KIRIK-KIRIK BIRU ADA DI KAWASAN PELEPASLIARAN ORANGUTAN DI BUSANG

Kirik-kirik biru atau Blue-throated Bee-eater merupakan jenis burung yang cukup sering ditemukan di kawasan pelepasliaran orangutan di Busang, Kalimantan Timur. Satwa ini sering teramati bertengger bersama kelompoknya sembari berburu serangga terbang yang ada. Mereka jarang terbang dan lebih menyukai berburu serangga dengan cara menunggu di tenggeran, terkadang menyambar serangga dari permukaan air atau tanah (Taufiqurrahman dkk. 2022). Pulau pra-pelesliaran Dalwood Wylie adalah yang paling sering dikunjunginya sebagai lokasi berburu pakan alaminya yaitu serangga. Mereka sering dijumpai pada pagi serta siang menjelang sore bertengger di pohon ara di hulu dan hilir pulau. Hilangnya pohon besar sebagai tempat bertengger karena penebangan atau tumbang serta berkurangnya jumlah serangga sebagai pakan alaminya akan berdampak besar terhadap jumlah populasi satwa ini. 

Satwa ini tersebar dari Sumatra, Kalimantan hingga Jawa, namun agak jarang di Jawa bagian barat. Menghuni beragam area terbuka seperti di sekitar aliran sungai, kawasan pesisir, hutan bakau, bukaan di tengah hutan, serta perkebunan, dan pedesaan. Warna biru i tenggorokan merupakan ciri khas burung ini dari spesies kirik-kirik lainnya. Topi dan mantel berwarna coklat serta adanya bulu ekor tengah yang memanjang (tidak dijumpai pada remaja). Menurut Taufiqurahman dkk.  2022 ada spesies lain yang memiliki banyak kemiripan dengan kirik-kirik biru yaitu spesies kirik-kirik senja dan kirik-kirik laut. Kirik-kirik senja memiliki mantel dan topi yang berwarna coklat serta sayap berwarna hujau, namun tidak ada pemanjangan ekor tengah serta tenggorokan tidak berwarna biru, persebarannya juga tidak ada di Kalimantan yang merupakan lokasi yang kami amati. Kirik-kirik laut lebih hijau serta perpanjangan ekor tengah lancip, bukan hitam dengan ujung menebal.

Kirik-kirik biru merupakan salah satu dari beragamnya biodiversitas satwa yang ada di kawasan pelepasliaran orangutan. Pulau Dalwood Wylie dan sekitarnya juga merupakan habitat alami satwa liar yang menunggu untuk disingkap keberadaannya. Melestarikan hutan serta menjaga daerah aliran sungai menjadi tugas penting untuk menusia guna kelangsungan hubungan simbiosis antar makhluk hidup dan alamnya. Upaya kecil APE Guardian tidak akan berdampak apabila tidak adanya bantuan dari khalayak luas, baik masyarakat sekitar maupun orang-orang yang peduli akan kelestarian alam. (BIN)

MAAF PITTA, SAYA MENGANGGU TIDURMU

Keberuntungan tidak selalu ada, tapi kemungkinan terjadi ada. Inilah salah satu kebruntungan saya saat melakukan Herping atau pengamatan Amfibi dan Reptil pada malam hari di lokasi New BORA (Bornean Orangutan Rescue Alliance), Berau, Kalimantan Timur. Tepat di akhir kegiatan dan akan bergegas pulang namun dengan isengnya melihat ke belakang kantor dan keberuntungan itu pun menghampiri saya. Perjumpaan burung Paok Hijau (Pitta sordida) yang merupakan salah satu dari 27 jenis keluarga Pittidae yang ada di Indonesia dalam kondisi sedang tidur. Kehadiran saya saat itu tak sedikitpun mengusiknya karena burung ini aktif di siang hari atau diurnal dan pada malam hari waktunya tidur. 

Sontak saya langsung mencari posisi yang bagus untuk mendapatkan hasil foto yang maksimal, memanjat menara yang tidak jauh dari burung itu pun saya lakukan. Burung Paok Hijau ini bertengger di ranting kering dengan mata terpejam pada ketinggian cabang 5 meter dari tanah. Usaha tanpa suara berakhir ketika saya menekan shutter dan membuat burung ini membuka matanya karena cahaya lampu kilat kamera yang saya unakan juga. “Maaf ya Paok, saya terpaksa menganggu tidurmu”, bisik Hilman Fauzi, anggota tim APE Crusader yang sedang gabut. Tidak lama kami pun pergi, burung ini tetap di posisi yang sama dan melanjutkan tidurnya.

