TRANSFORMASI RUANG EDUKASI UNTUK GAJAH SUMATRA

Tak kenal maka tak sayang, kenalin wajah baru ANECC untuk mengenal gajah, si tubuh besar dengan ingatan terbaik. Aek Nauli Elephant Conservation Center (ANECC) di Sumatra Utara dalam renovasi tim APE Sentinel COP atas arahan BBKSDA Sumut. Perbaikan menyeluruh untuk mengembalikan fungsi dan estetika ruang. Atap dan langit-langit (plafon) yang bocor diganti, pengecatan ulang seluruh dinding kayu agar kembali segar, serta penggantian detail-detail kecil pun tak luput dari perhatian tim. Sanitasi untuk menjamin kebersihan dan kenyamanan penggunanya kelak. Transformasi ini berhasil mengubah ruang yang tadinya suram menjadi fasilitas yang terang, bersih, dan sipa menyambut pengunjung.

Pembaruan fisik ini kemudian disempurnakan dengan pengayaan materi edukasi. Di dalam ruangan yang kini nyaman tersebut, COP menambahkan instalasi papan informasi (information boards) mengenai konservasi gajah dan foto profil gajah-gajah yang terdapat di ANECC. Papan-papan ini menjadi jendela informasi visual yang memikat, menjelaskan segala hal tentang Gajah Sumatra mulai dari kehidupan gajah, kerajaannya, dan konservasi gajah di Sumatera Utara. Perpaduan antara ruang yang nyaman dan informasi yang kaya menjadikan proses belajar di ANECC kini jauh lebih menyenangkan dan efektif.

Selepas renovasi di ruang edukasi ANECC, Hardo, salah satu penjaga gajah berharap bahwa para pengunjung mengetahui bahwa gajah merupakan hewan yang memiliki perasaan, penting baginya untuk para pengunjung mengetahui perasaan-perasaan gajah terutama apabila habitatnya berkurang dan dirusak. Apabila sehabis edukasi ini, pengunjung akan memahami bahwa menjaga habitat gajah sama juga menjaga perasaan para gajah.

Sebagai langkah selanjutnya, sinergi antara COP dan ANECC tidak berhenti setelah renovasi selesai. Kedua belah pihak dapat melanjutkan kerja sama dalam aspek pemeliharaan agar fasilitas yang telah diperbaiki tetap terjaga kondisinya. Wajah baru ANEE+CC ini benar-benar memberikan dampak positif yang berkelanjutan bagi pelestarian Gajah Sumatra dan satwa yang dilindungi lainnya. (AGU)

RUMAH LAYAK UNTUK ORANGUTAN

Udara hutan Kalimantan yang lembab menyapa tim ekspedisi saat perahu-perahu kayu bermesin besar membelah aliran sungai. Sungai yang kami lalui bukanlah sungai besar dan tenang, melainkan sungai menantang dengan arus deras dan batu-batu besar yang menghadang. Di beberapa titik, tim harus turun dari perahu atau membantu menariknya untuk melewati jeram yang menuntut kewaspadaan tinggi. Pak Lukas dan para motoris perahu lain, yang telah lama akrab dengan medan ini, tetap harus berkonsentrasi penuh dalam mengendalikan mesin.

Perjalanan ini bukan sekadar petualangan. Tim kami mengemban misi penting, mencari “rumah baru” bagi satwa liar, khususnya orangutan. Ulah manusia dari tahun ke tahun telah membuat keberadaan mereka semakin terancam. Habitat yang dahulu aman kini menyempit, memaksa orangutan keluar dari ruang hidup alaminya. Setiap kunjungan lapangan selalu menyisakan rasa miris, melihat mereka perlahan terusir dari rumahnya sendiri. Sebuah rumah baru yang layak kini menjadi kebutuhan mendesak.

Untuk itulah ekspedisi ini dilakukan. Menembus jantung rimba Kalimantan berarti menyusuri hulu sungai dengan akses jalur air ber-jeram deras dan hamparan batu besar. Lokasi yang dicari harus jauh dari permukiman manusia agar konflik tidak kembali terjadi. Di tengah perjalanan, pohon-pohon tumbang yang melintang di sungai kerap menambah tantangan dan menguji kesabaran tim.

“Rumah baru” bagi orangutan tentu tidak bisa dipilih sembarangan. Setidaknya, kawasan tersebut harus memiliki ketersediaan pohon pakan dan pohon sarang yang memadai, populasi orangutan yang rendah atau belum ada sama sekali agar tidak terjadi perebutan ruang, serta jaminan keamanan dari gangguan manusia.

Ekspedisi ini barulah sebuah awal. Namun kami berharap, awal ini akan menjadi akhir yang indah, saat orangutan akhirnya dapat kembali ke rumah megah yang memang sudah selayaknya menjadi milik mereka. (HUS)

MENANAM HARAPAN BARU DI BEKAS LUKA BENCANA

Awal tahun ini di Sumatran Rescue Alliance (SRA) dimaknai bukan sekadar sebagai pergantian kalender, melainkan sebuah simbol “Lembar Baru” bagi SRA. Ingatan membenam dan masih segar pada peristiwa satu bulan lalu, saat bencana longsor dan banjir menerjang kawasan ini serta meninggalkan jejak kerusakan yang cukup mendalam pada lanskap pusat rehabilitasi. Namun, lumpur dan sisa bencana tidak menyurutkan semangat dan justru momen ini menjadi titik balik untuk segera bangkit dan memulihkan kembali benteng hijau pelindung kawasan melalui aksi penanaman pohon bersama.

Tim SRA melakukan penanaman dengan tujuan penguatan struktur tanah yang diwujudkan melalui penanaman 40 batang bambu sebagai langkah awal pemulihan lahan kritis pasca-bencana. Akar bambu yang serabut dan kuat diharapkan mampu mencengkeram tanah dengan erat. Selain fungsi ekologis sebagai penahan tanah, penanaman ini juga memperkaya bawaan dengan tanaman buah, meliputi 12 bibit cempedak, 11 bibit sukun, 11 bibit nangka, serta 35 bibit pete.

Keberadaan vegetasi yang rapat akan menciptakan mikroklimat yang sejuk dan teduh, kondisi yang sangat dibutuhkan untuk menjaga kesehatan fisik maupun psikis satwa rehabilitasi. Rimbunnya pepohonan kelak berfungsi sebagai buffer atau penyekat alami yang meredam kebisingan dan membatasi interaksi visual dengan dunia luar, memberikan ketenangan yang esensial agar satwa liar dapat memulihkan perilaku alaminya dengan optimal.

Lebih jauh lagi, pemilihan jenis pohon buah merupakan investasi jangka panjang bagi kemandirian pusat rehabilitasi. “Kami menanam pohon ini agar bisa berguna di masa depan dan buahnya bisa dipergunakan oleh satwa dan para pekerja di sekitar sini”, ucap Ndaru yang merupakan Orangufriens Padang di sela-sela menanam. Kelak saat pohon-pohon ini berbuah, SRA akan memiliki simpanan pakan mandiri yang menyediakan nutrisi alami dan segar bagi satwa. Dengan setiap bibit yang ditanam ke dalam tanah yang sedang memulihkan diri ini, menanamkan harapan dan resolusi tahun baru yang kuat untuk satwa-satwa kebengaan Sumatra. (AGU)