JEJAK PAKAN, JEJAK HARAPAN

Hujan turun deras semalam, mengetuk permukaan sungai tanpa henti. Pagi itu, permukaan sungai meluap hingga menutup tepian pulau, arusnya lebih deras, warna sungai yang sebelumnya jernih berubah menjadi kecoklatan. Kami hanya bisa menunggu hingga sore, menanti air kembali surut, sebelum menyeberang ke pulau pra-pelepasliaran Dalwood Wylie atau Hagar. Di sanalah agenda hari ini menanti, mendata pohon-pohon pakan, sumber kehidupan bagi orangutan kandidat lepas liar.
Di bawah langit yang masih mendung, Tim APE Guardian bersama Hidayatul Latifah atau yang biasanya dipanggil Atul, staf KPHP Kelinjau sekaligus alumni COP School Batch 15 memulai pendataan. Pulau Hagar menyambut dengan deretan pohon bayur (Pterospermum bornease) yang menjulang dan ara (Ficus racemosa) yang buahnya menjadi santapan favorit satwa liar. Satu per satu pohon yang merupakan potensi sumber pakan diamati, ditandai menggunakan pita, dan dicatat jenisnya. Aktivitas ini mungkin tampak sederhana, namun di balik setiap data yang terkumpul tersimpan arti besar. Vegetasi bukan hanya pelengkap bagi kehidupan orangutan, melainkan fondasi yang menopang kelangsungan hidupnya. Keberadaan pohon pakan menjadi penentu utama apakah suatu hutan benar-benar bisa menjadi rumah bagi orangutan. Pepohonan boleh tumbuh rapat, namun tanpa sumber pakan yang cukup, orangutan takkan mampu hidup dan berkembang dengan baik di sana.
Pterospermum bornease) yang menjulang dan ara (Ficus racemosa) yang buahnya menjadi santapan favorit satwa liar. Satu per satu pohon yang merupakan potensi sumber pakan diamati, ditandai menggunakan pita, dan dicatat jenisnya. Aktivitas ini mungkin tampak sederhana, namun di balik setiap data yang terkumpul tersimpan arti besar. Vegetasi bukan hanya pelengkap bagi kehidupan orangutan, melainkan fondasi yang menopang kelangsungan hidupnya. Keberadaan pohon pakan menjadi penentu utama apakah suatu hutan benar-benar bisa menjadi rumah bagi orangutan. Pepohonan boleh tumbuh rapat, namun tanpa sumber pakan yang cukup, orangutan takkan mampu hidup dan berkembang dengan baik di sana. 

“Di Hagar, kami juga melihat langsung bagaimana Charlotte, salah satu orangutan di sini, memanfaatkan berbagai jenis tumbuhan untuk bertahan hidup,” tutur Ferryandi Saepurohman, kapten tim APE Guardian. “Mulai dari bayur (Pterospermum bornease), ara (Ficus racemosa), baran (Dracontomelon dao), bambu (Bambusa sp.), hingga kenanga (Cananga odorata). Bagian yang dimakan pun beragam, buah, bunga, daun, sampai kulit kayunya. Itu menunjukkan betapa pentingnya kekayaan vegetasi bagi orangutan.” 

Hari berikutnya, perjalanan membawa kami ke arah hilir, menuju pulau pra-pelepasliaran Lambeng. Perahu melaju tenang di permukaan sungai yang teduh, hingga akhirnya hamparan vegetasi pulau itu muncul di hadapan kami. Berbeda dengan di pulau Hagar, di pulau Lambeng pohon ara kembali mendominasi, berpadu dengan baran (Dracontomelon dao) yang batangnya kokoh dan buahnya lebat. Kombinasi ini menciptakan variasi pakan musiman yang berharga, memastikan orangutan memiliki pilihan makanan sepanjang tahun. 

Perbedaan dominasi pohon di kedua pulau ini menunjukkan betapa tiap habitat memiliki karakter uniknya sendiri. Di Hagar, keberadaan bayur yang menjulang memberi ruang berteduh sekaligus struktur hutan yang kokoh, sementara ara menyediakan buah sepanjang musim. Sedangkan di Lambeng, baran hadir sebagai tambahan penting yang memperkaya variasi sumber pakan. Perbedaan komposisi vegetasi ini menjadi penentu bagaimana orangutan beradaptasi terhadap masing-masing habitat, serta respon mereka terhadap pilihan sumber pakan yang tersedia.

Siang hari, dalam perjalanan pulang dari Lambeng menuju pos monitoring, kami mendapati sosok orangutan dewasa bertubuh besar sedang bersarang di pohon tepian sungai. Individu orangutan jantan, yang teridentifikasi bernama Munchan, muncul di sela dedaunan. Ia adalah individu hasil translokasi pada Januari 2024, kini tampak sehat dan lincah menjelajah wilayah barunya. Pertemuan itu menghadirkan rasa takjub, Munchan kini hidup dengan tenang, bersarang di tepian sungai yang asri dan jauh dari ancaman manusia, berbeda dengan lokasi asalnya yang rentan terhadap konflik antara orangutan dan manusia. 

