SMOKING ORANGUTAN IN BANDUNG ZOO

March 6th 2018. The video of smoking orangutan from cigarette thrown by a zoo visitor adds another mark on the list of poor management of conservation institution. “This situation keeps happening. Still remember about orangutan Tori in Taru Jurug Zoo in Solo? Tori made news from his habit of smoking from cigarettes thrown by visitors,” stated Daniek Hendarto, Ex-Situ Manager for COP.

On mid-2012, Centre for Orangutan Protection supported TSTJ Zoo on transferring Tori to an island, after assessing that his enclosure was exposed to some risk, contact with visitors was one of it. The enclosure gave opportunity for visitors to freely throwing cigarettes into the enclosure.

Since 2012, COP trained the volunteers, also known as Orangufriends, to become interpreters for the zoo. The Orangufriends spent their free time volunteering as guide in front of the orangutan enclosure in Ragunan Zoo Jakarta, KRUS Zoo East Kalimantan, and TSTJ Zoo Solo. The visitors were invited to understand the behavior and the main role of orangutan in the wild.

Early March 2018, we were shocked by another news of smoking orangutan. “Generally, the zoos in Indonesia are slowly destructed by the behavior of the visitors. This is the consequence of the negligence of zoo management and insufficient facilities,” stated Hery Susanto, Anti-Wildlife Exploitation Coordinator for COP. “Let’s be a wise and responsible visitors of conservation institution. The management also needs to pay more attention to the wellbeing of the animals, and put extra effort to improve the facilities of their conservation institution,” Hery added, optimistically. (Zahra_Orangufriends)

ORANGUTAN MEROKOK DI KEBUN BINATANG BANDUNG
Video Orangutan menghisap rokok yang dilemparkan pengunjung di kebun binatang Bandung semakin menambah daftar hitam pengelolaan lembaga konservasi. “Kejadian ini terus berulang. Masih ingat orangutan Tori di kebun binatang Taru Jurug Solo? Tori terkenal dengan kebiasaanya merokok karena dilempari pengunjung dengan rokok yang menyala.”, papar Daniek Hendarto, manajer Ex-Situ COP.

Pertengahan tahun 2012 Centre for Orangutan Protection mendampingi kebun binatang TSTJ untuk memindahkan Tori ke pulau, setelah menilai enclosure/kandang tanpa jeruji besi masih terdapat kelemahan. Tidak adanya pembatas antara enclosure dengan pengunjung salah satunya. Ini membuat pengunjung begitu leluasa melempar rokok maupun benda lainnya ke dalam enclosure.

Sejak 2012, COP melatih para relawannya yang tergabung di orangufriends untuk menjadi interpreter di kebun binatang. Para orangufriends meluangkan waktu istirahatnya untuk menjadi pemandu di depan kandang maupun enclosure orangutan di kebun binatang Ragunan Jakarta, KRUS Kalimantan Timur dan TSTJ Solo. Pengunjung diajak untuk memahami orangutan, prilaku dan fungsi utamanya di alam.

Di awal Maret 2018, kita dikejutkan kembali dengan kasus orangutan merokok. “Secara umum, kebun binatang di Indonesia digerogoti disiplin pengunjung. Hal ini dikarenakan sikap abai pengelola dan fasilitas yang tidak memadai.”, kata Hery Susanto, kordinator Anti Wildlife Exploitation COP. “Mari kita menjadi pengunjung lembaga konservasi yang bijak dan bertanggung jawab. Para pengelola juga lebih memperhatikan kesejahteraan satwanya dan lebih awas dengan memperbaiki fasilitas-fasilitas lembaga konservasi yang dikelolanya.”, tambah Hery optimis.

THE GATE NAMED WAS COP SCHOOL

Choosing to end up not half-way, involving themselves in the wildlife conservation world, especially orangutans is not just happen. A long search that eventually brought me to COP School and became part of it in 2017. This also led me to be a volunteer at COP Borneo orangutan rehabilitation center in September-October 2017.

If I could tell, it all started from my unconverted encounter with Jorge Quinoa, a Spanish tourist on the way back to accompany Japanese researchers on Disaster Risk Reduction in Mentawai. The conversation in the fast ship from Mentawai to Padang is our exchange story. Jorge expressed deep concern for the existence of orangutans who are on the verge of extinction let alone the condition of forest areas in Indonesia. Jorge rate, the awareness of the Indonesian people to care for the preservation of forests and protected animals is very low. With his narcissism, Jorge tells how high the discipline of his country in using wood.

Not because of the admiration that Jorge threw me into the wildlife conservation world. But his caring attitude that he showed to the orangutan which is a native Indonesian animal that tickled me. Since then, I started to know the orangutans.

This search brought me to an orangutan conservation education program called COP School organized by Center for Orangutan Protection. It’s not easy to get a COP School student. I have to compete with other prospective students from all over Indonesia. A series of selection of approximately 3 months, and I follow with passion. My determination is only one, pass the selection and go to Yogyakarta!

Although the selection task is only in the form of writing, but the writings are a reflection of a series of observations, field visits and observations that must be passed by potential participants. A total of 9 articles on education, campaign, law, animal trade are examples that must be accomplished with a certain time. It’s a very energy-draining and emotionally draining stage. And I follow it with passion! Selection stage is already so exciting, how will it be? Of course it will be more exciting and challenging.

Then you have COP School Batch 8 list? Are you sure you do not join this year 2018? email copschool@orangutan.id (LSX)

GERBANG ITU BERNAMA COP SCHOOL BATCH 7
Memilih untuk akhirnya tidak setengah-setengah, melibatkan diri di dunia konservasi satwa liar khususnya orangutan bukan terjadi begitu saja. Sebuah pencarian panjang yang akhirnya mempertemukan aku dengan COP School dan menjadi bagiannya di tahun 2017. Ini pula yang membawaku menjadi relawan di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo pada September-Oktober 2017 lalu.

