BISAKAH BAYI ORANGUTAN MEMBUKA KELAPA?

Kelapa… untuk membukanya saja kita memerlukan alat yang tajam. Lalu, bagaimana cara para bayi orangutan di pusat rehabilitasi COP Borneo membuka kelapa?

Karena ini tujuannya untuk membuat para orangutan sibuk, maka kami menaruh kelapa-kelapa tersebut di atas kandang. Setengah jam berlalu, kelapa hanya berguling kesana-kemari sebagai bahan rebutan. 

Tidak sabar, akhirnya kami membuka pintu kandang lalu menaruh kelapa di dalam kandang. Tidak butuh waktu lama, hanya sekitar 10 menit, Bonti dan Berani berhasil meminum air dan memakan daging kelapanya.

Hari ini, Bonti beruntung karena teman-teman sekandangnya sedang sekolah hutan, jadi tidak ada yang mengganggunya menikmati kelapa muda yang sangat segar. Para bayi-bayi ini memiliki gigi yang sangat tajam untuk mengupas kulit dan tempurung kelapa. Kebayang kan, kalau gigi-gigi itu mendarat di kulitmu? (WET)

APE WARRIOR: FACEBOOK STOP PERDAGANGAN SATWA LIAR!

Facebook merupakan media sosial paling digemari di Indonesia. Berdasarkan riset yang dilakukan oleh We Area Social yang bekerja sama dengan Hootsuite, sepanjang 2019 tercatat sebanyak 20 juta akun baru berhasil terdaftar sebagai pengguna Facebook. Indonesia memiliki 130 juta pengguna aktif bulanan yang rata-rata mengakses dunia maya setiap harinya. 

Di Facebook, setiap pengguna bebas berbagi cerita perjalanan, tips kecantikan, pengalaman atau sebagai tempat menjajakan barang dagangan. Namun tidak berhenti di situ, Facebook memiliki sisi kelam yang wajib diawasi setiap orang. Kemudahan yang dihadirkan Facebook kerap disalahgunakan untuk melakukan penawaran dan jual-beli ilegal, salah satunya adalah satwa liar dilindungi.

Meski Facebook telah menutup banyak grup dan akun-akun yang terindikasi memperjualbelikan satwa liar dilindungi, hal ini tidak menghentikan penjualan satwa secara online di Facebook. Berdasarkan data yang dihimpun oleh Tim APE Warrior Centre for Orangutan Protection antara Agustus 2019-Januari 2020, setidaknya ada 27 grup aktif menjual satwa liar dilindungi dengan total anggota sebanyak 53.836 akun.

Dari 27 grup tersebut, 18 diantaranya merupakan grup yang baru dibuat tahun 2019. Di halaman resminya, Facebook secara terbuka memberi larangan tentang jual beli satwa, baik dilindungi maupun tidak dilindungi. Namun, perdagangan satwa liar melalui media sosial Facebook masih marak terjadi. Facebook seperti kurang tegas menanggapi isu perdagangan satwa di Indonesia. (SON)

WATCH OUT FOR THE SNAKE

During forest school, the animal keepers must help baby orangutans to learn to behave like other orangutan in their natural habitat in the forest. Beside climbing and making nest, they also have to introduce the orangutan to the predators  in the wild. One of them that often seen and encountered is snakes.

Usually, animal keepers will bring a rubber snake toy to scare the orangutan who are lazy to climb up the trees. One of the target is Popi who usually lazy to climb high. Every time Popi wants to climb down, the animal keeper ready with the rubber snake in their hand and Popi will soon rush to flee and climb up again.

But after few days meet the snake, it looks like Popi was immune and no longer afraid to the rubber snake. Indeed orangutan are smart, they know which snake is real and which is the fake one. Maybe this time we have to use a new snake that can move and hiss so it looks more similar with the real snake.

Finally, the rubber snake toy which didn’t scary anymore is stored and hung just like that in the food storage. Even though the snake failed the orangutan, it always succeed to make every staff who worked in the storage jump and suprised. (LDS)

AWAS ADA ULAR

Selama sekolah hutan, para perawat satwa harus membantu orangutan-orangutan kecil untuk belajar berperilaku seperti orangutan lainnya yang hidup secara alami di hutan. Selain memanjat dan membuat sarang, mereka juga harus mengenalkan para orangutan dengan predator-predator di alam. Salah satunya yang sering ditemui adalah ular.

Biasanya para perawat satwa akan membawa ular mainan yang terbuat dari karet untuk menakut-nakuti para orangutan yang malas memanjat. Salah satunya yang sering menjadi target adalah Popi yang terkadang malas memanjat. Setiap kali Popi hendak turun dari pohon, perawat satwa sudah siap dengan ular di tangan dan Popi pun akan segera memanjat terbirit-birit kabur ke atas pohon.

Namun setelah beberapa hari selalu bertemu dengan ular karet itu, sepertinya Popi sudah kebal dan tidak takur lagi. Memang orangutan itu pintar, mereka bisa mengetahui mana ular yang asli dan mana yang palsu. Mungkin kali ini kami harus memakai mainan ular jenis baru yang bisa bergerak dan bersuara sehingga lebih mirip dengan aslinya. Adakah?

Akhirnya ular karet mainan yang sudah tidak menakutkan itu disimpan dan digantung begitu saja di gudang pakan. Meski sudah gagal menakuti para orangutan, ular mainan itu selalu berhasil membuat jantungan siapapun yang bertugas memotong buah di gudang pakan. (LDS)

Page 29 of 334« First...1020...2728293031...405060...Last »