MEMBELAH ARUS, MENEMBUS BATAS: PERJUANGAN LOGISTIK MENCAPAI SRA

Perjalanan kemanusiaan menuju Sumatran Rescue Orangutan (SRA) ini berubah menjadi ujian ketahanan fisik dan mental sejak dimulai pada 27 November 2025. Selama dua hari berturut- turut niat kami mengantar logistik dipatahkan oleh alam dengan banjir setinggi dada di Besitang dan longsor di Tol Tanjung Pura yang memutus akses total. Upaya menembus malam hingga pukul dua dini hari pada hari Jumat pun berakhir nihil, memaksa kami mundur ke Binjai dengan perasaan cemas, mengingat stok pakan bagi satwa-satwa di dalam SRA telah habis dan mereka terancam kelaparan dalam isolasi.

Sabtu, 29 November, menjadi hari penentuan bagi kami. Di Tol Tanjung Pura Kilometer 53, genangan air masih setinggi dada orang dewasa dengan arus deras yang sebelumnya telah membuat banyak kendaraan mogok dan terseret. Di tengah tekanan urgensi logistik, kami mengambil risiko besar dengan mengekor rapat di belakang sebuah truk Pertamina. Kami membiarkan truk itu memecah ombak banjir menjadi perisai bagi mobil kami untuk merayap perlahan menembus blokade air hingga akhirnya roda kendaraan menyentuh aspal kering di sisi seberang.

Rasa lega tak terlukiskan menyelimuti tim saat akhirnya tiba di SRA dengan selamat. Misi krusial untuk mendistribusikan logistik darurat, termasuk bantuan tambahan dari OIC dan COP, akhirnya tuntas, memastikan kebutuhan bagi operasional SRA dan satwa kembali aman. Setelah tugas selesai, saya bersama Tim APE Sentinel kembali ke Medan membawa pulang kelelahan yang terbayar lunas. Perjalanan ini menjadi pengingat keras bahwa garda depan konservasi seringkali menuntut keberanian untuk bertaruh nyawa demi memastikan makhluk hidup yang kita jaga tidak terlupakan di tengah bencana.(Ndaru_Orangufriends)

SAAT KABEL DAN TIANG MENJADI HARAPAN BARU BAGI SATWA LIAR

Di tengah hamparan hutan Kalimantan yang terbelah oleh Jalan Nasional Poros Kelay, lahirlah sebuah misi besar yaitu untuk mengembalikan konektivitas habitat agar satwa liar terutama orangutan, dapat bergerak dengan aman. Selama hampir empat tahun, BKSDA Kalimantan Timur bersama COP (Centre for Orangutan Protection) bekerja merancang sebuah jembatan koridor satwa, sebuah upaya penting untuk menjawab tantangan konservasi di wilayah yang menjadi jalur pergerakan satwa.

Proses menuju pembangunan jembatan dimulai dengan pengambilan data koordinat dan dokumentasi udara pada awal tahun 2022. Tahap demi tahap dijalani, kajian teknis, koordinasi lintas instansi hingga administrasi yang memakan waktu panjang. Rekomendasi pembangunan akhirnya diterbitkan pada pertengahan tahun 2025, membuka jalan bagi pelaksanaan konstruksi yang kemudian dapat diwujudkan pada 29 November 2025.

Pengerjaan jembatan dipantau oleh perwakilan BKSDA Kaltim dan staf lapangan COP dengan dukungan aparat setempat untuk memastikan proses pemasangan berlangsung aman. Meski waktu pemasangan di lapangan relatif singkat, medan terjal, jurang yang curam, serta bukaan lahan warga menjadi tantangan teknis yang harus diselaraskan sejak persiapan awal hingga hari pengerjaan.

Catatan kegiatan di tahun-tahun sebelumnya menunjukkan bahwa jembatan ini sangat dibutuhkan. Jalan poros Kelay kerap menjadi lokasi kemunculan orangutan dan satwa liar lainnya, karena dua blok hutan besar, yaitu Hutan Lindung Sungai Lesan dan Hutan Lindung Wehea, yang terpisah oleh jalur kendaraan yang padat. Jembatan ini diharapkan menjadi solusi aman agar satwa dapat menyeberang tanpa risiko konflik dengan manusia.

Kini, jembatan koridor satwa telah berdiri kokoh menghubungkan kembali bentang hutan yang sebelumnya terpisah. Langkah selanjutnya adalah pemasangan kamera trap untuk memantau penggunaan jembatan serta pemasangan rambu himbauan sesuai arahan BKSDA Kaltim. Terima kasih semua pihak yang terlibat dalam perjalanan panjang ini, hingga jembatan penghubung kehidupan ini akhirnya menjadi kenyataan. (FER)

DONASI UNTUK ORANGUTAN SRA DI KITABISA YUK

Saat ini ada 6 Orangutan Sumatra dan 1 Orangutan Tapanuli yang sedang berada di Sumatran Rescue Alliance, suatu pusat rehabilitasi orangutan di desa Bukit Mas, kecamatan Besitang, kabupaten Langkat, Sumatra Utara. Badai Senyar menghantam pulau Sumatra bagian Utara yang melumpuhkan tiga provinsi yaitu Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Lokasi SRA yang berada di antara Aceh dan Sumut ini terkena banjir dan longsor yang merusak infrastruktur di SRA.

Ada enclosure orangutan Robert termasuk kandang tidur dan pagar listrik mengalami kerusakan. Selain pohon-pohon tumbang yang menimpa, lumpur juga membenamkan kandangnya. Untung saja tim SRA dengan sigap memindahkan Robert di waktu yang tepat. Robert terlihat kaget dan meringkuk di hammock setelah pemindahan dadakan tersebut.

Kodisi kabupaten Langkat yang terkena banjir membuat jalur darat terputus, bahkan selama tiga hari, akses jalan utama Medan ke Besitang terputus. Suatu kondisi yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Listrik yang padam semakin memperburuk keadaan. Logistik tim maupun pakan satwa hanya bisa untuk esok hari.

Centre for Orangutan Protection meminta bantuan untuk SRA lewat galang dana di KITABISA.COM perbaikan besar untuk Robert dan beberapa fasilitas SRA yang masih dalam pendataan akan segera disampaikan. Terima kasih orang baik.