THERE IS A BULLET IN THE BODY OF CRESTED HONEY BUZZARD

This is a migratory bird that moving when the winter arrives. He survived in mimicking a stronger predatory bird. His is a crested honey buzzard (Pernis ptilorhynchus) . He looks less active and rarely uses his left wing. “Apparently, someone has shot him. There is a bullet in his left wing,” said drh. Flora Felisitas, COP veterinarian in Yogyakarta.

X-rays show a foreign object at the base of his left wing. At 3 May 2018, a surgery was conducted by drh. Irna Irhamna Putri, MSc (WRC) with drh. Flora Felisitas (COP). One bullet was removed from its body. “When the bullet is released, there is some pieces of a broken bone. The bullet is alleged to have been in the eagle’s body for more than a month,” said drh. Flora again.

The bullet destroyed the bone at the base of the wing. “We cannot clean the broken bone fragments as a whole, because it can affect the healing time of these surgical wounds,” added drh. Flora.

This crested honey buzzard was found by the people in Kulon Progo, Yogyakarta. Then it handed over to the BKSDA Yogyakarta and entrusted to the Wildlife Rescue Center Yogya. Currently, the condition of the bird is still under an intensive supervision of veterinarians to ensure it conditions remain conducive and improved. (IND)

ADA PELURU DI TUBUH ELANG SIKEP MADU
Burung ini adalah burung migrasi saat musim dingin tiba. Dia bertahan hidup dengan menyamar menyerupai burung pemangsa yang lebih kuat. Elang Sikep Madu namanya. Dia terlihat kurang aktif dan jarang menggunakan sayap kirinya. “Ternyata, seseorang telah menembaknya. Ada peluru di sayap kirinya.”, ujar drh. Felisitas Flora, dokter hewan COP yang kebetulan sedang berada di Yogyakarta.

Hasil rontgen memperlihatkan adanya benda asing di pangkal sayap kirinya. Siang 3 Mei 2018 dilakukan operasi oleh drh. Irna Irhamna Putri, MSc (WRC) bersama drh. Felisitas Flora S. M (COP). Satu butir peluru berhasil dikeluarkan dari tubuh Elang Sikep Madu ini. “Saat peluru dikeluarkan, ada nanah yang berwarna putih keruh. Peluru diduga sudah berada di dalam tubuh elang lebih dari satu bulan.”, ujar drh. Flora lagi.

Peluru tersebut menghancurkan tulang dibagian pangkal sayap. “Kami tidak dapat membersihkan serpihan tulang yang hancur secara keseluruhan, karena dapat berpengaruh terhadap lamanya penyembuhan luka pembedahan ini.”, tambah drh. Flora.

Elang Sikep Madu ini adalah hasil temuan warga Kulon Progo, Yogyakarta yang diserahkan ke BKSDA Yogyakarta lalu dititipkan kepada Wildlife Rescue Centre Yogya. Saat ini kondisi elang masih dalam pengawasan dokter hewan secara intensif untuk memastikan kondisinya tetap kondusif dan membaik. (PETz)

PENGURUS RUMAH TANGGA COP BORNEO

Biasa dipanggil Nia. Sania namanya, merupakan staf bagian rumah tangga pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo yang berada di kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Sejak April ini, dia menyediakan segala keperluan yang berhubungan dengan dapur dan perawatan rumah COP Borneo. Warga desa Merasa dari RT IV ini juga bertanggung jawab dengan menu masakan untuk seluruh penghuni COP Borneo kecuali orangutannya.

“Senang sih bisa bergabung.”, ujar Sania malu-malu.

Selamat bergabung Nia… dan selamat menjalankan tugas.(WET)

ANOTHER UNYIL FROM MERATAK

Tubuh kurusnya menempati kotak kayu berukuran 100 cm x50 cm x 50cm. Orangutan jantan ini diperkirakan berusia 5 tahun. Sikapnya tak begitu liar lagi. Sejak 2014 yang lalu dia dipelihara warga Meratak, Kalimantan Timur. Unyil, begitu warga sekitar memanggilnya.

Centre for Orangutan Protection kembali menemukan orangutan yang dipelihara secara ilegal. Orangutan ini adalah orangutan ketiga yang ditemukan tim APE Crusader dalam perjalanan mendokumentasikan pembabatan hutan untuk perkebunan kelapa sawit. “Perkebunan yang kami dokumentasi sudah pada tahap penanaman bibit kelapa sawit. Empat tahun yang lalu, tentu saja berbeda sekali dengan keadaan sekarang. Hutan sebagai habitat orangutan benar-benar tergusur. Unyil saat itu masih berusia 1 tahun, terlalu kecil dan tak mungkin terpisah dengan induknya begitu saja. Entah apa yang terjadi dengan induknya dan orangutan lainnya. Satwa liar lainnya? Ini adalah pemusnahan keanekaragaman hayati dan satwa besar-besaran.”, ujar Ramadhani, manajer perlindungan orangutan dan habitat COP.