Setiap pohon pakan yang kami catat adalah jejak harapan. Di hutan, pohon dan satwa tidak berdiri sendiri; mereka adalah simpul-simpul yang saling terkait dalam jaringan ekologi. Dan di tengah lembabnya udara sehabis hujan, naiknya permukaan sungai, serta kerja kecil yang dilakukan manusia, terbentang sebuah cerita besar tentang masa depan: bahwa menjaga satu pohon berarti menjaga banyak kehidupan bahwa melindungi satu orangutan berarti menjaga keseimbangan hutan. (RAF)

ORANGUTAN DI REBELFEST YOGYA, TERIMA KASIH

Cinta tidak hanya milik kita, tapi juga orangutan dimanapun mereka berada. Saat ini ada 16 orangutan yang masih terjebak jauh dari hutan, menunggu kepedulian kita untuk menyuarakan satu hal, pulanglah ke Indonesia.
Teriakan itu bergema di Rebelfest 2025. Stadion Maguwoharjo, Yogyakarta, dipenuhi lebih dari 15 ribu penonton yang larut dalam dentuman musik dan semangat perlawanan saat Rebellion Rose merayakan 17 tahun perjalanan mereka. Festival ini juga dimeriahkan oleh deretan band besar yang sudah tidak asing lagi di telinga pencinta musik, seperti Superman is Dead, FSTVLST, Romi and The Jahats, Havinhell, The Jeblogs, dan masih banyak lagi. Di tengah energi yang membara, COP hadir dengan misi yang sama kuatnya, “Send Back Home Orangutan!”. Bersama Orangufriends, kami mengajak pengunjung untuk tidak hanya menikmati musik, tetapi juga ikut peduli. Melalui petisi, suara mereka diarahkan untuk mendesak pemerintah India segera memulangkan orangutan ke habitat aslinya, hutan Indonesia.
Tidak berhenti di situ, COP juga membuka stand merchandise, membagikan stiker gratis, dan bahkan turun langsung ke gelombang penonton. Dengan kostum orangutan, kami ikut meramaikan suasana sekaligus menyuarakan desakan pemulangan orangutan dari India. Kehadiran maskot oranye di tengah ribuan pengunjung berkaos hitam sontak jadi sorotan. Kapan lagi ada “orangutan” di tengah konser punk? Sambil mengikuti irama musik, papan bertuliskan “Send Back Home Orangutan” tersorot dan terbaca jelas oleh ribuan pasang mata.
Kepedulian Rebellion Rose terhadap orangutan juga bukan hal baru. Pada tahun 2018, melalui konser amal Sound for Orangutan (SFO), hasil penjualan tiket berhasil diwujudkan menjadi perahu ketinting untuk pulau orangutan COP di Kalimantan Timur. Kemudian di tahun 2024, melalui konser SFO berikutnya, dukungan itu kembali hadir dalam bentuk kandang rehabilitasi orangutan di Sumatera Utara. Dari panggung musik hingga hutan, dukungan ini nyata dan terus menyala.
Karena pada akhirnya, hanya cinta yang bisa tumbuh, dan cinta itulah yang akan membawa orangutan kembali pulang ke rumah sejatinya, hutan Indonesia. (DIM)

MENJEMPUT ORANGUTAN BETI PULANG

Kala itu bulan sudah menampakkan dirinya di atas kepala, angin malam mulai berhembus, tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 2 dini hari, di Yogyakarta. Aku, Tytha Nadhifa Winarto untuk pertama kalinya bertemu dengan Beti. Yang pertama kali aku lihat adalah sepasang bola mata di balik jendela kandang angkut, mulai dari sana aku penasaran apa yang Beti pikirkan. Waktu itu malam hari gelap, di pencahayaan minim mata coklat itu terlihat bagus dan masih berbinar, padahal hampir seperempat abad dia dirampas pergi dari induknya dan terpaksa hidup di tempat yang tidak semestinya. Tidak bisa memanjat, tidak bisa berayun, cuman bisa makan makanan yang di kasih ‘pemiliknya’ dengan makanan yang tidak semestinya. Dan ketika tubuh semakin besar dan kuat, wajah yang tak lucu lagi, orangutan ini diserahkan dengan alasan “tidak bisa mengurusnya lagi”.

Membawa Beti merupakan pengalaman pertamaku translokasi orangutan, tugasku sebagai dokter hewan adalah memastikan kondisi Beti aman dan sehat selama di perjalanan. Lumayan menegangkan, antar pulau lewat udara dan dilanjutkan perjalanan darat yang tidak sebentar. Aku memastikan Beti cukup minum dan kepanikan saat suara kargo yang dipindahkan pakai forklift cukup keras mengusik Beti. Kami pun berpisah, Beti masuk ke bagian bawah pesawat, aku pun duduk di kursi penumpang.

Perasaan cemas terus menghantui ku, penerbangan 2 jam terasa lama sekali. Akhirnya kami pun tiba di Balikpapan, melihat mata coklatnya kembali yang tetap waspada. Selanjutnya 25 jam berkendaraan dari bandara Sepinggan ke BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance) di Berau. Syukurlah, perjalanan kami lancar, matahari terik diatasi dengan pemberian karung goni basah dan dedaunan secara berkala di atas kandang angkutnya. Beti terlihat tenang dan sesekali berbaring tertidur.

Pukul 19.00 WITA, pintu kandang angkut dibuka, Beti pun berpindah ke kandang karantina di BORA. Beti menjauh, naik ke atas dan mengamati kami di kegelapan. Aku terharu, mungkin ini pertama kalinya setelah 24 tahun, Beti bisa manjat setinggi ini. Selesai tugas pemindahan ini, selanjutnya masih panjang tahapan karantina, rehabilitasi yang akan dijalaninya. “Kita jalan bareng ya Bet. Aku bantu semampuku”. (TYT)