LEVEL UP: BAGUS GOES TO BAWAN ISLAND

Setelah bertahun-tahun menjalani program rehabilitasi dan menjadi murid sekolah hutan di BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance). Bagus, individu orangutan betina yang pernah menjadi peliharaan ilegal dan sangat dekat dengan manusia, akhirnya naik level dengan pindah ke pulau pra-pelepasliaran di pulau Bawan. Kini Bagus semakin siap untuk kembali ke alam liar.

Di hari-hari pertamanya di pulau, Bagus tampak aktif mengekspor area hulu hingga tengah pulau, asyik memanjat dan bergelantungan di pepohonan rimbun, serta mencari pakan alami. Di sela-sela eksplorasinya, Bagus sesekali terlihat diam, seolah sedang merenung.
“Dia pasti kesepian dan bingung. Mungkin dia berpikir, Ini aku lagi sekolah hutan, tapi koq gak ada teman-teman yang lain” Koq gak ada yang panggil-panggil lagi untuk pulang ke kandang?”, ujar Ara, biologis COP yang ditugaskan untuk mengamati perkembangan Bagus selama minggu pertamanya di pulau.

Terkenal dengan sifatnya yang manja, saat tim monitoring datang untuk memberi pakan harian, Bagus buru-buru mendekat sambil mengeluarkan suara merengek, “I… i… i…”, sebagai tanda indin dipwluk dan digendong. Namun tim segera menjaga jarak agar Bagus belajar untuk lebih mandiri. Di hari-hari berikutnya, Bagus mulai mengerti dan tidak lagi mendekat sambil merengek.

Sempat diterpa hujan deras, Bagus tampak belum mampu memilih tempat untuk berteduh. Begitu pula ketika malam tiba, Bagus memilih tidur sambil memeluk batang pohon tanpa membuat sarang.

“Bagus tidurnya kayak panda.”, kata Ara.

Kemampuan membuat sarang merupakan salah satu indikator penting kesiapan individual orangutan untuk dilepasliarkan. Dilihat dari kebiasaan Bagus selama di BORA, Bagus sebenarnya cukup terampil membuat sarang, hanya saja ia melakukannya di tanah dan di lantai kandang, bukan di atas pohon.

“Gak apa-apa, nanti juga Bagus pelan-pelan belajar buat sarang di atas pohon”, sahut Amir, animal keeper yang telah mengenal Bagus sedari masuk BORA. Dia optimis, jika kini Bagus tidur tanpa sarang, jika saatnya perlu membuat sarang, Bagus tentu akan melakukannya.

Bagus masih memiliki waktu untuk terus mengasah keterampilan dan kemampuannya dalam bertahan hidup. Pelan tapi pasti, kami percaya Bagus akan berproses dan menunjukkan bahwa ia siap kembali ke habitat aslinya. And when the time comes, she will truly be the young, wild, and free orangutan she was meant to be! (SIN)

TAPIR MUDA DI ATAS PICK UP DALAM PESANAN

Bukan panda. Bukan pula hewan eksotis yang bisa dipelihara sesuka hati. Ia adalah Tapir Asia, satwa yang hidup diam-diam di hutan, berjalan pelan, dan lebih sering menghindar dari pada melawan. Tapi justru karena itu, ia menjadi korban.

Tubuhnya hitam putih, kontras, mudah dikenali. Banyak orang menyebutnya “Panda Asia”. Padahal ia tidak punya hubungan kekerabatan dengan panda yang ternyata sekeluarga dengan beruang. Ia lebih dekat dengan kuda dan badak. Moncongnya yang lentur seperti belali pendek digunakan untuk meraih daun, buah, dan tunas muda. Dalam ekosistem hutan, tapir bukan sekadar penghuni. Ia adalah penyebar biji yang membantu hutan tumbuh kembali, diam-diam, tanpa pernah meminta perhatian. Ironisnya keunikan ini menjadi hal yang dicari orang.

27 Februari 2026, Tim gabungan dari BKSDA Sumatera Barat, KPHL Pasaman Raya, bersama dengan Centre for Orangutan Protection menggagalkan transaksi ilegal satu individu tapir di Kabupaten Pasaman, Sumatra Barat. Tapir muda jantan ditemukan dalam kondisi hidup, namun terluka, terikat, dan terjebak dalam rantai perdagangan yang tidak pernah ia pilih.

Tim memulai operasi dan bergerak menuju Jorong Sungai Baluik, Nagari Muara Tais, Kecamatan Mapat Tunggul pada dini hari. Sebuah mobil pick up dihentikan dan ditemukan tersangka bersama seekor tapir yang terikat lemah dengan luka-luka. Dari keterangan pelaku, tapir itu akan dikirim ke Medan dengan tujuan “mini zoo”. Upah yang dijanjikan enam juta rupiah ditambah bonus jika sampai tujuan.

Pada kaki depan kiri dan kaki belakang kanan tapir terlihat bekas jeratan menganga. Tali yang melilit terlalu lama telah merobek kulitnya. Di bagian kepala, luka lain terlihat jelas. Ia tidak melawan, ia hanya bertahan. Kini, tapir dalam perawatan dokter hewan di BKSDA SKW 1 Bukittinggi. Pasalnya ini tidak hanya satu kali terjadi, dua peristiwa berbeda, satu pola yang sama yaitu satwa liar terus menjadi korban.

