DI TENGAH ABU LERENG SEMERU, COP BERGERAK UNTUK SATWA!

Selama dua minggu berada di lereng Gunung Semeru, tim APE Warrior hidup dalam ritme yang ditentukan oleh abu, suara relawan, dan panggilan warga yang menemukan satwa terluka. Setiap langkah membawa jejak debu vulkanik tetapi juga menghadirkan harapan kecil bahwa masih ada nyawa yang bisa diselamatkan. Di Sumbersari, Gumuk Mas, Kamar A, dan Kandang Komunal Huntap, tim bergerak dengan satu keyakinan yang sama, yaitu tidak meninggalkan siapa pun, termasuk satwa yang tidak mampu menyelamatkan dirinya sendiri.

Hari-hari pertama dipenuhi temuan ternak yang sudah tidak diselamatkan. Sterilisasi bangkai menjadi tugas paling berat, bukan hanya jumlahnya tetapi karena setiap hewan pernah menjadi bagian dari kehidupan keluarga yang kini harus merelakan. Setiap bangkai menyimpan kisah kehilangan yang tidak terlihat dan tim belajar menghadapi duka itu dengan ketenangan dan rasa hormat.

Di sela kesedihan, harapan perlahan muncul dari distribusi pakan. Hijauan, konsentrat, dan pakan untuk satwa liar dibawa ke titik-titik yang masih dihuni ternak dan satwa yang bertahan. Ada kambing yang berlari kecil saat mencium aroma hijauan segar, ada kucing yang akhirnya mau makan setelah berhari-hari menggigil ketakutan. Momen kecil seperti ini menjadi pengingat bahwa kehidupan tetap berusaha bertahan meski dikelilingi abu dan ketidakpastian.

Ruang medis lapangan menjadi tempat lain dimana harapan dirawat dengan sungguh-sungguh. Beberapa kambing yang terluka dan sejumlah kucing yang lemah menerima perawatan intensif. Salah satunya adalah seekor kucing yang masih sangat kecil dan hampir tidak bersuara. Ketika matanya akhirnya terbuka dan iii mulai menyusu dengan tenang, seluruh tim merasakan kelegaan yang sulit digambarkan, seolah semangat mereka ikut hidup kembali.

Bagian terakhir dari perjalanan ini adalah proses evakuasi. Puluhan kambing dan beberapa kucing berhasil dibawa keluar dari zona berbahaya satu per satu dengan perjuangan yang tidak ringan. Ketika status tanggap darurat berakhir pada 2 Desember, tim berdiri di bawah langit Semeru dalam keadaan lelah dan berdebu tetapi penuh rasa bangga. Tim pulang dengan keyakinan bahwa di tengah bencana mereka telah membantu menjaga kehidupan yang mungkin tidak terdengar oleh banyak orang namun sangat berarti bagi mereka yang berhasil selamat. (DIT)

MENGENAL ORANGUTAN LEBIH DEKAT BERSAMA SDN 001 TASUK

Pada 9 Desember 2025 dalam rangkaian aksi Green Innovation Week (GROW) dari kelompok Rambu_etam.id dan tim APE Defender melaksanakan kegiatan edukasi orangutan di kantor Centre for Orangutan Protection yang berada di kampung Tasuk, Berau. Kegiatan ini ditujukan untuk siswa kelas 4 SDN 001 Tasuk sebagai upaya menanamkan kepedulian terhadap pelestarian orangutan sejak usia dini. Meski sederhana, edukasi seperti ini menjadi langkah penting dalam membangun generasi yang memahami dan mencintai satwa liar.

Acara dibuka dengan pemaparan materi mengenai orangutan dan peran penting konservasi, dipandu oleh drh. Rengga. Anak-anak mengikuti sesi ini dengan penuh antusias. Mereka aktif bertanya, berdiskusi, bahkan mampu membedakan antara kera dan monyet, pengetahuan dasar yang ternyata masih sering keliru di masyarakat umum.

Setelah penyampaian materi, siswa diajak mengikuti rangkaian aktivitas menarik seperti mewarnai, penanaman pohon, dan berbagai permainan outdoor. Kegiatan ini tidak hanya menyenangkan, tetapi juga membantu mereka memahami konsep konservasi melalui pengalaman langsung. Suasana ceria dan penuh energi tampak sepanjang acara.

