribadi teman-teman yang menyenangkan serta belajar banyak hal baru yang sebelumnya, belum pernah saya coba (Hana_COPSchool15)

ENRICHMENT SARANG SEMUT: KETIKA NALURI LIAR DIUJI DI BALIK JERUJI KARANTINA

Di balik kandang karantina yang sunyi, proses menjadi “liar” kembali sedang berlangsung. Rehabilitasi orangutan bukan hanya soal pakan bergizi dan pemeriksaan kesehatan rutin. Ada hal yang jauh lebih rumit dan tak kasatmata yaitu mengembalikan naluri. Naluri untuk mencari, memilih, mencoba, gagal, lalu mencoba lagi. Naluri untuk bertahan hidup.

Karena itu, enrichment atau pengayaan lingkungan menjadi bagian penting dalam keseharian orangutan karantina. Bukan sekedar hiburan, melainkan simulasi kecil tentang bagaimana hutan bekerja. Tentang bagaimana makanan tidak selalu datang dalam bentuk yang mudah. Tentang bagaimana setiap gigitan punya konsekuensi.

Untuk pertama kalinya, empat orangutan karantina (Raiking, Noon, Jay, dan Bow) diperkenalkan pada satu tantangan baru yaitu sarang semut. Di hutan, serangga adalah bagian dari menu alami orangutan. Mereka tahu cara membongkar, menjilat, menggigit, dan bersiasat menghadapi ribuan semut yang mempertahankan rumahnya. Di karantina, pengalaman itu harus dilatih kembali.

Begitu sarang semut diletakkan, Raiking menjadi yang pertama mendekat. Rasa ingin tahunya mengalahkan ragu. Ia mengangkat sarang itu, mengupasnya perlahan. Namun saat semut mulai keluar semakin banyak, langkahnya terhenti. Ia mundur, mengamati, menghitung risiko. Lalu kembali lagi.

Noon memilih strategi yang berbeda. Ia tidak terburu-buru. Dari jarak aman, ia memperhatikan Raiking. Bukan sarang utamanya yang ia incar, melainkan pecahan-pecahan kecil hasil bongkaran Ranking. Noon seperti sedang belajar membaca situasi sebelum mengambil keputusan.

Ketika sedikit madu dioleskan pada sarang, dinamika berubah. Aroma manis itu memancing keberanian. Ranking kembali menjilat dan menggigit sedikit demi sedikit. Noon tetap setia pada caranya, menunggu hingga jumlah semut berkurang, lalu mengambil bagian yang lebih aman. Baru ketika sarang utama hampir tandas, ia berani mengambil sisa terakhir yang ditinggalkan.

Di kandang lain, cerita berbeda berlangsung. Jay menggigit sarang semut dengan cepat, lalu berlari. Semut-semut mengerubungi mulutnya. Ia membersihkan diri, lalu kembali lagi. Gigit. Lari. Bersih-bersih. Ulangi. Sebuah pola belajar yang mentah, jujur, dan penuh determinasi.

Bow hanya menonton pada awalnya. Tatapannya mengikuti setiap gerakan Jay. Seolah ia sedang bertanya, “Seberapa jauh risiko ini sepadan?”. Ketika Jay berkali-kali kembali, Bow akhirnya mencoba. Tapi ia tidak meniru sepenuhnya. Ia menghempaskan sarang itu sedikit demi sedikit sebelum memakannya, suatu cara cerdas untuk mengurangi perlawanan semut.

Dalam waktu sekitar 20 menit, sarang itu habis. Bukan tanpa drama, bukan tanpa gigitan, bukan tanpa keraguan. Dari luar, ini mungkin tampak seperti aktivitas sederhana. Orangutan memakan sarang semut. Selesai. Namun bagi tim rehabilitasi, setiap detik adalah data. Setiap langkah mundur adalah proses berpikir. Setiap keberanian kecil adalah kemajuan.

Siapa yang impulsif, siapa yang penuh perhitungan. Siapa yang belajar lewat pengalaman langsung, siapa yang belajar lewat observasi. Semua itu adalah potongan puzzle yang menentukan kesiapan mereka suatu hari nanti ketika tidak ada lagi perawat, tidak ada lagi pagar, tidak ada lagi madu yang dioleskan untuk menarik minat.

Enrichment bukan sekedar pengisi waktu. Ia dalah latihan. Karena pada akhirnya, hutan tidak menawarkan kemudahan. Ia menawarkan tantangan. Dan hanya mereka yang mampu membaca, beradaptasi, dan bertahan yang akan benar-benar pulang. Selangkah demi selangkah, melalui sarang semut yang dibongkar dengan hati-hati dan gigitan yang sempat membuat mundur, naluri itu dibangun kembali. (FAN)