LOMBA CERPEN ORANGUTAN “BERTEMU” OLEH ORANGUFRIENDS

Setelah sukses tahun lalu membuat Lomba Cerpen Orangutan bersamaan dengan pameran seni Art for Orangutan #3 pada tanggal 14-17 Pebruari 2019 di Jogja National Museum dengan tema “A Good Life for Orangutan”. Tahun ini relawan COP yang tergabung dalam Orangufriends kembali mengadakan Lomba Cerpen Orangutan dengan tema berbeda yaitu “Bertemu”.

Salah satu relawan COP yang tergabung dalam Orangufriends bernama Netu Domayni mengatakan, Tahun lalu untuk pertama kalinya kami adakan dan antusias peserta sangat banyak dengan beragam sudut pandang penulisan tentang orangutan. Tahun ini kami adakan lagi dengan tema “Bertemu”. Kami mengharapkan penulis akan membuat cerpen dengan imajinasi orangutan bertemu dengan apapun, dengan siapun di ruang dan waktu yang sangat liar. Keliaran penulis dengan menuliskan orangutan bertemu dengan tokoh imajinatifnya pasti akan menarik. Pertemuan orangutan tersebut semoga bisa menjadi cara pandang baru bagaimana menyelamatkan bumi ini.

Lomba ini akan ditutup pada tanggal 20 Juli 2020 dan pemenangnya diumumkan di Instagram @orangutan_COP pada tanggal 1 Agustus 2020 jam 19.00 WIB. Adapun yang perlu diketahui antara lain:

– Terbuka untuk umum dan penulis boleh mengirimkan lebih dari satu karya

– Ukuran kertas A4, font Times New Roman MS 12, spasi 1,5 dengan Margin 4-4-3-3 cm

– Panjang tulisan minimal 1000 kata dan maksimal 3000 kata

Kirim ke email cerpen.orangutan@gmail.com dengan judul email: Nama Peserta_Judul karya_No HP dengan disertai: MS. Word tulisan karya cerpen, foto identitas diri seperti Kartu Pelajar/KTP/SIM atau Paspor dan foto slip donasi

– Donasi Rp 25.002,00 (dua puluh lima ribu dua rupiah) ke Rekening BNI 0137088800 a.n Centre for Orangutan Protection. (penggunaan angka 2 (dua) di belakang pada saat transfer untuk mempermudah kami mendata donasi yang masuk merupakan dari kegiatan Lomba Cerpen Orangutan)

– Hadiah pemenang pertama Rp 1.000.000,00 kedua Rp 750.000,00 dan ketiga Rp 500.000,00 serta ditambah dengan piagam dan suvenir dari COP

– Info lebih lengkap bisa kontak di email cerpen.orangutan@gmail.com atau lihat di Instagram @orangutan_COP

Netu juga menambahkan, “Sepuluh cerpen terbaik akan kami kompilasi dalam buku antologi Lomba Cerpen Orangutan. Semoga ini bisa menjadi sumbangan literasi sastra yang fokus pada orangutan yang kita ketahui masih sangat minim di Indonesia.”. (DAN)

HUJAN SERING TURUN DI COP BORNEO

Belakangan ini, sering turun hujan. Malam, sore bahkan pagi hari. Tak tentu. Hujan di sekitar camp pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo, dan kandang orangutan kian nampak sejuk. Tunas-tunas mulai tumbuh. Sedihnya, jika pagi turun hujan, suara owa-owa tidak terdengar. Padahal itu yang menjadi alarm kami setiap pagi, mungkin juga alarm bagi orangutan.

Ketika malam hari, udara terasa dingin… sepintas kami di dalam camp teringat para orangutan di kandang. Kita semua pasti merasakan udara dingin setelah turun hujan. Kami masih bisa berselimut, sedangkan orangutan?

Sejak saat itu, setiap sore kami memberikan orangutan daun-daun untuk di pasang di dalam hammock agar terasa lebih hangat. Para bayi harus diberi contoh bagaimana daun-daunan tersebut bisa dimanfaatkan sebagai sarang. Tapi untuk orangutan dewasa, mereka pandai menata dan menjadikannya sarang walau ala kadarnya. Paling tidak bisa menjadi alas tidur.

“Senang sekali ketika mereka menerima daun dan ranting-ranting yang telah kita sediakan. Sesaat mereka sibuk menyusun… berhenti, kemudian mulai sibuk menumpuk-numpuk dan mencoba apakah cukup nyaman, lalu membongkarnya lagi, begitu seterusnya.”, Widi Nursanti, manajer Pusat Rehabilitasi Orangutan COP Borneo. Orangutan liar biasanya akan terus membuat sarang saat siang hari maupun menjelang sore. Itu untuk dia sesaat tidur siang dan saat tidur malam. Meski keesokan pagi harinya, perawat satwa yang bertugas membersihkan kandang sedikit lebih repot dengan bekas daun dan ranting yang terjatuh. (WID)

 

BANYAK KORBAN GIGITAN OWI

Owi, orangutan bayi jantan yang mukanya cukup imut. Tapi apakah iya kalian masih menyebutnya lucu… imut… setelah merasakan gigitannya yang sungguh menyakitkan?

Ia cukup populer di kalangan perawat satwa dan relawan karena jejak rekam memakan korban gigitan maut di betis. Ia juga memiliki riwayat sebagai orangutan yang enggan digendong oleh siapa pun. Owi berangkat ke sekolah hutan dengan berjalan sendiri, tanpa digendong.

Semua sudah hapal, jika ia sudah bosan berayun di tali maka akan sepanjang hari selama di sekolah hutan, ia akan mulai menjaili siapapun, termasuk perawat satwa. Ia paling senang menganggu perawat satwa atau relawan perempuan. Ia akan memasang wajah imutnya dan jika kita lengah maka betis kita akan jadi sasaran empuk Owi mendaratkan gigi-giginya. O iya… Owi itu orangutan jantan, masih anak-anak dan nakal-nakalnya.

“Ku bilang apa, Owi ini ,memang suka pura-pura. Tiba-tiba menggigit.”, seru Linau, perawat satwa yang cukup ditakuti orangutan tapi juga pernah merasakan gigitan Owi. Gigitannya sangat kuat, jika tergigit oleh Owi bisa terluka lalu membiru. Kalau sudah keterlaluan begini, Linau cukup mengeluarkan suaranya. “Untungnya Owi takut dengan ku, cukup suara lantang dan menunjukkan tubuhku yang dominan lebih besar dibanding perawat satwa lainnya, maka ia akan segera berbalik arah dan pura-pura naik ke atas pohon.”, tambah Linau. (NAU)

Page 29 of 350« First...1020...2728293031...405060...Last »