ENRICHMENT KERANJANG BAMBU UNTUK ORANGUTAN

Sebelum matahari semakin terik, kami segera beranjak untuk melaksanakan rutinitas yang sudah berjalan tiga bulan terakhir, yaitu mengirimkan pakan untuk orangutan yang berada di Wildlife Rescue Center (WRC) Jogja. Pasar Gamping, salah satu pusat pasar buah di Jogjakarta, di situlah kami membeli pepaya, pisang, semangka, ketimun, ketela, kangkung, kacang panjang dan keranjang yang terbuat dari bambu untuk membuat enrichment dan memasukkannya ke dalam mobil APE Warrior.

Riuh suara berbagai satwa seperti Owa Jawa, Siamang dan satwa liar lainnya menyabut kedatangan kami berpadu dengan semilir angin yang sejuk khas WRC Jogja yang berada di Kulon Progo, cukup dekat dengan perbukitan menoreh. Kami segera memindahkan buah dan sayuran ke tempat penyimpanan pakan. Tak lupa bantuan masker medis untuk para perawat satwa dan beberapa suplemen vitamin. Jaring raksasa bantuan IFAW juga turut kami serahkan untuk membantu berbagai kegiatan di YKAY (Yayasan Konservasi Alam Yogyakarta) nama lain dari WRC Jogja.

Kamis ini waktunya kami berkreasi membuat enrichment untuk ketujuh orangutan. Keranjang bambu yang kami beli di pedagang pasar, kami isi dengan pisang dan pepaya. Setelah itu kacang panjang dililitkan mengelilingi keranjang. Yang terakhir, mengikat keranjang dengan akar pohon beringin dengan kuat agar buah yang di dalam keranjang tidak cukup mudah untuk keluar. “Susah loh, kita sampai saling tarik untuk mengikatnya. Untuk orangutan yang punya kekuatan 20 kali atlet yang terlatih tentu ini bukan masalah ya. Tapi kita senang…”, ujar Grace sambil menunjukkan keranjang bambunya.

Dipandu drh. Tom, kami membawa tujuh keranjang enrichment untuk ketujuh orangutan. “Makan yang lahap ya! Semoga kalian segera kembali ke habitat kalian.”, pesan Grace dan teman-teman magangnya saat berpisah. Benarkah orangutan cukup sibuk dengan enrichment yang kali ini dibuat? Setidaknya, mereka tidak semudah biasanya mengambil makanan di tempat pakannya biasa diletakkan. (GRACE_MahasiswaMagang)

GUNUNG SINABUNG HARI INI

Gunung Sinabung yang dikenal tidak aktif ini telah mengalami erupsi sejak tahun 2010. Pada Senin, 10 Agustus 2020 pukul 10.16 WIB kembali mengalami erupsi dengan ketinggian kolom abu 5000 meter dengan intensitas tebal condong ke arah timur dan tenggara. Tim APE Warrior dari Centre for Orangutan Protection bersama Orangutan Information Centre melakukan asesmen terhadap erupsi yang sempat membuat cuaca menjadi gelap ini. 

Saat ini, gunung Sinabung masih berada di level III atau Siaga dimana terjadi peningkatan aktivitas vulkanik secara signifikan. Status kewaspadaan ini ditetapkan sejak Mei 2019. Letusan kemungkinan besar terjadi dan area potensi bahaya letusan berada di daerah Kawasan Rawan bencana (KRB) II. Masyarakat dilarang melakukan kegiatan di dalam area KRB II ini. 

Erupsi Sinabung hari ini menyebabkan tiga kecamatan di kabupaten Karo terpapar hujan abu. Ketiga kecamatan itu adalah Naman Teran, Berastagi dan Merdeka. Masyarakat masih beraktivitas seperti biasanya. “Memasuki tahun kesepuluhnya gunung Sinabung bangkit dari tidurnya, masyarakat terlihat tidak panik dalam menghadapi letusannya. Anak-anak terlihat masih bermain. Beberapa warga yang masih kembali ke desa yang telah direlokasi terlihat bergegas meninggalkan desa yang seharusnya sudah tidak berpenghuni ini. Guyuran hujan abu sesaat menghentikan aktivitas masyarakat di ladang. Satwa dan ternak masih terlihat tenang.”, ujar Sari Fitriani, COP dari desa terakhir kaki gunung Sinabung.

COP BERSAMA OIC UNTUK PRIMATA SUMATERA

Kedua orang pendiri organisasi orangutan di Indonesia ini telah lama bekerja bersama. Dua puluh tahun lebih saling mengenal dan berkarya untuk penyelamatan orangutan Indonesia. Jika Centre for Orangutan Protection lebih dikenal sebagai organisasi kampanye perlindungan orangutan dan habitatnya tak jauh berbeda dengan Orangutan Information Center yang telah menyelamatkan orangutan Sumatera di Sumbagut. Di bulan kemerdekaan Republik Indonesia ini, keduanya menandatangani perjanjian kerjasama Pembangunan dan Pengelolaan Pusat Penyelamatan Orangutan dan Primata Dilindungi Lainnya dalam Upaya Mendukung Rehabilitasi dan Pelepasliaran Primata di Sumatera. Sebuah komitmen besar untuk satwa liar.

“Kami berharap dapat bekerja maksimal untuk satwa liar Sumatera yang unik dan endemik agar kelak tak sekedar dongeng pengantar tidur. Laporan kepemilikan ilegal satwa liar yang dilindungi terutama primata yang selama ini masuk, semoga mendapatkan kesempatan keduanya untuk dapat kembali ke habitatnya. Penyelamatan, Rehabilitasi dan Pelepasliaran bukanlah hal yang mudah, tenaga dan biaya yang terkuras untuk itu sangat besar. Kami berharap kita semua, masyarakat Sumatera dapat menjadi pelindung juga untuk satwa liar tersebut.”, kata Daniek Hendarto, Direktur COP usai menandatangani perjanjian kerjasama di kantor Yayasan Orangutan Sumatera Lestari yang berada di Jl. Bunga Sedap Malam XVIIIc No. 10 Medan.

Sementara Hardi Baktiantoro (pendiri COP) dan Panut Hadisiswoyo (pendiri YOSL) terlihat sama-sama lega setelah melihat regenerasi organisasinya saling membubuhkan tanda tangan untuk Sumatra Rescue Alliance Primate Center. Mohon doa Orangufriends dan para pendukung agar pembangunan sarana dan prasarana dapat berjalan dengan baik dan lancar.