PERKEMBANGAN ARTO DAN HARAPI DI PERTENGAHAN TAHUN 2025

BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance) di bulan Juli 2025 penuh dengan cerita-cerita kecil yang hangat dari dua orangutan mudanya, Arto dan Harapi. Keduanya menjalani hari-hari sibuk dengan penuh warna, baik saat berada di dalam kandang maupun ketika menjelajah alam di sekolah hutan. Arto seperti biasanya, tampil percaya diri, naik ke akar gantung, bergelantungan di pohon dan sesekali mengintip ke arah baby sitter seolah ingin memastikan ia masih jadi pusat perhatian. Di sisi lain, Harapi terlihat makin berani. Meski masih sering menoleh ke arah babysitter untuk mencari rasa aman. Harapi kini sudah mulai aktif bermain dengan teman-temannya dan bahkan memanjat hingga enam meter ke atas, sesuatu yang dulu ia lakukan dengan ragu-ragu.

Keduanya mememiliki kepribadian yang sangat berbeda. Arto ekspresif, terkadang sedikit usil, dan penuh rasa ingin tahu. Harapi lebih pendiam tapi punya keteguhan tersendiri. Saat Arto mencoba mengambil makanan enrichment milik Harapi, Harapi tidak tinggal diam. Ia mempertahankannya, menghabiskannya dengan tenang, sebuah tanda kecil tapi penting bahwa ia semakin percaya diri. Ada juga momen menyentuh saat mereka bermain bersama di dinding kandang dan bergelantungan, lalu tiba-tiba saling berpelukan ketika kaget melihat tim medis membawa boneka-boneka. Reaksi spontan itu menunjukkan betapa kuatnya ikatan emosional di antara mereka, serta bagaimana mereka saling memberi rasa aman saat menghadapi hal baru.

Di sekolah hutan, Arto dan Harapi sama-sama belajar banyak hal, mengenali makanan alami, berlatih memanjat, serta memahami dinamika sosial antar siswa sekolah hutan. Mereka mulai membentuk relasi dengan orangutan lain seperti Jainul, Ochre, dan Cinta. Tak jarang mereka terlihat duduk berdekatan di atas pohon, menikmati buah san (Dracontomelon dao) sambil mengamati lingkungan di sekitar. Meskipun ada hari-hari ketika mereka lebih mendekati babysitter dibanding memanjat tinggi, waktu demi waktu keberanian itu terus tumbuh. Bahkan, pernah suatu pagi keduanya sempat memanjat sampai ke ketinggian 15 meter untuk mencari makan bersama, sebuah pencapaian yang membuat tim babysitter tersenyum puas.

Enrchment masih menjadi salah satu bagian favorit mereka dalam keseharian. Baik itu selang isi sayuran, pipa berisi buah, atau umbut rotan segar, semuanya disambut dengan antusias. Aktivitas-aktivitas ini tidak hanya menyenangkan tapi juga penting untuk mengasah kemampuan alami mereka, menggigit, mengupas, membongkar, dan mencari solusi. Arto cenderung menyelesaikannya dengan cepat, sementara Harapi lebih pelan, menikmati setiap prosesnya.

Ada hari-hari ketika mereka lebih memilik untuk berisitrahat dan itu tak apa. Sama seperti anak-anak pada umumnya, energi dan suasana hati bisa berubah-ubah. Tim babysitter BORA akan selalu memberi ruang bagi mereka untuk pulih, berkembang, dan merasa nyaman. Yang terpenting, setiap langkah kecil mereka, setiap lompatan, setiap makanan yang berhasil dikupas sendiri, setiap pertemanan yang terbentuk, adalah bagian dari proses yang berarti. Kami percaya, dengan cinta dan kesabaran, suatu hari nanti mereka akan benar-benar siap kembali ke rumah mereka yang sesungguhnya, hutan Kalimantan yang liar. (RAF)

HARI PERTAMA MAXIMUS SEKOLAH DI SRA

Maximus, itulah nama yang diberikan oleh orang-orang yang merawatku dengan baik termasuk memberi makan yang cukup dan menjaga kesehatan. Orang-orang yang memberikan ku kesempatan kedua untuk dapat kembali ke rumah (hutan alami) nantinya setelah aku siap untuk kembali.

Kurang lebih setahun, aku di kandang. Kata perawatku, aku akan kembali ke rumah saat umurku 8 atau 9 tahun tapi mungkin saja lebih cepat jika pertumbuhan dan perkembanganku baik. Sedangkan saat ini aku baru berumur 2,5 tahun. Bagaimana agar penilaian nya baik, aku harus mengikuti sekolah hutan dan rapor ku harus terus meningkat dan baik. Selama aku berada di sini, aku belum pernah ikut sekolah hutan.

Hari ini adalah hari pertama ku sekolah hutan. Aku sangat gugup karena akan mencoba hal baru, Aku ditemani oleh Agam agar aku tidak terlalu takut. Agam bisa menjadi guruku untuk belajar memanjat, mencari makan dan membuat sarang. Agam sudah terlebih dahulu menjalani sekolah hutan. Aku sangat akrab dengan Agam karena aku satu kandang dengan Agam.