Paok Hijau (Pitta sordida) ini sangat mudah dikenali karena sesuai dengan namanya memang dominan berwarna hijau pada badannya, kepalanya hitam dan penutup sayap biru dengan bercak sayap putih, memiliki ukuran sedang (18-20 cm), bertubuh gemuk, kaki panjang namun ekor pendek. Kalau bersuara berupa panggilan atau siulan sederhana dan memelas, bunyinya “peuw-peuw” berulang-ulang dengan interval yang pendek. Daerah persebaran burung ini meliputi beberapa negara seperti Bangladesh, Bhutan, Brunei, Kamboja, Cina, India, Laos, Malaysia, Myanmar, Nepal, Filipina, Singapura, Thailand dan Indonesia. Paok Hijau dijumpai pada hutan-hutan di Sumatra, Kalimantan, Jawa, Sulawesi dan pulau Irian. 

Perilakunya lebih banyak menghabiskan waktunya di lantai hutan bukan berarti dia tidak suka berada di pohon. Melainkan mencari makan pada strata lantai hutan,berlompatan lalu membalikkan dedaunan dan mematuki kayu mati untuk mencari invertebrata yang bisa dimakan. Sifat si Paok yang terestrial tapi terkadang tidur di atas pada ranting-ranting pohon, bisa saja ini menghindari resiko dari predator dan terkadang tidur di tanah dengan barengan sehingga ketika salah satu individu terkena predator, individu lainnya mengeluarkan suara yang sifatnya mengusir atau mencoba melawan predator itu sendiri. Paok Hijau memiliki musim kawin pada bulan Maret, Mei, Juli dan Desember, sarangnya berbentuk kubah dibuat dari berbagai bagian tumbuhan dan dibangun pada tanah di bawah semak belukar 2-5 telur. “O iya, Pemerintah Indonesia sudah memasukkannya sebagai daftar satwa dilindungi dengan P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 dan terdaftar pada IUCN tentang spesies terancam punah dengan kategori LC (least Concern) atau sedikit kekhawatiran”. (HIL)

TAMPILAN NYENTRIK NYCTIXALUS PICTUS, SI KATAK POHON BERBINTIK DI BORA

Perjumpaan pertama saya dengan Katak pohon berbintik atau Nyctixalus pictus yang merupakan katak dari keluarga Rhacophoridae, saat saya melakukan pengamatan malam di sekitar area Rehabilitasi Orangutan BORA (Bornean Orangutan Rescue Alliance) yang dikelola oleh COP (Centre for Orangutan Protection) berlokasi di KHDTK Labanan, Berau, Kalimantan Timur pada 14 Oktober 2022.

Katak ini memiliki ukuran hingga 35 mm, tubuh yang ramping dengan moncong yang relatif panjang dan kaki belakang yang panjang. Gendang telinga terlihat dengan ukuran lebih kecil dari diameter mata. Setiap ujung jari baik tangan maupun kaki nya melebar seperti bantalan bundar yang lebih kecil dari gendang telinganya. Jari-jari kaki yang setengah berselaput dan jari-jari tangan tidak berselaput. Keunikan dari Katak Pohon Berbintik ini memiliki tampilan nyentrik seperti semua permukaan atas dan sisinya berwarna coklat kayu manis, merah atau bahkan jingga. Kulit punggung, kepala dan permukaan atas tungkai kasar dengan banyak tonjolan kecil yang tersebar di semuanya dengan warna putih mengkilap yang membentuk garis putus-putus dari tepi moncong, di sepanjang tepi kelopak mata atas dan berlanjut ke bagian bawah sisi punggung. Bagian atas iris juga berwarna putih, bagian bawah berwarna coklat. Keunikan dari katak ini merupakan salah satu katak dengan warna paling jelas dan tidak dapat disalahartikan sebagai spesies lain.

Kebiasaan dan habitat katak ini hidup di hutan primer dan sekunder tua, pada dataran dan medan berbukit-bukit, dari dekat permukaan laut hingga mencapai ketinggian 1800 MDPL. Sering dijumpai pada daun semak dan pohon kecil dengan tinggi satu sampai tiga meter di atas tanah, bisa saja mencapai tingkat yang lebih tinggi. Sedangkan telur-telurnya diletakan di lubang pohon yang berisi air atau phytothelms, dimana tempat berudu muda dapat berkembang dengan relatif aman. Selain itu, katak ini hidup nokturnal dan bersuara terdiri dari serangkaian ‘peep’ yang tenang, yang dapat dengan mudah disalahartikan sebagai panggilan serangga.

Katak pohon berbintik ini tersebar luas namun tidak umum, persebarannya mencakup beberapa pulau seperti di Semenanjung Malaya (dari ujung selatan Thailand melalui Semenanjung Malaysia hingga Singapura), Sumatra (Indonesia), Borneo (Brunei, Malaysia, Indonesia) dan Filipina. Karena penurunan luas dan kualitas habitat yang terus berlanjut akibat pembukaan hutan, populasinya disimpulkan menurun yang menjadi alasan kenapa katak ini tersebar luas dan tidak umum. Status perlindungan IUCN saat ini masuk dalam catatan merah dengan kategori LC (Least Concern) atau sedikit kekhawatiran, sedangkan dalam peraturan dan perundangan di Indonesia sendiri tidak masuk dalam kategori satwa dilindungi. (HIL)