MERAWAT SETIAP LANGKAH ORANGUTAN AMAN

Aman sudah bersama kami sejak Juni 2020. Ia tiba di BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance) dalam kondisi yang membuat dada terasa sesak hanya dengan melihatnya. Cara jalannya aneh dan pelas, seolah setiap langkah harus dipikirkan lebih dulu. Beberapa jemari tangannya sudah teramputasi, meninggalkan bentuk yang tidak utuh pada tangannya. Tidak ada yang tahu pasti apa yang ia lalui sebelum tiba di sini. Luka-luka di tubuhnya menjadi satu-satunya petunjuk tentang masa lalunya.

Saat dilakukan pemeriksaan menyeluruh menggunakan rontgen, kami menemukan masalah yang selama ini ia simpan dalam diam. Pinggulnya tidak normal. Kepala tulang pahanya tidak terbentuk sebagaimana mestinya, sehingga pertautan antara panggul dan paha hampir pasti menimbulkan nyeri setiap kali ia bergerak. Dengan jari tangan yang tidak utuh dan kaki yang juga bermasalah, pergerakan Aman menjadi lambat dan tertatih. Ia sering berhenti sejenak, mungkin karena lelah, mungkin karena rasa sakit yang datang tiba-tiba.

Kini Aman beranjak menjadi orangutan jantan berusia sekitar 12 tahun. Rehabilitasi Aman tidak hanya berfokus pada penguasaan keterampilan bertahan hidup di alam, seperti memanjat, mengenali pakan, dan membuat sarang. Lebih dari itu, rehabilitasi juga bertujuan memastikan kondisi yang Aman alami tidak semakin parah, serta terus mengupayakan kesembuhannya. Setiap langkah perawatan dibuat dengan mempertimbangkan kualitas hidup Aman, baik saat ini maupun di masa depan.

Untuk mengurangi nyeri, selain terapi obat, kami menyesuaikan banyak aspek perawatannya. Pakan yang diberikan merupakan pakan pilihan yang mendukung regenerasi jaringan, tinggi kolagen, serta mengandung vitamin dan mineral tertentu. Kami juga berusaha memberikan rimpang herbal yang dapat membantu pemulihan tubuhnya.

Selama sekolah hutan, pergerakan Aman diamati secara khusus. Setiap hari kami mengumpulkan rekaman video saat Aman memanjat, berjalan, berayun, menggulingkan diri, hingga cara ia duduk dan berapa lama ia mampu mempertahankan posisi tersebut. Video-video ini kemudian dikonsultasikan dengan ahli biolokomosi agar setiap perubahan kecil pada pola geraknya dapat dipahami dan ditangani dengan tepat.

Kadang istirahat Aman pun dibuat lebih khusus. Tali-temali ditambahkan lebih banyak untuk memudahkannya bergerak dan memberi ruang agar ia tetap aktif tanpa harus memaksakan tubuhnya. Aman tumbuh dengan keterbatasan yang tidak ia pilih. Setiap langkah kecil yang ia ambil menunjukkan keteguhan yang luar biasa. Di BORA, kami berusaha memastikan langkah-langkah itu terasa lebih ringan, lebih aman, dan penuh harapan. (THA)

DI ANTARA BIBIT YANG TUMBUH DAN YANG HILANG: HARAPAN DAN PELAJARAN

Pada 21-25 Januari 2026, tim APE Crusader bersama Kelompok Tani Makmur Jaya Kampung Sidobangen kembali turun ke lapangan. Kali ini, mereka melanjutkan upaya penanaman di area penyangga Hutan Lindung Sungai Lesan (HLSL), tepatnya di sekitar sempadan Sungai Lesan. Kegiatan ini merupakan penanaman tahap keempat dengan total 500 bibit tanaman.

Bibit yang ditanam terdiri dari 200 bibit mangga, 150 rambutan, 50 jambu bol, dan 100 ara. Jenis-jenis ini dipilih karena diharapkan dapat memberi manfaat jangka panjang, baik bagi satwa liar maupun masyarakat sekitar kawasan hutan.

