MASIH LUCUKAH ORANGUTAN HARAPI?

Bayi orangutan memang sangat menarik perhatian. Matanya, hidung, rambut jigraknya, telinga, bahkan kelopak matanya akan menambah pesona siapa pun yang melihatnya. Secara keseluruhan, orangutan kecil punya tingkat kelucuan di atas rata-rata. Tapi… seluruh bayi di muka bumi itu lucu, tak hanya orangutan.

BORA (Bornean Orangutan Rescue Alliance) pada 13 Juni 2023 menerima kedatangan satu orangutan jantan yang diperkirakan berusia 5-6 bulan. Harapi begitu dia dipanggil, sebuah harapan ketika dia bisa sampai di Pusat Rehabilitasi Orangutan di Berau, Kalimantan Timur. Kelak, jika waktunya, dia akan dilepasliarkan kembali ke habitatnya.

Jangan lupa, dibalik lucunya tingkahnya, dibalik indah kedua bola matanya menyimpan pengalaman yang sulit dilupakannya. Tak ada induk yang dengan sukarela menyerahkan bayinya yang seharusnya masih dalam perlindungannya. Harapi satu dari banyak orangutan malang tapi beruntung untuk memulai rehabilitasi di BORA. Selamat tinggal guling merah yang menemaninya saat berada dalam kepemilikan ilegal, Harapi sudah bisa lepas dan bisa memanen buah yang ada di BORA. Jari-jemarinya yang kecil berhasil memanjat pohon jambu biji dan mememetiknya. Terus tumbuh dan berkembang Harapi!

INDUK ORANGUTAN YANG BARU MASUK BORA, KRITIS! (2)

Seperti kebanyakan orangutan liar yang masuk ke pusat rehabilitasi, Mauliyan masih dengan sifat agresif segera mengusir jika ada yang mendekati area kandang. Sebagai induk orangutan, dia terlihat sangat melindungi anaknya. Setiap ada yang mendekat, anaknya langsung bersembunyi dalam pelukannya bahkan ditarik paksa olehnya. Mauliyan juga masih dalam masa adaptasi dengan pakan yang diberikan, beberapa jenis pakan masih belum mau dimakannya.

Mauliyan dan anaknya adalah orangutan yang diselamatkan dari kawasan pertambangan di Kalimantan Timur. Viralnya ibu dan anak orangutan menyeberangi jalanan mengantarkan tim menyelamatkan keduanya. Sayang, hanya induknya yang bisa diselamatkan, sementara anaknya yang sudah cukup besar tidak berhasil ditemukan. Tim melakukan penyisiran dan menemukan Mauliyan beserta anaknya, Ariandi.

Kini, Mauliyan sedang kritis. Tim medis berusaha semaksimal mungkin menyelamatkan induk orangutan ini. Setelah 6 jam menjalani perawatan intensif, suhu tubuhnya naik perlahan dan kembali normal. Beberapa kali menunjukkan respon tubuh mencoba membalik badan namun Mauliyan belum sadar.

“Menunggu, berdoa, dan terus melakukan pengecekan hanya itu yang bisa dilakukan. Berharap Mauliyan pun berusaha untuk bertahan dengan kondisinya. Ariandi terlihat tak lepas memeluknya. Suatu kondisi yang sangat menyedihkan. Seorang anak yang masih membutuhkan ibunya yang tak berdaya”, ujar drh. Ellise Balo.

Pada 17.32 WITA terjadi hal baik. Mauliyan perlahan mulai sadar dan diputuskan untuk melepas infusnya. Dengan cepat, dibantu animal keeper untuk menahan tangannya yang kekuatannya mulai pulih. Infusnya berhasil dilepas. Perlahan-lahan, Mauliyan mencoba untuk duduk. Pemberian air gula sedikit demi sedikit berhasil masuk. Dua puluh menit kemudian, seperti tidak terjadi apa-apa, Mauliyan duduk dan memakan habis pakan sisa Ariandi yang ada di sekitar kandang. Tim pun segera memberikan pakan tambahan dan kemudian habis dimakannya. Sejak saat itu, Mauliyan tidak lagi pemilih makanan. Pakan yang dikasih, habis dimakannya sampai saat ini. (LIS)

PERAWAT SATWA TERBAIK DI BORA SEPTEMBER 2023

Perawat satwa Pusat Rehabilitasi Orangutan BORA pada penghujung bulan September ini mendapat kejutan dan apresiasi dari kinerja nya selama ini. Penyematan perawat satwa terbaik BORA kali ini jatuh pada perawat satwa yang telah bergabung sejak 2017 silam. Dia adalah warga lokal yang merupakan bapak dari sepasang anaknya. Selain mampu melakukan pekerjaan perawatan orangutan dengan baik, dirinya mampu menjalin komunikasi dengan rekan kerjanya baik dengan perawat satwa lainnya maupun dengan tim medis.

“Dia menanamkan nilai inisiatif yang tinggi di dalam pekerjaan, selain mengerjakan pekerjaan utama merawat orangutan, ia juga tampak melakukan pekerjaan lainnya dengan sukarela. Perawat satwa lain boleh belajar hal baik dari Amir, bapak dua anak ini”, ungkap Widi Nursanti, manajer Bornean Orangutan Rescue Alliance (BORA).

Menjadi perawat satwa adalah pekerjaan yang dewasa ini banyak digandrungi dan Amir membuktikan meski dirinya tidak memiliki latar belakang pendidikan yang bersinggungan dengan satwa liar, namun dirinya mampu menjadi figur perawat satwa orangutan terbaik di BORA. Selamat, Amir! (WID)