ARTO, SANG PETUALANG KECIL

Arto memang petualang kecil yang pemberani, tapi kadang keberaniannya itu tidak selalu diiringi perhitungan yang matang. Suatu hari, saya membawanya ke sekolah hutan di area pepohonan depan kandang klinik. Kebetulan saat itu sedang banyak pohon jengkol yang berbuah. Saat tiba di lokasi, saya langsung meletakkan Arto di salah satu pohon jengkol. Batang pohon itu kecil, tapi cukup kuat untuk menimpang tubuh mungilnya. Arto melihat sebuah pohon jengkol yang penuh dengan buah di cabang-cabangnya. Tanpa ragu, dia langsung memanjat pohon itu.

Aku membiarkannya, berpikir ini adalah bagian dari pembelajarannya untuk mengenal hutan. Awalnya, dia tampak menikmati petualangannya, memanjat semakin tinggi, bahkan dengan percaya dirinya mulai berpindah ke pohon jengkol lain di sebelahnya. Cabang-cabang pohon atas yang rapat memudahkan Arto untuk berpindah. Namun, masalah muncul ketika Arto sadar bahwa pohon kedua ini jauh lebih besar dengan batang yang lebar dan sangat tinggi serta cabang yang tidak mudah dijangkau untuk turun.

Saya mulai merasa waswas. Firasatku bilang, dia akan kesulitan turun, dan benar saja. Dari bawah, saya bisa melihat dia berhenti bergerak dan memandangi saya, seolah meminta bantuan. Lalu, suara tangis kecilnya mulai terdengar, suara rengekan khas bayi orangutan. Arto, si pemberani, akhirnya sadar bahwa dia terjebak di atas pohon yang terlalu tinggi untuknya. Saya hanya bisa berdiri di bawah, mencoba menenangkannya dengan suara dan gerakan tangan, meski saya tahu, dia tidak benar-benar mengerti apa yang saya katakan. Saya menunjuk-nunjuk cabang yang lebih kecil yang lebih mudah dilewati, berharap Arto akan memahami arahanku.

Perlahan-lahan, dia mulai bergerak. Saya terus mengarahkannya. Beberapa kali dia berhenti ragu-ragu, terlihat seperti ingin menyerah, tapi akhirnya, Arto berhasil turun melalui cabang-cabang yang lebih kecil. Begitu dia sampai di tanah, tanpa pikir panjang, dia langsung mendekat dan memelukku erat-erat. Setelah itu, Arto tidak mau jauh-jauh dari saya. Sepanjang perjalanan kembali, dia terus menempel tidak mau lepas. (JAN)

JADI RELAWAN RIHAS DI SUMBAR YUK!

Ruang Informasi Harimau Sumatra (RIHAS) merupakan ruang edukasi yang dibentuk melalui kerja sama antara BKSDA Sumatra Barat dan Centre for Orangutan Protection (COP). Saya berkesempatan mengikuti kegiatan di RIHAS sebagai edukator untuk siswa Sekolah Dasar (SD), “Menarik, edukatif, dan seru. Bermain sambil belajar bersama para siswa, gak pernah terbayangkan sebelumnya ini sebuah wadah saling belajar”. Jadwal kegiatan yang ada disusun dengan baik dan menyenangkan bagi siswa.

Kegiatan pengamatan dan pengenalan satwa yang dilakukan mudah dimengerti oleh anak-anak sehingga mereka menikmati. Salah satu kegiatan yang dilakukan yaitu pengenalan satwa, herbarium, spesimen kayu, dan karya visual tentang satwa. Anak-anak diajak untuk mengenal berbagai satwa khususnya Harimau melalui gambar dan tulisan. Anak-anak juga disuguhkan langsung bagaimana bentuk dari herbarium dan spesimen kayu. Pengamatan tanda kehadiran satwa melalui jejak yang dicetak, apa itu camera trap, suara, dan juga visual menggunakan plot dengan menggunakan kaca pembesar membuat kegiatan semakin dekat dan nyata bagi anak-anak.

Mengenal konservasi sejak dini dapat meningkatkan rasa kepedulian mereka terhadap ekosistem. Dengan adanya kesempatan ikut serta dalam mengajar ini, saya sangat senang dan mempelajari hal yang baru. Pengemasan materi serius dalam bentuk permainan menjadi hal yang menarik dan memicu rasa penasaran dan semangat belajar mereka. Kelak di tangan merekalah masa depan konservasi berada. Ini hanya bagian kecil dari langkah besar konservasi yang bisa saya ikuti. Semoga RIHAS dapat lebih berkembang, saya, Hafifah Antini K, mahasiswa kehutanan Universitas Riau (UNRI) bangga dan bersyukur menjadi relawan di RIHAS. “Yuk, jadi relawan selanjutnya di RIHAS, belajar bersama dan berkembang bersama”. (Orangufriends Riau)

MAU NYA BAYI ORANGUTAN YANG KERAP TAK DIMENGERTI

Berserakan. Enrichment daun 30 menit lalu sudah berjatuhan semua di bawah kandang. Adalah Harapi, si damai yang sedang memasuki fase tantrum. Babysitter biasanya memasukkan kembali dedaunan yang dihalau rengekan bayi ini sambil memamerkan gigi-gigi kecilnya. “Ditinggal nangis, ditungguin juga masih nangis. Entah lagi kenapa Harapi ini”, ujar babysitter Janet yang kerap dibuat bingung.

Saat observasi perilaku, Harapi terlihat beberapa kali mendorong jeruji kandang ingin mendobraknya. Hal ini jelas mustahil. Segera, ia menumpuk daun memukul-mukul kandang dengan ranting. Harapi tidak menangis sekencang bayi lainnya di Baby House BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance), bahkan tidak terdengar. Tangisannya hanya akan pecah saat keeper menghilang dari pandangannya pada saat feeding dan pemberian susu.

Harapi adalah bayi orangutan yang memulai perawatan di BORA pada 13 Juni 2023 yang lalu. Bayi yang kini berusia 2 tahun ini punya golongan darah B dengan rhesus negatif. Orangutan pun memiliki golongan darah seperti manusia. Mereka juga bisa saling memberikan darahnya, tentu saja dengan syarat-syarat tertentu. Tentang perilaku bayi orangutan, memang sulit sekali menebaknya. Tidak hanya sekedar nyaman atau tidak. Bagaimana pun, anak orangutan biasanya akan dalam pengasuhan induknya hingga usia 5-7 tahun. Bagaimana mungkin manusia menggantikan peran itu. (RAR)