KATA RIDWAN, ORANGUTAN PUNYA TINGKAH YANG UNIK

Sore ini, usai aktivitas feeding di BORA (Bornean Orangutan Rescue Alliance), saya duduk di dapur BORA untuk memikirkan pengalaman apa yang bagus saya ceritakan setelah beberapa bulan bekerja di BORA. Setelah merenung sejenak, saya memikirkan ada banyak tingkah unik dan lucu orangutan yang sering saya jumpai selama ini.

Yang pertama ada Astuti. Astuti adalah nama orangutan korban perdagangan internasional di Gorontalo. Orangutan yang masih kecil ini memiliki rambut yang lebat dan berdiri alias jigrak dengan kepala bagian depan yang masih belum terlalu banyak ditumbuhi rambut alias botak sehingga mengingatkan kita pada gaya rambut “Albert Einstein”. Ada satu hal unik yang paling saya ingat dari si Astuti, kebiasaan dia memutar badan seperti menari balet saat dia sedang menunggu perawat satwa memberi dia makanan.

Orangutan kedua adalah Popi yang memiliki tubuh lebih besar dibanding postur dan umur Astuti tadi. Popi tergolong orangutan manja terhadap perawat satwa di BORA. Terlihat dari kebiasaan Popi saat diajak untuk sekolah hutan. Orangutan lain yang ada di BORA pada umumnya saat menuju lokasi sekolah hutan cukup dengan dituntun, dipegang tangannya dan mereka akan berjalan sendiri. Namun Popi lebih senang digendong di bandingkan berjalan sendiri menuju lokasi. Sekolah hutan adalah salah satu kegiatan yang ada di pusat rehabilitasi orangutan BORA untuk mengembalikan insting liar orangutan, mengenalkan kembali mereka kepada alam liar sehingga saat mereka nanti dilepasliarkan, mereka sudah siap dengan kondisi yang ada karena perlahan-lahan mereka telah dibiasakan sejak di pusat rehabilitasi. Ini adalah salah satu tugas perawat satwa yaitu bagaimana Popi bisa kembali mandiri tidak ketergantungan dengan manusia karena di alam bebas nanti mereka dituntut mandiri, tidak ada lagi perawat satwa yang bakal memperhatikan makanan mereka dan kesehatan mereka. Popi juga suka ngambek saat perawat satwa melakukan candaan, seakan tidak mau memberi makanan kepada Popi, Popi akan menunjukkan gestur ngambek dengan menunduk dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

Itulah beberapa tingkah unik orangutan yang ada di BORA, masih banyak tingkah unik orangutan yang ada di BORA… nantikan cerita selanjutnya ya. (RID)

PERJUMPAAN DENGAN MARNI DAN SIGIT, ORANGUTAN TRANSLOKASI JUNI 2023

Selalu ada hal tak terduga setiap perjalanan ke hutan pelepasliaran orangutan di kawasan Busang, Kalimantan Timur. Tak terkecuali di hari terakhir kegiatan monitoring pasca translokasi orangutan Bono. Dua minggu ini, tim APE Guardian menyisir titik lokasi pelepasliaran Bono. Usai dibukanya pintu kandang menggunakan katrol, Bono yang sedari di kandang angkut sudah mengeluarkan suara amarahnya dan keinginan keluar kandang langsung memanjat pohon terdekat dan berhenti di percabangan. Kembali mengeluarkan suara mengusir, hingga matahari semakin condong ke barat.

Keesokan harinya, Bono pun sudah menghilang ke Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat lebih kedalam lagi. Tak terbaca lagi keberadaannya. Tim APE Guardian pun melakukan patroli di kawasan yang telah menjadi rumah untuk 14 orangutan rehabilitasi maupun translokasi korban konflik. Tepat di hari keempat belas, sebelum tim kembali ke desa Longless, tim bertemu orangutan Sigit dan Marni yang merupakan anak dan induk orangutan liar yang ditranslokasi di kawasan ini pada 26 Juni 2023 oleh BKSDA SKW II Tenggarong.

“Senang sekali, kedua orangutan ini berhasil bertahan hidup di rumah barunya. Keduanya sedang bersantai di percabangan. Keduanya terlihat sehat dan dapat beraktivitas dengan normal. Tim juga menemukan dua sarang orangutan kelas 3 di sekitarnya. Jaga Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat ya”. (AAN)

ORANGUTAN BONO AKAN MEMULAI PETUALANGANNYA DI HUTAN LINDUNG GUNUNG BATU MESANGAT

Bono, begitu kami menyebutkan orangutan yang akan ditranslokasi hari ini. Orangutan liar ini berasal dari Sangatta Utara, Kalimantan Timur. Beratnya yang 80 kilogram tentu saja lebih berat dibandingkan tubuhku. Posturnya sendiri sudah pasti lebih mengerikan. Tak seorang pun berani mendekatinya. Hanya tim medis saja yang sesekali mengintip untuk mengecek kondisinya. Bono selalu waspada.

Pagi ini, matahari tak malu-malu lagi muncul. “Perjalanan air akan ditempuh kurang lebih tiga jam. Kondisi air agak surut. Perlindungan diri dari sengatan matahari tentu saja jadi hal yang wajib selain pelampung. Tidur, menghemat tenaga untuk mengangkat kandang angkut berisi Bono, itu yang akan dilakukan tim, tentu saja selain pengemudi perahu”, ujar Ferryandi, anggota tim APE Guardian. Ini adalah tim yang bertanggung jawab pada proses pelepasliaran orangutan di Busang. Selain menangani konflik satwa liar yang mungkin muncul pasca pelepasliaran, tim ini juga melebur tinggal di masyarakat.

Kali ini, tim memutuskan untuk menggunakan katrol untuk membuka pintu kandang Bono. Pertimbangan ini berdasarkan pengamatan selama diperjalanan dan latar belakang Bono sendiri yang memang masih liar. Tim pun bersiap melarikan diri jika Bono bereaksi agresif seperti mengejar manusia. Syukurlah, ketika pintu terbuka, Bono secara alamiah memanjat pohon dan berpindah ke pohon yang lebih besar dan rimbun. Berhenti di percabangan dan mengusir tim.

Sebelum hari semakin senja, BKSDA SKW II Tenggarong dan sebagian tim kembali menyusuri sungai Menyuk dan kembali ke sungai Kelinjau untuk bermalam di desa Longless. Sementara tim APE Guardian yang melakukan monitoring pasca translokasi berakhir pada saat Bono beristirahat di atas pohon kayu Ulin dan hari semakin gelap. Keesokan harinya, tim memonitor kembali dan rupanya Bono sudah menjelajah jauh ke dalam hutan. “Semoga hutan ini menjadi rumah barumu ya Bono”. (PEY)