SEMANGAT JOHOR ISLAMIC GREEN SCHOOL MEDAN UNTUK ORANGUTAN

“Jaraknya sih dekat saja dengan kantor COP Sumatra. Hanya 1,5 km. Kali ini School Visit di Johor Islamic Green School Medan dibantu Mahdiyah, Afin dan Febri. Serunya seperti apa ya?”, cerita Meylanda, tim APE Sentinel COP. 

Tepat pukul 11.00 WIB, tim APE Sentinel bersama Orangufriends Medan sudah berada di depan 23 siswa yang duduk di kelas 1 hingga 4 SD. “Melalui cerita Otan yang dipelihara pak petani, kami memulai pengenalan orangutan secara umum. Sesekali anak-anak menyela tak sabar dengan kelanjutan cerita”. 

Pada sesi kuis, hampir semua siswa dapat menjawab pertanyaan yang kami berikan. Mulai dari berapa berat orangutan, makanan orangutan bahkan persebaran orangutan. Beberapa siswa ada yang mengajukan pertanyaan mengenai jumlah populasi orangutan saat ini, rata-rata rentang umur orangutan dan seberapa tinggi orangutan dapat memanjat pohon. Pertanyaan yang justru tidak kami duga ditanyakan oleh para siswa di sini.

Semua siswa berebut untuk menjawab kuis yang kami berikan, bahkan salah satu siswa bernama Salman mengeluh karena tidak menapatkan giliran menjawab, “Ah… kapan giliran aku, sudah angkat tangan loh”, ujarnya yang justru membuat kami semakin senang dalam school visit kali ini. 

Meskipun Johor Islamic Green School Medan ini jumlah siswanya tergolong tidak terlalu ramai, tapi semangat mereka mengalahkan semangat kami bahkan sampai akhir sesi pun mereka tetap semangat. School visit ditutup dengan ice breaking senam pocki, sebuah senam yang baru kami pakai selama school visit dan orangutan eksperimen untuk melakukan tos (hi-5) atau peluk terhadap boneka orangutan yang kami bawa. (MEY) 

RILIS ELANG DAN MUSANG DI HKAN YOGYAKARTA

Rangkaian peringatan Hari Konservasi Alam Nasional 2022 yang jatuh pada tanggal 10 Agustus, Balai Besar KSDA Yogyakarta, Polda DIY, Jasa Raharja, YKAY dan COP melepasliarkan 1 Elang Ular Bido, 1 Elang Brontok dan 1 Musang Pandan di  Kelurahan Kepanewon Girimulyo, Kbupaten Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta. 

Ceremonial dan penandatanganan BAP pelepasliaran satwa oleh kepala BBKSDA Yogyakarta yaitu Bapak Wahyudi. Dilanjutkan dengan teknis pelepasliaran burung elang.YKAY sebagai tenaga ahli merekomendasikan untuk melepasliarkan satu elang terlebih dahulu. Hal ini agar tidak terjadi pertarungan antar elang jika dilepas secara bersamaan. 

Tepat pukul 10.45 WIB pintu kandang habituasi dibuka dan terlihat satu elang berhasil keluar dan langsung terbang tinggi. Rencana pelepasliaran musang pandan akhirnya dipercepat dengan memperhitungkan cuaca yang sudah mulai gelap. Untuk lokasi rilis disepakati berada lebih jauh masuk ke dalam hutan dengan pertimbangan akan lebih aman dan tutupan kanopi pohon lebih rapat/ gelap karena satwa ini sejatinya hewan nokturnal.

Pelepasliaran menjadi titik puncak dari perjuangan para pelaku konservasi satwa liar. Ketika elang dan musang pandan yang sudah direhabilitasi akhirnya bisa kembali hidup bebas di habitat alaminya. Apresiasi yang sebesar-besarnya untuk BBKSDA Yogyakarta yang selalu mendukung penuh program pelepasliaran satwa eks-rehab. Ini juga menjadi salah satu langkah serius dari pemerintah khususnya para pemangku kepentingan dalam melestarikan satwa liar di alam. (SAT)

PAGARI SONTANG CUBADAK DI BULAN AGUSTUS 2022

Tim Pagari (Patroli Nagari) Sontang Cubadak memulai semester keduanya berada di Pasaman dengan patroli dan pemasangan kamera jebak. Nagari Sontang Cubadak yang asri nan damai ini menyimpan keanekaragaman hayati yang luar biasa dari evaluasi kerja semester lalu. Koordinasi dan diskusi dengan beberapa elemen masyarakan Nagari Sontang Cubadak pun mendapat sambutan dan dukungan yang sangat baik. 

Kali ini, beranggotakan tujuh orang, tim memulai hari Selasa pagi dengan bergerak dari Kampung Ulu Sontang menuju kawasan Hutan Sinuagon. Perjalanan menuju camp yang merupakan pondok salah satu tim Pagari menjadi catatan penting bagi tim. Aktivitas masyarakat di kawasan hutan, potensi konflik satwa dan masyarakat, potensi perburuan satwa seperti jerat dan peninjauan tanda-tanda kehadiran satwa secara langsung maupun tidak langsung. Tak ketinggalan, ‘sapu jerat’. “Untungnya, masyarakat Sontang Cubadak lebih memilih bertani. Entah itu padi, kopi, coklat, aren, kelapa dan palawija lainnya. Berburu tak menjadi kebiasaan mereka. Selama ini, kami tidak pernah menemukan jerat saat patroli. Namun kami siap merusak jerat yang kami temukan”, ujar Reva yang tak pernah absen saat patroli dengan PAGARI.

Patroli menjadi waktu yang mendebarkan. Tim membuka mata dan telinga untuk tetap waspada. Tentu saja keberadaan beruang lebih menakutkan bagi mereka karena satwa liar satu ini tak segan-segan menabrak apapun yang menghalanginya. Tanda-tanda keberadaannya sangat sering dijumpai selama patroli. Tak terkecuali hari ini. “Kami pun menemukan kotoran tapir. Tak sabar melihat hasil kamera jebak yang kami tinggalkan. Semoga saja tangkapan kamera kali ini lebih banyak. Tentu saja ini semakin membuat tim semakin bersemangat menjaga keaneka ragaman hayati Nagari ini”, tutup Reva saat kembali ke kampung. (REV)