SEMERU 2025, HEWAN PUN MENJADI KORBAN YANG TERABAIKAN

Awan panas itu naik seperti gelombang hitam yang tidak punya belas kasihan. Dalam menit-menit yang terasa seperti kamera slow-motion, Pronojiwo berubah dari desa hidup menjadi landskap kelabu tanpa suara. Rumah rubuh, kandang ternak hilang bentuk, dan bau abu bercampur belerang menggantung seperti ancaman. Manusia berlari, beberapa sempat menyelamatkan kambing atau menggenggam kucing kesayangan, tapi tidak semua hewan punya kesempatan yang sama. Banyak yang tertinggal, terjebak, atau kalah cepat dari panas yang datang lebih dulu.

Di tengah kekacauan itu, Rabu malam hampir tengah malam, ponsel saya bergetar. Pesan singkat, “Gabung COP? Kita butuh orang buat asesmen”. Tidak ada waktu untuk mikir panjang. Saya jawab, “Siap” dan tanpa sadar melangkah ke dunia yang tidak pernah saya rencanakan, dunia relawan satwa. Esok paginya saya sudah berada di lapangan bersama dua orang lainnya. Mas Mamat yang memimpin asesmen, serta Imdad sebagai pencatat, dan saya mendokumentasikan apa yang tersisa dari kehidupan yang baru saja disapu bencana.

Hari-hari berikutnya berjalan cepat dan tanpa henti. Pertanyaan orang-orang di lapangan “Hewannya diapakan, Mas?”, seolah tamparan yang membuka mata saya. Selama ini fokus bencana selalu tentang manusia dan bangunan, padahal banyak hewan juga kehilangan rumah, keluarga, bahkan hidup. Hari ketiga, bantuan semangat dari Jogja datang, tanpa banyak bicara mereka bekerja seperti mesin yang sudah dilatih bertahun-tahun. Bersama mereka, kami menyisir desa demi desa, mengevakuasi kambing terjebak, memberi pakan kucing yang bersembunyi di rumah-retak, dan menangani luka bakar pada sapi yang masih mencoba berdiri.

Setiap langkah terasa berat, abu menempel di kulit seperti racun halus, suara letusan kecil dari puncak membuat napas tercekik, dan bau bangkai bercampur panas vulkanik jadi pengingat bahwa kami bukan hanya bekerja, namun kami bertahan. Tapi di tengah semua itu ada momen-momen kecil yang menghantam emosional, pemilik ternak yang menangis melihat sapi yang ia rawat bertahun-tahun harus dikubur, kucing kecil yang tetap mengeong meski seluruh badannya kotor abu, kambing yang masih mencoba mengikuti pemiliknya meski kakinya gemetar. Bencana membuat semuanya telanjang, rasa takut, rasa sayang, rasa kehilangan.

Ketika status tanggap darurat dicabut tanggal 2 Desember 2025, kami tahu pekerjaan di Semeru sementara berhenti. Tapi jejaknya tidak pernah benar-benar hilang. Dua pekan itu seperti membuka lapisan baru dalam hidup saya bahwa bencana tidak hanya meruntuhkan bangunan, tapi juga memaksa kita melihat bahwa semua makhluk, manusia atau bukan, sama-sama ingin bertahan hidup. Relawan mungkin datang dan pergi, tapi pengalaman itu menetap, bahwa empati tidak punya spesies. (Bayu Surahmat_Orangufriends Lumajang)

MEMBELAH ARUS, MENEMBUS BATAS: PERJUANGAN LOGISTIK MENCAPAI SRA

Perjalanan kemanusiaan menuju Sumatran Rescue Orangutan (SRA) ini berubah menjadi ujian ketahanan fisik dan mental sejak dimulai pada 27 November 2025. Selama dua hari berturut- turut niat kami mengantar logistik dipatahkan oleh alam dengan banjir setinggi dada di Besitang dan longsor di Tol Tanjung Pura yang memutus akses total. Upaya menembus malam hingga pukul dua dini hari pada hari Jumat pun berakhir nihil, memaksa kami mundur ke Binjai dengan perasaan cemas, mengingat stok pakan bagi satwa-satwa di dalam SRA telah habis dan mereka terancam kelaparan dalam isolasi.

