DULU, POPI MEMELUK MANUSIA, KINI MEMELUK PEPOHONAN

Kabut tipis masih menggantung di atas Sungai Atan, Kampung Long Lees, Busang, Kutai Timur, ketika deru mesin perahu mulai memecah keheningan pagi itu. Di atas perahu, sebuah kandang angkut berwarna jingga terikat rapi. Di dalamnya duduk orangutan betina berusia sembilan tahun bernama Popi. Hari itu, 10 Agustus 2025 bertepatan dengan Hari Konservasi Alam Nasional akan menjadi hari yang mengubah hidupnya selamanya. Dari kampung Long Lees, Popi berangkat menuju Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat, sebuah rumah baru yang telah lama menunggunya.

Popi adalah salah individu yang paling populer di pusat rehabilitasi BORA. Ia diselamatkan ketika usianya belum genap satu bulan, saat giginya pun belum ada yang tumbuh. Pada September 2016, Popi dibawa ke BORA untuk memulai perjalanan panjang rehabilitasinya setelah sempat dipelihara warga dalam waktu yang singkat. Mungkin ia tidak memiliki sedikitpun memori tentang induknya, karena ia telah kehilangan induknya pada usia yang terlalu muda. Kehidupan tanpa induknya sejak sangat kecil membuatnya terkenal manja pada para animal keeper dan staf BORA. Ia sering mencari kenyamanan dari manusia, dan sempat ada keraguan apakah Popi benar-benar bisa mandiri di alam liar suatu hari nanti.

Tetapi tahun-tahun panjang rehabilitasi dari sekolah hutan hingga pra-rilis di pulau, mengubah segalanya. Perlahan, insting liarnya tumbuh kembali. Data sekolah hutan menunjukkan bahwa Popi sering mengonsumsi variasi pakan alami lebih beragam dibandingkan orangutan lain. Di pulau pra-pelepasliaran, ia terbukti mampu bertahan hidup 24/7 selama beberapa bulan, beradaptasi dengan habitat liar tanpa lagi bisa berlindung di bawah naungan atap kandang.

Perjalanan menuju lokasi pelepasliaran ini bukan sekadar memindahkan Popi, ini adalah langkah mengembalikannya pada rumah sejatinya, habitat hutan yang masih terjaga, yang mampu menopang keberlangsungan hidupnya dengan baik. Bersama tim gabungan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur, Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Kelinjau, COP (Centre for Orangutan Protection), dan TOP (the Orangutan Project), Popi menempuh sekitar 10 jam perjalanan darat dari Berau dan 3 jam perjalanan sungai dari Long Lees untuk menuju Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat, salah satu benteng terakhir keanekaragaman hayati di Kalimantan Timur.

Saat pintu kandang akhirnya dibuka, Popi bergegas keluar tanpa ragu, Ia melangkah keluar dengan penuh semangat, lalu memanjat pohon pertama yang dilihatnya. Gerakannya seakan menuliskan episode baru dalam cerita panjang perjalanan hidupnya, orangutan tanpa induk yang akhirnya pulang. Di pohon itu, Popi langsung menemukan buah balangkasua atau disebut juga ginalun (Lepisanthes alata), kumpulan buah berwarna merah keunguan mirip seperti anggur, ia kemudian menyantapnya dengan lahap.

Tim post-release monitoring (PRM) dari APE Guardian COP mengamati perilaku Popi dari kejauhan. Semua keraguan lama kini terbantahkan. Popi bergerak aktif, mencari buah-buahan hutan, mengunyah kulit liana, memakan daun muda, minum air sungai, hingga “pesta panen” di pohon sengkuang/dahu (Dracontomelon dao) yang sedang berbuah lebat. Popi bukan lagi anak manja yang selalu mencari perhatian manusia. Ia kini orangutan muda dengan naluri liar yang sudah terbentuk kembali.

Hari kedua monitoring membawa kejutan. Dari atas kepala kami, sekitar sepuluh meter dari permuakaan tanah, muncul suara pergerakan kanopi pohon, tampak pula siluet orangutan.

“Itu Popi bukan?”, tanya Yusuf, asisten lapangan APE Guardian.

Kami ragu, karena Popi sebelumnya sudah menyeberang sungai melalui liana yang melintang dari pohon ke pohon melintasi sungai. Tidak lama kemudian wajahnya yang terasa familiar terlihat jelas, memori segera menyeruak, itu adalah Bonti.

Bonti adalah teman sekandang Popi saat di BORA, yang lebih dahulu dilepasliarkan pada Januari 2025. Dari kanopi pohon, ia tampak memperhatikan Popi yang berada di atas pohon seberang sungai selebar kurang lebih 6 meter. Beberapa menit setelah memperhatikan dari seberang, Bonti memberanikan diri menyeberang sungai melalui liana, mendekati Popi yang sedang mencari makan.

Pertemuan itu seperti reuni teman lama. Bonti mengejar Popi layaknya saat mereka masih bersama di sekolah hutan. Beberapa lama setelah momen itu, Popi menjelajah lebih jauh ke dalam hutan. Gerakannya cepat, daya jelajahnya tak terkejar oleh tim PRM, hingga akhirnya ia menghilang dari pantauan tim PRM yang kewalahan menembus rapatnya vegetasi.

