SATWA KEBUN BINATANG TERDAMPAK COVID-19

Saat ini beredar berita tentang beberapa kebun binatang yang hampir bangkrut dan tidak bisa memberi pakan satwa koleksinya karena mereka menutup kegiatan operasional mereka dari pengunjung selama pandemi virus corona ini. Yang artinya tidak ada pemasukan untuk kebun binatang tersebut dari pengunjung. Sementara biaya operasional dan pakan satwa mereka harus tetap jalan setiap hari. Satwa-satwa yang berada di kandang maupun enclosure di kebun binatang sangat bergantung kepada petugas perawat satwa yang setiap hari memberi mereka makan karena mereka tidak bisa mencari makan sendiri.

Kebun binatang memang bisnis sarat modal besar dan berat. Namun ini adalah konsekuensi bagi para pengelola kebun binatang untuk tetap memberi makan dan merawat satwa tersebut, karena selama ini juga satwa-satwa tersebutlah yang membuat pengunjung datang dan memberikan pemasukan untuk pengelola kebun binatang. Satwa-satwa di kebun binatang tidak mengenal pandemi COVID-19, yang penting bagi mereka adalah bertahan hidup di dalam kandang-kandang tersebut. Hidup di dalam kebun binatang bukan kemauan dari satwa tersebut, karena sejatinya ‘rumah’ mereka adalah di hutan. Dan mereka terpaksa tinggal di kebun binatang karena beberapa dari mereka adalah korban dari kejahatan manusia.

Centre for Orangutan Protection mengingatkan para pengelola kebun binatang untuk tetap memperhatikan kesejahteraan satwa dengan mengedepankan 5 kebebasan satwa. COP mengundang Orangufriends untuk diskusi dan aksi untuk satwa kebun binatang yang terdampak COVID-19. Hubungi kami di info@orangutanprotection.com (HER)

HERCULES YANG JAHIL

Linau adalah perawat satwa di Pusat Rehabilitasi Orangutan COP Borneo yang memiliki hobi menyanyi. Kali ini, dia akan bercerita tentang Hercules, orangutan yang terpaksa kembali dari pulau pra-rilis karena pandemik Covid-19. COP Borneo mengambil kebijakan lockdown untuk memutus penyebaran pandemik corona.

Hercules adalah orangutan jantan dewasa yang umurnya kisaran 14-16 tahun, yang saat ini menghuni blok kandang karantina. Ia cukup jahil kepada para keepernya. Suatu ketika giliran ku bertugas membersihkan kandangnya. Seperti biasa, aku menyemprot air dengan radius 2 meter. Untuk mendorong sisa-sisa makanan yang berjatuhan di lantai kandangnya, menuju tempat pembuangan. Air tak terlalu kuat mendorong sisa makanan, lalu kucoba perlahan mendekat.

Seperti dugaan awal, Hercules dengan gesitnya menarik tanganku yang tengah memegang selang. Terkejut bukan main. Ia orangutan jantan yang kuat dan agresif. Panik dan membuatku terjatuh tepat di depan kandangnya dengan selang yang masih tergenggam. Tak luput pakaian dan tubuh basah kuyup terguyur air dari selang.

Sebuah pelajaran, jangan terlalu mendekat dengan tangan jahil Hercules. Dengan perasaan masih tergopoh-gopoh, kulanjutkan membersihkan kandangnya dengan jarak yang lebih jauh. “Untung tak ada yang melihat… kalau diingat-ingat lucu… tapi aku tidak akan pernah lengah lagi.”.(NAU)

KACANG PANJANG UNTUK ORANGUTAN ANTAK

Semenjak pandemi COVID-19 banyak buah yang tidak bisa ditemui di pasar. Aktivitas belanja logistik untuk Pusat Rehabilitasi COP Borneo pun dibatasi menjadi satu kali dalam seminggu. Tentu saja ini sangat berpengaruh pada menu pakan orangutan. 

Pagi ini, dengan semangatnya Wasti, Sili, Cici pergi ke kebun nenek mereka untuk mengambil jagung dan kacang panjang. Jagung dan kacang panjang ini rencananya untuk orangutan yang ada di COP Borneo. Orangutan Antak sangat suka sekali makan kacang panjang. Ketika Wasti dan teman-temannya dikasih tahu kalau orangutan Antak sangat menyukai kacang panjang, mereka saling berebut untuk memetik kacang panjang. 

Mereka mengerti, keadaan sekarang ini membuat orang-orang tidak bisa bepergian. Pandemi Covid-19 telah membatasi pergerakan manusia. Kebun adalah tempat persembunyian yang menyenangkan bagi  mereka. Mereka juga berharap, orangutan menikmati jagung dan kacang panjang yang mereka ambil dari kebun. (WET)