Sabtu, 29 November, menjadi hari penentuan bagi kami. Di Tol Tanjung Pura Kilometer 53, genangan air masih setinggi dada orang dewasa dengan arus deras yang sebelumnya telah membuat banyak kendaraan mogok dan terseret. Di tengah tekanan urgensi logistik, kami mengambil risiko besar dengan mengekor rapat di belakang sebuah truk Pertamina. Kami membiarkan truk itu memecah ombak banjir menjadi perisai bagi mobil kami untuk merayap perlahan menembus blokade air hingga akhirnya roda kendaraan menyentuh aspal kering di sisi seberang.

Rasa lega tak terlukiskan menyelimuti tim saat akhirnya tiba di SRA dengan selamat. Misi krusial untuk mendistribusikan logistik darurat, termasuk bantuan tambahan dari OIC dan COP, akhirnya tuntas, memastikan kebutuhan bagi operasional SRA dan satwa kembali aman. Setelah tugas selesai, saya bersama Tim APE Sentinel kembali ke Medan membawa pulang kelelahan yang terbayar lunas. Perjalanan ini menjadi pengingat keras bahwa garda depan konservasi seringkali menuntut keberanian untuk bertaruh nyawa demi memastikan makhluk hidup yang kita jaga tidak terlupakan di tengah bencana.(Ndaru_Orangufriends)

SAAT KABEL DAN TIANG MENJADI HARAPAN BARU BAGI SATWA LIAR

Di tengah hamparan hutan Kalimantan yang terbelah oleh Jalan Nasional Poros Kelay, lahirlah sebuah misi besar yaitu untuk mengembalikan konektivitas habitat agar satwa liar terutama orangutan, dapat bergerak dengan aman. Selama hampir empat tahun, BKSDA Kalimantan Timur bersama COP (Centre for Orangutan Protection) bekerja merancang sebuah jembatan koridor satwa, sebuah upaya penting untuk menjawab tantangan konservasi di wilayah yang menjadi jalur pergerakan satwa.

Proses menuju pembangunan jembatan dimulai dengan pengambilan data koordinat dan dokumentasi udara pada awal tahun 2022. Tahap demi tahap dijalani, kajian teknis, koordinasi lintas instansi hingga administrasi yang memakan waktu panjang. Rekomendasi pembangunan akhirnya diterbitkan pada pertengahan tahun 2025, membuka jalan bagi pelaksanaan konstruksi yang kemudian dapat diwujudkan pada 29 November 2025.

Pengerjaan jembatan dipantau oleh perwakilan BKSDA Kaltim dan staf lapangan COP dengan dukungan aparat setempat untuk memastikan proses pemasangan berlangsung aman. Meski waktu pemasangan di lapangan relatif singkat, medan terjal, jurang yang curam, serta bukaan lahan warga menjadi tantangan teknis yang harus diselaraskan sejak persiapan awal hingga hari pengerjaan.

Catatan kegiatan di tahun-tahun sebelumnya menunjukkan bahwa jembatan ini sangat dibutuhkan. Jalan poros Kelay kerap menjadi lokasi kemunculan orangutan dan satwa liar lainnya, karena dua blok hutan besar, yaitu Hutan Lindung Sungai Lesan dan Hutan Lindung Wehea, yang terpisah oleh jalur kendaraan yang padat. Jembatan ini diharapkan menjadi solusi aman agar satwa dapat menyeberang tanpa risiko konflik dengan manusia.

Kini, jembatan koridor satwa telah berdiri kokoh menghubungkan kembali bentang hutan yang sebelumnya terpisah. Langkah selanjutnya adalah pemasangan kamera trap untuk memantau penggunaan jembatan serta pemasangan rambu himbauan sesuai arahan BKSDA Kaltim. Terima kasih semua pihak yang terlibat dalam perjalanan panjang ini, hingga jembatan penghubung kehidupan ini akhirnya menjadi kenyataan. (FER)