A PROCESS JUST LIKE SCHOOL

We simplified the rehabilitation of orangutans just like school process. Because orangutan rehabilitation centre is not an animal breed. Most of orangutans who entered the rehabilitation centre are the victims of conflicts such as illegally kept as pet and have medical issues (got trapped, etc)

Orangutans that have been long in captivity are not good at climbing. They do not know how to find food, make a nest, even they do not know who their natural enemies are. They’re no longer orangutans, but have became a citizen.

During their time in rehabilitation centre, orangutans will go to school forest i.e. their cage will be open every morning and animal keepers will take them to “school” in the jungle. Animal keepers are not their teachers who teach, but other orangutans in the same class will become their stimulant or examples for others to follow and imitate. In the evening, they return to their cage.

We analogize entering elementary school as learning how to climb, moving from one tree to another, until well practiced. Then, they’ll enter senior high school to learn how to find and recognize their natural food and learn to make nests. We consider they’ve entered the senior high school when they start skipping a lot, which they tend to disappear in the school forest, not willing to go back when it’s late, because they’re already comfortable in their nests. That’s the sign that they’re becoming wild.

Before they are released, orangutans need to enter a higher degree of school, that is an “university” in the form of island. COP Borneo, which located in Berau, East Kalimantan, has that “university” or pre-release island. An island with fig trees, which is orangutan’s favourite, is the training place for orangutans who have passed ‘high school’. They are left outside in the sun or rain, no more cages, only food will be given in the morning and evening. On average, they train independently for 1-2 years. Once their behaviour considerably good, then they will undergo a final defense session that is final medical examination. if they pass, the orangutans will be graduated by releasing them back to their natural habitat.

Novi’s story, as a male orangutan who were forced to separate with his mother, taken care illegally by locals with chain on his neck (because it’s cheaper and easier to maintain than an iron cage), confiscated, rehabilitated, and finally released in early November 2018.

Novi is known as a smart orangutan and high adaptability, when his friends were still in ‘elementary school’, he was already in ’senior high school’. That’s how we simplify a rehabilitation process. The process takes a long time and costs a lot, so please do not buy and pet wild animals! (SAR)

PROSES SEPERTI KITA SEKOLAH
Kami menyederhanakan orangutan yang masuk rehabilitasi seperti proses sekolah. Karena pusat rehabilitasi orangutan bukanlah penangkaran. Mayoritas orangutan yang masuk rehabilitasi adalah dari konflik seperti pemeliharaan ilegal dan ada faktor medis (seperti terjerat, dll).

Orangutan yang lama dipelihara tidak pandai memanjat, tidak mengerti mencari makan, tidak tau membuat sarang dan tidak tahu musuh alaminya. Bukan lagi orangutan tetapi menjadi orang kota.

Selama di pusat rehabilitasi, orangutan akan sekolah hutan yatu setiap pagi kandan dibuka dan diajak ‘sekolah’ di hutan. Animal keeper bukanlah guru yang mengajar tapi orangutan lain yang satu kelas dengannya yang akan menjadi perangsang atau contoh agar yang lain mengikuti dan mencontoh. Ketika sudah sore, orangutan kembali lagi ke kandang.

Kami mengibaratkan masuk SD yaitu belajar memanjat, berpindah dari pohon ke pohon hingga mahir. Kemudian akan masuk SMP untuk belajar mencari dan mengenali pakan alaminya dan belajar membuat sarang. Kami menganggap masuk SMA ketika mulai banyak bolosnya, yaitu sering menghilang ketika sekolah hutan, tidak mau pulang ketika sore karena sudah nyaman di sarangnya dan itu tandanya dia meliar.

Sebelum dilepasliarkan, orangutan perlu dikuliahkan, berupa masuk ‘universitas’ berbentuk pulau. COP Borneo yang berada di Berau, Kalimantan Timur memiliki ‘universitas’ atau pulau pra-rilis. Pulau alami dengan pepohonan ara yang disukai orangutan inilah para orangutan yang suka membolos itu berlatih. Mereka dibiarkan kena panas, hujan, tak ada lagi kandang hanay dukungan pakan di pagi dan sore hari saja yang masih diberikan. Rata-rata mereka berlatih secara mandiri sekitar 1-2 tahun. Ketika perilaku mereka sudah dianggap layak, maka mereka akan ‘sidang skripsi’ berupa pemeriksaan medis akhir. Jika lulus, maka orangutan diwisuda dengan dilepasliarkan kembali ke habitatnya.

Kisah Novi, orangutan jantan yang dipaksa berpisah dari induknya, dipelihara secara ilegal dengan rantai di lehernya (karena murah dan aman, kalau bikin kandang besi mahal), disita, direhabilitasi dan akhirnya dilepasliarkan pada awal November 2018 lalu.

Mengenal Novi sebagai orangutan cerdas dengan adaptasi yang tinggi, ketika teman-temannya masih di kelas SD, dia sudah di tingkatan SMA. Begitulah kami menyederhanakan sebuah proses rehabilitasi. Proses ini memakan waktu lama dan biaya tinggi, jadi mohon jangan membeli dan memelihara satwa liar! (DAN)

JOJO IN COP BORNEO FOREST SCHOOL

We haven’t heard about Jojo for a long time. Jojo is a baby orangutan who entered COP Borneo orangutan rehabilitation center in April 2018. Jojo must take a long and extra care medical check-up process. From the prior examination, Jojo was declared to have hepatitis. After going through PCR testing, hepatitis suffered by Jojo is hepatitis of orangutan strain. Thus, the medical team allowed Jojo to enter the forest school.