Selain penanaman, tim dan kelompok tani juga melakukan perawatan terhadap bibit yang telah ditanam pada tahap-tahap sebelumnya. Pengecekan dilakukan dengan membersihkan area sekitar tanaman, memastikan bibit tidak tertutup semak atau gulma yang dapat menghambat pertumbuhannya.

Namun dari hasil perawatan dan evaluasi lapangan, diketahui sekitar 50 persen tanaman telah hilang atau mati. Beberapa faktor menjadi penyebabnya. Sebagian tanaman berada di area hutan dengan kanopi yang sangat lebat, sehingga tertutup daun, ranting, atau bahkan tertimpa pohon yang roboh. Di beberapa titik, lokasi tanam berada di tebing yang membuat bibit lebih rentan tertimpa dedaunan dan pepohonan.

Aktivitas manusia juga mempengaruhi keberlangsungan tanaman. Penebangan pohon menyebabkan perubahan vegetasi hutan yang cukup drastis. Selain itu, di beberapa lokasi, area tanam berubah karena adanya aktivitas penanaman oleh warga, baik untuk padi maupun kelapa sawit.

Berbagai temuan ini menjadi pelajaran penting bagi tim untuk penanaman berikutnya, agar strategi yang diterapkan bisa lebih efektif dan sesuai dengan kondisi lapangan. Meski demikian, tidak semua hasilnya suram. Sejumlah tanaman justru tumbuh dengan baik dan sudah mencapai ketinggian yang menjanjikan. Bibit-bibit inilah yang menjadi penanda keberhasilan dan alasan bagi tim untuk tetap optimis bahwa upaya kecil di tepian Sungai Lesan ini kelak akan memberi manfaat, khususnya bagi satwa, dan pada akhirnya juga bagi manusia. (HUS)

COP MENGUATKAN KESIAPSIAGAAN PENYELAMATAN SATWA DI SITUASI BENCANA

Dalam situasi darurat dan kebencanaan, satwa sering menjadi pihak paling rentan dan terabaikan. Penyelamatan mereka tidak bisa dilakukan secara sendiri-sendiri. Dibutuhkan koordinasi yang kuat, komunikasi yang jelas, serta kepercayaan antar tim agar setiap tindakan di lapangan berjalan aman dan efektif.
Berangkat dari kesadaran tersebut, Tim Disaster COP menggelar latihan gabungan bersama BPBD Sleman dan Basarnas DIY pada Rabu (28/1) di Embung Kaliaji, Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman. Latihan ini mempraktikkan kesiapsiagaan penyelamatan di air, mulai dari persiapan fisik, penggunaan perahu rescue, hingga simulasi evakuasi, sebagai bekal menghadapi situasi banjir, termasuk saat harus menyelamatkan satwa yang terjebak atau terdampak.
Kegiatan ini juga menekankan pentingnya pengambilan keputusan di lapangan. Tidak semua kondisi mengharuskan penolong untuk langsung bertindak. Menjangkau dari jarak aman, menggunakan alat bantu, mendekat dengan perahu, atau bahkan menahan diri saat resiko terlalu tinggi adalah bagian dari strategi penyelamatan. Mengetahui kapan harus bergerak dan kapan tidak bertindak menjadi kunci untuk menjaga keselamatan penolong sekaligus satwa yang diselamatkan. 
Melalui kegiatan ini, COP berharap koordinasi dan kepercayaan dengan instansi kebencanaan dapat semakin erat, sehingga penanganan darurat di lapangan berjalan lebih cepat, aman, dan terukur. Ke depan, latihan gabungan seperti ini diharapkan dapat menjadi agenda rutin yang tidak hanya melibatkan instansi terkait, tetapi juga membuka ruang pembelajaran bagi relawan kebencanaan satwa dan Orangufriends, agar semakin banyak pihak yang siap bergerak melindungi satwa saat bencana terjadi. (VID)