ORANGUTAN RUBY, SI PEMBUAT SARANG YANG HANDAL

Orangutan Ruby harus mendapatkan tindakan medis pada matanya pada bulan Mei 2024 yang lalu. Lokasi sekolah hutan di BORA (Bornean Orangutan Rescue Alliance) pun menjadi tempat baru baginya untuk mengasah insting alaminya, walau tidak sebaik sekolah hutan sebelumnya di KHDTK Labanan.

Tim APE Defender pun memulai sekolah hutan pertama Ruby dengan hati-hati, menganalisa perilaku dan responnya terhadap manusia. Di luar dugaan, Ruby sudah memanjat pohon hingga ketinggian 20 meter. Langkahnya yang besar dan gegabah menjadikan hari pertamanya sekolah hutan bersejarah, bagaimana tidak, ia jatuh dari ketinggian hampir 18 meter. “Kami sudah siap membawanya ke klinik untuk mengecek kondisinya, namun Ruby lanjut memanjat lagi seolah-olah tidak pernah ada yang terjadi. Sejak saat itu, Ruby selalu kami awasi lebih cermat karena sampai tulisan ini dibuat, gerakannya masih kasar dan gegabah”, ujar Nurazizah, animal keeper BORA.

Jika animal keeper ditanya, siapakah orangutan yang mengikuti sekolah hutan dengan penanganan tingkat kesulitan tinggi di BORA, maka semuanya seragam menjawab orangutan Ruby. Dua bulan di BORA, cukup buat animal keeper selalu ketar-ketir ketika bertugas membawanya sekolah hutan. Sarang-sarang yang dibuatnya terbilang besar dan kuat. Di atas pohon sejenis ficus, pada ketinggian 20 meter, Ruby membangun sarang pertamanya. Sarang itu juga ia pamerkan pada orangutan lain yang lebih muda darinya ketika mendapatkan jadwal yang sama di sekolah hutan. Eboni dan Mabel pun menjadi pengikutnya, mencoba-coba menumpuk dedaunan dan cabang-cabang pohon kecil. “Luar biasa proses sekolah hutan orangutan di BORA. Ruby pun akan menjadi siswa sekolah hutan yang paling terlambat kembali ke kandang saat sekolah hutan usai. Tak tanggung-tanggung, terlambat 40 menit”, tambah Nurazizah lagi.

Ruby masih butuh banyak pembiasaan agar bisa dilepasliarkan kembali ke habitatnya. Sembari terus melatih otot-otonya, para animal keeper juga bersyukur karena Ruby, orangutan kecil lainnya ikut belajar hal baru. Harapan dan doa semoga proses itu berjalan dengan lancar. (RAR)

TRANSLOKASI TARA, SI ORANGUTAN LIAR

Tara sudah siap melihat peluang itu. Ketika suara senyap dan suara gesekan pintu yang menghalanginya bergerak, tanpa pikir panjang dia pun melangkah keluar dan menuju pohon apapun itu yang dapat diraihnya, memanjat dan memanjat terus, menjauh dari orang-orang. Tara, orangutan yang baru saja diselamatkan tim APE Crusader bersama BKSDA SKW II Kaltim akhirnya menemukan kebebasannya kembali.

Centre for Orangutan Protection (COP) memiliki beberapa tim di lapangan, seperti APE Crusader yang dengan sigap menuju lokasi orangutan yang memiliki interaksi negatif dengan masyarakat. Bahkan untuk menyelamatkan orangutan dengan cepat, dokter hewan tim APE Defender sengaja ditempelkan tim ini agar penanganan langsung pada orangutan dapat segera dilakukan. Selanjutnya tim lain yang bernama APE Guardian segera menyediakan kawasan pelepasliarannya agar orangutan yang tidak memiliki kasus kesehatan dapat segera kembali ke habitatnya. Tim ini juga yang akan memonitor orangutan tersebut dan meminimalisir munculnya konflik dengan manusia.

Ada ciri khusus saat orangutan liar kembali dilepasliarkan tak lama dari penangkapannya. Kandang angkut yang sempit sering kali membuatnya tidak nyaman, berulang kali mengeluarkan suara mengusir, bahkan menyerang saat tim medis mendekati untuk memberi minum maupun makanan dan memperhatikan kondisi kesehatannya. Dan perilaku khas saat pintu kandang angkut dibuka adalah, tanpa mengulur waktu, orangutan akan segera memanjat dan berpindah dari pohon yang satu ke pohon yang lain. Sering kali, tim APE Guardian yang bertugas mengikuti orangutan translokasi kehilangan kesempatan mengikutinya. Orangutan seperti ini akan terus menghindari dan menjaga jarak dengan manusia. (RAN)

SERUNYA SCHOOL VISIT DI DUA SMAN LUBUK SIKAPING

Pagi hari sembari menghirup udara sejuk, kami memasuki ruangan kelas. Kegiatan kami mulai dengan ice breaking untuk mencairkan suasana canggung yang sudah terasa sejak kedatangan kami. Setelah canda tawa mulai mengisi ruangan kelas, kami pun memulai sesi edukasi. Mengapa konservasi alam penting dan kenapa menjaga kelestarian harimau sumatra menjadi genting sebagai topik untuk kedua Sekolah Menengah Atas yang ada di Lubuk Sikaping, yaitu SMAN 2 pada 24 April dan 27 April kemarin di SMAN 1 Lubuk Sikaping, Sumbar.

Selain itu, kami juga memperkenalkan RIHAS (Ruang Informasi Harimau Sumatera) di Rimbo Panti yang dapat dikunjungi pada hari Sabtu dan Minggu. Agar menambah keseruan kunjungan ini, kami mengajak para murid untuk bermain di luar kelas. Permainan-permainan yang kami pilih untuk sesi bermain bersama ini memiliki makna khusus berkaitan dengan isu kelestarian alam. Kami pun turut senang ketika para murid aktif mengikuti permainan dan dapat memahami makna dibalik permainan yang telah kami siapkan.

Sedikit berbeda dengan kunjungan di SMAN 2, pada kunjungan di SMAN 1 Lubuk Sikaping, kami menyempatkan untuk membuat ‘Pojok Baca’ di pinggir lapangan sekolah. Di Pojok Baca ini kami mempersiapkan beberapa buku menarik terkait satwa liar beserta poster harimau-harimau asal Indonesia dan foto-foto bukti penyalahgunaan satwa liar yang bisa dilihat murid-murid saat waktu istirahat. Seru sekali di sini, kami bisa berdiskusi dengan para murid yang berkunjung dan menjawab pertanyaan-pertanyaan menarik mereka. Melihat ketertarikan mereka yang tinggi, kami pun menjadi semangat memberi pertanyaan-pertanyaan terkait satwa liar berhadiahkan stiker dari COP bertuliskan “Nagari Ramah Harimau”.

Antusiasme yang tinggi dari pemuda-pemudi Lubuk Sikaping ini adalah motivasi bagi kami agar tak henti mengedukasi masyarakat mengenai pelestarian satwa liar terutama harimau sumatra. (Putri Caesaria_orangufriends)