ORANGUFRIENDS MEDAN DI MADRASAH ALIYAH FARHAN SYARIF

“Tepuk Orangutan”, seru Orangufriends Medan yang melakukan kunjungan sekolah di Madrasah Aliyah Swasta Farhan Syarif Hidayah, Sei Semayang, Kabupaten Deli Serdang, Sumatra Utara. Aulia merupakan alumni COP School Batch 14 mengajak 80 siswa dari kelas 10 dan 12 untuk mengenal Centre for Orangutan Protection (COP) dan konservasi orangutan.

Materi berat yang dikemas ringan tentang Biologi orangutan dan berbagai profesi yang dibutuhkan dalam dunia konservasi pun menjadi wawasan baru bagi para siswa dan guru yang hadir. Tentu saja permainan “Pemburu dan Penebang” bukanlah profesi yang disarankan. Tepatnya bagaimana itu menjadi ancaman atas keberadaan orangutan. Suasana di luar ruangan itu pun mendadak meriah khas anak remaja menuju dewasa. Mereka pun berani berpendapat tentang makna filosofi dari permainan yang baru saja mereka mainkan.

Untuk Orangufriends (relawan orangutan) ini adalah cara mereka berlatih public speaking. Tidak mudah ternyata berbicara di depan orang banyak, sekali pun itu mereka yang hanya terpaut bebera tahun. Ada guru yang mengawasi juga sempat buat grogi. Tapi bikin nagih, kapan lagi punya kesempatan berperan dalam dunia konservasi orangutan. Selanjutnya Orangufriends Medan menyampaikan surat permohonan untuk melakukan kegiatan School Visit ke SDIT Plus Az-zahra Stabat dan SMPN 1 Stabat. Semoga kedua sekolahan tersebut juga membuka pintu untuk kami. (BUK)

TRANSLOKASI ORANGUTAN URAI DENGAN BEKAS LUKA DI BIBIR

Laporan orangutan menganggu perkebunan kelapa sawit di daerah Wehea masuk, sembari tim menghela nafas prihatin. “Orangutan hanya mencari makan di rumahnya. Ya, rumahnya yang tanpa batas. Dia tak mengerti batas, yang ada dia mengikuti insting alamiah nya mencari makan”. Tak hanya satu, tim APE Crusader COP pun menerima 3 laporan lainnya di kawasan tersebut.

Satu orangutan terlihat di hutan samping kebun. Tim APE Crusader bersama BKSDA SKW II Kaltim kemudian memantau dan mencoba memotong jalur orangutan tersebut. Pepohonan yang tersisa tidak akan cukup menjadi rumah untuk orangutan betina beranjak dewasa ini. “Terpaksa translokasi”.

Beruntung sekali kondisinya tidak buruk dengan nilai BCS (Body Scoring Condition) 5/10 normal, semua pengukuran tubuh (napas, jantung) normal, organ dalam normal, dan selama proses akan dibius pergerakannya aktif. Tim pun menamainya Urai, orangutan betina dengan berat badan 40 kg ini pun ditraslokasi ke hutan yang lebih luas.

Ada yang mengusik pikiran saat melihat wajah orangutan Urai. Bekas luka di bibirnya tertutup sempurna secara alami. Luka yang menyiratkan betapa sulitnya hidup di alam. Mungkin saja karena perkelahian antar orangutan, perebutan makanan misalnya, atau mungkin juga karena kecerobohannya sendiri. “Haruskah kita tambah kesulitannya dengan menghabisi hutan sebagai rumahnya?”. (AGU)

BABY HOUSE BORA NAIK ATAP

Setelah tertunda dua bulan, akhirnya atap baby house orangutan di BORA naik. Kini pembangunan sudah mencapai 70% dan ditargetkan akhir bulan September 2024 sudah selesai. “Pembangunan ini cukup lambat karena cuaca yang tidak bersahabat. Pagi hari hujan dan di siang hari terik, namun para pekerja bangunan sudah tidak masuk dari pagi untuk menghindari nganggur dan menunggu hujan berhenti yang tidak tahu kapan berhentinya”, jelas Arif Hadiwijaya, manajer pengembangan COP.

Ruangan besar untuk bayi-bayi orangutan nantinya akan dilengkapi berbagai perlengkapan arena bermain orangutan. Ruangan dirancang agar cukup sinar matahari dan memudahkan ruangan dibersihkan. Nantinya ruangan akan akan digunakan beberapa orangutan untuk beraktivitas dan tidur. Cuaca hujan tidak menjadai halangan bayi-bayi ini untuk bermain. Tidak seperti saat ini, ketika hujan turun, bayi orangutan akan berada di dalam kandang saja.

Selain ruangan bersama itu akan ada dua buah kandang di luar. Yang satu akan digunakan saat ruangan besar dibersihkan, dan orangutan bisa bermain di kandang luar. Sementara kandang luar satunya bisa dibuka pintu penghubungnya agar bayi orangutan bisa memiliki ruang gerak yang lebih luas lagi. Dapur untuk bayi, ruangan cuci, ruangan ganti pakaian baby sitter, dan kamar mandi adalah ruangan yang menempel dengan ruangan bersama tadi. Semoga bayi-bayi orangutan di BORA (Bornean Orangutan Rescue Alliance) mendapatkan kesempatan terbaik untuk melewati masa kecil yang lebih baik. (RIF)