SCHOOL VISIT SMA NEGERI 2 SLEMAN, YOGYAKARTA

Jauh-jauh dari Surabaya untuk memimpin kunjungan ke SMA Negeri 2 Sleman Yogyakarta. Sosok Orangufriends lulusan Universitas Ciputra jurusan Psikologi ini sangat menarik. Rendy Aditya yang juga alumni COP School Batch 12 dengan tata bahasa yang teratur memulai edukasi pagi itu. 5 April 2024, tiga kelas 10 melebur menjadi satu aula. Mereka adalah generasi Z yang katanya selalu cepat mendapatkan informasi apa pun.

Kursi sudah terisi penuh, memulai materi yang mau dibilang berat ya berat tapi dibuat ringan juga bisa, tetap butuh fokus audience. Ice breaking, si pemecah suasana pun dimainkan. 144 orang diharuskan berdiri dan mengikuti Adi, si kapten APE Patriot yang kebetulan sedang berada di Yogya. Orangutan Sumatra dan Tapanuli pun menjadi topik hangat karena APE Patriot sendiri fokus pada perlindungan orangutan tapanuli dan habitatnya. “Centre for Orangutan Protection (COP) adalah satu-satunya organisasi yang bekerja untuk tiga spesies orangutan di Indonesia. Wilayah kerja yang sangat luas tentu saja tidak bisa dikerjakan sendiri. Dukungan para relawan yang tergabung dalam Orangufriends ini lah yang menguatkan. Lewat edukasi menjadi harapan, kelak generasi muda akan terus berkembang dan menggantikan peran sebelumnya.”.

School visit pun berjalan mulus, komunikasi dua arah pun terjalin. Tentu saja ketuk pintu sekolahan satu dengan sekolahan lainnya akan terus berlanjut. Banyak informasi yang tidak tersampaikan jika hanya mengandalkan dunia maya, apalagi media sosial. Keterbatasan durasi dan kebiasaan scroll-skip tanpa melihat sampai akhir juga menjadi hambatan. Fokus yang hanya separuh-separuh juga menjadi halangan untuk mendapatkan informasi yang utuh. Karena itu, COP akan terus hadir untuk generasi Z dan Alpha. (SAT)

COP KUNJUNGI TETANGGANYA, SMP NEGERI 5 SLEMAN

Sekolah ini terletak selemparan lokasi COP School yang baru diresmikan pada 1 Maret 2024 yang lalu. Sudah sebulan ini hanya terlewati saat pergi ke kantor maupun pulang hingga akhirnya berkesempatan school visit. SMP Negeri 5 Sleman berlokasi di Brayut, Pandowoharjo, Kecamatan Sleman, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. SMPN 5 Sleman menjadi salah satu tetangga dekat yang turut serta hadir saat peresmian kantor baru Centre for Orangutan Protection.

Pagi itu, sebanyak 40 siswa dan siswi SMPN 2 Sleman mewakili angkatan kelas 8 dan kelas 9 yang tergabung dalam OSIS untuk mengikuti edukasi dan penyadartahuan tentang pentingnya konservasi orangutan yang ada di Indonesia. Wajah serius mereka seketika mengendur ketika tim APE Warrior memperkenal diri. “Mari mengenal COP dan kegiatannya dengan lebih santai. Lalu ambil peranmu untuk orangutan dan habitatnya.”, begitu ajak Randy Aditya yang merupakan relawan COP sejak 2022 yang lalu.

Materi edukasi tentang tiga spesies orangutan yang ada di Indonesia bergulir dengan cepat, pertanyaan demi pertanyaan sempat membuat tim kewalahan. Sebuah pemikiran anak SMP yang sangat bahkan tidak terpikirkan oleh kita yang dewasa. Inilah yang membuat COP akan terus melakukan school visit dimana pun COP berada. Tidak jarang para relawannya yang tergabung di Orangufriends yang juga akan melakukan school visit. Edukasi khas COP akan bisa dirasakan sekolah-sekolah yang ingin dikunjungi. Hubungi email info@orangutanprotection.com untuk informasi lebih lanjutnya. (Rendy_COPSchool12)

TAK ADA LAGI KALUNG RANTAI DI LEHER ORANGUTAN RUBY

Berat tubuhnya tak lebih dari 12,5 kg. Untuk orangutan seusianya, itu hanyalah separuh dari angka seharusnya. Ruby, orangutan betina berusia lebih 8 tahun ini hanya diberikan pakan ketika ingat saja. Luka yang menghiasi lingkar lehernya adalah akibat ikatan rantai besi yang telah bertahun-tahun membelenggu nya. Gerakan terbatas dan pakan ‘seingatnya’ saja membuat tubuhnya kecil kurus dalam kondisi malnutrisi.

Bersama Ochre, anak orangutan berumur 3-4 tahun yang beratnya sama seperti Ruby akan menjalani masa karantina di BORA (Bornean Orangutan Rescue Alliance) Berau, Kalimantan Timur. Ruby mendapatkan pengobatan, perbaikan nutrisi dan cinta kasih. Sewaktu datang Ruby memiliki beberapa luka pustula pada folikel rambut area punggung tangan dan punggung kaki. Pengobatan dilakukan dengan membersihkan luka setiap hari kemudian diberikan salep luka yang mengandung antibakteri, antifungal, dan antiradang. Sebulan lebih pengobatannya, tapi belum banyak menghasilkan perubahan, pastula dan folikel rambut masih sering muncul dan area alopesia terkadang masih tampak merah. Tim medis mengevaluasi dan melakukan perubahan obat. Hasilnya setelah sepuluh hari Ruby sembuh, ditandai tumbuhnya rambut yang sehat di area alopesia. Dua bulan pengobatan luka Ruby jauh lebih baik baik secara fisik maupun mental dibandingkan awal masuk BORA.

Ruby, bersinar dan terus berkembang. Nafsu makannya sangat bagus, bahkan hampir tak pernah menyisakan makanan yang diberikan, semua makanan yang diberikan animal keeper akan habis tanpa sisa. Sistem pencernaannya pun bagus tanpa ada gejala diare. Ruby membawa semangat menuju kebaikan yang luar biasa untuk tim medis maupun animal keeper. Semoga suatu saat nanti, Ruby mendapatkan kesempatan untuk kembali ke habitatnya. (OKY)