Sebagai penutup, diadakan pameran kecil hasil mewarnai para siswa. Tiga karya terbaik dipilih sebagai bentuk apresiasi atas kreativitas dan semangat mereka. Menurut wali kelas yang mendampingi, dari 33 murid hanya dua yang berhalangan hadir, dan seluruh peserta pulang dengan wajah gembira serta pengalaman baru yang bermanfaat.

Tentunya kami berharap edukasi seperti ini dapat terus diperluas, menjangkau lebih banyak sekolah dan kelompok masyarakat. Menjaga kelestarian alam bukan hanya tanggung jawab pelaku konservasi, tetapi tugas bersama yang dimulai dari pengetahuan, kepedulian dan tindakan nyata. (TAT)

SEMERU 2025, HEWAN PUN MENJADI KORBAN YANG TERABAIKAN

Awan panas itu naik seperti gelombang hitam yang tidak punya belas kasihan. Dalam menit-menit yang terasa seperti kamera slow-motion, Pronojiwo berubah dari desa hidup menjadi landskap kelabu tanpa suara. Rumah rubuh, kandang ternak hilang bentuk, dan bau abu bercampur belerang menggantung seperti ancaman. Manusia berlari, beberapa sempat menyelamatkan kambing atau menggenggam kucing kesayangan, tapi tidak semua hewan punya kesempatan yang sama. Banyak yang tertinggal, terjebak, atau kalah cepat dari panas yang datang lebih dulu.

Di tengah kekacauan itu, Rabu malam hampir tengah malam, ponsel saya bergetar. Pesan singkat, “Gabung COP? Kita butuh orang buat asesmen”. Tidak ada waktu untuk mikir panjang. Saya jawab, “Siap” dan tanpa sadar melangkah ke dunia yang tidak pernah saya rencanakan, dunia relawan satwa. Esok paginya saya sudah berada di lapangan bersama dua orang lainnya. Mas Mamat yang memimpin asesmen, serta Imdad sebagai pencatat, dan saya mendokumentasikan apa yang tersisa dari kehidupan yang baru saja disapu bencana.

Hari-hari berikutnya berjalan cepat dan tanpa henti. Pertanyaan orang-orang di lapangan “Hewannya diapakan, Mas?”, seolah tamparan yang membuka mata saya. Selama ini fokus bencana selalu tentang manusia dan bangunan, padahal banyak hewan juga kehilangan rumah, keluarga, bahkan hidup. Hari ketiga, bantuan semangat dari Jogja datang, tanpa banyak bicara mereka bekerja seperti mesin yang sudah dilatih bertahun-tahun. Bersama mereka, kami menyisir desa demi desa, mengevakuasi kambing terjebak, memberi pakan kucing yang bersembunyi di rumah-retak, dan menangani luka bakar pada sapi yang masih mencoba berdiri.

Setiap langkah terasa berat, abu menempel di kulit seperti racun halus, suara letusan kecil dari puncak membuat napas tercekik, dan bau bangkai bercampur panas vulkanik jadi pengingat bahwa kami bukan hanya bekerja, namun kami bertahan. Tapi di tengah semua itu ada momen-momen kecil yang menghantam emosional, pemilik ternak yang menangis melihat sapi yang ia rawat bertahun-tahun harus dikubur, kucing kecil yang tetap mengeong meski seluruh badannya kotor abu, kambing yang masih mencoba mengikuti pemiliknya meski kakinya gemetar. Bencana membuat semuanya telanjang, rasa takut, rasa sayang, rasa kehilangan.

Ketika status tanggap darurat dicabut tanggal 2 Desember 2025, kami tahu pekerjaan di Semeru sementara berhenti. Tapi jejaknya tidak pernah benar-benar hilang. Dua pekan itu seperti membuka lapisan baru dalam hidup saya bahwa bencana tidak hanya meruntuhkan bangunan, tapi juga memaksa kita melihat bahwa semua makhluk, manusia atau bukan, sama-sama ingin bertahan hidup. Relawan mungkin datang dan pergi, tapi pengalaman itu menetap, bahwa empati tidak punya spesies. (Bayu Surahmat_Orangufriends Lumajang)