Kini Popi benar-benar bebas. Ia hidup di ekosistem Busang yang kaya akan sumber pakan, jauh dari ancaman aktivitas manusia. Pada Hari Konservasi Alam Nasional, kebebasan Popi menjadi lebih dari sekadar kisah individu. Ia adalah simbol dengan cerita uniknya, yang suatu hari nanti akan mendapat kesempatan yang sama, kembali ke rumah sejati mereka, hutan Kalimantan. (RAF)

PAGARI ADALAH PENJAGA HUTAN DAN HARIMAU SUMATRA

Global Tiger Day 2025 membawa semangat yang mengingatkan kita bahwa Harimau Sumatera sedang berada di ujung tanduk. Melalui pameran foto, diskusi publik, bedah buku, scrrening film, hingga aktivitas interaktif, acara ini bukan sekedar perayaan, tetapi sebuah panggilan darurat agar kita bersatu menyelamatkan satwa ikonik Nusantara ini.

Pameran foto PAGARI (Patroli Anak Nagari) menjadi saksi bisu betapa beratnya perjuangan menjaga hutan. Setiap gambar bukan hanya indah, tapi juga menyimpan cerita akan langkah kaki yang menyusuri hutan berhari-hari, kamera jebak yang menangkap sekilas bayangan harimau, hingga interaksi hangat dengan masyarakat lokal untuk mencegah konflik manusia dan satwa. Foto-foto ini menggugah kesadaran bahwa perjuangan konservasi adalah perjuangan mempertahankan masa depan.

Dikusi publik bersama anggota PAGARI dan BKSDA Sumatera Barat membuka mata banyak orang, pengalaman mereka menghadapi medan berat, bernegosiasi dengan warga demi titik temu, hingga merasakan getirnya keterbatasan sumber daya. “Kami hanya bagian kecil dari perjuangan besar ini. Harimau tidak akan selamat tanpa keterlibatan semua pihak”, ungkap Bu Erlinda dari BKSDA Sumbar. Kata-kata ini menjadi pengingat bahwa harimau tidak bisa berjuang sendiri, mari bersama menyuarakan suara mereka.

Pemutaran film dokumenter juga mengajak kita masuk ke dalam hutan, menembus pepohonan lebat, melewati jalan setapak yang berbahaya, hingga melihat jejak harimau yang masih tersisa. Beberapa pengunjung tak bisa menyembunyikan rasa haru dan bangga karena harimau masih ada, sekaligus sedih karena ancamannya semakin nyata. Anak-anak pun ikut berpartisipasi lewat games dan art therapy menunjukkan bahwa kepedulian bisa tumbuh sejak dini. “Inilah ruang harapan, dimana Harimau Sumatra adalah simbol kekuatan alam sekaligus penentu keseimbangan ekosistem hutan tropis. Jika masyarakat adat, pemerintah, akademisi, LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat), dan setiap individu bersatu, harimau masih punya kesempatan untuk terus berlari bebas, bukan tinggal cerita”. (Putra_COP School 15)

ORANGUTAN IKUT LARI DI BERAU

Tanggal 24 Agustus 2025 lalu, halaman Kantor Bupati Berau dipenuhi semangat peserta Bupati Berau Independence Run 2025. Dari sekian banyak pelari, ada satu yang paling mencuri perhatian, ada “orangutan” di tengah keramaian! Tentu saja bukan sungguhan, melainkan Rara, babysitter dari BORA, yang memutuskan ikut berlari dengan kostum orangutan. Bersama Rara, ada juga Cici, Widi, Indah, dan Dea yang ikut meramaikan acara ini. Meski sehari-hari sibuk merawat orangutan di BORA, mereka tetap meluangkan waktu untuk menyuarakan kepedulian terhadap orangutan di sela-sela aktivitas mereka.
“Karena acaranya berdekatan dengan Hari Orangutan Sedunia dan masih dalam rangka Bulan Orangufriends. Aku rasa ini momen bagus buat mengenalkan orangutan dengan cara yang seru dan berkesan,” ujar Rara. Setiap tanggal 19 Agustus, dunia memang memperingati Hari Orangutan Sedunia sebagai momentum untuk mengingatkan pentingnya pelestarian orangutan. Biasanya kegiatan dilakukan dalam bentuk kampanye, lomba, atau edukasi singkat. Namun di tahun 2025 ini, COP memilih langkah berbeda. Perayaan tidak hanya berlangsung sehari di satu lokasi, melainkan dikembangkan menjadi “Bulan Edukasi Orangutan”, sebuah gerakan serentak yang menggerakkan relawan di berbagai daerah di Indonesia dengan semangat yang sama.
Reaksi penonton pun beragam. “Ada yang kaget, ada yang nyeletuk ini monyet atau orangutan. Tapi lama-lama mereka heboh banget. Banyak yang minta foto, ada yang sengaja mendekat buat kasih semangat. Rasanya hangat banget, kayak punya teman baru di sepanjang jalan,” kenang Rara sambil tersenyum.
Soal larinya, Rara mengaku awalnya baik-baik saja. “Tapi mulai kilometer dua, mulai terasa panas dan engap. Aku beberapa kali buka kepala kostum buat bernapas, terus lanjut dengan jalan cepat. Untungnya teman-teman pembawa poster juga aktif banget, mereka bentang poster di keramaian atau spot fotografer. Pas melewati Car Free Day, anak-anak makin antusias, minta high five dan rebutan stiker orangutan. Itu seru banget!” tambahnya sambil tertawa kecil.
“Yang jelas, ini pengalaman baru yang seru banget. Aku senang lihat banyak orang tua dan anak-anak berebut stiker, terus mau foto bareng orangutan. Buatku, lari pakai kostum orangutan itu tantangan sekaligus cara fun untuk bikin orang peduli. Rasanya capek, panas, tapi bahagia. Dan aku jadi makin termotivasi buat latihan lebih giat lagi, siapa tahu lain kali bisa lari lebih jauh dengan kostum ini!” tutup Rara penuh semangat. (DIM)