Beberapa minggu sebelumnya, dunia konservasi diguncang oleh kematian seekor gajah tanpa kepala di Riau. Umurnya 40 tahun. Dibunuh, dipotong, dan ditinggalkan. Tidak jauh dari sana, di Sumatra Barat, seekor tapir muda dijual untuk hiburan. Pengembangan kasus tersebut, dua pelaku lain berhasil diamankan yaitu sebagai seorang perantara dan pemburu yang menangkap tapir tersebut dari alam. Rantai perdagangan itu panjang. Dari hutan ke pemburu, dari pemburu ke perantara. Dari perantara ke pembeli. Semua bergerak karena satu hal yaitu permintaan.

Hukum sebenarnya sudah ada. Undang-undang tentang konservasi sumber daya alam hayati mengatur sanksi pidana hingga 15 tahun penjara dan denda ratusan juta rupiah. Tapi pada awal 2026, perubahan regulasi justru menghapus batas minimal hukuman. Artinya, pelaku bisa saja mendapat hukuman lebih ringan.

Di titik ini, pertanyaannya bukan lagi apakah hukum cukup kuat.

Tetapi, seberapa serius kita ingin melindungi yang satwa liar?

Tapir tidak akan protes. Ia tidak akan berbicara di pengadilan, tidak akan menuntut keadilan. Ia hanya akan kembali ke hutan jika ia selamat dan melanjutkan perannya sebagai penyebar kehidupan. Atau mati, tanpa benar-benar diketahui.

Perdagangan satwa liar bukan hanya soal pelanggaran hukum. Ia adalah cermin dari cara manusia memandang alam sebagai sesuatu yang bisa dimiliki, diperjualbelikan, dan dikurung untuk hiburan. Dan selama cara pandang itu tidak berubah, akan selalu ada tapir lain yang menyusul (APE PROTECTOR)

HUJAN TAK MENGHENTIKAN LANGKAH UNTUK MEMBONGKAR KAMERA JEBAK DI SM BARUMUN

Langit di atas Suaka Margasatwa Barumun masih menyisakan mendung tebal. Hujan sempat turun, membasahi jalan setapak dan membuat tanah menjadi licin. Keberangkatan tim pun harus tertunda. Namun semangat tidak ikut reda.

Pada bulan lalu, Tim BBKSDA Sumatera Utara Resort Barumun III dan Centre for Orangutan Protection menuju desa Pasar Ipuh, kecamatan Ulu Barumun, kabupaten Padang Lawas, Sumatra Utara untuk membongkar tiga unit kamera jebak di dua titik berbeda dalam kawasan SM Barumun.

“Medannya pasti berat setelah hujan”, ujar salah satu anggota tim sambil mengencangkan tali tas punggung. “Yang penting data aman, kameranya kembali”, jawab yang lainnya. Perjalanan menuju titik pertama bukan tanpa tantangan. Jalur menjadi lebih licin, ranting-ranting basah dan beberapa bagian tanah berubah menjadi lumpur. Namun kamera-kamera yang dipasang sebelumnya telah menjalankan tugas pentingnya yaitu merekam pergerakan satwa liar dan mendokumentasikan aktivitas di dalam kawasan.

Kamera jebak bukan sekadar alat. Ia adalah “mata” yang bekerja tanpa lelah, siang dan malam. Dari perangkat inilah tim dapat memantau keberadaan satwa, membaca pola pergerakan, hingga mendeteksi potensi ancaman terhadap kawasan konservasi.

Setibanya di lokasi pertama, tim segera membagi peran. Ada yang mendokumentasikan, ada yang memastikan titik koordinat, ada yang memeriksa kondisi perangkat sebelum dilepas. Kamera pertama pun berhasil dibongkar dengan aman. “Masih utuh. Semoga datanya lengkap”, ucap salah satu anggota tim sambil memasukkan perangkat ke dalam tas. Lokasi kedua menuntut tenaga ekstra. Jalur menanjak dan basah memperlambat langkah. Namun menjelang siang, dua unit kamera di titik tersebut berhasil diamankan.

Kegiatan ini bukan akhir, melainkan bagian dari rangkaian monitoring. Besok, tim akan kembali menyusuri hutan untuk membongkar enam unit kamera tambahan di tiga lokasi berbeda. Langkah-langkah di bawah rimbun hutan Barumun hari itu, mungkin tampak sederhana melepas perangkat dari batang pohon, mencatat koordinat, menyimpan memori. Namun dibaliknya ada kerja kolaboratif antara mitra lapangan dan pihak pengelola kawasan, ada komitmen untuk memastikan setiap data yang terkumpul dapat mendukung upaya perlindungan satwa dan habitatnya.

Hujan boleh saja turun. Jalur boleh saja licin. Tetapi upaya menjaga kawasan tidak pernah menunggu cuaca menjadi sempurna. Dari SM Barumun, kerja-kerja sunyi seperti ini terus berjalan perlahan, konsisten, dan penuh dedikasi. APE Patriot bersama para mitra di lapangan membuktikan bahwa perlindungan hutan bukan hanya tentang patroli dan penindakan, tetapi juga tentang memastikan setiap informasi terekam, setiap jejak terbaca, dan setiap langkah kecil membawa dampak besar bagi kelestarian alam. (UZI)