Saat pertama kali aku keluar kandang dan dibawa oleh perawatku ke area sekolah hutan bersama dengan Agam. Aku sangat takut dan hanya bisa memeluk Agam. Saat diletakkan di pohon, aku melihat Agam langsung memanjat pohon untuk beraktivitas di atas pohon. Aku bergegas mengikuti Agam ke atas pohon. Aku masih kaku dalam hal memanjat pohon, berbeda dengan Agam yang sudah mahir memanjat dan berpindah pohon dari ranting ke ranting. Terkadang aku menangis karena posisi Agam yang jauh dari posisiku. Sesekali aku mencoba pisah dari Agam untuk mencoba menjelajah area sekolah hutan sendiri. Sesekali aku melihat lokasi Agam, hanya untuk memastikan Agam masih berada dalam jarak pandangku karena aku cukup panik jika tidak melihat keberadaan Agam.

Sekian dulu ceritaku hari ini, sampai jumpa di ceritaku selanjutnya. (RID)

FELIX: LEARNING TO NAVIGATE THE WORLD AROUND HIM

Felix, a young orangutan who is sensitive yet full of potential, spent the month of July 2025 navigating a range of emotions and making encouraging progress. He showed significant development in his forest school exploration, climbing trees up to 15 meters high and beginning to venture out with friends like Ochre and Jainul. Sometimes, he even approached other orangutans to forage together, like when he joined Eboni and shared in eating bark that had already been peeled.

However, Felix is still learning to overcome fear and uncertainty. On several occasions, he was seen crying when struggling to move from one tree to another, or when he felt left out by a babysitter. But during such moments, support from other orangutans, like Eboni helping him cross a branch, showed that Felix is growing up in a socially supportive environment.

During enrichment activities, Felix was sometimes less enthusiastic about his own items and preferred collecting leftovers from Pansy. Still, he demonstrated intelligence and perseverance, such as when he completed a honey-filled wood challenge in just 20 minutes. He also became more skilled at climbing and swinging, clearly enjoying his time in the trees, although he occasionally came down to play on the ground with Jainul and Bagus.

Socially, Felix is still learning to set boundaries. In the cage, he was able to play with Pansy and keep up with her more dominant energy. Yet when Pansy approached to take his food, Felix still tended to yield. Even so, when given an enrichment item like a coconut, he focused on finishing it by himself, a sign that his confidence is beginning to grow.

This month showed that Felix is learning to balance curiosity, the need for safety, and the drive for independence. Behind all his emotional expressions lies a natural and complete learning process. With ongoing support, Felix is laying an important foundation for his future life in the wild. (RAF)

FELIX: BELAJAR MENGIMBANGI DUNIA DI SEKELILINGNYA

Felix, orangutan muda yang sensitif, namun penuh potensi, menjalani bulan Juli 2025 dengan berbagai dinamika emosi dan kemajuan yang menggembirakan. Ia menunjukkan banyak kemajuan dalam eksplorasi di sekolah hutan, memanjat pohon hingga 15 meter dan mulai menjelajah bersama teman-temannya seperti Ochre dan Jainul. Kadang ia juga mendekati orangutan lain untuk mencari makan bersama, seperti saat ia menghampiri Eboni dan ikut menikmati kulit kayu yang sudah dikupas.

Namun, Felix juga masih belajar mengatasi rasa takut dan ketidakpastian. Beberapa kali ia terlihat menangis saat kesulitan berpindah dari satu pohon ke pohon lain atau saat merasa diabaikan oleh babysitter. Tapi dalam momen seperti ini, perhatian dari orangutan lain seperti Eboni yang membantunya menyeberang cabang, menunjukkan bahwa Felix sedang tumbuh di lingkungan yang penuh dukungan sosial.

Dalam berbagai aktivitas enrichment, Felix kadang terlihat kurang antusias dengan miliknya sendiri dan lebih memilih memungut sisa milik Pansy. Tapi ia tetap menunjukkan kecerdasan dan ketekunan, seperti saat menyelesaikan kayu isi madu dalam waktu 20 menit. Ia juga semakin mahir memanjat dan berayun, dan terlihat sangat menikmati waktunya di atas pohon, meskipun sesekali turun untuk bermain bersama Jainul dan Bagus di tanah.

Secara sosial, Felix masih dalam proses belajar menetapkan batas. Di kandang, ia bisa bermain dengan Pansy dan mengimbangi energi Pansy yang lebih dominan. Tapi saat Pansy mendekat untuk mengambil makanannya, Felix masih cenderung mengalah. Meski begitu, saat diberi enrichment berupa kelapa, ia fokus menyelesaikannya sendiri, tanda bahwa kepercayaan dirinya mulai tumbuh.

Bulan ini menunjukkan bahwa Felix sedang melatih keseimbangan antara rasa ingin tahu, kebutuhan akan rasa aman, dan dorongan untuk mandiri. Di balik semua ekspresi emosionalnya, ada proses pembelajaran yang utuh dan alami. Dengan dukungan yang terus-menerus, Felix sedang membangun fondasi penting untuk hidupnya di alam liar nanti. (RAF)