Kalau aku boleh berkisah, semua bermula dari pertemuan tak sengajaku dengan Jorge Quinoa, seorang turis Spanyol dalam perjalanan pulang mendampingi peneliti Jepang tentang Pengurangan Risiko bencana di Mentawai. Perbincangan di gladak kapal cepat dari Mentawai ke Padang inilah kami bertukar cerita. Jorge mengungkapkan rasa prihatin yang mendalam terhadap keberadaan orangutan yang berada di ambang kepunahan apalagi kondisi kawasan hutan di Indonesia. Jorge menilai, kesadaran orang Indonesia untuk peduli kelestarian hutan dan satwa dilindungi sangat rendah. Dengan narsisnya, Jorge bercerita bagaimana tingginya kedisiplinan masyarakat di negaranya dalam menggunakan kayu.

Bukan karena kekaguman yang dilontarkan Jorge yang membuatku mantap menekuni dunia konservasi satwa liar. Tapi sikap pedulinya yang dia tunjukkan pada orangutan yang merupakan satwa asli Indonesia lah yang menggelitikku. Sejak itu, aku mulai kepo pada orangutan.

Pencarian ini mempertemukan aku dengan program pendidikan konservasi orangutan bernama COP School yang diselenggarakan Centre for Orangutan Protection. Tak mudah untuk bisa lolos menjadi siswa COP School. Aku harus bersaing dengan calon-calon siswa lainnya dari seluruh Indonesia. Serangkaian seleksi lebih kurang 3 bulan, aku ikuti dengan penuh semangat. Tekadku hanya satu, lulus seleksi dan berangkat ke Yogyakarta!

Meski tugas seleksinya hanya berupa tulisan, tapi tulisan-tulisan itu merupakan refleksi dari serangkaian observasi, kunjungan lapangan dan pengamatan yang wajib dilalui calon peserta. Sebanyak 9 tulisan tentang edukasi, kampanye, hukum, perdagangan satwa adalah contoh yang harus dilesaikan dengan waktu tertentu. Sungguh tahapan seleksi yang sangat menguras energi dan emosi. Dan aku mengikutinya dengan semangat! Tahapan seleksinya saja sudah demikian seru, bagaimana nanti? Tentu akan lebih seru dan menantang.

Lalu kamu sudah daftar COP School Batch 8? Yakin kamu ngak ikut tahun 2018 ini? email copschool@orangutan.id (Novi_Orangufriends)

UNTUNG PULLED FROM ORANGUTAN ISLAND

Today, February 28, 2018, Untung will be withdrawn from the orangutan island. After 2 more years of inhabiting orangutan island, Untung will undergo a medical examination to meet the release requirements.

Untung is the orangutans from the zoo. COP knew Untung in 2010 when he was still 1 year old. It was still timid when we took him to the forest to climb trees. We were surprised to learn that his fingers were incomplete. Was pessimistic, could he climb a tree with incomplete fingers. And it turns out … Untung managed to climb a tree with banana lure on a tree that accidentally placed animal keeper.

Eight years of knowing Untung, with his improving progress makes us more optimistic. Competition in orangutan island successfully overcome. Instead of clashing with Nigel, Untung chose to always avoid Nigel. When Nigel and Oki are drawn to the quarantine cage, Fortunately it is the most prominent on the island. He freely explored the island. Lucky to look alone, he seems to prefer to be alone.

His body is not small anymore, the team that will move Untung back and forth when must gave him sedation. Even Untung had time to issue a threat with his voice. “Thank Goodness, you will soon be released in the forest. But you have to go back to the stable first. And a little checking, okay!”, said Danel Jemy. “His screams shook his knees.”, he added. (LSX)

UNTUNG DITARIK DARI PULAU ORANGUTAN
Hari ini, 28 Februari 2018, orangutan Untung akan ditarik dari pulau orangutan. Setelah 2 tahun lebih menghuni pulau orangutan, Untung akan menjalani pemeriksaan medis untuk memenuhi persyaratan pelepasliarannya.

Untung adalah orangutan dari kebun binatang. COP mengenal Untung pada tahun 2010 saat usianya masih 1 tahun. Saat itu masih takut-takut saat kami membawanya ke hutan untuk memanjat pohon. Kami pun terkejut saat mengetahui jari-jarinya tak lengkap. Sempat pesimis, mampukah dia memanjat pohon dengan jari-jari yang tak lengkap. Dan ternyata… Untung berhasil memanjat pohon dengan iming-iming pisang di atas pohon yang sengaja diletakkan animal keeper.

Delapan tahun mengenal Untung, dengan perkembangannya yang semakin membaik membuat kami semakin optimis. Persaingan di pulau orangutan berhasil diatasinya. Daripada bentrok dengan Nigel, Untung memilih untuk selalu menghindar dari Nigel. Saat Nigel dan Oki ditarik ke kandang karantina, Untunglah yang paling menonjol di pulau. Dia dengan bebasnya menjelajah pulau. Untung terlihat selalu sendiri, sepertinya dia lebih suka menyendiri.

Ukuran tubuhnya tak kecil lagi, tim yang akan memindahkan Untung maju mundur saat harus membiusnya. Bahkan Untung sempat mengeluarkan ancaman dengan suaranya. “Ampun Untung, kamu akan segera kami lepaskan di hutan. Tapi kamu harus kembali ke kandang dulu ya. Dan sedikit pemeriksaan ya!”, ujar Danel Jemy. “Teriakannya menggetarkan lutut.”, tambahnya lagi.