Do you still remember when you entered school for the first time? Afraid? Confused? Feeling alone? That is what Jojo experienced, an orangutan who finally got his chance into the COP Borneo forest school. Jojo sat on the ground, playing alone while sweeping dry leaves with his hands. Then, other orangutans are interested in the new orangutan they just met. Curiosity starts from just staring, then continue with touching even biting. Jojo also experienced that. Other orangutan babies such as Owi, Bonti, Happi, Popi and even Annie, who were still just entering the forest school, joined in.

“Come on Jojo, you can do it. Adapt quickly. Be wild, remember your time with your mother”, said Joni with full hope. Jojo will continue to be accompanied by an animal keeper until he can adjust to other baby orangutans. “Hopefully it doesn’t take too long. Every orangutan has a unique way. It cannot be determined the length of time needed for each orangutan to achieve certain abilities. But proper stimulation can speed up the process”. (IND)

JOJO DI KELAS SEKOLAH HUTAN COP BORNEO
Lama tidak mendengar kabar dari Jojo, bayi orangutan yang masuk pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo bulan April 2018 yang lalu. Pemeriksaan kesehatan yang panjang dan ekstra teliti harus dijalani Jojo. Hasil pemeriksaan di awal, Jojo menderita Hepatitis. Dan setelah melalui pengujian PCR, Hepatitis yang diderita Jojo adalah strain orangutan, akhirnya tim medis mengijinkan Jojo masuk kelas sekolah hutan.

Masih ingatkah saat kamu masuk sekolah pertama kali? Takut? Bingung? Merasa sendirian? Seperti itulah yang dialami Jojo, orangutan yang akhirnya bisa masuk kelas sekolah hutan COP Borneo. Jojo duduk di tanah, bermain sendiri sambil menyapu-nyapu daun kering dengan tangannya. Dan orangutan lain pun tertarik dengan orangutan yang baru mereka temui. Rasa ingin tahu itu mulai dari hanya menatap, lalu menyentuh bahkan menggigit. Jojo pun mengalami itu, bayi-bayi orangutan lain seperti Owi, Bonti, Happi, Popi bahkan Annie yang juga masih baru masuk kelas sekolah hutan, ikut menganggunya.

“Ayo Jojo, kamu pasti bisa. Cepatlah beradaptasi. Kembalilah liar, ingatlah masa-masa mu bersama indukmu.”, ujar Joni penuh harapan. Jojo akan terus didampingi animal keeper hingga dia bisa menyesuaikan diri dengan bayi orangutan lainnya. “Semoga tidak memakan waktu terlalu lama. Setiap orangutan punya cara yang unik. Sehingga tidak bisa ditentukan waktu yang dibutuhkan setiap orangutan untuk mencapai kemampuan tertentu. Tapi stimulasi yang tepat dapat mempercepat sebuah proses. (JON)

5 YEARS TIGHT IN CHAIN, 4 YEARS IN REHAB, FINALLY NOVI RETURNED

In November 2014, COP met orangutan Novi for the first time. Novi was put on the side of the house with a rope around his neck for 5 years so he could not go anywhere. Novi was not alone. He had some dogs as friends since childhood. Poor Novi. He is a victim of forest destruction by a palm oil company that destroys his home and his source of food.

Novi underwent all rehabilitation processes to re-recognize the forest. 4 years in rehab was full of stories and memories, especially on how Novi met other orangutans at the COP Borneo rehabilitation center. Now, he turned out to be the first one who has to say goodbye to the other orphans at COP Borneo. Novi released to the forest who had been waiting for him for a long time where he should be.

Welcome to your new adventure in the forest that we promised you 4 years ago, Novi. The cage is not your home anymore.

Thank you the great team for realizing Novi’s dream to release back to the forest. Our tears are not sadness but happiness to see him run out of the cage towards the trees, celebrating his freedom. (IND)

5 TAHUN DIRANTAI, 4 TAHUN DIREHAB AKHIRNYA NOVI KEMBALI KERUMAHNYA

Pada tahun 2014 bulan November, COP bertemu Orangutan Novi pertama kali. Iya diletakan di samping rumah dengan tali di lehernya selama 5 tahun agar ia tidak dapat pergi kemana pun saat pemilik rumah sedang berpergian. Novi tidak sendiri, beberapa anjing setia bermain dengannya dan mereka sudah berteman sejak kecil. Novi yang malang adalah korban dari perusakan hutan oleh sebuah perusahan sawit yang merusak rumah dan tempatnya mencari makan.

Tepat 4 tahun setelah cerita itu, Novi menjalani semua proses rehabilitasi untuk membiasakan ia kembali mengenali hutan. 4 tahun yang penuh dengan cerita dan catatan kenangan, bagaimana novi bertemu dengan orangutan lainnya di pusat rehabilitasi COP Borneo. Ia ternyata harus mengucapkan selamat tinggal lebih dahulu dari teman-teman yatim piatu lainnya yang berada di COP Borneo, Novi kembali ke hutan yang telah menunggunya sejak lama dimana seharusnya ia berada.

Selamat menempuh petualangan baru di hutan yang pernah kita janjikan kepada mu 4 tahun lalu, sebab kandang bukanlah rumahmu lagi.

Terimakasih semua tim yang hebat untuk mewujudkan mimpi Novi kembali ke hutan, air mata kita bukanlah kesedihan melainkan kebahagian melihat mereka lari keluar kandang menuju pepohonan kebebasan. (NUS)

Page 40 of 283« First...102030...3839404142...506070...Last »